7 Contoh Kultum tentang Bahaya Riya yang Menyentuh Hati, Relevan di Era Modern

11 hours ago 12
  • Apa saja contoh dari riya?
  • Bagaimana penjelasan tentang riya?
  • Quran surat apa yang menjelaskan tentang riya?

Baca artikel ini 5x lebih cepat

Liputan6.com, Jakarta - Tema riya sebenarnya begitu relevan di masa kini seturut maraknya konten flexing di media sosial, termasuk dalam hal ibadah. Referensi contoh kultum tentang bahaya riya yang menyentuh hati kini sudah menjadi kebutuhan dakwah modern.

Riya bukan sekadar penyakit batin biasa. Sifat ini sangat berbahaya karena diam-diam mampu menghapus seluruh pahala ibadah, dan malah berisiko mendatangkan dosa besar.

Rasulullah SAW dengan tegas memperingatkan umatnya: "Sesungguhnya yang paling aku takutkan menimpa kalian adalah syirik kecil, yaitu riya." (HR. Ahmad). Dalil ini membuktikan betapa berbahayanya niat buruk tersebut.

Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam kitab Madarij as-Salikin menyoroti bahwa riya adalah dinding penghalang rida Allah. Amalan semegah apa pun pasti tertolak jika tercampur ambisi pujian manusia.

Berikut ini adalah contoh kultum tentang bahaya riya, yang relevan dengan kehidupan modern. Simak selengkapnya.

1. Riya: Sang Pencuri Amal yang Halus

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Segala puji hanya milik Allah, Tuhan semesta alam yang mengetahui segala apa yang tersembunyi di dalam dada manusia.

Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Baginda Nabi Muhammad SAW, yang telah mengajarkan kita kesucian niat dalam setiap tarikan napas ibadah kita.

Hadirin yang dirahmati Allah, mari kita merenung sejenak tentang sebuah penyakit hati yang sangat halus, yang bisa menghancurkan gunung pahala dalam sekejap mata, yaitu riya.

Riya adalah melakukan ibadah dengan tujuan ingin dilihat atau dipuji oleh manusia, sebuah racun yang sering kali masuk tanpa kita sadari ke dalam relung hati.

Betapa malangnya seorang hamba yang telah letih beribadah, namun di hadapan Allah, semua itu hanyalah debu yang berterbangan karena niatnya yang bercabang.

Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ. قَالُوا: وَمَا الشِّرْكُ الأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: الرِّيَاءُ

Artinya: "Sesungguhnya yang paling aku takutkan menimpa kalian adalah syirik kecil. Sahabat bertanya: Apa itu syirik kecil wahai Rasulullah? Beliau menjawab: Riya." (HR. Ahmad).

Imam Ad-Dzahabi dalam kitabnya Al-Kaba’ir menjelaskan bahwa riya disebut syirik kecil karena pelakunya telah menyekutukan Allah dengan makhluk dalam niat ibadahnya.

Beliau menekankan bahwa meskipun kecil penyebutannya, dampaknya sangat besar karena dapat menggugurkan nilai pahala dari amal yang paling mulia sekalipun.

Hadirin, marilah kita periksa kembali setiap sujud dan sedekah kita, apakah benar-benar untuk Allah atau hanya sekadar mengejar decak kagum sesama manusia.

Hanya keikhlasanlah yang akan menjadi penyelamat kita di hari saat harta dan anak cucu tidak lagi memberikan manfaat bagi jiwa yang berlumur noda.

Semoga Allah menjauhkan kita dari sifat riya. Allahummaghfir lana ma asrarna wa ma a'lanna, wa ma anta a'lamu bihi minna. Rabbana atina fiddunya hasanah wa fil akhirati hasanah waqina 'adzabannar.

Wabillahi taufiq wal hidayah, Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

2. Bahaya Riya dalam Ibadah Shalat

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush shalihat. Segala puji bagi Allah yang memberikan hidayah sehingga kita bisa bersimpuh di rumah-Nya.

Shalawat dan salam mari kita haturkan kepada Nabi Muhammad SAW, uswah hasanah kita dalam setiap gerakan dan keheningan niat dalam shalat.

Jamaah yang dimuliakan Allah, shalat adalah tiang agama, namun tiang itu bisa keropos dan runtuh jika di dalamnya terselip keinginan untuk dipandang sebagai orang yang shalih.

Riya dalam shalat sering muncul ketika kita memperbagus bacaan atau memperlama sujud hanya karena ada orang lain yang memperhatikan kita di masjid.

Ini adalah bentuk pengkhianatan terhadap makna "Iyyaka Na'budu", karena lisan berucap hanya pada Allah, namun hati berpaling mengharap pujian manusia.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Ma’un ayat 4-6:

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّيْنَ، الَّذِيْنَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُوْنَ، الَّذِيْنَ هُمْ يُرَاءُوْنَ

Artinya: "Maka celakalah orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap shalatnya, yang berbuat riya."

Imam Al-Qurthubi dalam kitab Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an menjelaskan bahwa ancaman "Wail" atau kecelakaan ini ditujukan bagi mereka yang memperlihatkan ketaatan secara lahiriah saja.

Beliau memaparkan bahwa shalat yang dilakukan demi citra di mata orang adalah shalat yang hampa dari ruh dan tidak akan naik ke langit sebagai amalan yang diterima.

Bayangkan betapa sia-sia lelah kita berdiri dan rukuk jika yang kita dapatkan hanyalah pandangan kagum dari manusia yang sama-sama lemah seperti kita.

Marilah kita melatih hati untuk hanya merasa cukup dengan pandangan Allah, karena hanya Dia yang mampu memberikan balasan yang abadi dan tak terbatas.

Semoga Allah menjaga shalat kita agar tetap murni. Allahumma a'inna 'ala dzikrika wa syukrika wa husni 'ibadatik. Rabbana la tuzigh qulubana ba'da idz hadaitana.

Terima kasih atas segala perhatiannya.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

3. Tiga Golongan Pertama yang Dibakar Api Neraka

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah yang Maha Rahman, yang tak pernah bosan memberikan kesempatan bagi kita untuk bertaubat.

Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah SAW, pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan agar kita tidak tergelincir ke dalam jurang kemunafikan.

Hadirin yang dirahmati Allah, tahukah kita siapa orang-orang yang pertama kali merasakan panasnya api neraka? Ternyata bukan hanya orang-orang kafir yang terang-terangan menentang Tuhan.

Rasulullah SAW memberitahukan sebuah fakta yang menggetarkan jiwa tentang tiga golongan yang memiliki amalan luar biasa namun berakhir tragis karena riya.

Mereka adalah orang yang mati syahid, orang yang alim (berilmu), dan orang yang sangat dermawan, yang semuanya beramal demi gelar dan pujian duniawi.

Nabi SAW bersabda dalam hadis yang panjang:

أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ

Artinya: "...Lalu diperintahkan (agar ia dibawa), maka ia diseret dengan wajahnya (tersungkur di tanah) sampai ia dilemparkan ke dalam neraka." (HR. Muslim).

Imam An-Nawawi dalam kitab Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa niat adalah penentu utama; jika niatnya adalah agar disebut pemberani, alim, atau dermawan, maka itulah yang didapatnya di dunia.

Di akhirat, mereka tidak lagi memiliki bagian apa pun karena Allah tidak menerima amal yang di dalamnya ada sekutu bagi selain diri-Nya.

Hadirin, kisah ini harus menjadi pengingat yang menyayat hati agar kita tidak tertipu dengan banyaknya aktivitas dakwah atau sedekah yang kita lakukan.

Tanpa keikhlasan, amalan hebat itu justru menjadi bahan bakar yang menyeret kita ke dalam penderitaan yang tak berkesudahan di hari kiamat.

Mari berdoa agar dijauhkan dari niat yang kotor. Allahumma inna na'udzu bika min an nusyrika bika syaian na'lamuhu wa nastaghfiruka lima la na'lamuhu.

Demikian kultum singkat ini saya sampaikan.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

4. Riya: Debu yang Menghapus Pahala Sedekah

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah memberikan kita kelebihan rezeki agar kita bisa berbagi dengan sesama yang membutuhkan.

Shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW, sosok yang tangan kanannya memberi tanpa diketahui oleh tangan kirinya.

Hadirin yang berbahagia, sedekah adalah pintu keberkahan, namun setan selalu punya cara untuk merusak pintu tersebut melalui perasaan bangga dan riya.

Sering kali, setelah memberi, muncul keinginan untuk disebut dermawan atau bahkan mengungkit-ungkit pemberian tersebut di hadapan banyak orang.

Tindakan ini sangat berbahaya karena dapat menghapus seluruh keberkahan dan pahala yang seharusnya kita simpan di tabungan akhirat nanti.

Allah SWT berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُبْطِلُوْا صَدَقٰتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْاَذٰى كَالَّذِيْ يُنْفِقُ مَالَهٗ رِئَاۤءَ النَّاسِ

Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu merusak sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang menginfakkan hartanya karena riya kepada manusia." (QS. Al-Baqarah: 264).

Imam Ibnu Katsir dalam kitab Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim menjelaskan bahwa orang yang bersedekah karena riya diumpamakan seperti batu licin yang di atasnya ada debu.

Ketika hujan lebat (amal) menimpanya, debu itu hilang dan batu itu kembali bersih tanpa meninggalkan bekas sedikit pun, gambaran amal yang tak bersisa pahalanya.

Ketulusan dalam memberi adalah kunci agar sedekah kita menjadi naungan di hari kiamat, bukan menjadi beban yang memberatkan hisab kita.

Sembunyikanlah sedekahmu sebagaimana kamu menyembunyikan aib-aibmu, agar hati tetap terjaga dalam kejujuran menghamba hanya kepada Allah semata.

Ya Allah, sucikanlah tangan dan hati kami saat memberi. Allahumma thahhir qulubana minan nifaq wa a'malana minar riya. Rabbana taqabbal minna innaka antas sami'ul 'alim.

Sekian kultum hari ini, semoga bermanfaat.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

5. Mencari Pujian Manusia dalam Menuntut Ilmu

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Segala puji bagi Allah, Zat yang mengangkat derajat orang-orang beriman dan orang-orang yang memiliki ilmu pengetahuan.

Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, guru bagi seluruh alam yang senantiasa mendoakan kebaikan bagi para penuntut ilmu.

Hadirin sekalian, ilmu adalah cahaya, namun cahaya itu bisa menjadi api yang membakar jika digunakan untuk kepentingan popularitas dan kebanggaan diri (riya).

Betapa banyak orang yang belajar agama hanya agar dipandang pintar, disebut ustadz, atau agar bisa mendebat orang lain di depan publik.

Riya dalam ilmu pengetahuan adalah salah satu bentuk penipuan terhadap diri sendiri, karena kita menghabiskan waktu untuk sesuatu yang tidak bernilai di sisi Allah.

Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Artinya: "Barangsiapa yang mempelajari suatu ilmu (agama) yang seharusnya dicari demi mengharap wajah Allah, namun ia mempelajarinya hanya untuk mendapatkan harta dunia, maka ia tidak akan mencium bau surga di hari kiamat." (HR. Abu Dawud).

Syeikh Ibn Rajab Al-Hanbali dalam kitab Jami’ul ‘Ulum wal Hikam memaparkan bahwa ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang membuahkan rasa takut dan ketundukan kepada Allah.

Beliau memperingatkan bahwa mencari kemasyhuran melalui ilmu agama adalah tanda bahwa ilmu tersebut belum meresap ke dalam hati dan hanya berhenti di kerongkongan.

Hadirin, marilah kita luruskan niat belajar kita; bukan untuk meninggikan diri di hadapan manusia, melainkan untuk memperbaiki diri di hadapan Sang Pencipta.

Dunia ini hanyalah panggung sementara, dan pujian manusia hanyalah fatamorgana yang akan hilang ditelan waktu, namun ilmu yang ikhlas akan kekal abadi.

Semoga Allah mengaruniakan kita ilmu yang bermanfaat. Allahummanfa'na bima 'allamtana wa 'allimna ma yanfa'una. Rabbana zidna 'ilman warzuqna fahman.

Mohon maaf atas segala kekurangan.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

6. Riya: Ujian Terberat Bagi Hamba yang Taat

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahilladzi khalaqal mauta wal hayata liyabluwakum ayyukum ahsanu 'amala. Segala puji bagi Allah yang menguji setiap amalan kita.

Shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, yang selalu memohon perlindungan dari fitnah hati yang tersembunyi.

Jamaah yang dirahmati Allah, ujian terberat bagi seorang muslim yang sudah mulai rajin beribadah bukanlah kemaksiatan lahiriah, melainkan godaan riya di dalam hatinya.

Setan tidak lagi menggoda mereka dengan khamr atau judi, tetapi setan membisikkan rasa bangga agar ibadah mereka ingin diperlihatkan kepada orang lain.

Inilah yang disebut oleh para ulama sebagai "semut hitam di atas batu hitam dalam kegelapan malam", saking halusnya gerakan riya di dalam hati manusia.

Rasulullah SAW bersabda mengenai syirik yang sangat samar ini:

أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِمَا هُوَ أَخْوَفُ عَلَيْكُمْ عِنْدِي مِنَ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ؟ ... الشِّرْكُ الْخَفِيُّ

Artinya: "Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang sesuatu yang lebih aku takutkan menimpa kalian daripada Al-Masih Ad-Dajjal? ... Itulah syirik yang tersembunyi (riya)." (HR. Ibnu Majah).

Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam kitab Madarij as-Salikin menjelaskan bahwa riya adalah penghalang terbesar antara seorang hamba dengan Tuhannya.

Beliau menyatakan bahwa seorang hamba tidak akan merasakan manisnya iman selama dia masih menoleh kepada penilaian manusia saat dia sedang menghadap Allah dalam ketaatan.

Mari kita latih diri untuk menikmati ibadah dalam kesunyian, di mana hanya Allah yang menjadi saksi atas setiap tetesan air mata dan gerakan rukuk kita.

Ketenangan sejati bukanlah saat orang memuji keshalihan kita, tapi saat kita merasa tenang karena Allah rida dengan apa yang kita kerjakan di balik pintu yang tertutup.

Ya Allah, jauhkan kami dari fitnah riya. Allahumma inna na'udzu bika min syarri anfusina wa min sayyiati a'malina. Rabbana la tuzigh qulubana.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

7. Taubat dari Riya dan Kembali ke Jalan Ikhlas

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Segala puji bagi Allah, Dzat yang Maha Pengampun, yang pintu taubat-Nya selalu terbuka bagi siapa pun yang ingin kembali.

Shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW, pembawa risalah kebenaran yang mengajarkan kita untuk selalu memperbarui niat (tajdidun niyah).

Hadirin yang dirahmati Allah, jika selama ini kita merasa ada noda riya dalam amal ibadah kita, janganlah berputus asa, karena Allah Maha Penerima taubat.

Langkah pertama untuk menghapus riya adalah dengan mengakui kelemahan hati kita dan segera memohon ampunan atas segala niat yang sempat melenceng.

Ikhlas adalah sebuah perjuangan seumur hidup; ia bukan sekali jadi, melainkan harus terus dijaga dan diperjuangkan dalam setiap detik ibadah kita.

Allah SWT memberikan panduan bagi hamba-Nya yang ingin bertemu dengan-Nya dalam keadaan bersih:

فَمَنْ كَانَ يَرْجُوْا لِقَاۤءَ رَبِّهٖ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَّلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهٖٓ اَحَدًا

Artinya: "Maka barangsiapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia menyekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya." (QS. Al-Kahfi: 110).

Syeikh Abdurrahman As-Sa’di dalam kitab tafsirnya Taisir Karimil Rahman menegaskan bahwa dua syarat diterimanya amal adalah benar secara syariat dan murni niatnya karena Allah.

Beliau menjelaskan bahwa menjauhkan diri dari segala bentuk syirik, termasuk riya, adalah kunci mutlak untuk mendapatkan rida dan balasan pahala dari Allah SWT.

Mari kita jadikan setiap hari sebagai kesempatan untuk memurnikan kembali hati, membuang jauh-jauh keinginan untuk dipuji, dan hanya fokus mengejar cinta Ilahi.

Hanya dengan hati yang bersih kita akan mampu berdiri tegak di hadapan Allah tanpa rasa malu karena amal yang tercampur dengan kepentingan dunia.

Semoga Allah selalu membimbing hati kita. Allahummaj'al 'amalana kullahu shalihan waj'alhu liwajhika khalishan wala taj'al li-ahadin fihi syai-an. Amin.

Sekian kultum penutup ini.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

People also Ask:

Apa saja contoh dari riya?

Riya Kholish

Riya badan ini biasanya dilakukan dengan memamerkan tubuh langsing dengan alasan karena kita rajin melakukan puasa. Riya pakaian contohnya saat kita mengenakan hijab panjang hanya karena untuk mendapatkan penilaian atau dianggap sebagai orang alim oleh orang lain.

Bagaimana penjelasan tentang riya?

Dalam tausiyahnya Herni menyampaikan, pengertian riya secara bahasa yakni berasal dari kata Arriyaa'u yang memiliki arti memperlihatkan atau pamer. Riya merupakan suatu perbuatan memperlihatkan sesuatu, baik barang atau perbuatan baik. Namun dengan tujuan agar dilihat oleh orang lain untuk mendapat pujian.

Quran surat apa yang menjelaskan tentang riya?

QS AL-BAQARAH : 264

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian.

Apa tujuan utama orang yang riya?

Riya adalah memamerkan amal, ibadah atau prestasi kita kepada orang lain dengan tujuan mendapat pujian dan penghargaan darinya.

Apa yang sedang Riya pamerkan dalam Islam?

Riya (pamer) merujuk pada melakukan hal-hal yang menyenangkan Allah dengan niat untuk mencari kekaguman dari orang lain . Oleh karena itu, niat dalam kasus seperti itu biasanya adalah untuk memamerkan amal baik seseorang agar mendapatkan pujian dan kekaguman dari orang lain.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |