LEMBAGA pemeringkat dunia, Standard & Poor's Global Ratings (S&P), melaporkan Purchasing Managers’ Index atau PMI manufaktur Indonesia pada Mei 2026 naik secara bulanan menjadi 50,0 alias kembali ke zona ekspansi. PMI Manufaktur pada April tercatat 49,1.
Pada bulan kelima ini, panelis mencatat perusahaan mengalami kenaikan pesanan, tetapi di saat yang bersamaan kekurangan bahan baku produksi. “Perekonomian manufaktur Indonesia masih mengalami tekanan selama Mei, karena produksi terhambat oleh kenaikan harga bahan baku dan keterbatasan ketersediaan input,” kata ekonom S&P Global Market Intelligence, Usamah Bhatti, dalam laporan tertulis, Selasa, 2 Juni 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Penerimaan pesanan baru tercatat meningkat selama dua bulan berturut-turut, dengan tingkat pertumbuhan tertinggi sejak Februari.
Kinerja permintaan utamanya didorong perbaikan permintaan domestik. Sementara itu, kinerja ekspor turun semakin tajam. Penjualan internasional menurun selama tiga bulan berjalan dengan tingkat kontraksi paling tajam sejak Agustus 2021. Panelis menyimpulkan perang di Timur Tengah dan kenaikan harga membebani permintaan global.
Meskipun masih ada permintaan, kinerja industri manufaktur tertekan oleh kenaikan harga bahan baku yang membebani produksi perusahaan.
Walhasil, jumlah tenaga kerja pun menurun menyusul penurunan produksi. Tenaga kerja terus turun selama tiga bulan berturut-turut, meskipun penurunannya tergolong marginal.
Panelis mencatat produksi turun dalam tiga bulan berturut-turut dengan laju yang lebih lambat dibandingkan pada April. Dari segi harga, inflasi biaya input cukup besar dan kembali naik mencapai posisi tertinggi sepanjang survei, setelah posisi September 2013.
Panelis mencatat kenaikan harga bahan baku menyebabkan kenaikan biaya lebih lanjut. Pada Mei, perusahaan berupaya melimpahkan beban biaya kepada klien. Harga produksi pun naik dengan laju tercepat sejak Oktober 2013.
Kenaikan harga dan kekurangan pasokan menghambat aktivitas pembelian sektor manufaktur Indonesia selama Mei.
Perusahaan juga melaporkan mereka harus menggunakan inventaris pra-produksi yang ada di tengah kesulitan mendapatkan bahan baku. Sementara itu, produksi yang terbatas juga mengharuskan perusahaan menggunakan stok barang yang ada untuk memenuhi pesanan.
Dari segi pasokan, waktu pemenuhan pesanan rata-rata telah diperpanjang selama delapan bulan berturut-turut karena penundaan pengiriman dan kelangkaan berkaitan perang yang membebani kinerja pemasok.
Sementara itu, tingkat bisnis yang belum terselesaikan mengalami kenaikan untuk pertama kali sejak Februari. Peningkatan itu disebabkan keterbatasan bahan baku yang membebani kemampuan perusahaan untuk menyelesaikan pesanan.
Namun, perusahaan tetap yakin pertumbuhan produksi akan pulih dalam satu tahun mendatang dan optimisme menguat dibandingkan April. Meskipun demikian, tingkat keyakinan tersebut masih tidak berubah.





























:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5502852/original/043074800_1771048777-4.jpg)


















