Polri-FBI Atlanta Bongkar Jaringan Phishing Global

5 hours ago 4

KEPOLISIAN Republik Indonesia (Polri) bekerja sama dengan Federal Bureau of Investigation (FBI) Atlanta, Amerika Serikat, untuk membongkar jaringan operasi phishing global. Kerja sama ini melibatkan Direktorat Siber Bareskrim Polri serta Divisi Hubungan Internasional Polri.

Sekretaris NCB Interpol Indonesia Divhubinter Polri Brigadir Jenderal Untung Widyatmoko mengatakan, Direktorat Siber Bareskrim Polri berperan sebagai ujung tombak dalam penanganan kasus ini. “Sementara Divhubinter menjadi pintu komunikasi kerja sama penegakan hukum di ranah internasional,” kata Untung saat dihubungi, Rabu, 15 April 2026.

Mengutip CBS News Atlanta yang merujuk pada laman resmi FBI Atlanta, penyidik FBI menyatakan telah menutup operasi kejahatan siber global yang menggunakan situs web palsu untuk mencuri ribuan nama pengguna (username) dan kata sandi, serta memicu penipuan bernilai jutaan rupiah. Penutupan tersebut dilakukan melalui investigasi gabungan dengan otoritas Indonesia.

Penyidik menemukan alat phishing yang dikenal sebagai “kit W3LL” sebagai temuan utama dalam kasus ini. Alat tersebut memungkinkan pelaku membuat halaman login palsu yang tampak hampir identik dengan situs web tepercaya. Korban yang memasukkan data pribadi tanpa sadar memberikan akses ke akun mereka.

Dalam penyidikan gabungan ini, Polri menahan tersangka pengembang (developer) alat tersebut di Indonesia. Hasil pendalaman sementara mengidentifikasi tersangka berinisial GWL.

Penyidik FBI menjelaskan, alat tersebut bekerja dengan menangkap data sesi sehingga peretas dapat melewati tahap otentikasi multifaktor dan tetap masuk meskipun korban telah mengubah kata sandi. “Ini bukan hanya phishing, ini adalah platform kejahatan siber dengan layanan lengkap,” kata Agen Khusus FBI Atlanta Marlo Graham.

Pelaku menjual alat tersebut seharga sekitar 500 dolar AS dan mendukungnya dengan pasar daring (marketplace) yang memungkinkan penjahat siber membeli dan menjual kredensial curian serta mengakses sistem yang telah diretas. Sepanjang 2019 hingga 2023, pelaku menjual lebih dari 25 ribu akun melalui platform tersebut.

Meski otoritas menutup pasar tersebut, para pelaku tetap melanjutkan operasi melalui aplikasi pesan terenkripsi. Mereka menargetkan lebih dari 17 ribu korban di seluruh dunia sepanjang 2023 hingga 2024. Secara keseluruhan, skema ini terkait dengan upaya pencurian lebih dari 20 juta dolar AS.

Dengan dukungan Kantor Kejaksaan Amerika Serikat untuk Distrik Utara Georgia dan Kepolisian Nasional Indonesia, penyidik berhasil mengidentifikasi dan menyita sejumlah bagian penting dari infrastruktur daring operasi tersebut.

Pilihan Editor: Agar Kekerasan Tentara terhadap Warga Sipil Berhenti

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |