Liputan6.com, Jakarta - Mus'ab bin Umair barangkali kalah tenar dibandingkan dengan sahabat Nabi SAW lainnya, semisal Abu Bakar, Umar bin Khattab atau Ali bin Abi Thalib. Namun begitu, para ahli tarikh Islam sangat memuliakannya sehingga selalu menyebut namanya sebagai salah satu tokoh yang berperan besar dalam perkembangan Islam di masa awal kenabian.
Dalam Kitab Rijal Haular Rasul karya Khalid Muhammad Khalid yang dialihbahasakan dalam bahasa Indonesia menjadi Karakteristik Perihidup 60 Shahabat Rasulullah, nama Mus'ad bin Umair (Mush'ab bin Umair dalam buku tersebut-red), bahkan diulas pertama, mendahului sahabat-sahabat Rasulullah SAW lain yang memiliki peranan besar.
Khalid Muhammad memberikan porsi khusus dengan sentuhan mendalam saat mengisahkan Mus'ab bin Umair. Mus'ab menjadi simbol pengorbanan demi ideologi dan cinta sejati kepada Allah dan Rasul-Nya.
Awal Kehidupan dan Pengorbanan Mus'ab bin Umair
Mus'ab bin Umair pada masa remaja digambarkan sebagai sosok yang rupawan dan glamor. Sebelum memeluk Islam, Mus'ab adalah "bunga" masyarakat Makkah; pemuda terkaya, paling tampan, dan paling berpenampilan elegan.
Tak salah jika dia dijuluki 'Mus'ab al-Khair' alias Mus'ab yang Baik, merujuk sifat lain dalam diri Mus'ab yang walau hidup penuh kesenangan dan hura-hura tetapi hatinya baik. Ibunya yang kaya raya memanjakannya dengan pakaian, wewangian, dan kemewahan terbaik.
"Para muarrikh dan ahli riwayat melukiskan semangat kepemudaannya dengan kalimat 'Seorang warga Mekah yang mempunyai nama paling harum'", demikian tulis Khalid Muhammad.
Namun, kemewahan itu sirna ketika Mus'ab mendengar dakwah Rasulullah SAW dan hatinya tersentuh. Ia memeluk Islam secara diam-diam, yang kemudian menjadi awal dari kejatuhannya dari "singgasana" kemewahan duniawi.
Ketika ibunya mengetahui keislamannya, ia menyiksa dan mengurung Mus'ab, tetapi tidak berhasil. Mus'ab memilih untuk meninggalkan segala kemewahannya dan hijrah ke Habasyah bersama sahabat lainnya.
Gambaran dramatis tercipta saat kaum muslimin yang kembali dari Habasyah melihat Mus'ab. Mereka menangis karena melihat perubahan drastis yang dialaminya. Pemuda yang dahulu berselimut sutra, kini bajunya compang-camping, hanya ditutupi oleh kulit hewan yang dijahit kasar.
Khalid mengutip tangisan para sahabat: "Dahulu, Mus'ab adalah pemuda yang paling tampan di Mekah... Lalu kami melihatnya, tidak ada lagi yang tersisa dari semua itu kecuali sepotong kulit yang menutupi tubuhnya."
Namun, Mus'ab yang miskin secara materi hakikatnya menjadi kaya secara spiritual. Rasulullah SAW sendiri, melihatnya, berkata dengan penuh kecintaan, "Sungguh, aku melihat Mus'ab ini, tidak ada seorang pun di Mekah yang lebih berharga di mata orang tuanya, lebih tampan, atau lebih dekat dengan kenikmatan dunia darinya. Namun, semua itu telah ditinggalkannya karena Allah dan Rasul-Nya."
Mus'ab, Sang Diplomat dan Duta Islam Pertama
Mus'ab dikenal karena kecerdasan, ketenangan, dan kapasitas intelektualnya. Ini terlihat ketika Rasulullah SAW memilihnya untuk sebuah tugas yang sangat berat dan penting: menjadi duta pertama dalam Islam untuk penduduk Yatsrib (Madinah).
Tugas Mus'ab begitu berat, yakni mengajarkan Al-Qur'an dan Islam kepada kaum Anshar yang telah berbaiat. Memimpin mereka dalam shalat. Mempersiapkan tanah dan masyarakat untuk menyambut Hijrah Nabi.
Mus'ab, dengan akhlak dan diplomasinya yang luar biasa, berhasil mengislamkan tokoh-tokoh kunci Madinah seperti Sa'ad bin Mu'adz dan Usaid bin Hudhair. Keberhasilannya ini adalah fondasi dari Piagam Madinah.
Keberhasilan dakwah Islam di Madinah tidak lepas dari peran besar Mus'ab bin Umair. Ia adalah "arsitek" masyarakat muslim pertama di luar Mekah.
Safyurrahman al-Mubarakfuri dalam Raḫîqul Makhtûm menggambarkan diplomasi Mus'ab bin Umair dengan sebutan 'diplomatis dan cantik', menggambarkan kesantunan dan ketenangannya saat berhadapan dengan para penguasa Yatsrib yang masih musyrik. Berkat caranya inilah sejumlah penduduk Yatsrib menjadi muallaf.
Diplomasi Santun di Kebun Kurma
Seperti ditulis Muhammad Abror dalam artikel berjudul 'Diplomasi Santun Mus’ab bin ‘Umair yang Berpengaruh', merujuk Raḫîqul Makhtûm, dikisahkan, sekali waktu Mush’ab diutus oleh Rasulullah ke Yatsrib untuk menyebarkan agama Islam, sesampainya di sana ia menginap di rumah As’ad bin Zurarah.
Selanjutnya, As’ad juga turut menemani Mush’ab dalam menjalankan tugas mulianya itu. Sekali waktu keduanya mendatangi perkampungan Bani Abdul Asyhal dan Bani Zhafar untuk mengajak mereka memeluk agama Islam.
Setibanya di sana, keduanya duduk di sebuah kebun milik Bani Zhafar bersama beberapa orang yang sudah masuk Islam. Sementara itu, Sa’d bin Mu’adz dan Usaid bin Khadir yang menjadi pemimpin kaumnya di Bani Asyhal masih musyrik.
Begitu keduanya mendengar kedatangan dan maksud Mush’ab dan As’ad, Usaid menemui keduanya dengan membawa tombak, siap untuk mengusirnya.
Dengan wajah muram dan suara tinggi Usaid berkata kepada keduanya, “Apa yang kalian bawa kepada kami? Apakah kalian berdua hendak membodoh-bodohkan orang-orang yang lemah di antara kami? Jauhilah kami jika kalian ada keperluan untuk diri kalian!”
Dengan santai dan sopan Mush’ab menimpali, “Silakan duduk agar engkau paham apa yang akan aku sampaikan. Jika engkau menyukainya, engkau boleh menerimanya. Tapi jika engkau tidak sependapat, kau bisa menolaknya.”
Mendengar ucapan Mush’ab, Usaid merasa kagum. “Engkau cukup adil,” aku Usaid.
Lantas Mush’ab menjelaskan tantang agama Islam kepadanya dan membacakan ayat-ayat Al-Qur’an. Tak disangka, Usaid setuju dengan apa yang disampaikan Mush’ab dan hatinya begitu saja luluh, bahkan ia tertarik untuk memeluk agama Islam. “Betapa bagus dan indah. Apa yang harus aku lakukan jika ingin memeluk agama Islam?” tanya Usaid.
Strategi Cerdas Menyentuh Seluruh Yatsrib
Mush’ab kemudian menyuruhnya mandi untuk bersuci dan menuntunnya membaca dua kalimat syahadat. Setelah menyatakan masuk Islam, Usaid kembali ke kaumnya dan membujuk Sa’d bin Mu’adz agar menemui Mush’ab. Upayanya berhasil dan Sa’d pun menemui Mush’ab persis seperti ketika Usaid menemuinya dan menyatakan masuk Islam.
Kini dua pimpinan kaum itu telah menjadi seorang Musim, otomatis orang-orang yang berada di bawah kekuasaannya (Bani Asyhal) mengikuti. Dengan demikian Mush’ab tidak perlu capek-capek mengislamkan satu persatu. Kecuali seorang yang bernama Al-Ushairim, dia menunda keislamannya sampai momen Perang Uhud dan syahid dalam pertempuran itu.
Kelembutan Mush’ab dalam menyampaikan ajaran Islam membuat dakwahnya sukses besar, sampai-sampai bisa dipastikan di setiap perkampungan di Yatsrib terdapat sejumlah orang yang sudah masuk Islam. Terkecuali di perkampungan Bani Umayyah bin Zaid, Khatmah, dan Wa’il, sebab di lingkungan mereka ada Qais bin Al-Aslat, seorang penyair ulung yang sangat berpengaruh.
Keberhasilan dakwah Mush’ab ini juga terbukti saat Baiat Aqabah kedua pada 622 M. Jika dulu pada baiat sebelumnya hanya diikuti enam penduduk Yatsrib, kini jumlahnya mencapai lebih dari 70 orang. (Safyurrahman al-Mubarakfuri, Raḫîqul Makhtûm, t.th:129-133)
Sejatinya cara berdakwah yang dikehendaki Rasulullah saw adalah menyampaikan nilai-nilai Islam dengan penuh santun. Inilah yang dilakukan oleh beliau sehingga mampu mengislamkan sekian banyak umat manusia hanya dalam perjalanan dakwah 23 tahun, 13 tahun di Makkah dan 10 tahun di Madinah. Prinsip ini sesuai dengan firman Allah swt:
ٱدۡعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلۡحِكۡمَةِ وَٱلۡمَوۡعِظَةِ ٱلۡحَسَنَةِۖ وَجَٰدِلۡهُم بِٱلَّتِي هِيَ أَحۡسَنُۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعۡلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ وَهُوَ أَعۡلَمُ بِٱلۡمُهۡتَدِينَ
Artinya, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl [16]: 125).
Kisah Syahidnya yang Heroik
Babak terakhir dalam kehidupan Mus'ab digambarkan Khalid dengan epik dan penuh hikmah. Pada Perang Uhud, Mus'ab bin Umair bertugas sebagai pembawa bendera kaum muslimin.
Ketika pasukan muslim terdesak dan isu kematian Nabi SAW menyebar, banyak yang panik, tetapi Mus'ab tetap tegak memegang bendera, meneriakkan kalimat tauhid dan semangat untuk Rasulullah.
Dengan gagah berani, ia menghadapi serangan musuh sendirian hingga tangan kanannya terpotong. Ia lalu memegang bendera dengan tangan kirinya, yang kemudian juga terpotong.
Akhirnya, ia memeluk bendera dengan kedua lengan tunggunya sambil mengumandangkan syair: Muhammad tidak lain hanyalah seorang Rasul. Sungguh, telah berlalu sebelumnya para rasul.
Kematian Mus'ab bukan sebagai sebuah tragedi, tetapi sebagai puncak kesempurnaan pengorbanannya. Ia wafat tanpa meninggalkan harta, bahkan tidak ada kain yang cukup untuk menutupi jasadnya secara layak.
Jika kakinya ditutup, kepalanya terbuka, dan sebaliknya. Akhirnya, Rasulullah SAW memerintahkan untuk menutup kepalanya dan kakinya dengan rumput idzkir.
Rasulullah SAW kemudian berdiri di hadapan jasadnya dan membacakan ayat: "Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah." (QS. Al-Ahzab: 23)
Hikmah Kisah Mus'ab bin Umair
Merujuk skripsi Peranan Musbah bin Umair terhadap Perkembangan Islam di Madinah, Asriyanto Eko Saputra, UIN Alauddin Makassar, Mushab bin Umair adalah arsitek utama perkembangan Islam di Madinah yang berhasil membangun fondasi masyarakat Islam melalui diplomasi, pendidikan, dan keteladanan pengorbanannya.
Berikut ini peran signifikan Mushab bin Umair dalam perkembangan Islam di Madinah:
1. Duta Islam Pertama ke Madinah
Ditugaskan Rasulullah setelah Baiat Aqabah Pertama untuk mengajarkan Islam kepada penduduk Madinah. Dipilih karena pemahaman Islamnya yang mendalam dan kemampuan diplomasinya.
2. Guru dan Pengajar Islam
Mengajarkan Al-Qur'an dan dasar-dasar Islam kepada masyarakat Madinah. Mendatangi perkampungan, kebun, dan tempat berkumpul masyarakat untuk berdakwah.
3. Mengislamkan Tokoh Kunci
Berhasil mengislamkan pemimpin penting seperti Sa'ad bin Muadz dan Usaid bin Hudhair. Keislaman tokoh-tokoh ini membuka jalan untuk masuknya masyarakat luas ke dalam Islam.
4. Pelopor Shalat Jumat
Memimpin shalat Jumat pertama di Madinah dengan 12 jamaah. Mendapat izin langsung dari Rasulullah untuk pelaksanaannya.
5. Perancang Baiat Aqabah Kedua
Melaporkan perkembangan Islam di Madinah kepada Rasulullah. Menjadi penghubung dalam persiapan Baiat Aqabah Kedua yang diikuti 75 orang Madinah.
6. Pejuang dan Pembawa Bendera
Memegang bendera Islam dalam Perang Badar dan Uhud. Gugur sebagai syahid dalam Perang Uhud dengan tetap memeluk bendera Islam.
7. Perekat Masyarakat Madinah
Berhasil mempersatukan suku Aus dan Khazraj yang sebelumnya bermusuhan. Menciptakan lingkungan yang aman untuk hijrahnya Rasulullah dan kaum Muslimin.
8. Teladan Pengorbanan
Meninggalkan kehidupan mewah demi Islam. Tetap teguh beriman meskipun disiksa dan diusir keluarganya.
Hikmah di Balik Kisah Mus'ab bin Umair
Mus'ab bin Umair adalah contoh nyata bagaimana seorang muslim seharusnya menjalani hidup: berani berkorban, teguh pendirian, cerdas dalam berdakwah, dan mengutamakan akhirat di atas dunia. Kehidupannya menjadi inspirasi abadi bagi para dai dan pejuang Islam.
1. Pengorbanan demi Keyakinan
Dari kehidupan mewah sebagai anak bangsawan Quraisy beralih kepada hidup sederhana dan fakir di jalan dakwah. Nilai kebahagiaan dan kemuliaan tidak terletak pada harta, tetapi pada ketakwaan dan pengabdian kepada Allah.
2. Loyalitas kepada Islam Mengatasi Loyalitas Kekeluargaan
Mus'ab memilih tetap dalam Islam meskipun diancam, disiksa, dan dikucilkan oleh ibunya sendiri. Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya harus didahulukan di atas segala ikatan duniawi, termasuk keluarga.
3. Diplomasi dan Kebijaksanaan dalam Dakwah
Mus'ab berhasil mengislamkan tokoh-tokoh berpengaruh Madinah dengan pendekatan yang lembut, cerdas, dan tidak konfrontatif. Dakwah yang efektif memerlukan strategi, tutur kata yang baik, dan memahami kondisi objek dakwah.
4. Kepemimpinan dan Tanggung Jawab
Dipercaya sebagai duta pertama Islam ke Madinah dan pemegang bendera dalam perang. Amanah yang diberikan harus dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab dan keikhlasan.
5. Keteguhan Hati dalam Kesulitan
Tetap sabar dan istiqamah menghadapi penyiksaan, pengucilan, hingga kematian di medan perang. Ujian dan penderitaan di jalan dakwah adalah bagian dari proses penyucian jiwa dan ujian keimanan.
6. Hidup Sederhana dan Zuhud
Meski berasal dari keluarga kaya, Mus'ab lebih memilih hidup zuhud dan bersahaja. Zuhud bukan berarti miskin, tetapi tidak terikat secara berlebihan pada harta dan kemewahan dunia.
7. Kematian yang Mulia (Syahid)
Gugur dalam keadaan memegang teguh bendera Islam hingga akhir hayatnya. Kematian yang mulia adalah yang terjadi di jalan Allah, sambil berjuang menegakkan kalimat-Nya.
8. Perubahan Diri
Dari pemuda Mekah yang bergelimang dunia, menjadi pribadi yang seluruh hidupnya diwakafkan untuk Islam. Setiap orang memiliki potensi untuk berubah menjadi lebih baik, selama ada kemauan dan taufik dari Allah.
9. Pentingnya Ilmu sebelum Berdakwah
Mus'ab dididik langsung oleh Rasulullah SAW di Darul Arqam sebelum diutus ke Madinah. Ilmu yang benar adalah fondasi sebelum terjun ke medan dakwah.
10. Strategi Dakwah
Strategi Mus'ab mengislamkan para pemuka kabilah terbukti efektif menyebarkan Islam secara massal. Perubahan yang berkelanjutan dimulai dari mengubah pemikiran para pemimpin dan tokoh masyarakat.
People also Ask:
1. Apa tugas Mushab bin Umair?
Diplomasi Santun Mus'ab bin 'Umair yang Berpengaruh
Salah satu duta Islam yang Nabi utus adalah Mush'ab bin 'Umair. Disebutkan, Mush'ab melakukan cara diplomatis yang cantik dan menyampaikan ajaran Islam dengan santun. Berkat caranya inilah sejumlah penduduk Yatsrib menjadi muallaf.
2. Siapa Musa bin Umair?
Mus'ab bin Umair merupakan sahabat Rasulullah Saw yang pertamakali ditunjuk sebagai duta Islam di Madinah. Beliau adalah sosok yang cerdas, fasih membaca Al-Qur'an, dan dikenal hidup sederhana.
3. Apa julukan Mushab bin Umair?
Julukan Mush'ab bin Umair adalah Mush'ab al-Khair ("Mush'ab yang baik"). Ia juga dikenal sebagai "Duta Islam Pertama" karena tugasnya mengirim Rasulullah untuk mengajarkan Islam kepada penduduk Madinah sebelum hijrah.
4. Siapakah orang yang membunuh Musa'ab bin Umair pada Perang Uhud?
Dalam Perang Uhud, Mush'ab bin Umair terbunuh oleh Ibnu Qami'ah al-Laitsi yang mengira dirinya sebagai Nabi. Ibnu Qami'ah dengan berkuda menyerang Mush'ab sambil memotong tangan kanannya saat ia memegang panjinya.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5169865/original/011956600_1742551032-Depositphotos_650337252_S.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5501800/original/006278100_1770956928-unnamed__12_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5080366/original/098387100_1736160174-1736156793388_caption-quotes-islami-singkat.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5514935/original/093643200_1772126473-WhatsApp_Image_2026-02-24_at_16.46.14.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5514742/original/096572900_1772104605-ShopeePay_Gebyar_Ramadan_2026_01.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5514291/original/081789300_1772086565-073849700_1414158415-x6.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4377848/original/055270800_1680189080-pexels-thirdman-7956574.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5514838/original/031002600_1772111058-san1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/697821/original/26062014-jelang-puasa.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2220482/original/035724700_1526813013-The_Blue_Mosque_at_night.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5379059/original/056919200_1760334225-sholawat_asyghil.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5513755/original/018031500_1772065055-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5448678/original/076312300_1766037315-shurkin_son.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4397214/original/081553500_1681628826-Malam_25_Ramadan__Ribuan_Jemaah_Khusyuk_Menjemput_Lailatul_Qadar_di_Masjid_Istiqlal-ARBAS_8.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5506735/original/013845900_1771475144-keluatga_buka_puasa.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5512358/original/092272800_1771952631-IOH_X_BERSATHU__2_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2810105/original/026483700_1558322699-cdn2.tstaticdotnet_masjid-al-akbar-surabaya_20150616_182916.jpg)













:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1554094/original/040157900_1491121330-stairs-735995_1920.jpg)




:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5348709/original/090969100_1757859256-bioskop.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4010689/original/086569000_1651202668-pexels-rayn-l-3163677.jpg)








