Puasa 2026 Berapa Hari Lagi? Hitung Mundur Ramadan dan Persiapan yang Dianjurkan

1 day ago 10

Liputan6.com, Jakarta - Menjelang datangnya Ramadan 1447 Hijriah, umat Islam di Indonesia mulai ramai bertanya-tanya: berapa hari lagi puasa 2026 dimulai? Kapan tepatnya hari pertama Ramadan akan jatuh? Pertanyaan ini selalu muncul tiap tahun karena adanya perbedaan metode penentuan awal bulan antara pemerintah dan organisasi keagamaan seperti Muhammadiyah. Tahun 2026 pun diprediksi tak jauh berbeda, di mana Muhammadiyah sudah menetapkan tanggal pasti lebih awal sementara pemerintah masih menunggu hasil Sidang Isbat. Meski terlihat sederhana, perbedaan ini menyimpan makna besar dalam memahami dinamika kalender Islam di Indonesia.

Di balik angka-angka perhitungan itu, sebenarnya tersimpan dua pendekatan besar: hisab global dan rukyatul hilal. Muhammadiyah mengandalkan sistem perhitungan astronomi internasional yang disebut Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), sedangkan pemerintah mengombinasikan metode hisab dan rukyat yang diverifikasi melalui Sidang Isbat. Akibatnya, tanggal 1 Ramadan 1447 H atau puasa 2026 bisa berbeda satu hari antara dua pihak tersebut. Namun, bagi umat Islam, yang terpenting bukanlah tanggalnya, melainkan kesiapan hati dan jiwa menyambut bulan penuh berkah itu.

Awal Ramadan 2026 Menurut Muhammadiyah

Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah menetapkan bahwa 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026. Keputusan ini dituangkan dalam Maklumat Nomor 01/MLM/I.1/B/2025 berdasarkan hasil hisab Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Bagi Muhammadiyah, keputusan ini bukan sekadar tanggal, tetapi bagian dari upaya besar menyatukan kalender Islam secara global.

Menurut Prof. Syamsul Anwar, Ketua PP Muhammadiyah, KHGT adalah bentuk inovasi untuk menyatukan penanggalan umat Islam di seluruh dunia.

“KHGT adalah upaya mutakhir umat Islam untuk menyatukan penanggalan mereka. Dengan kalender ini, tanggal baru Hijriah jatuh pada hari yang sama di seluruh dunia,” jelas Syamsul, dikutip dari situs resmi KABAR Unismuh Makassar (26/11/2025).

Pendekatan ini membuat seluruh dunia memiliki satu zona waktu dalam penanggalan Hijriah. Artinya, umat Islam dari Indonesia hingga Amerika Serikat bisa memulai ibadah puasa pada hari yang sama. Bagi Muhammadiyah, ini menjadi langkah konkret menuju unifikasi kalender Islam dunia.

KHGT Dianggap Lebih Universal

Konsep KHGT berakar dari Kriteria Turki 2016, hasil Muktamar Kalender Islam Global di Istanbul. Sistem ini menetapkan bahwa bulan baru dimulai jika ketinggian bulan mencapai minimal lima derajat dan memiliki elongasi delapan derajat sebelum pukul 00.00 UTC. Dengan acuan ini, seluruh dunia dapat memiliki satu tanggal Hijriah yang sama tanpa perbedaan zona waktu.

Pendekatan ini dinilai lebih ilmiah karena menggunakan data astronomi yang bisa diverifikasi lintas negara. Dalam simulasi KHGT, misalnya, 1 Syawal 1548 H (tahun 2124 M) akan dirayakan bersamaan di seluruh dunia yakni dari Amerika Serikat, Australia, hingga Indonesia. Muhammadiyah meyakini bahwa metode ini adalah solusi jangka panjang agar umat Islam tidak lagi berbeda dalam menentukan awal Ramadan maupun Idulfitri.

Prediksi Pemerintah: Ramadan Dimulai Sehari Setelah Muhammadiyah

Sementara itu, pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) memperkirakan bahwa 1 Ramadan 1447 H akan jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. Kalender Hijriah Indonesia 2026 disusun berdasarkan kriteria Imkanur Rukyat MABIMS, hasil kesepakatan antara Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Kriteria ini memprioritaskan keterlihatan hilal di langit pada tanggal 29 Syaban.

Penetapan resmi tetap akan diumumkan melalui Sidang Isbat menjelang Ramadan. Forum ini melibatkan ahli falak, ormas Islam, dan lembaga astronomi untuk memastikan kesesuaian antara hasil perhitungan dan pengamatan visual. Biasanya, keputusan diumumkan pada malam menjelang 1 Ramadan, dan hasilnya bisa berbeda dengan perhitungan Muhammadiyah karena metode yang digunakan tidak sama.

Perbedaan Hisab dan Rukyat dalam Perspektif Islam

Perbedaan dalam menentukan awal Ramadan bukanlah hal baru dan telah berlangsung sejak masa klasik Islam. Dua metode utama yang digunakan adalah hisab, yaitu perhitungan astronomi, dan rukyat, yaitu pengamatan visual terhadap hilal. Keduanya sama-sama memiliki dasar dalil dalam Al-Qur’an dan hadis.

Dalil metode hisab bersumber dari firman Allah SWT dalam surah Yunus ayat 5:

هُوَ ٱلَّذِى جَعَلَ ٱلشَّمْسَ ضِيَآءًۭ وَٱلْقَمَرَ نُورًۭا وَقَدَّرَهُۥ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا۟ عَدَدَ ٱلسِّنِينَ وَٱلْحِسَابَ ۚ مَا خَلَقَ ٱللَّهُ ذَٰلِكَ إِلَّا بِٱلْحَقِّ ۚ يُفَصِّلُ ٱلْءَايَٰتِ لِقَوْمٍۢ يَعْلَمُونَ

Huwa alladzī ja‘ala asy-syamsa ḍiyā’an wal-qamara nūran wa qaddarahu manāzila lita‘lamū ‘adadas-sinīna wal-ḥisāb.

“Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, dan Dialah yang menetapkan tempat-tempat orbitnya agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu).”

Dalil metode rukyat dijelaskan dalam hadis sahih riwayat Bukhari dan Muslim:

صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ، فَإِنْ غُبِّيَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلَاثِينَ

Ṣūmū li-ru’yatihi wa afṭirū li-ru’yatihi fa in gubbiya ‘alaikum fa akmilū ‘iddata Sya‘bāna tsalāthīn.

“Berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berbukalah karena melihat hilal. Jika pandangan kalian terhalang, maka sempurnakanlah bilangan bulan Syaban menjadi tiga puluh hari.”

(HR. Bukhari No. 1909 dan Muslim No. 1081)

Kedua metode ini sama-sama sah secara syar’i, hanya berbeda dalam pendekatan teknisnya. Karena itu, perbedaan penetapan tanggal awal puasa sebaiknya disikapi dengan toleransi dan saling menghormati.

Perbandingan Jadwal Ramadan 2026 Versi Muhammadiyah dan Pemerintah

Setelah memahami dasar perbedaan antara metode hisab dan rukyat, kini saatnya melihat bagaimana hasilnya berpengaruh pada penetapan jadwal puasa 2026. Setiap tahun, umat Islam di Indonesia menantikan pengumuman resmi awal Ramadan, baik dari pemerintah maupun organisasi keagamaan seperti Muhammadiyah. Penetapan tanggal ini sangat penting karena menjadi acuan dalam menyusun kegiatan ibadah, jadwal kerja, hingga kalender akademik. Meski perbedaan hanya satu hari, dampaknya cukup besar karena menentukan kapan tarawih pertama dilakukan dan kapan hari raya Idulfitri tiba. Oleh sebab itu, perbandingan berikut memberikan gambaran konkret tentang potensi perbedaan awal Ramadan 1447 H antara dua pihak utama tersebut.

Berdasarkan hasil hisab, berikut perkiraan jadwal Ramadan 2026 versi Muhammadiyah:

  • 1 Ramadan 1447 H: Rabu, 18 Februari 2026
  • 30 Ramadan 1447 H: Kamis, 19 Maret 2026
  • 1 Syawal 1447 H: Jumat, 20 Maret 2026

Sedangkan menurut perkiraan pemerintah (berdasarkan Sidang Isbat dan SKB Tiga Menteri):

  • 1 Ramadan 1447 H: Kamis, 19 Februari 2026
  • 30 Ramadan 1447 H: Jumat, 20 Maret 2026
  • 1 Syawal 1447 H: Sabtu, 21 Maret 2026

Dengan demikian, perbedaan diperkirakan hanya sehari, dan saat artikel ini ditulis, Ramadan 2026 tinggal sekitar 50–51 hari lagi. Meskipun kecil, perbedaan ini menunjukkan dinamika dalam praktik keagamaan di Indonesia yang tetap berjalan harmonis di tengah keragaman metode penentuan tanggal hijriah.

Cara Pemerintah Menetapkan Awal Ramadan

Bagi masyarakat yang menunggu keputusan resmi pemerintah, penting untuk memahami bagaimana mekanisme Sidang Isbat bekerja dalam menentukan awal Ramadan. Sidang Isbat bukan hanya forum seremonial, melainkan proses ilmiah dan keagamaan yang melibatkan banyak pihak. Melalui forum ini, hasil perhitungan astronomi dikaji bersama data rukyat lapangan dari seluruh Indonesia. Prosesnya mencerminkan keseimbangan antara pendekatan ilmiah dan spirit keagamaan, memastikan penetapan 1 Ramadan dilakukan secara akurat dan dapat dipertanggungjawabkan. Hal ini sekaligus menunjukkan komitmen pemerintah dalam menjaga kesatuan jadwal ibadah di tengah perbedaan ormas Islam.

Penetapan awal Ramadan dilakukan melalui Sidang Isbat oleh Kementerian Agama (Kemenag). Prosesnya terdiri atas tiga tahap:

  • Pemaparan posisi hilal berdasarkan data hisab astronomi.
  • Verifikasi rukyat, yaitu pengamatan hilal di berbagai titik Indonesia.
  • Musyawarah penetapan, hasilnya diumumkan langsung oleh Menteri Agama.

Kriteria yang digunakan mengacu pada standar MABIMS, yakni tinggi hilal minimal tiga derajat dan sudut elongasi enam koma empat derajat. Jika hilal belum memenuhi kriteria tersebut, maka bulan Syaban digenapkan menjadi 30 hari. Dengan mekanisme ini, pemerintah berusaha agar penetapan awal Ramadan bersifat inklusif dan diterima secara luas oleh masyarakat.

Pertanyaan seputar Puasa 2026 Berapa Hari Lagi

1. Berapa hari lagi puasa 2026 dimulai?

Berdasarkan penetapan Muhammadiyah (18 Februari 2026) dan perkiraan pemerintah (19 Februari 2026), puasa diperkirakan akan dimulai dalam 50–51 hari lagi dari awal Januari 2026.

2. Mengapa awal Ramadan Muhammadiyah dan pemerintah sering berbeda?

Karena Muhammadiyah menggunakan hisab global (perhitungan astronomi), sedangkan pemerintah memakai kombinasi hisab dan rukyat berdasarkan keterlihatan hilal.

3. Apakah perbedaan ini diperbolehkan dalam Islam?

Ya. Baik hisab maupun rukyat memiliki dasar syar’i dan telah dipraktikkan sejak masa Nabi. Perbedaan ini termasuk ikhtilaf yang dibenarkan.

4. Kapan Hari Raya Idulfitri 2026?

  • Versi Muhammadiyah: Jumat, 20 Maret 2026.
  • Versi pemerintah: Sabtu, 21 Maret 2026 (menurut SKB Tiga Menteri).
Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |