Kisah Abdurrahman bin Sakhar, si Fakir Penyayang Kucing yang Jadi Ahli Hadis Terkemuka

3 months ago 43

Liputan6.com, Jakarta - Di antara tokoh besar dalam sejarah Islam, kisah Abdurrahman bin Sakhar barangkali kedengaran asing. Padahal, dia adalah perawi hadis terkemuka yang oleh para ulama diyakini sebagai penghapal sekaligus periwayat hadis terbanyak.

Nama populernya adalah Abu Hurairah. Jika menyebut nama ini, maka kebanyakan muslim akan mahfum bahwa beliau adalah ahli hadis. Tapi tak banyak yang tahu kenapa nama julukan itu muncul.

Mengutip Buku Kontroversi Sahabat Nabi: Studi Kritis Pemikiran Abu Rayyah Mengenai Abu Hurairah dan Peranannya dalam Periwayatan Hadis oleh Dr. Badri Khaeruman, M.Ag nama Abu Hurairah menjadi sosok paling berpengaruh dalam transmisi (periwayatan) ilmu hadis.

Beliau dikenal luas bukan dengan nama aslinya, Abdurrahman bin Shakhr, tetapi dengan kunyah atau julukan yang lahir dari kisah sederhana bersama seekor anak kucing.

Berikut ini adalah Kisah Abdurrahman bin Sakhar, dari fakir yang hidup sederhana, hingga menjadi sahabat dekat Nabi SAW dan seorang periwayat hadis terkemuka.

Munculnya Nama Abu Hurairah, Anak Kucing di Balik Lengan Baju

Abdurrahman bin Sakhar menjadi salah satu sahabat yang paling dekat dengan Rasulullah SAW. Salah satunya adalah kisahnya mendapat julukan atau kunyah Abu Hurairah, yang secara harifiah diartikan sebagai 'bapaknya kucing kecil'.

Abu Hurairah menceritakannya dengan singkat:

"Dulu, aku menemukan anak kucing. Aku letakkan di lengan bajuku. Ketika aku menghadap Rasulullah ﷺ, beliau mendengar suara 'miaw'. Beliau bertanya, 'Suara apa itu?' Aku menjawab, 'Ini adalah anak kucing yang aku temukan.' Lalu Rasulullah ﷺ bersabda, 'Wahai Abu Hurairah (Ayah Si Kucing Kecil).'".

Julukan ini bukanlah ejekan, melainkan sebuah panggilan yang penuh kelembutan (tarbiyah) dan penghormatan langsung dari Rasulullah. Di masyarakat Arab, memanggil seseorang dengan "Abu" (ayah dari) adalah hal yang umum dan sering kali bermakna positif.

Julukan ini juga cermin kepribadian Abdurrahman bin Sakhar yang Lembut dan menampakkan sisi humanis dan penyayang dari pribadi Abu Hurairah. Setelah itu, nama aslinya, Abdurrahman bin Shakhr, hampir terlupakan karena julukan yang diberikan Nabi ini begitu melekat.

Hal ini menunjukkan betapa dekat dan istimewanya hubungannya dengan Rasulullah SAW.

Abdurrahman Sakhar masuk Islam pada tahun ketujuh hijriah saat Perang Khaibar. Hidupnya di Madinah tidak serta-merta membaik setelah memeluk Islam. Ia tinggal bersama Ahlu Shuffah, kelompok fakir yang menuntut ilmu di serambi masjid Nabawi.

Tidak ada jaminan makan, tidak ada harta, hanya semangat ilmu yang menjadi bekal. Dia menapaki jalan ilmu yang tidak ringan dalam kefakiran, penuh kelaparan, namun juga penuh keberkahan. “Demi Allah,” katanya suatu hari, “aku pernah tergeletak di tanah karena lapar, dan aku pernah mengganjal perutku dengan batu karena lapar," demikian dikutip dari artikel berjudul Biografi Abu Hurairah, Abdurrahman bin Shakr.

Kisah terkenalnya tentang susu menunjukkan kerendahan hati dan ketaatannya kepada perintah Nabi. Ketika Rasulullahmenjumpai sedikit susu, Abu Hurairah berharap mendapat seteguk untuk dirinya sendiri yang kelaparan.

Namun perintah Nabi berbeda: “Kembalilah ke Ahlu Shuffah dan sampaikan undanganku kepada mereka.”Meskipun hatinya bergolak, ia tetap taat. Satu per satu para sahabat miskin itu minum hingga kenyang. Setelah semuanya usai, Nabi berkata kepadanya, “Duduk dan minumlah!” Abu Hurairah meminum hingga penuh, hingga beliau berkata, “Minum lagi!” dan ia menjawab, “Demi Dzat yang mengutusmu, aku sudah tidak mendapati ruang lagi.”

Kisah itu bukan hanya kisah keberkahan susu. Itu adalah potret jiwa yang diperhalus oleh kesabaran dan kecintaan terhadap ilmu. Kefakirannya tidak menjadikannya putus asa.

Justru kefakiran itu menjadi jalan untuk lebih dekat kepada Rasulullah SAW, sebuah kedekatan yang kelak membentuk fondasi kekuatan hafalannya.

Anugerah Hafalan: 5.374 Hadis

Hidup Abu Hurairah RA berubah dari seorang penggembala miskin menjadi murid Rasulullah yang paling dekat, paling rajin hadir.

Belakangan, Abu Hurairah dikenal sebagai sahabat yang paling banyak menghafal dan meriwayatkan hadis. Merujuk Ahmad Amin dalam Fajrul Islam, Syarif Zubaidah dalam buku Mengenal Sahabat abu Hurairah RA (Kritik dan Pembelaan), Abu Hurairah meriwayatkan sebanyak 5.374 hadis, lebih banyak dua kali lipat dibandingkan Aisyah yang 2.100 buah, atau Abdullah Ibnu Umar, Abdullah bin Abbas, atau sahabat Jabir dan Anas. 

Sumber kekuatan itu bukan sekadar kecerdasan. Ia sendiri menegaskan, “Dahulu aku adalah orang miskin yang melayani Rasulullah… lalu beliau bersabda, ‘Barangsiapa yang membentangkan bajunya…’ maka aku membentangkan bajuku… dan aku tidak lupa sedikitpun terhadap hadis yang aku dengar darinya.”

Doa Nabi, kedekatan waktu, ketekunan bermulazamah, dan kesungguhan menuntut ilmu menjadikan Abu Hurairah satu-satunya sahabat yang paling banyak mencatat detik demi detik kehidupan Rasulullah.

Bahkan Ibn Amr bin Ash pernah berkata, “Engkau adalah orang yang paling lama duduk bersama Rasulullah dan paling banyak hafalan hadisnya.” Imam Syafi‘i juga menguatkan: “Abu Hurairah adalah orang yang paling banyak meriwayatkan hadis pada zamannya.”

Tuduhan sebagian sahabat bahwa ia terlalu banyak meriwayatkan hadis justru memperkuat gambaran bahwa ia menyimpan catatan ilmu yang tidak dicapai oleh banyak orang.

Dan kisahnya bersama Marwan bin Al Hakam membuktikan ketepatan riwayat yang ia bawa—ketika hadis tentang berbaring setelah salat sunnah Subuh ternyata benar adanya. Ibnu Umar akhirnya berkata, “Abu Hurairah lebih baik dariku dan lebih tahu tentang hadis.”

Ibadah Tak Henti

Tentu ada rahasia-rahasia tersembunyi kenapa Abu Hurairah memiliki kekuatan hafalan yang penuh keberkahan. Ilmu yang luas itu tidak berdiri sendiri.

Abu Hurairah adalah ahli ibadah yang jarang tidur malam tanpa sholat. Abu Utsman An-Nahdi mengisahkan bahwa di rumah Abu Hurairah, malam dibagi menjadi tiga bagian: ia, istrinya, dan pembantunya bergantian mengisi malam dengan ibadah.

Dia juga rajin berpuasa Senin-Kamis, dan berkata, “Aku berpuasa tiga hari di setiap awal bulan.”

Amalan istighfarnya pun menggetarkan hati: “Aku meminta ampun kepada Allah dan bertobat kepada-Nya setiap hari sebanyak dua belas ribu kali.”

Angka itu bukan sekadar hitungan, tetapi bukti kedalaman kesadaran spiritual yang jarang dimiliki oleh seseorang dengan beban ilmu sebesar dirinya.

Abu Hurairah Sepeninggal Rasulullah

Konsistensi Abu Hurairah dalam beribadah dan keilmuan tetap bertahan sepeninggal wafatnya Rasulullah SAW, di masa Khulafaur Rasyidin.

1. Masa Kekhalifahan Abu Bakar Ash-Shiddiq (11-13 H)

Abu Hurairah tetap fokus pada pengajaran dan periwayatan hadis di Madinah. Ia menjadi salah satu sumber rujukan utama bagi para sahabat muda dan tabi'in yang ingin mempelajari hadis Nabi.

Meskipun hidup sederhana, ia tidak aktif dalam jabatan politik pada masa ini.

2. Masa Kekhalifahan Umar bin Khattab (13-23 H)

Pada masa penerintahan Umar Ra, Abu Hurairah ditunjuk sebagai Gubernur Bahrain (sekitar tahun 21 H). Namun, masa jabatannya tidak berlangsung lama, Umar memberhentikannya.

Di antara penyebabnya adalah laporan tentang kekayaannya yang bertambah secara signifikan selama menjabat. Kebijakan Umar ketat terhadap pejabat yang dianggap menimbulkan kecurigaan.

Saat dipanggil ke Madinah, Umar meminta penjelasan tentang hartanya. Abu Hurairah menjawab: "Aku memiliki kuda yang berkembang biak dan hadiah-hadiah yang aku terima."

Meskipun akhirnya dibebaskan dari tuduhan, Abu Hurairah memilih untuk tidak kembali ke Bahrain. Dia berkata,"Agar kehormatanku tidak tercela, hartaku tidak dirampas, punggungku tidak dipukul. Aku takut menghukum tanpa ilmu dan berbicara tanpa belas kasih."

Peran Intelektual dan Pengajaran

Lepas dari jabatan politik, Abu Hurairah kembali fokus di bidang keilmuannya. Abu Hurairah kemudian diangkat sebagai mufti dan guru besar Madinah.

Sepulang dari Bahrain, Abu Hurairah konsentrasi penuh pada pengajaran. Dia menjadi salah satu dari "Lima Mufti Madinah" bersama, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar, Abu Sa'id al-Khudri, dan Jabir bin Abdullah.

Masa keemasan pengajarannya berlangsung lebih dari 20 tahun (sejak wafatnya Utsman hingga wafatnya sendiri).

Menurut Imam Bukhari, lebih dari 800 orang meriwayatkan hadis darinya. Murid-muridnya termasuk para tabi'in terkemuka:

  • Sa'id bin al-Musayyab (menantu dan murid terdekat)
  • Hasan al-Bashri
  • Muhammad bin Sirin
  • Ibnu Syihab az-Zuhri
  • Al-Qasim bin Muhammad
  • Urwah bin Zubair

Prestasinya tak urung menyebabkan beberapa irang meragukan banyaknya hadis yang diriwayatkannya. Umar bin Khattab pernah mengujinya dengan memanggilnya dan menanyakan beberapa hadis.

Namun setelah Abu Hurairah menjelaskan metode dan kesungguhannya dalam belajar, Umar pun merestui periwayatannya.

Pada masa tuanya, mulai muncul pemalsu hadis yang menggunakan namanya. Mereka membuat hadis palsu dengan sanad: "dari Abu Hurairah...". Ini yang kemudian menjadi sumber kritik dari kalangan tertentu seperti Abu Rayyah.

Hari-Hari Terakhir dan Wafatnya

Ketika sakit yang membawa kepada kematiannya, Abu Hurairah RA menangis. Bukan karena kehilangan dunia, tetapi karena merasa “perjalanannya jauh dan perbekalannya sedikit.”

Ia melihat dirinya seperti seorang musafir yang berada di puncak bukit, harus turun ke salah satu lembah: surga atau neraka.

Kecemasan itu bukan rasa takut, tetapi kepekaan iman yang tinggi.

Saat dijenguk Marwan bin Al Hakam, ia justru berdoa, “Ya Allah, aku mencintai pertemuan dengan-Mu, maka cintailah pertemuan ini dan segerakanlah.”

Dan sebelum Marwan meninggalkan rumah itu, Abu Hurairah telah kembali kepada Tuhannya.

Ibnu Umar RA berkata saat mengantar jenazahnya, “Sungguh dia adalah orang yang menjaga hadis nabi untuk kaum muslimin.”

Itu adalah kesaksian dari seorang ahli ilmu terhadap sesama ahli ilmu, sebuah tanda bahwa karya hidup Abu Hurairah akan terus mengalir sepanjang zaman.

Hikmah Kisah Abdurrahman bin Sakhar

Kisah Abdurrahman bin Sakhar atau Abu Hurairah RA bukan hanya kisah tentang banyaknya hadis yang diriwayatkan, tetapi kisah tentang proses: keberanian dalam kefakiran, ketekunan dalam ibadah, kecintaan terhadap ilmu, dan kesetiaan kepada Rasulullah SAW.

Ia menjadi figur utama yang memastikan umat Islam mengenal ucapan, tindakan, dan ajaran Nabi secara lengkap.

Dari penggembala miskin pemelihara anak kucing, ia berubah menjadi pemimpin Ahlil Hadis, mufti Madinah, dan penjaga warisan nubuwah.

Perjalanannya mengajarkan bahwa ilmu bukanlah milik orang kaya, melainkan milik mereka yang hatinya bebas dari dunia dan penuh dengan cahaya kesabaran.

Semoga Allah meridai Abu Hurairah, menempatkannya di lembah surga yang ia nantikan, dan menjadikan ilmunya sebagai cahaya bagi umat hingga hari kiamat.

People also Ask:

1. Kenapa Abdurrahman bin Auf menangis karena kekayaannya?

Abdurrahman Bin 'Auf dikenal sebagai orang yang dermawan kepada siapa pun. Hartanya tidak membuat dirinya jumawa. Justru, ia selalu berlinang air mata karena takut tidak akan masuk surga disebabkan kekayaan yang dimilikinya.

2. Siapa sahabat nabi yang paling nakal?

Jika ada gelar "sahabat paling jahil" dalam Islam, Nuaiman pasti pemenangnya. Ia adalah sahabat Rasulullah yang sering membuat para sahabat terpingkal-pingkal. Suatu hari, ia menjual dirinya sendiri kepada seorang pedagang Badui, mengaku sebagai budak.

3. Siapa Abdurrahman bin Shakhr?

Abdurrahman bin Shakhr Al-Azdi (bahasa Arab: عبدالرحمن بن صخر الأذدي) ca 603–679), yang lebih dikenal dengan panggilan Abu Hurairah (bahasa Arab: أبو هريرة), adalah seorang Sahabat Nabi yang terkenal dan merupakan periwayat hadits yang paling banyak disebutkan dalam isnad-nya oleh kaum Islam Sunni.

4. Siapa penghafal hadits terbanyak di dunia?

Siapa yang tak kenal Abu Hurairah? Sosok yang bernama asli Abdurrahman bin Shakhr ad-Dausi itu sampai saat ini dikenal sebagai periwayat hadis terbanyak. Tidak kurang dari 5.374 hadis terekam baik dalam ingatannya sehingga sampai kepada zaman kita.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |