Liputan6.com, Jakarta Salah satu tradisi yang berhasil beradaptasi dengan modernitas adalah sholawat Jawa. Ya, modernisasi tidak membuat semua hal yang berbau tradisi terkikis, sebagian tradisi justru semakin populer karena penyebarannya kian masif melalui berbagai plaform media sosial. Sholawat ini tidak hanya pujian kepada Nabi Muhammad SWA, tetapi wujud perpaduan budaya, spiritualitas, dan kebersamaan guyup-rukun khas masyarakat Jawa.
Perpaduan alunan rebana, bahasa Jawa halus, serta irama meneduhkan membuat sholawat Jawa tetepa relevan pada masa lalu maupun masa kini. Tradisi sholawat Jawa juga mengandung filosofi mendalam tentang hubungan manusia dengan Tuhan dan sesama manusia. Setiap bait memiliki pesan moral, membuat batin tenang, serta bentuk nasihat halus tentang kehidupan. Sholawat Jawa seperti menggema di tengah-tengah kegiatan pengajian, tahlilan, hingga acara budaya, bersama lantunan Sholawat Nariyah, Sholawat Jibril, Sholawat Busyro, dan Sholawat Badar yang menambah suasana religius.
1. Sholawat Jawa Tombo Ati
Salah satu karya terpopuler dalam tradisi sholawat Jawa adalah Tombo Ati. Syair ini konon berasal dari ajaran para Wali Songo, terutama Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga. Mengandung makna bahwa hati yang tenang hanya bisa diraih dengan kedekatan pada Allah.
Berikut lirik Tombo Ati versi bahasa Jawa lengkap dengan terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Tombo ati iku limo perkarane,
Kaping pisan moco Qur’an lan maknane,
Kaping loro sholat wengi lakonono,
Kaping telu wong kang sholeh kumpulono,
Kaping papat kudu weteng ingkang luwe,
Kaping limo dzikir wengi ingkang suwe.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia
Obat hati itu ada lima perkara
Pertama, membaca Al-Qur’an dan memahami maknanya.
Kedua, melaksanakan shalat malam (tahajud).
Ketiga, berkumpul dengan orang-orang saleh.
Keempat, berpuasa atau menahan lapar.
Kelima, memperbanyak dzikir di waktu malam dengan khusyuk dan lama.
Sholawat Jawa Tombo Ati mengajarkan keseimbangan antara ibadah, interaksi sosial, dan pentingnya mengendalikan diri. Tombo Ati juga sering dianggap sebagai sholawat pembuka rezeki, Dalam berbagai majelis dzikir, lagu ini juga sering dikaitkan dengan sholawat jibril, sholawat syifa, dan sholawat nariyah karena sama-sama menekankan pentingnya dzikir dan kesucian hati.
2. Sholawat Jawa Syi’ir tanpa Waton
Karya ini sering dikaitkan dengan sosok KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Sholawat ini sangat reflektif, menegaskan bahwa pengetahuan agama tidak akan bermakna tanpa rasa tulus dan rendah hati.
Berikut ini lirik lengkap sholawat Jawa Syi’ir tanpa Waton:
Eling-eling ojo dumeh,
Ojo sok ngerti, sok ngerti,
Yen durung ngerti sak temene,
Eling-eling ojo dumeh.
Eling-eling wong urip iku mung numpak sekedhap,
Ojo mung ngandel ilmu,
Ilmu tanpa amal ora bakal manfaat,
Eling-eling ojo dumeh.
Eling-eling urip ing donya mung mampir ngombe,
Yen mati mung nggawa amal,
Dudu banda, dudu kuasa, dudu pangkat,
Eling-eling ojo dumeh.
Eling-eling aja dumeh pinter, aja dumeh kuasa,
Aja dumeh sugih, aja dumeh mulya,
Kabeh mung titipan Gusti Allah,
Eling-eling ojo dumeh.
Eling-eling ojo dumeh,
Kabeh bakal bali marang Pangeran,
Sing duwe urip mung Gusti Allah,
Eling-eling ojo dumeh.
Terjemahan dalam Bahasa Indonesia:
Ingat-ingatlah, jangan merasa paling hebat,
Jangan sok tahu, sok mengerti,
Jika belum benar-benar memahami,
Ingatlah, jangan sombong.
Ingatlah, hidup di dunia ini hanya sebentar,
Jangan hanya mengandalkan ilmu,
Ilmu tanpa amal tidak akan membawa manfaat,
Ingatlah, jangan sombong.
Ingatlah, hidup di dunia hanya singgah sebentar seperti minum,
Saat mati, hanya amal yang dibawa,
Bukan harta, bukan kekuasaan, bukan jabatan,
Ingatlah, jangan sombong.
Ingatlah, jangan merasa paling pintar, jangan merasa berkuasa,
Jangan merasa kaya, jangan merasa mulia,
Semuanya hanyalah titipan dari Allah,
Ingatlah, jangan sombong.
Ingatlah, jangan sombong,
Segala sesuatu akan kembali kepada Tuhan,
Yang memiliki kehidupan hanyalah Allah,
Ingatlah, jangan sombong.
Sholawat ini menjadi pengingat agar umat Islam senantiasa rendah hati dan tulus ikhlas dalam beribadah. Dalam masyarakat Jawa, Syi’ir tanpa Waton sering lantunkan dalam nuansa penuh renungan. Sholawat ini juga sering dilantunkan bersama sholawat badar, sholawat adrikni, atau sholawat fatih untuk memperkuat suasana spiritual.
3. Sholawat Jawa Pitakonan Kubur
Pitakon Kubur merupakan sholawat sarat makna dan penuh pesan reflektif. Lagu ini mengingatkan setiap manusia bahwa hidup tidak hanya di dunia saja, melainkan ada kehidupan selanjutnya yakni kehidupan akhirat. Sesudah mati, setiap manusia di alam kubur akan ditanya mengenai Tuhan, Nabi, dan amal perbuatannya selama hidup di dunia.
Berikut ini lirik sholawat Jawa pitakon kubur:
Yen wis mati bakal ditakoni,
Sapa Pengeranmu, sapa Nabimu,
Apa kitabmu, apa agamamu,
Jawaben kanthi bener, ojo nganti kleru.
Yen urip ning alam donya,
Akeh dosa lan maksiate,
Nanging durung tobat nganti mati,
Sengsara urip ing alam kubur.
Eling-eling, aja lali,
Urip mung sepisan, ora ana baleni,
Gunakna urip kanggo ngibadah,
Supaya slamet tekan akhirat.
Eling-eling ojo dumeh,
Saben napas kudu eling Gusti,
Sing maringi urip lan pati,
Gusti Allah Kang Maha Suci.
Terjemahan Bahasa Indonesia:
Jika sudah mati, engkau akan ditanya,
Siapa Tuhanmu, siapa Nabimu,
Apa kitabmu, apa agamamu,
Jawablah dengan benar, jangan sampai salah.
Saat hidup di dunia,
Banyak dosa dan maksiat,
Namun belum sempat bertobat hingga mati,
Maka sengsara di alam kubur menanti.
Ingatlah, jangan lupa,
Hidup hanya sekali, tak ada pengulangan,
Gunakan hidup untuk beribadah,
Agar selamat sampai akhirat.
Ingatlah, jangan sombong,
Setiap napas harus mengingat Tuhan,
Dialah yang memberi hidup dan mati,
Allah Yang Maha Suci.
Pitakon Kubur merupakan pengingat lembut agar manusia mempersiapkan diri sebelum kematian tiba. Sholawat jawa ini biasanya dilantunkan saat tahlilan atau selamatan. Sebagian masyarakat Jawa menganggap sholawat ini satu-kesatuan dengan bentuk dzikir seperti sholawat asyghil, sholawat mughrom, dan sholawat tunjina yang berisi doa keselamatan serta permohonan ampun kepada Allah.
Eksistensi Sholawat Jawa di Tengah Masyarakat
Keindahan sholawat Jawa tidak hanya terletak pada lirik dan nadanya, tapi juga pada peran sosial yang dibawanya. Di berbagai daerah, sholawat menjadi sarana mempererat silaturahmi dan memperkuat identitas budaya. Di Desa Tepus, Gunungkidul, misalnya, kelompok terbangan masih rutin tampil dalam acara keagamaan dan hajatan warga. Sementara di Wonokromo, Bantul, tradisi “gladen sholawatan” digelar bergiliran di rumah-rumah warga pada setiap pekannya. Kegiatan ini merupakan ajang kebersamaan sekaligus pelestarian budaya spiritual.
Generasi muda kini juga mulai memadukan tabuhan rebana dengan alat musik modern seperti gitar dan keyboard. Bahkan, banyak grup musik daerah kini mengunggah sholawat Jawa versi modern karya mereka di YouTube. Sholawat Jawa tidak hanya menjadi media beribadah, tetapi juga wadah ekspresi budaya. Irama lembut membuat siapapun yang melantunkan maupun hanya mendengarkan merasa tenang. Kebersamaan dalam pembacaannya membuat hubungan masyarakat semakin solid. Sholawat Jawa menjadi bentuk dakwah yang inklusif, menyentuh hati karena santun dan lembut, serta memupuk rasa persaudaraan karena kerap dilantunkan dalam majelis-majelis sholawat.
Pertanyaan seputar Sholawat Jawa
Apa itu Sholawat Jawa?
Sholawat Jawa adalah bentuk pujian kepada Nabi Muhammad SAW yang disampaikan dalam bahasa Jawa dan diiringi musik tradisional seperti rebana atau terbang.
Siapa yang menciptakan Sholawat Jawa?
Tradisi ini berakar dari dakwah para Wali Songo, terutama Sunan Kalijaga, yang memanfaatkan seni dan budaya lokal sebagai media penyebaran Islam.
Apa makna utama dari Tombo Ati?
Tombo Ati mengajarkan lima cara menenangkan hati: membaca Al-Qur’an, shalat malam, bergaul dengan orang saleh, berpuasa, dan berdzikir.
Kenapa Syi’ir Tanpa Waton disebut syi’ir introspeksi?
Karena isinya menasihati manusia agar tidak sombong dan selalu memperbaiki diri dengan keikhlasan, sesuai nilai-nilai luhur dalam ajaran Islam dan budaya Jawa.
Kapan Pitakonan Kubur biasa dibacakan?
Biasanya dilantunkan dalam acara tahlilan atau selamatan sebagai pengingat tentang kehidupan setelah mati. Dalam beberapa tradisi, juga disertai dengan lantunan sholawat al hijrotu, sholawat hayyul hadi, sholawat asnawiyah, dan sholawat ummi sebagai doa penenang arwah.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5515616/original/022919100_1772182056-Terminal_Jatijajar_Depok.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4769102/original/014075000_1710171937-20240311-Taraweh_Pertama_di_Istiqlal-ANG_1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5382022/original/048339900_1760524874-Sholawat_dan_Berdzikir.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5505405/original/077638700_1771386569-2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5505591/original/004405000_1771391548-baju_kurung.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5515025/original/077930200_1772148384-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1606355/original/da4eee4c0f11eaa06447a469562bbdd4ommons.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5169865/original/011956600_1742551032-Depositphotos_650337252_S.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5501800/original/006278100_1770956928-unnamed__12_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5080366/original/098387100_1736160174-1736156793388_caption-quotes-islami-singkat.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5514935/original/093643200_1772126473-WhatsApp_Image_2026-02-24_at_16.46.14.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5514742/original/096572900_1772104605-ShopeePay_Gebyar_Ramadan_2026_01.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5514291/original/081789300_1772086565-073849700_1414158415-x6.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4377848/original/055270800_1680189080-pexels-thirdman-7956574.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5514838/original/031002600_1772111058-san1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/697821/original/26062014-jelang-puasa.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2220482/original/035724700_1526813013-The_Blue_Mosque_at_night.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5379059/original/056919200_1760334225-sholawat_asyghil.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5513755/original/018031500_1772065055-1.jpg)













:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1554094/original/040157900_1491121330-stairs-735995_1920.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5348709/original/090969100_1757859256-bioskop.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4010689/original/086569000_1651202668-pexels-rayn-l-3163677.jpg)









