Liputan6.com, Jakarta - Pengertian haji mabrur sangat penting dipahami oleh setiap muslim yang hendak menunaikan ibadah haji. Predikat ini menjadi impian karena haji mabrur adalah ibadah yang dilaksanakan dengan sempurna dan diterima oleh Allah SWT, membawa keberkahan dalam kehidupan dan dampak positif yang berkelanjutan.
Namun, tidak semua yang berhaji otomatis meraihnya. Haji mabrur memiliki makna yang lebih mendalam, yaitu haji yang dilaksanakan sesuai dengan petunjuk Allah SWT dan Rasul-Nya, dengan menjalankan semua rukun, wajib, dan sunnah haji serta menjauhi segala larangan yang dapat mengurangi kesempurnaan ibadah haji.
Artikel ini akan membahas secara tuntas pengertian haji mabrur, ciri-ciri, implementasi (pra haji, proses haji, pasca haji), serta implikasinya dalam kehidupan sosial dan spiritual, dilengkapi dengan jawaban atas pertanyaan umum. Jadi simak pembahasan selengkapnya berikut ini, sebagaimana telah Liputan6.com rangkum dari Jurnal Kajian Haji, Umrah dan Keislaman (Vol. 1, No. 2, Desember, 2020), Jumat (8/5/2026).
Apa Itu Pengertian Haji Mabrur?
Umat Islam mendambakan untuk mendapatkan predikat haji mabrur, sehingga perlu pemahaman yang optimal tentang hakikat haji mabrur, bagaimana meraihnya, dan hikmahnya.
Secara bahasa, kata Haji bermakna "bermaksud", "tujuan yang mulia", "menyengaja", atau "menuju". Sedangkan menurut istilah, haji adalah mengunjungi Baitullah di Mekkah untuk melakukan ibadah kepada Allah SWT pada waktu tertentu dan dengan cara tertentu pula. Ibadah ini mencakup amalan seperti wukuf, tawaf, sai, dan amalan lainnya, demi memenuhi panggilan Allah SWT dan mengharapkan ridha-Nya.
Menurut bahasa, kata Mabrur berasal dari kata al-Birru (البر), yang artinya kebaikan atau berbuat baik. Secara istilah, mabrur diartikan sebagai ibadah haji yang sesuai dengan ketentuan Allah SWT dan Rasul-Nya, dilaksanakan dengan ikhlas semata-mata mengharap ridha-Nya, tidak dicampuri dosa, menggunakan biaya yang halal, serta setelah melaksanakan haji menjadikan perbuatannya lebih baik dari sebelumnya.
Haji Mabrur juga dapat diartikan dengan istilah Haji Makbul (haji yang diterima), yaitu ibadah haji yang tidak dicampuri dengan dosa, jauh dari riya, tidak dinodai dengan rafats (kata dan perbuatan yang sia-sia), fusuq (memperlihatkan dan bangga akan perbuatan dosanya), dan jidal (pertengkaran dan perselisihan).
Rasulullah SAW mendefinisikan Haji Mabrur dalam sabda-Nya ketika ditanya oleh seorang sahabat: "Memberikan makan dan berkata baik."
Dari beberapa pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa haji mabrur mempunyai dua dimensi utama. Pertama, dimensi hablum minallah (vertikal), yaitu melaksanakan aturan haji (manasik) sesuai dengan ketentuan Allah SWT dan Rasul-Nya. Kedua, dimensi hablum minannas (horizontal), yaitu mengamalkan hikmah dari ibadah haji kepada sesama dalam bentuk kepedulian sosial sekembalinya ke tanah air.
Perwujudan haji mabrur dapat dilihat dari tutur kata dan sikap seseorang yang lebih baik dari sebelumnya, serta mendapatkan kehormatan sesama di dunia dan kemuliaan dari Allah SWT dengan surga-Nya.
Dasar Hukum dan Keutamaan Haji Mabrur
Haji mabrur menjadi dambaan setiap umat Islam karena beberapa keutamaan dan kemuliaan yang terhimpun di dalamnya.
Dasar Hukum Ibadah Haji
Dasar hukum tentang pelaksanaan ibadah haji terdapat dalam Al-Qur'an, yaitu QS. Ali Imran/3: 97, yang menyatakan: "Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan. Barangsiapa mengingkari (kewajiban) haji, maka ketahuilah bahwa Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari seluruh alam."
Selain itu, hadis Rasulullah SAW juga menegaskan keutamaan haji: "Barang siapa yang berhaji, menjaga dirinya untuk tidak berkata dan berbuat kotor (dosa) dan tidak berbuat pelanggaran (secara terang-terangan), maka diampunilah segala dosanya (terkait dengan Allah) seperti saat dilahirkan oleh ibunya." (HR. Bukhari dan Muslim).
Keutamaan Haji Mabrur
- Menghapus dosa-dosa sebelumnya. Rasulullah SAW bersabda: "Ibadah Haji menghapus dosa-dosa yang telah dikerjakan." (HR. Muslim).
- Termasuk jihad di jalan Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda: "Apabila engkau telah meletakkan pelana kuda, berniat untuk pergi haji dan umrah, maka termasuk jihad." (HR. Abu Zar al-Harwiy).
- Doanya dikabulkan. Rasulullah SAW bersabda: "Ada lima doa yang tidak akan tertolak: doa orang haji sampai kembali, orang yang berperang sampai pulang, orang teraniaya sampai tertolong, orang sehat sampai sembuh dan doa seseorang kepada saudaranya yang gaib." (HR. Said bin Jubair).
- Dapat memberi syafaat. Rasulullah SAW bersabda: "Siapa yang haji karena Allah SWT, maka diampuni dosanya dan diberi hak untuk memberikan syafaat." (HR. Abu Munzir).
- Balasannya surga. Rasulullah SAW bersabda: "Haji Mabrur tidak ada balasannya kecuali surga." (HR. Ahmad).
Implementasi Haji Mabrur
Untuk meraih haji mabrur, diperlukan tahapan atau pensyaratan yang meliputi tahap persiapan (pra haji), tahapan prosesi pelaksanaan ibadah haji, dan tahapan pasca haji.
1. Pra Haji (Persiapan Sebelum Keberangkatan)
Tahap pra haji adalah fondasi penting untuk mencapai haji mabrur. Hal pertama dan utama adalah niat yang ikhlas semata-mata karena Allah SWT dan mengharapkan ridha-Nya. Keberangkatan ke tanah suci bukan untuk kepentingan duniawi seperti membeli barang berharga, mendapatkan gelar haji, atau status sosial, melainkan semata-mata memenuhi panggilan Allah SWT.
Rasulullah SAW telah memberikan peringatan bahwa kelak akan ada empat kelompok orang yang berangkat haji bukan karena Allah SWT, melainkan karena kepentingan duniawi. Mereka adalah para pemimpin/penguasa yang mencari rekreasi, orang kaya/pedagang yang mencari keuntungan bisnis, fakir miskin yang meminta-minta, dan para qari' yang mencari popularitas.
Selain niat, jemaah calon haji perlu memiliki i'tikad atau akidah yang benar, membersihkan dan menjauhkan diri dari takhayul, bid'ah, dan khurafat.
Biaya Perjalanan Ibadah Haji (Bipih) yang digunakan harus halal, bukan dari harta yang syubhat apalagi haram. Selain itu, ongkos naik haji tersebut telah dikeluarkan zakat atau infaknya.
Tubuh harus bersih dari dosa, baik dosa yang disebabkan oleh hati, lidah, dan tingkah laku, yang berkaitan dengan Allah (hablum minallah) maupun sesama manusia (hablum minannas). Hal ini ditandai dengan taubat, istigfar, dan saling memaafkan dengan sesama.
2. Proses Haji (Pelaksanaan Manasik di Tanah Suci)
Pelaksanaan rangkaian ibadah (manasik) haji di Tanah Suci juga merupakan hal yang tidak kalah penting dalam pencapaian haji mabrur. Jemaah calon haji harus memahami syarat, rukun, dan wajib haji, serta larangan-larangan dalam pelaksanaannya.
- Syarat Haji (Istithaa’ah): Syarat haji adalah istithaa’ah, yaitu memiliki kemampuan fisik (sehat jasmani dan rohani), mampu secara ekonomi dengan melunasi Bipih, memahami manasik haji, dan aman dalam perjalanan.
- Rukun Haji: Rukun haji adalah niat (ihram), wukuf di Arafah, tawaf ifadhah, sai, dan tahallul. Apabila salah satu rukun haji tidak dilaksanakan, maka haji tidak sah dan tidak dapat diganti dengan dam (denda).
- Wajib Haji: Wajib haji meliputi ihram di miqat, mabit di Muzdalifah dan Mina, melontar jumrah, dan tawaf wada' (perpisahan), serta menghindari larangan haji dan umrah. Apabila wajib haji tidak dilaksanakan, maka haji tetap sah, namun jemaah haji harus membayar dam (denda).
- Larangan Haji: Larangan haji yang harus dihindari adalah rafats (kata dan perbuatan yang sia-sia), fusuq (memperlihatkan dan bangga akan perbuatan dosanya), dan jidal (pertengkaran dan perselisihan).
Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prof. Dr. H. Said Agil Husain Al Munawwar mengemukakan beberapa syarat untuk memperoleh haji mabrur, yaitu niat yang ikhlas, manasik haji yang mantap (dengan ilmu), memiliki badan yang sehat, memiliki mental yang kuat dan sifat sabar, serta bersungguh-sungguh dalam melaksanakan rangkaian ibadah haji, istiqamah, dan memiliki sikap hemat.
Selain sahnya ibadah, penting juga untuk meresapi hikmah dari setiap rangkaian ibadah haji agar dapat merasakan nikmatnya beribadah. Beberapa hikmah tersebut antara lain pengambilan miqat ihram bermakna pengambilan sikap untuk berbuat sesuai dengan aturan, berpakaian ihram bermakna manusia harus meninggalkan pakaian kemaksiatan dan mengenakan busana ketaatan, wukuf di Arafah bermakna tafakur dan introspeksi diri, tawaf bermakna penyatuan arah dan persepsi hamba dalam beribadah, serta sai antara Shafa dan Marwah bermakna keharusan berusaha dengan sekuat tenaga untuk meraih kehidupan dan cita-cita yang baik (fastabiqul khairat) serta bakti anak kepada orang tua.
3. Pasca Haji (Mempertahankan Kemabruran)
Kemabruran haji seseorang tidaklah secara otomatis dapat dilihat sekembalinya dari tanah suci. Haji yang mabrur sangat terkait dengan tingkah laku seseorang yang telah menunaikan ibadah haji. Kemabruran itu sendiri adalah aplikasi dan implikasi dari berbagai nilai, hikmah, dan keutamaan ibadah haji, disertai upaya pelestarian yang harus dilakukan pasca haji.
Wujud kemabruran dapat dilihat dari pelaksanaan ibadah yang semakin meningkat dan banyak memberi manfaat bagi sesama. Salah satu indikasi kemabruran haji seseorang adalah apabila tingkah laku dan kepribadiannya setelah menunaikan haji lebih baik dari sebelumnya.
Jemaah haji harus memiliki sifat sabar, tabah, dan tahan uji sekembalinya ke tanah air, karena cobaan dan godaan justru bisa lebih berat setelah haji. Kesabaran tersebut mesti ditingkatkan terus menerus, sebab setelah menunaikan ibadah haji bukan berarti terlepas dan bebas dari godaan, cobaan dan ujian.
Implikasi Haji Mabrur dalam Kehidupan
Sebagai implikasi dari haji mabrur, seseorang diharapkan memelihara dan melestarikan kemabruran hajinya. Kemabruran haji mempunyai dua dimensi, yaitu dimensi ubudiyah (spiritual) dan dimensi ijtimaiyah (sosial).
Dimensi Ubudiyah (Spiritual)
Kemabruran haji dalam dimensi ubudiyah dapat diaktualisasikan melalui beberapa amalan, baik mahdhah (ibadah khusus) maupun ghair mahdhah (ibadah umum), seperti shalat, zakat, puasa, sabar, syukur, jujur, dan lain-lain. Indikasinya adalah adanya perubahan atau peningkatan kualitas ibadah seseorang dan tampak pada kepribadiannya, antara lain shalat yang berkualitas, puasa yang meningkat, rajin bersyukur dan bertawakal, serta tetap istiqamah dalam menutup aurat.
Dimensi Ijtimaiyah (Sosial)
Kemabruran haji dalam dimensi sosial terwujud dalam bentuk kepekaan atau kepedulian sosial kepada sesama. Pesan Nabi Muhammad SAW sewaktu haji wada' menegaskan bahwa semua manusia sama di hadapan Allah SWT dan praktik perbudakan harus dihapuskan.
Pesan tersebut dapat dipahami sebagai simbol kepedulian terhadap kaum lemah, baik dari segi ekonomi maupun struktural. Setiap jemaah haji diingatkan agar tidak hanya mementingkan diri sendiri, tetapi juga memperhatikan saudara sesama yang kurang mampu dan dhuafa. Haji bukan hanya kepuasan individu dalam beribadah, melainkan juga tanggung jawab sosial.
Dengan kata lain, kemabruran haji seseorang dapat dilihat dari kepekaannya terhadap kesulitan pihak lain. Haji mabrur itu sangat terkait dengan tingkat kepedulian sosial seseorang. Peduli kepada sesama adalah salah satu aplikasi dan implikasi penjagaan kemabruran haji.
Masyarakat memandang orang yang telah berhaji sebagai panutan yang diharapkan memberikan keteladanan. Selain itu, mereka seharusnya memiliki rasa kemanusiaan, komitmen, dan kepedulian sosial. Hal itu merupakan salah satu indikasi kemabruran haji. Melalui implementasi pelestarian haji mabrur dalam kehidupan sehari-hari, akan terbentuk keluarga yang damai, teguh, dan bahagia, serta masyarakat madani yang mengakui kebesaran Allah SWT, pandai mensyukuri nikmat-Nya, dan peduli kepada sesama.
Ciri-ciri Seseorang yang Meraih Haji Mabrur
Kemabruran haji tercermin pada peningkatan kualitas ibadah dan kepedulian sosial. Berikut adalah ciri-ciri seseorang yang meraih haji mabrur:
- Perilaku lebih baik dari sebelumnya. Ini adalah indikasi utama. Tingkah laku dan kepribadian seseorang setelah haji menunjukkan peningkatan yang signifikan dibandingkan sebelum menunaikan ibadah haji.
- Ibadah meningkat kualitasnya. Shalat menjadi lebih khusyuk, puasa lebih istiqamah, zakat dan sedekah lebih teratur dan ikhlas, serta amalan ibadah lainnya semakin berkualitas.
- Tutur kata lembut dan baik. Sesuai sabda Rasulullah SAW, salah satu ciri haji mabrur adalah "memberikan makan dan berkata baik." Ini menunjukkan perubahan positif dalam komunikasi dan interaksi sosial.
- Peduli sosial. Seseorang yang hajinya mabrur akan aktif membantu tetangga, fakir miskin, dhuafa, dan masyarakat sekitar. Ia memiliki kepekaan dan komitmen terhadap kepedulian sosial.
- Sabar dan tabah. Jemaah haji yang mabrur akan memiliki sifat sabar, tabah, dan tahan uji dalam menghadapi berbagai godaan, cobaan, dan ujian hidup setelah kembali ke tanah air.
- Menjauhi riya' dan sombong. Orang yang meraih haji mabrur tidak akan memamerkan gelar hajinya atau merasa lebih baik dari orang lain, melainkan semakin rendah hati dan ikhlas.
FAQ Seputar Haji Mabrur
Q: Apa pengertian haji mabrur secara sederhana?
A: Haji mabrur adalah ibadah haji yang diterima Allah SWT karena dilaksanakan dengan ikhlas, sesuai tuntunan Rasulullah SAW, menggunakan biaya halal, dan setelahnya perilaku seseorang menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Q: Apa perbedaan haji mabrur dan haji makbul?
A: Sebagian ulama menyamakannya. Namun, ada yang membedakan: makbul berarti haji diterima dan menggugurkan kewajiban, sedangkan mabrur lebih menekankan pada kebaikan perilaku pasca haji yang mampu mengantarkan pelakunya menjadi lebih baik amalnya.
Q: Bagaimana ciri haji mabrur menurut hadis?
A: Rasulullah SAW bersabda: "Memberikan makan dan berkata baik." (HR. Ahmad). Ciri lainnya adalah meningkatnya ibadah dan kepedulian sosial.
Q: Apakah semua orang yang berhaji otomatis mendapat haji mabrur?
A: Tidak. Haji mabrur hanya diraih oleh mereka yang memenuhi syarat: niat ikhlas, biaya halal, menjauhi larangan haji, serta mampu mempertahankan kebaikan setelah kembali.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5561824/original/094267400_1776761768-haji1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5640306/original/068350000_1778244673-komisi-viii-minta-kemenag-transparan-soal-dana-haji.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5573502/original/086099000_1777914567-WhatsApp_Image_2026-05-04_at_9.42.25_PM__1_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5241347/original/056837800_1748947656-20250603-Suasana_Masjidil_Haram-AFP_4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5253162/original/014151700_1750020036-WhatsApp_Image_2025-06-16_at_02.37.04.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2850390/original/036180000_1562823034-Jemaah_Haji_Thawaf_di_Kakbah.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5417161/original/003976100_1763523452-Haji.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5417164/original/022570200_1763523453-Berhaji.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2874912/original/065591300_1565143362-20190806-Berburu-Oleh-oleh-Haji-di-Tanah-Suci-AFP-5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4824614/original/074506300_1715073103-pexels-drmkhawarnazir-18996539.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2876075/original/030089700_1565230144-20190807-Masjidil-Haram-Dipadati-Jemaah-Jelang-Puncak-Haji-AFP-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4437659/original/087344800_1684829069-5452136.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5580670/original/061045400_1778126140-8a6419d8-418c-4e77-8846-31d68f6b6e38.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4824122/original/040369300_1715055236-ekrem-osmanoglu-WRbNWOMA-Xk-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3187033/original/003171100_1595400533-makkah-kaaba-hajj-muslims_21730-6508.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4437264/original/001657600_1684817338-izuddin-helmi-adnan-JFirQekVo3U-unsplash.jpg)











:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5473943/original/060119400_1768461944-klaim_purbaya_temukan_data_uang_jokowi.jpg)




:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5468799/original/045139300_1768018023-fantastic-mosque-architecture-islamic-new-year-celebration.jpg)





:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5469781/original/030433100_1768183342-Isra_Miraj_2026.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4735410/original/014374300_1707130221-10217582.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3977835/original/066021800_1648524608-pexels-ahmed-aqtai-2233416_1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5158368/original/097065700_1741665044-kata-kata-isra-miraj.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2798272/original/079059200_1557206746-20190507-Mengisi-Waktu-Berpuasa-dengan-Tadarus-ARBAS-6.jpg)

