Liputan6.com, Jakarta - Surat Al-Hadid ayat 20 menggambarkan hakikat kesenangan kehidupan dunia yang sementara dan penuh dengan tipu daya. Ayat ini merinci lima tahapan orientasi manusia terhadap dunia yang penuh dengan kesenangan semu.
Ayat ini menjadi relevan di tengah fenomena maraknya hedonisme modern. Muhammad Al Fikri dkk, dalam penelitiannya yang dipublikasikan di Jurnal Tazkir mencatat bahwa hedonisme memiliki akar historis yang berkembang sejak abad ke-19 dan kini sering bertentangan dengan kondisi ekonomi keluarga, melahirkan perilaku konsumtif yang dipengaruhi lingkungan sosial.
Alifia Nova Ariska dan Muhammad Rif'al Amin dalam Minaret: Journal of Religious Studies menambahkan bahwa kerentanan Generasi Z terhadap hedonisme tidak semata-mata bersumber dari dorongan individual, melainkan terbentuk melalui interaksi antara budaya konsumsi digital, Fear of Missing Out (FoMO), kemudahan transaksi, perbandingan sosial, dan pencarian validasi.
Penelitian Fikri dkk. menggunakan pendekatan Ma'na-cum-Maghza yang dikembangkan Sahiron Syamsuddin untuk menggali makna linguistik, konteks historis, dan signifikansi dinamis Q.S. Al-Hadid ayat 20. Pendekatan ini berbeda dari tafsir tradisional karena tidak berhenti pada makna literal, tetapi berupaya mengontekstualisasikan pesan ayat dengan problematika kontemporer seperti hedonisme.
Teks Lengkap Surat Al-Hadid Ayat 20
Arab: اِعْلَمُوْٓا اَنَّمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ وَّزِيْنَةٌ وَّتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى الْاَمْوَالِ وَالْاَوْلَادِۗ كَمَثَلِ غَيْثٍ اَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهٗ ثُمَّ يَهِيْجُ فَتَرٰىهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُوْنُ حُطَامًاۗ وَفِى الْاٰخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيْدٌۙ وَّمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللّٰهِ وَرِضْوَانٌۗ وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ
Artinya: I'lamū annamal-ḥayātud-dun-yā la'ibuw wa lahwuw wa zīnatuw wa tafākhurum bainakum wa takāṡurun fil-amwāli wal-aulād, kamaṡali gaiṡin a'jabal-kuffāra nabātuhū ṡumma yahīju fa tarāhu muṣfarran ṡumma yakūnu ḥuṭāmā, wa fil-ākhirati 'ażābun syadīduw wa magfiratum minallāhi wa riḍwān, wa mal-ḥayātud-dun-yā illā matā'ul-gurūr
Artinya: "Ketahuilah bahwa kehidupan dunia itu hanyalah permainan, kelengahan, perhiasan, dan saling bermegah-megahan di antara kamu serta berlomba-lomba dalam banyaknya harta dan anak keturunan. (Perumpamaannya adalah) seperti hujan yang tanamannya mengagumkan para petani, lalu mengering dan kamu lihat menguning, kemudian hancur. Di akhirat ada azab yang keras serta ampunan dari Allah dan keridaan-Nya. Kehidupan dunia (bagi orang-orang yang lengah) hanyalah kesenangan yang memperdaya."
Tafsir Surat Al-Hadid Ayat 20
Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim menjelaskan bahwa ayat ini diawali dengan i'lamū (ketahuilah) sebagai bentuk penekanan agar manusia benar-benar menyadari hakikat dunia.
Allah melemahkan dan merendahkan urusan dunia di hadapan hamba-hamba-Nya, seraya menyatakan bahwa kesenangan dunia hanyalah la'ib (permainan), lahw (kelengahan), zinah (perhiasan), tafakhur (saling membanggakan), dan takatsur (berlomba memperbanyak harta dan anak).
Ibnu Katsir juga mengutip Q.S. Ali Imran ayat 14 sebagai perbandingan bahwa kecintaan manusia terhadap syahwat, anak, harta, dan kesenangan dunia memang dijadikan indah dalam pandangan manusia, tetapi semua itu hanyalah matā'ul-ḥayātid-dun-yā (kesenangan hidup dunia), sedangkan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.
Perumpamaan dunia seperti hujan yang menumbuhkan tanaman yang mengagumkan petani, kemudian mengering, menguning, dan hancur, menegaskan bahwa segala kenikmatan dunia bersifat sementara dan akan sirna.
Ahmad Mustafa al-Maraghi dalam Tafsir al-Maraghi menjelaskan bahwa ayat 20 ini berkaitan erat dengan ayat-ayat sebelumnya, terutama ayat 18 dan 19 yang berbicara tentang orang-orang beriman yang bersedekah dan mendapat cahaya di hari kiamat.
Ayat ini menggambarkan dunia seperti tanah yang mendapat hujan dan menumbuhkan tanaman hijau yang memukau, namun tiba-tiba menguning, kering, dan hancur karena kekeringan.
Al-Maraghi menegaskan bahwa dunia diumpamakan seperti sawah untuk akhirat: siapa yang menanam dengan baik akan mendapat hasil yang baik pula, sedangkan orang yang malas dan lalai akan menyesal ketika penyesalan sudah tidak berguna.
Sa'id bin Jabir mengatakan bahwa dunia adalah kenikmatan yang bisa menipu; jika membuat kita lupa pada akhirat, maka dunia itu berbahaya. Tetapi jika dunia menjadi sarana untuk mencari Allah dan akhirat, maka itu adalah kenikmatan yang paling baik.
M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah menafsirkan kata innamā sebagai kata pembatas yang berarti "tidak lain" atau "hanya." Dalam konteks ayat, kata ini menegaskan bahwa hanya hal-hal yang disebutkan dalam ayat itulah yang termasuk bagian utama dari kehidupan dunia.
Memang banyak aspek lain dalam hidup seperti sakit, makan, dan minum, tetapi kata innamā menekankan hal-hal penting yang sering membuat manusia lalai.
Quraish Shihab menjelaskan urutan kata dalam ayat ini menggambarkan perkembangan manusia dari bayi yang bermain (la'ib), remaja yang berhias (zinah), pemuda yang saling membanggakan (tafakhur), hingga orang dewasa yang memperbanyak harta dan anak (takatsur).
Menurut Thabathaba'i, maghfirah (pengampunan) harus didahulukan agar jiwa menjadi bersih dan dapat menerima keridaan Allah. Rasyid Ridho juga menganggap ayat ini sebagai gambaran perjalanan hidup manusia dari masa kanak-kanak hingga dewasa.
Asbabun Nuzul Surat Al-Hadid Ayat 20
Q.S. Al-Hadid ayat 20 tidak memiliki asbabun nuzul khusus yang disebutkan secara eksplisit dalam kitab-kitab asbabun nuzul. Namun, para mufassir mengaitkannya dengan ayat sebelumnya, yaitu Q.S. Al-Hadid ayat 16, yang memiliki latar belakang turunnya ayat yang jelas.
Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dalam kitab Al-Mushannaf dari Abdul Aziz bin Abi Ruwad bahwa para sahabat Nabi SAW suatu ketika memperlihatkan candaan dan tertawa-tawa. Maka turunlah ayat: "Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka kepada Allah…" (Q.S. Al-Hadid: 16). Ibnu Abi Hatim juga meriwayatkan dari Muqatil bin Hayyan yang mengatakan bahwa dahulu para sahabat Nabi SAW melakukan candaan, kemudian Allah menurunkan ayat tersebut.
Ibnu Al-Mubarak meriwayatkan dalam kitab Az-Zuhd bahwa Sufyan mengisahkan dari Al-A'masy: tatkala para sahabat Rasulullah SAW tiba di Madinah, mereka mendapatkan mata pencaharian sehingga kendur dari aktivitas ibadah yang biasa mereka lakukan. Maka turunlah ayat: "Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah" (Q.S. Al-Hadid: 16).
Dengan demikian, konteks historis Q.S. Al-Hadid ayat 20 adalah teguran terhadap kecenderungan manusia, termasuk para sahabat, untuk terlena dalam kesenangan dan permainan duniawi, yang kemudian dijawab Allah dengan penjelasan komprehensif tentang hakikat dunia dan akhirat.
Pesan Mendalam Surat Al-Hadid Ayat 20
1. Peringatan terhadap Obsesi Harta dan Keturunan (Prestise)
Fikri dkk. dalam penelitian Ma'na-cum-Maghza merumuskan bahwa pesan pertama ayat ini adalah peringatan terhadap obsesi berlebihan terhadap harta dan keturunan. Fenomena ini menggambarkan manusia yang terus mengejar kekayaan dan kebanggaan nasab, terkadang tanpa menyadari bahwa ambisi tersebut telah melampaui batas kewajaran. Jika tidak dikendalikan, sikap ini dapat melahirkan kesombongan, memicu konflik sosial, dan bahkan memutus tali silaturahmi.
2. Bahaya Terjebak dalam Permainan dan Kesenangan Dunia yang Sementara
Pesan kedua adalah bahaya terjebak dalam permainan dan kesenangan dunia yang hanya bersifat sementara. Ayat ini menggunakan perumpamaan hujan yang menumbuhkan tanaman yang mengagumkan petani, tetapi kemudian mengering, menguning, dan hancur. Perumpamaan ini menegaskan bahwa kebahagiaan dunia bersifat fana dan tidak kekal. Orang yang terlalu fokus pada kesenangan duniawi akan melupakan tujuan hidup yang sebenarnya dan mengabaikan persiapan untuk kehidupan akhirat.
3. Peringatan tentang Kesenangan yang Menipu dan Persaingan Dunia yang Berlebihan
Pesan ketiga adalah peringatan tentang kesenangan yang menipu dan berpotensi memicu persaingan dunia yang berlebihan. Ayat ini diakhiri dengan penegasan bahwa kehidupan dunia hanyalah matā'ul-gurūr (kesenangan yang memperdaya). Orang-orang yang condong pada dunia akan tertipu dan terperdaya, terutama dengan kemajuan teknologi dan inovasi terbaru yang menawarkan gaya hidup konsumtif yang kurang bermanfaat. Mereka menyangka bahwa kehidupan hanyalah di dunia ini dan tidak ada kehidupan sesudahnya.
4. Ajakan untuk Memiliki Perspektif yang Benar tentang Kehidupan
Ayat ini mengingatkan manusia untuk memiliki perspektif yang benar tentang kehidupan. Kehidupan dunia bersifat sementara dan fana, sedangkan kehidupan akhirat adalah tempat yang kekal dan sejati. Oleh karena itu, manusia seharusnya lebih mempersiapkan diri untuk kehidupan akhirat daripada terlalu terfokus pada dunia yang sementara ini. Kehidupan dunia harus dimanfaatkan untuk mengumpulkan bekal amal saleh, menghindari dosa dan maksiat, serta memperbanyak ibadah kepada Allah.
5. Keseimbangan antara Kenikmatan Halal dan Orientasi Spiritual
Ayat ini tidak melarang manusia untuk menikmati karunia Allah yang halal. Al-Qur'an mengingatkan bahwa semua itu dapat berubah menjadi tabir apabila dunia tidak lagi ditempatkan sebagai jalan, melainkan dijadikan tujuan terakhir. Oleh karena itu, seorang Muslim diingatkan untuk menetapkan batasan dalam mengejar kesenangan, menjaga keseimbangan antara menikmati kenikmatan halal dengan tetap fokus pada tujuan spiritual dan akhirat. Dengan demikian, solusi Qur'ani bukan asketisme total, melainkan tawazun (keseimbangan).
Pertanyaan Seputar Surat Al Hadid
1. Apa makna utama Surat Al-Hadid ayat 20?
Surat Al-Hadid ayat 20 menjelaskan bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan, kelengahan, perhiasan, ajang saling membanggakan, dan perlombaan memperbanyak harta dan anak. Ayat ini mengingatkan bahwa semua kesenangan dunia bersifat sementara dan menipu, sedangkan kehidupan akhirat adalah tujuan yang sejati.
2. Mengapa Surat Al-Hadid ayat 20 disebut merangkum hakikat kehidupan dunia?
Ayat ini disebut merangkum hakikat kehidupan dunia karena mencakup lima tahapan orientasi manusia terhadap dunia—la'ib, lahw, zinah, tafakhur, dan takatsur— serta memberikan perumpamaan yang jelas tentang kefanaan dunia melalui metafora hujan dan tanaman yang mengering lalu hancur.
3. Bagaimana tafsir Al-Maraghi menjelaskan Surat Al-Hadid ayat 20?
Al-Maraghi menjelaskan bahwa dunia diumpamakan seperti sawah untuk akhirat: siapa yang menanam dengan baik akan mendapat hasil yang baik, sedangkan orang yang malas dan lalai akan menyesal. Dunia adalah kenikmatan yang bisa menipu jika membuat manusia lupa pada akhirat, tetapi menjadi sarana yang baik jika digunakan untuk mencari Allah dan akhirat.
4. Apa relevansi Surat Al-Hadid ayat 20 dengan perilaku hedonisme Generasi Z?
Ayat ini sangat relevan dengan perilaku hedonisme Generasi Z karena mengkritik orientasi hidup yang menjadikan kesenangan, citra, dan konsumsi sebagai ukuran kebahagiaan. Dalam konteks digital, la'ib dapat dibaca sebagai hiburan tanpa tujuan, lahw sebagai kelengahan akibat media sosial, zinah sebagai estetisasi diri, tafakhur sebagai kompetisi citra, dan takatsur sebagai dorongan akumulasi barang dan followers.
5. Bagaimana cara menghindari perilaku hedonisme menurut Surat Al-Hadid ayat 20?
Cara menghindari hedonisme menurut ayat ini adalah dengan memiliki perspektif yang benar tentang kehidupan, menyadari bahwa dunia bersifat sementara, mempersiapkan diri untuk akhirat melalui amal saleh, memiliki keberanian dan kesabaran dalam menghadapi ujian hidup, serta menjaga keseimbangan antara menikmati kenikmatan halal dan tetap fokus pada tujuan spiritual.
.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4758315/original/039700600_1709260395-front-view-person-reading-from-holy-book.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3108176/original/099514400_1587459746-close-up-of-text-on-paper-318451__1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8627020/original/000666700_1782622344-aoun-abbas-97o4XH0htUs-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5423024/original/045605200_1764051067-Membaca_ayat_suci_al_quran__pexels_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3133009/original/069410900_1589908304-3482876.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4919191/original/040795900_1723718109-Ilustrasi_pasrah__berserah__berdoa.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4260457/original/053804300_1670989554-destroyed-city.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5507305/original/081482200_1771489245-7.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4199341/original/055639700_1666344669-bacaan-doa-untuk-orang-meninggal-latin-dan-artinya.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4374139/original/096709100_1679981555-pexels-alena-darmel-8164742.jpg)











:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7617354/original/030596700_1780403789-cek_fakta_-_bulog.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5380783/original/022608800_1760432989-Ilustrasi_Qunut.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4081826/original/095015200_1657181935-eid-al-adha-g4b5ad3a7d_1920.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6493867/original/025420800_1779351314-unnamed__6_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7961905/original/013698500_1780798434-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-07T090929.694.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3444300/original/037742600_1619765801-20210430-Suasana_Sholat_Jumat_Minggu_Ketiga_Ramadhan_di_Masjid_Istiqlal-3.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5547119/original/085428000_1775445943-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-04-06T101438.375.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6470151/original/005986700_1779331713-20151013211910-berdoa-bersama-menyambut-tahun-baru-1437-hijriah-007-dru.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5546690/original/011878700_1775361202-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-04-05T105210.824.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4864911/original/016662100_1718506973-sholat_Idul_Adha_di_Masjid_Agung_Al-Azhar-HERMAN_13.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8219345/original/056761200_1781079103-koperasi_desa-_cek_fakta.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6363680/original/024922800_1779238711-Tugas__15_.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7588958/original/019147200_1780371293-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-02T103304.534.jpg)