CANTIKA.COM, Jakarta - Selama hampir dua dekade, nama Bubah Alfian dikenal sebagai makeup artist yang bekerja bersama sejumlah figur publik dan terlibat dalam berbagai panggung fashion serta budaya. Namun, perjalanan Bubah bersama Jember Fashion Carnaval (JFC) membawanya pada peran yang lebih besar, bukan sekadar merias wajah atau berada di balik panggung, tetapi ikut membangun sebuah ekosistem kreatif yang berangkat dari kota kecil di Jawa Timur.
Bubah pertama kali belajar di JFC pada 2006. Setelah sempat pindah ke Jakarta pada 2011, ia kembali ke Jember pada 2019 setelah berpulangnya pendiri JFC, almarhum Dynand Fariz. Sejak itu, Bubah kembali aktif mengambil bagian dalam pengembangan JFC, mulai dari perencanaan, marketing, kolaborasi, hingga menjadi salah satu wajah yang memperkenalkan JFC kepada publik.
Kini, Bubah dipercaya sebagai Ambassador JFC. Baginya, JFC bukan lagi sekadar karnaval, melainkan sebuah ekosistem yang mempertemukan fashion, beauty, musik, film, seni, UMKM, pariwisata, budaya, hingga isu kemanusiaan dan lingkungan.
Dalam perbincangan dengan Cantika, Rabu, 19 Oktober 2026 di kawasan Cilandak, Bubah bercerita tentang alasan kembali ke JFC, visi membawa festival tersebut ke level dunia, pentingnya budaya lokal, hingga pesan untuk generasi muda di daerah. Penasaran? Yuk simak obrolan hangat Cantika berikut ini.
Apa ide awal Bubah melanjutkan dan membangun Jember Fashion Carnaval hingga bisa seikonik sekarang?
Menurut saya, Jember Fashion Carnaval itu adalah sebuah tempat yang mungkin bisa saya katakan sebagai salah satu tempat paling ajaib di dunia. Anak-anak yang belajar di sana bisa ikut secara gratis dan tidak ada batasan siapa yang boleh bergabung.
Di sana kita bukan cuma diajarkan makeup atau membuat kostum. Potensi diri kita benar-benar digali. Kita belajar menjadi diri kita sesuai dengan apa yang kita mau.
Karena itu, ketika saya kembali dan melihat JFC, saya berpikir bahwa kita sebenarnya bukan hanya sedang membuat the biggest carnival, tetapi sedang membangun the largest creative civilization ecosystem in the world.
Ketika JFC digelar, UMKM ikut terangkat, pariwisata bergerak, budaya diperkenalkan, seniman lahir, dan berbagai isu yang sedang terjadi di dunia juga bisa disuarakan melalui karya.
JFC juga mengajarkan bagaimana menyampaikan pesan secara soft melalui budaya. Misalnya, ketika kita mengangkat konsep Kintsugi dari Jepang, sebenarnya pesan yang ingin disampaikan bukan sekadar tentang kerajinan memperbaiki benda yang pecah. Kita ingin mengatakan bahwa ketika manusia terpecah, masih ada harapan untuk kembali menyatu.
Jadi, saya ingin JFC terus menjadi ruang untuk menyuarakan sesuatu yang penting bagi dunia melalui kreativitas.
Lalu, apa yang Bubah lakukan setelah kembali ke JFC hingga akhirnya berkembang seperti sekarang?
Hal pertama yang saya lakukan adalah membawa kembali semangat kekeluargaan. JFC mengajarkan saya bahwa hubungan dengan orang lain bukan sekadar hubungan profesional.
Ketika saya bekerja bersama seorang selebriti, misalnya, saya tidak ingin hanya menjadi makeup artist-nya. Saya ingin membangun hubungan sebagai keluarga. Nilai itu saya dapatkan dari JFC.
Setelah saya kembali pada 2019, saya juga berusaha mengajak lebih banyak selebriti datang ke Jember. Kehadiran mereka memang ikut mengangkat perhatian publik terhadap JFC. Tetapi saya ingin mereka datang bukan hanya untuk tampil.
Misalnya, Prilly Latuconsina datang bersama gerakan peduli bumi. Ada juga selebriti dan Puteri Indonesia yang datang ke rumah penduduk, tempat ibadah, melakukan penanaman pohon, bertukar pakaian bekas, hingga ikut kegiatan sosial.
Jadi kolaborasinya tidak berhenti di panggung. Saya ingin hubungan dengan partner, komunitas, maupun selebriti bisa berlanjut sepanjang tahun.
Jember Fashion Carnaval (JFC) 2026 digelar pada tanggal 24 hingga 26 Juli 2026 di Central Park Jember/Foto: Instagram/@officialputeriindonesia
Sejauh ini, apa arti Jember Fashion Carnaval bagi Bubah secara personal?
JFC adalah rumah bagi saya. Saya belajar makeup di sana. Saya belajar menggali potensi diri, belajar berani, belajar menaklukkan Indonesia bahkan dunia. Saya lahir dari JFC dan saya bangga menjadi bagian dari keluarga JFC.
Tetapi JFC bagi saya juga merupakan aset penggerak banyak bidang, mulai dari sustainability, tourism, artisan, fashion, beauty sampai ekonomi kreatif.
Anak-anak yang ada di sana menurut saya adalah seniman sekaligus calon pebisnis dan aset Indonesia. Banyak orang di belakang layar yang mungkin tidak terlihat, tetapi bekerja mati-matian untuk membuat JFC berjalan. Mereka juga adalah aset bangsa.
Tahun ini Bubah menjadi Ambassador JFC. Apa tanggung jawab dan visi yang ingin diwujudkan melalui peran tersebut?
Peran ini tentu tidak mudah. Sebelumnya saya pernah menjadi event director, sekarang saya lebih berperan sebagai director sekaligus menjadi salah satu orang yang merangkum banyak hal di JFC. Mulai dari planning, marketing, kru, kolaborasi, sampai menjadi salah satu wajah JFC. Tetapi visi saya sekarang sudah lebih besar daripada sekadar membuat karnaval.
JFC sudah menjadi salah satu karnaval besar di dunia. Yang ingin saya bangun adalah kesadaran bahwa ekosistem kreatifnya sudah sangat besar. Kita punya fashion, musik, film, artisan, panggung, budaya dan berbagai talenta.
Saya ingin orang datang ke Jember bukan hanya untuk melihat karnaval, tetapi merasakan apa itu budaya, bagaimana budaya diciptakan, bahkan bagaimana sebuah budaya baru bisa lahir. Saya membayangkan Jember tidak hanya punya karnaval, tetapi juga konser musik, festival film, red carpet, pagelaran fashion dan budaya. Semuanya menjadi satu ekosistem.
JFC tahun ini mengusung tema HEAL, Humanity, Earth, and Life. Mengapa tema ini relevan dengan kondisi Indonesia maupun dunia saat ini?
Tema JFC sebenarnya sudah dirancang oleh almarhum Mas Dynand Fariz untuk perjalanan panjang hingga 100 tahun ke depan. Tahun depan bahkan menjadi tahun ke-25 JFC. HEAL sangat relevan karena saat ini kita membutuhkan kesadaran tentang humanity. Kita hidup bukan sendirian di dunia. Kita hidup bersama orang lain dan untuk orang lain.
Kita juga harus sadar bahwa bumi adalah bagian dari kehidupan kita. Dan yang tidak kalah penting, kita harus menyadari bahwa diri kita sendiri berharga. Jadi Humanity, Earth, and Life mengingatkan kita untuk kembali melihat hubungan antara manusia, bumi dan kehidupan secara lebih utuh.
Bubah Alfian bersama Christine Hakim di Jember Fashion Carnaval (JFC) 2026 yang digelar pada tanggal 24 hingga 26 Juli 2026 di Central Park Jember/Foto: Instagram/@iftaul
Bubah pernah mengatakan, “Mimpi dari kota kecil juga layak berjalan menuju panggung dunia.” Apa makna kalimat itu bagi perjalanan JFC?
JFC sendiri tidak langsung menjadi sebesar sekarang. JFC berangkat dari keluarga dan lingkungan almarhum Mas Dynand Fariz. Awalnya pun masih berada di sekitar Alun-Alun Jember. Dari sana saya belajar bahwa kalau Jember bisa, kota-kota lain juga bisa.
Yang penting adalah apakah generasi mudanya mau bergerak. Kita tidak boleh berpikir bahwa untuk menghasilkan sesuatu yang besar kita harus berasal dari kota besar. JFC membuktikan bahwa sebuah mimpi dari kota kecil bisa berjalan sampai panggung dunia.
Seberapa penting budaya lokal menjadi identitas utama ketika ingin membawa Indonesia ke panggung internasional?
Sangat penting. Kita tidak boleh membawa budaya Indonesia ke dunia dengan menghilangkan identitasnya. Justru yang harus dilakukan adalah menggali identitas setiap daerah lebih dalam. Saya baru menyadari bahwa di Indonesia ada lebih dari 300 karnaval. Selama ini kita mungkin hanya mengenal beberapa nama besar. Padahal kekayaan budaya dan kreativitas di setiap daerah luar biasa.
Saya ingin JFC juga bisa menjadi penggerak untuk membantu kota-kota lain menggali potensi mereka tanpa mengubah identitas daerah tersebut. Kita tidak harus menyeragamkan Indonesia. Justru keberagaman itulah kekuatan kita.
Bagaimana sebuah festival budaya dapat memberikan dampak nyata bagi perekonomian masyarakat lokal?
Ketika sebuah festival berlangsung selama beberapa hari, pergerakan ekonominya terjadi di banyak titik. Di JFC, UMKM makanan hadir di sekitar area acara. Ada bazar, batik, produk lokal dan berbagai usaha masyarakat yang ikut bergerak. Jadi penonton bukan hanya datang melihat karnaval, tetapi juga berinteraksi dengan ekonomi lokal.
Tahun ini rangkaian acaranya juga berkembang menjadi lima hari, dengan berbagai kegiatan seperti red carpet dan konferensi pers. Artinya, semakin panjang orang tinggal di Jember, semakin banyak pula sektor yang mendapatkan manfaat.
Saya melihat sendiri bagaimana UMKM ikut berkembang. Tantangannya sekarang adalah bagaimana branding dan kemasan produk lokal bisa semakin diperkuat, termasuk dengan menggunakan material yang lebih ramah lingkungan.
Saya juga pernah menyebut angka perputaran uang lebih dari Rp200 miliar dari rangkaian kegiatan JFC. Mungkin ada yang tidak percaya, tetapi kalau kita melihat dampaknya dalam beberapa hari saja, kita bisa membayangkan bagaimana efeknya terhadap ekonomi sepanjang tahun.
Jember Fashion Carnaval (JFC) 2026 digelar pada tanggal 24 hingga 26 Juli 2026 di Central Park Jember/Foto: Doc. Pribadi
Bagaimana industri kecantikan dapat berkontribusi dalam memperkuat ekosistem ekonomi kreatif Indonesia?
Beauty dan fashion adalah dua kekuatan besar Indonesia. Kalau kita melihat satu produk saja, perputaran ekonominya bisa sangat besar. Ada produsen, pekerja, distributor, e-commerce, afiliator, makeup artist, content creator, sampai konsumen yang semuanya terhubung.
Karena itu, saya juga sejak dulu mengajar makeup. Bagi saya, makeup adalah salah satu keterampilan yang relatif mudah dipelajari, terutama bagi perempuan dan ibu-ibu yang ingin punya peluang ekonomi.
Tetapi yang ingin saya bangun bukan hanya menciptakan makeup artist atau menjual produk. Kita harus menciptakan ekosistem yang membuat banyak orang bisa mendapatkan penghasilan dari industri tersebut.
Itulah mengapa saya ingin menghubungkan beauty dengan fashion, carnival, film dan musik. Ketika semuanya bergerak bersama, semakin banyak talenta yang muncul, tren baru lahir, budaya baru berkembang, dan ekonomi ikut tumbuh.
Bagaimana JFC dapat menjadi contoh bahwa kreativitas dan kepedulian terhadap lingkungan bisa berjalan beriringan?
Almarhum Mas Dynand Fariz sejak awal punya gagasan agar kostum JFC banyak menggunakan material bekas. Bahkan ada standar sekitar 70 persen material kostum berasal dari sampah atau material yang sudah tidak digunakan.
Jadi sustainability bukan sekadar tema yang ditempelkan pada acara. Ia menjadi bagian dari proses kreatif. Setelah acara selesai, kami juga berusaha agar tidak meninggalkan sampah. Anggota dan volunteer ikut membersihkan area sepanjang sekitar 3,8 kilometer.
Ke depan, saya ingin sustainability bukan hanya menjadi tanggung jawab penyelenggara, tetapi juga partner, UMKM, artisan dan seluruh ekosistem yang terlibat.
Kalau ada anak muda yang ingin melakukan gerakan seperti Bubah, seperti apa jalan yang harus mereka tempuh?
Pertama, kerjalah dengan hati. Jangan bekerja hanya untuk diri sendiri. Bekerjalah untuk banyak orang dan selalu peduli terhadap lingkungan sekitar. Jangan menutup suara, mata dan telinga. Dengarkan orang-orang di sekitar kita. Dari sana kita bisa memahami apa yang sedang terjadi dan apa yang sebenarnya dibutuhkan.
Kemudian, mulai dari diri sendiri. Kita harus tahu kekurangan kita, bagaimana menutupinya, dan menggali potensi yang kita punya. Setelah itu baru kita bisa menginspirasi orang lain.
Jember Fashion Carnaval (JFC) 2026 digelar pada tanggal 24 hingga 26 Juli 2026 di Central Park Jember/Foto: Doc. Pribadi
Apa pesan Bubah kepada generasi muda di daerah yang mungkin masih ragu berkarya karena keterbatasan akses?
Jangan minder hanya karena berasal dari daerah. Banyak orang yang suka mengatakan Gen Z seperti ini dan seperti itu. Tetapi saya justru melihat Gen Z sebagai generasi yang pekerja keras, tangguh, punya resiliensi dan visioner.
Saya ingin mereka menggali potensi dirinya sekarang. Milenial dan Gen Z juga bisa saling belajar. Milenial punya pengalaman dari beberapa zaman, sementara Gen Z memiliki cara berpikir yang sangat visioner dan lebih balance. Kita tidak perlu saling membandingkan. Yang penting adalah saling melengkapi.
Apa mimpi terbesar Bubah untuk JFC lima sampai sepuluh tahun ke depan?
Saya ingin JFC menjadi sebuah ekosistem kreatif yang jauh lebih besar. Saya ingin ada festival film, konser musik, fashion show, pagelaran budaya, red carpet dan berbagai kegiatan kreatif lainnya. Saya ingin Jember menjadi salah satu pusat pergerakan ekonomi kreatif Indonesia.
Bahkan saya ingin JFC tidak hanya berbicara tentang Jember. Ada berbagai daerah Indonesia yang bisa ikut tampil, begitu juga negara-negara lain seperti Jepang dan Brasil yang selama ini sudah memiliki hubungan dengan JFC. Saya ingin JFC menjadi aset Indonesia, bukan hanya aset Jember.
Apa definisi sukses bagi Bubah?
Bagi saya, sukses bukan sekadar dikenal sebagai makeup artist. Saya bersyukur pernah berada di industri beauty dan fashion selama hampir 20 tahun. Tetapi semakin lama saya merasa bahwa yang jauh lebih penting adalah apa yang bisa kita berikan kepada orang lain.
Kalau saya bisa membantu orang menggali potensinya, membuka kesempatan, memperkenalkan budaya Indonesia dan membuat orang lain percaya bahwa mereka juga bisa mencapai panggung dunia, itu jauh lebih berarti.
Apa harapan Bubah terhadap generasi muda agar terus mencintai budaya Indonesia di tengah arus globalisasi?
Kita harus mengenal kekayaan Indonesia sebelum mengatakan bahwa kita tidak punya apa-apa. Indonesia kaya raya. Kita punya budaya, fashion, beauty, seni, musik, film, artisan dan talenta yang luar biasa.
Kita juga tidak perlu menutup mata terhadap produk dan budaya internasional. Kita bisa mencintai produk lokal sekaligus belajar dari dunia internasional. Keduanya bisa saling melengkapi. Yang paling penting adalah mengubah mindset.
Kita tidak kekurangan talenta. Kita justru kebanyakan talenta. Yang perlu kita lakukan adalah menggali, memberikan ruang dan membuka kesempatan.
Saya ingin pemerintah memberikan panggung. Saya ingin media terus memberikan ruang. Saya ingin industri bergerak bersama. Karena menurut saya, kekayaan terbesar Indonesia bukan hanya sumber daya alam, tetapi juga manusia dan kreativitasnya.
Dan kalau Jember bisa membuktikan bahwa mimpi dari kota kecil dapat berjalan menuju panggung dunia, saya percaya kota-kota lain di Indonesia juga bisa melakukan hal yang sama.
ECKA PRAMITA
Halo Sahabat Cantika, Yuk Update Informasi Terkini Gaya Hidup Cewek Y dan Z di Instagram dan TikTok Cantika.
































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5220347/original/094913800_1747281277-41961081_8976420.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5582904/original/095301300_1778131421-cpns_bea_cukai_-_cek_fakta.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5572218/original/060707400_1777780612-cek_fakta_-_CPNS_Kemenag.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5525602/original/003097400_1773046669-unnamed__54_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4442582/original/000568400_1685093803-Screenshot_20230526_120852_Gallery.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5407521/original/093009600_1762744968-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2025-11-10T101330.228.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5580670/original/061045400_1778126140-8a6419d8-418c-4e77-8846-31d68f6b6e38.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4439341/original/074219600_1684915362-ibrahim-uz-3Z3RvzpVAqM-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5380783/original/022608800_1760432989-Ilustrasi_Qunut.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5382328/original/091326000_1760578848-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2025-10-15T134632.180.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5550896/original/089873500_1775711382-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-04-09T120454.556.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2806807/original/084266200_1557976563-IMG-20190507-WA0082.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4697748/original/031327300_1703490526-20231225-Taman-Margasatwa-Ragunan-Herman-5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6363680/original/024922800_1779238711-Tugas__15_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3081754/original/022995900_1584692954-20200320-Suasana-Salat-Jumat-di--Masjid-Agung-Al-Azhar-Jakarta-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4020490/original/041535400_1652339052-20220512-Aksi-Buruh-Peringati-Mayday-7.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5640995/original/044596400_1778245881-haj1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1336024/original/066771100_1472887334-20160903-Idul-Adha-Jakarta-Qurban-YR3.jpg)