Menjaga Lisan di Era Kebebasan Berbicara, Antara Hak dan Tanggung Jawab Moral Sosial

1 day ago 6

Liputan6.com, Jakarta - Menjaga lisan di era kebebasan berbicara menjadi isu penting yang terus mengemuka seiring semakin terbukanya ruang publik, baik di dunia nyata maupun di ranah digital yang nyaris tanpa batas. Kebebasan menyampaikan pendapat sering dipahami sebagai hak mutlak, padahal di dalamnya tetap melekat tanggung jawab moral, sosial, dan spiritual. Tanpa kesadaran itu, kata-kata mudah berubah dari sarana komunikasi menjadi sumber persoalan yang berlarut-larut.

Menjaga lisan di era kebebasan berbicara juga menuntut kemampuan menahan diri, terutama ketika emosi, perbedaan pandangan, dan kepentingan pribadi saling berkelindan dalam satu ruang diskusi. Banyak konflik bermula bukan dari niat jahat, melainkan dari ucapan yang dilontarkan tanpa pertimbangan dampak. Di sinilah lisan menjadi ujian kedewasaan seseorang dalam menyikapi kebebasan.

Lisan adalah anugerah yang memungkinkan manusia membangun peradaban, menyebarkan ilmu, dan merajut hubungan sosial yang saling menguatkan. Namun, anugerah ini dapat berubah menjadi petaka ketika digunakan tanpa kendali dan empati. Kata-kata yang terucap sering kali lebih cepat daripada pikiran yang jernih.

Dalam ajaran Islam, lisan menempati posisi yang sangat krusial karena berkaitan langsung dengan akhlak dan keimanan seseorang. Rasulullah SAW menegaskan pentingnya berkata baik atau memilih diam sebagai bentuk keselamatan diri. Prinsip ini relevan sepanjang zaman, termasuk di tengah arus kebebasan berbicara yang kian deras.

Kebebasan Berbicara dan Batas Etika

Kebebasan berbicara sejatinya bukan kebebasan tanpa batas, karena setiap ucapan membawa konsekuensi yang nyata. Dalam konteks sosial, ucapan dapat membentuk opini, mempengaruhi emosi massa, dan bahkan memicu konflik horizontal. Oleh karena itu, etika menjadi pagar penting agar kebebasan tidak menjelma menjadi kebablasan.

Di ruang digital, kata-kata tersebar jauh lebih cepat dibandingkan percakapan lisan biasa. Sekali diunggah, ucapan sulit ditarik kembali dan jejaknya dapat bertahan lama. Hal ini membuat kehati-hatian dalam berbicara menjadi kebutuhan mendesak, bukan sekadar anjuran moral.

Banyak orang merasa aman berbicara kasar karena bersembunyi di balik layar dan anonimitas. Padahal dampak psikologis bagi penerima tetap sama, bahkan bisa lebih berat karena disaksikan oleh publik luas. Kebebasan tanpa empati pada akhirnya hanya melahirkan luka kolektif.

Menjaga lisan berarti memahami bahwa tidak semua yang benar harus disampaikan, dan tidak semua yang bisa diucapkan pantas untuk dilontarkan. Pertimbangan waktu, tempat, dan cara menjadi bagian dari kebijaksanaan berbicara. Tanpa itu, kebenaran pun bisa terasa menyakitkan.

Lisan sebagai Cermin Hati

Lisan sering disebut sebagai cermin hati karena apa yang terucap biasanya mencerminkan isi batin seseorang. Ketika hati dipenuhi amarah dan dengki, lisan pun mudah mengeluarkan kata-kata yang melukai. Sebaliknya, hati yang jernih akan melahirkan ucapan yang menenangkan.

Islam mengingatkan bahwa setiap kata akan dimintai pertanggungjawaban, sekecil apa pun dampaknya. Rasulullah SAW bersabda tentang bahaya ucapan yang dianggap remeh namun berujung petaka. Kesadaran ini seharusnya membuat seseorang lebih berhati-hati dalam berbicara.

Ucapan yang baik mampu menjadi amal jariyah ketika menguatkan orang lain dan menebar manfaat. Namun ucapan yang buruk dapat menjadi dosa yang terus mengalir selama dampaknya masih dirasakan. Di sinilah lisan menjadi ladang pahala sekaligus potensi dosa.

Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali kata-kata kasar muncul dari kebiasaan yang dibiarkan. Candaan berlebihan, sindiran halus, atau komentar sinis perlahan membentuk karakter komunikasi yang tidak sehat. Jika tidak disadari, hal ini menjadi budaya yang sulit diubah.

Dampak Ucapan terhadap Hubungan Sosial

Hubungan antarindividu sangat rentan rusak oleh kata-kata yang tidak terjaga. Persahabatan lama bisa retak hanya karena satu kalimat yang melukai harga diri. Luka akibat ucapan sering kali lebih lama sembuh dibanding luka fisik.

Pepatah Arab mengingatkan kerasnya dampak lisan melalui ungkapan:

جَرَاحَةُ السِّنَانِ لَهَا الْتِئَامٌوَلَا يَلْتَئِمُ مَا جَرَحَ اللِّسَانُ

Jarāḥatus-sināni lahā iltiyām, wa lā yalta’imu mā jaraḥal-lisān

Artinya: Luka karena senjata bisa sembuh, tetapi luka karena lisan sulit dipulihkan.

Ucapan yang menyakitkan sering menyerang aspek psikologis seperti rasa percaya diri dan martabat. Dampaknya tidak selalu terlihat, namun membekas dalam ingatan korban. Inilah sebabnya mengapa menjaga lisan menjadi kunci menjaga persaudaraan.

Di lingkungan keluarga, kata-kata orang tua sangat berpengaruh terhadap perkembangan mental anak. Ucapan yang merendahkan dapat meninggalkan trauma jangka panjang. Sebaliknya, kata-kata yang menguatkan mampu menumbuhkan kepercayaan diri.

Lisan dalam Timbangan Iman

Rasulullah SAW mengaitkan keselamatan manusia dengan kemampuannya menjaga lisan. Dalam sebuah hadis, beliau mengingatkan bahwa banyak manusia tergelincir ke dalam kebinasaan karena ucapan mereka sendiri. Pesan ini menunjukkan bahwa lisan bukan perkara sepele.

Ali bin Abi Thalib pernah berkata bahwa lisan lebih tajam daripada mata pedang. Ungkapan ini menegaskan daya rusak kata-kata yang tak terkendali. Ketajaman lisan dapat menghancurkan reputasi dan kepercayaan dalam sekejap.

Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali menekankan bahwa orang yang mampu menghisab dirinya akan lebih mudah menjaga lisannya. Menurutnya, meremehkan lisan sama dengan membuka pintu dosa yang luas. Nasihat ini relevan bagi siapa pun yang hidup di tengah arus informasi deras.

Dalam konteks iman, berkata baik bukan sekadar etika sosial, melainkan bentuk ketaatan. Diam pun bisa menjadi ibadah ketika bertujuan menghindari mudarat. Prinsip ini mengajarkan keseimbangan antara berbicara dan menahan diri.

Media Sosial dan Tantangan Menjaga Lisan

Media sosial menghadirkan tantangan baru dalam menjaga lisan karena batas antara opini pribadi dan konsumsi publik semakin kabur. Satu unggahan bisa ditafsirkan beragam oleh audiens yang berbeda latar belakang. Kesalahpahaman pun mudah terjadi.

Budaya viral sering mendorong orang berbicara tanpa berpikir panjang demi perhatian sesaat. Validasi berupa likes dan komentar kerap mengalahkan pertimbangan etika. Akibatnya, ucapan yang seharusnya ditahan justru diumbar.

Menjaga lisan di media sosial berarti menyadari bahwa tulisan memiliki dampak yang sama dengan ucapan langsung. Bahkan, dampaknya bisa lebih luas dan bertahan lama. Kesadaran ini menuntut kedewasaan digital.

Setiap pengguna sejatinya bertanggung jawab atas iklim komunikasi yang tercipta. Ketika banyak orang memilih kata-kata santun, ruang digital menjadi lebih sehat. Sebaliknya, ujaran kasar akan melahirkan lingkaran konflik yang tak berujung.

Prinsip Praktis Menjaga Lisan

Berpikir sebelum berbicara menjadi prinsip dasar yang sering diabaikan. Pertanyaan sederhana tentang manfaat dan dampak ucapan seharusnya mendahului setiap kata. Dengan begitu, lisan tidak mudah tergelincir.

Mengendalikan emosi juga menjadi kunci penting dalam menjaga lisan. Banyak ucapan disesali lahir dari amarah sesaat yang tidak terkelola. Menunda berbicara saat emosi memuncak sering kali lebih bijak.

Kejujuran tetap harus dibalut dengan kebijaksanaan. Kritik yang disampaikan dengan cara santun lebih mudah diterima daripada kebenaran yang disampaikan dengan kasar. Cara berbicara sering kali lebih menentukan daripada isi pesan itu sendiri.

Mengenali lawan bicara dan konteks pembicaraan membantu seseorang memilih kata yang tepat. Apa yang pantas di satu situasi belum tentu pantas di situasi lain. Sensitivitas ini menjadi bagian dari akhlak komunikasi.

Menjaga Lisan sebagai Tanggung Jawab Bersama

Menjaga lisan bukan hanya tanggung jawab individu, tetapi juga tanggung jawab kolektif dalam masyarakat. Lingkungan yang membiasakan komunikasi santun akan membentuk karakter anggotanya. Sebaliknya, budaya kasar melahirkan generasi yang mudah melukai.

Pendidikan keluarga dan lingkungan memiliki peran besar dalam membentuk kebiasaan berbicara. Anak-anak belajar dari apa yang mereka dengar setiap hari. Oleh karena itu, teladan menjadi metode pendidikan paling efektif.

Lisan yang terjaga mampu menciptakan suasana damai dan saling menghargai. Dalam masyarakat majemuk, hal ini menjadi modal penting menjaga persatuan. Perbedaan pandangan tidak harus berujung pertengkaran.

Menjaga lisan di era kebebasan berbicara pada akhirnya adalah upaya menyeimbangkan hak dan tanggung jawab. Kebebasan yang disertai etika akan melahirkan dialog sehat. Dari sinilah kehidupan sosial yang harmonis dapat terwujud.

People Also Talk

1. Mengapa menjaga lisan penting di era digital?Karena ucapan dan tulisan di ruang digital menyebar cepat dan berdampak luas, sehingga kesalahan kecil bisa berujung masalah besar.

2. Apakah diam selalu lebih baik daripada berbicara?Diam lebih baik ketika ucapan berpotensi menyakiti atau tidak membawa manfaat yang jelas.

3. Bagaimana cara menahan lisan saat emosi?Dengan memberi jeda sebelum berbicara, menarik napas, dan menenangkan diri agar pikiran lebih jernih.

4. Apakah kebebasan berbicara dibatasi dalam Islam?Islam mengakui kebebasan berbicara, tetapi membatasinya dengan nilai kebenaran, kemanfaatan, dan adab.

5. Apa dampak jangka panjang dari ucapan buruk?Ucapan buruk dapat meninggalkan luka psikologis, merusak hubungan, dan menciptakan konflik sosial yang berkepanjangan.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |