Strategi Bertahan di Tengah Isu Negatif, Ini Rahasia AQUA

4 hours ago 3

INFO TEMPO - Setiap orang butuh air untuk menjaga hidrasi dan kesegaran tubuh. Dari warung pinggir jalan hingga ruang rapat perkantoran, pilihan mengkonsumsi air minum dalam kemasan kerap diambil tanpa pertimbangan panjang. Namun, kebanyakan memilih air minum dengan merek yang sudah lama dikenal, yakni AQUA.

Dalam beberapa tahun terakhir industri air minum dalam kemasan (AMDK) diterpa gelombang isu yang datang silih berganti. Mulai dari kekhawatiran kesehatan terkait BPA pada galon polikarbonat (PC), tudingan eksploitasi sumber air, hingga kampanye boikot berbasis sentimen geopolitik.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Praktisi komunikasi dan dosen periklanan Politeknik Negeri Media Kreatif (Polimedia), Andre Donas menilai, merek dengan posisi dominan seperti AQUA cenderung menjadi target utama dalam berbagai narasi negatif. “Dalam banyak kasus, kita melihat bukan hanya kritik berbasis data, tetapi juga marketing dengan menebar ketakutan yakni narasi yang dibangun untuk menciptakan kecemasan publik,” kata dia.

Strategi ini bekerja dengan pola yang konsisten, yaitu mengaitkan produk dengan risiko kesehatan dan membiarkan kekhawatiran tersebut menyebar lebih cepat dibanding klarifikasi berbasis sains. Salah satu contoh paling nyata adalah narasi tentang BPA pada galon guna ulang berbahan polikarbonat.

Dalam berbagai isu, BPA kerap dikaitkan dengan risiko besar seperti gangguan hormon, autisme, kemandulan, hingga kanker. Narasi yang dibangun seolah-olah penggunaan galon guna ulang secara luas akan berdampak langsung pada kesehatan masyarakat.

Jika asumsi tersebut benar secara luas, tentunya penyakit di Indonesia sudah didominasi oleh penyakit-penyakit yang dikaitkan dengan BPA. Namun, realitas epidemiologi tidak menunjukkan hal demikian.

Sejumlah penelitian akademik di Indonesia justru menunjukkan temuan yang berbeda. Hasil uji dari beberapa perguruan tinggi seperti ITB, USU, dan UII menunjukkan bahwa BPA pada air dalam galon polikarbonat berada pada level tidak terdeteksi (undetected) dalam batas limit of detection (LOD) alat uji. Artinya, secara praktis tidak ditemukan migrasi BPA dalam air yang dikonsumsi dalam kondisi penggunaan normal.

Temuan ini memperkuat bahwa faktor penggunaan, suhu, dan durasi paparan sangat menentukan, serta galon guna ulang tetap berada dalam koridor aman jika digunakan sesuai standar.

Perilaku konsumen pun menunjukkan hal yang menarik. Pengamatan di lapangan memperlihatkan bahwa masyarakat tetap mengkonsumsi AQUA dalam berbagai aktivitas sehari-hari, baik di rumah tangga, tempat kerja, maupun saat perjalanan. Produk ini tetap menjadi pilihan lintas segmen.

Itu sebabnya, untuk kategori kebutuhan dasar seperti air minum, keputusan konsumsi tidak semata ditentukan oleh informasi yang viral, tetapi oleh pengalaman nyata yang berulang. Konsumen cenderung kembali pada apa yang mereka kenal dan percayai. “Kepercayaan itu akumulasi. Dibangun dari pengalaman panjang, bukan dari satu-dua isu yang muncul di media sosial,” kata Andre.

Selain kepercayaan, kekuatan distribusi menjadi faktor penopang yang tidak kalah penting. Ketersediaan produk hingga ke pelosok daerah membuat AQUA tetap hadir dalam keseharian masyarakat.

Sementara itu, inovasi seperti galon guna ulang justru memperkuat posisi di tengah meningkatnya kesadaran lingkungan. Sistem ini memungkinkan efisiensi penggunaan plastik sekaligus mengurangi potensi limbah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). “Ketika konsumen merasa tidak berkontribusi pada pencemaran, justru ada sense of participation. Ini memperkuat hubungan dengan brand,” ujarnya. (*)

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |