10 Amalan Sunnah yang Bisa Dilanjutkan setelah Ramadhan Lengkap Tata Caranya

3 hours ago 4
  • Amalan yang dilakukan setelah Ramadhan?
  • Apa amalan yang dianjurkan setelah Ramadhan untuk mempertahankan kebiasaan baik?
  • Apa saja amalan 10 hari terakhir Ramadhan?

Baca artikel ini 5x lebih cepat

Liputan6.com, Jakarta - Ramadhan yang indah dengan malam-malam penuh doa, lantunan Al-Qur'an, dan kebersamaan dalam ibadah akan berlalu. Alangkah baiknya hanya Ramadhan saja yang berlalu, namun tidak dengan amalan-amalannya. Untuk itu, kita perlu mengetahui amalan sunnah yang bisa dilanjutkan setelah Ramadhan.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Muzzammil ayat 20, yang artinya: "Bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al-Qur'an." (QS. Al-Muzzammil: 20). Ayat ini menjadi pengingat bahwa ibadah kepada Allah tidak hanya untuk Ramadhan, tetapi untuk sepanjang hayat.

Merujuk ebook 30 Inspirasi Ibadah Syawal, terbitan Qur'an Pro Academy (2024), bulan Syawal dan bulan-bulan berikutnya adalah kesempatan untuk membuktikan bahwa kita benar-benar mengambil pelajaran dari "madrasah Ramadan" dan menjadikannya sebagai gaya hidup.

Para ulama bahkan biasa berdoa selama enam bulan setelah Ramadan agar Allah menerima amalan mereka, dan enam bulan berikutnya agar diberikan kekuatan untuk beribadah hingga Ramadan berikutnya. Ini menunjukkan betapa pentingnya konsistensi dalam beribadah.

Berikut ini adalah ulasan lengkap amalan-amalan sunnah yang bisa dilanjutkan setelah Ramadhan, lengkap dengan dalil, pandangan ulama, tata cara, dan keutamaannya.

Merujuk Amalan Sesudah Bulan Ramadhan karya Sukamto (2024), Syawal adalah bulan untuk meraih kegembiraan, bukan hanya di dunia tetapi juga di akhirat. Ia adalah peluang untuk kita memperkukuhkan iman, memperbaiki hubungan sesama manusia, dan meneruskan amalan soleh yang telah dibina sepanjang Ramadan. Berikut ini adalah amalan-amalan sunnah yang bisa dilanjutkan setelah Ramadhan.

1. Puasa Enam Hari di Bulan Syawal

Puasa Syawal merupakan amalan sunnah yang paling utama dan paling dianjurkan setelah Ramadan. Rasulullah SAW menjanjikan pahala yang luar biasa bagi yang melaksanakannya.

Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa yang berpuasa Ramadan kemudian mengikutkannya dengan enam hari dari bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa sepanjang tahun." (HR. Muslim No. 1164) [citation:Sukamto]

Hadits ini memiliki derajat shahih dan menjadi landasan utama pensyariatan puasa Syawal. Para ulama dari empat mazhab; Hanafi, Maliki, Syafi'i, dan Hanbali, sepakat bahwa puasa enam hari di bulan Syawal memiliki keutamaan yang besar, meskipun bukan kewajiban.

Imam An-Nawawi dalam kitab Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa pahala seperti puasa setahun diperoleh karena setiap kebaikan dilipatgandakan sepuluh kali. Puasa Ramadan 30 hari setara 300 hari, ditambah puasa Syawal 6 hari setara 60 hari, total 360 hari atau satu tahun Hijriyah [citation:Sukamto].

Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitabnya Latha'if al-Ma'arif menegaskan bahwa puasa Syawal bukan hanya soal pahala, tetapi juga tentang keberlanjutan dalam ibadah. Beliau menyatakan: "Balasan bagi kebaikan adalah kebaikan setelahnya. Maka barangsiapa melakukan kebaikan kemudian diikuti dengan kebaikan lain, itu menjadi tanda diterimanya kebaikan pertama.".

2. Memperbanyak Silaturahmi dan Saling Memaafkan

Syawal identik dengan tradisi halal bihalal dan silaturahmi. Ini bukan sekadar budaya, tetapi amalan sunnah yang memiliki nilai ibadah tinggi.

Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung tali silaturahmi." (HR. Bukhari No. 5985 dan Muslim No. 2557).

Dalam hadits lain, disebutkan: "Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan silaturahim." (HR. Bukhari No. 5638 dan Muslim No. 2556).

Ebook 30 Inspirasi Ibadah Syawal menjelaskan bahwa menjaga silaturahim adalah amalan yang sangat ditekankan dalam Islam karena membuka pintu rezeki dan memanjangkan umur. Syawal adalah waktu terbaik untuk memulai kebiasaan ini.

Beberapa adab silaturahmi yang perlu diperhatikan:

  • Memberitahu terlebih dahulu jika akan berkunjung
  • Memilih waktu yang tepat (tidak terlalu pagi atau terlalu malam)
  • Tidak duduk terlalu lama hingga membuat tuan rumah tidak nyaman
  • Menerima hidangan dengan baik jika dihidangkan
  • Tidak meminta-minta hidangan yang menyusahkan tuan rumah

3. Melanjutkan Sedekah Secara Konsisten

Semangat berbagi yang meluap di bulan Ramadan harus menjadi kebiasaan sepanjang tahun.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 3: "(Yaitu) orang-orang yang beriman pada yang gaib, menegakkan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.".

Rasulullah SAW bersabda: "Sedekah itu menghapus kesalahan sebagaimana air memadamkan api." (HR. Tirmidzi, 1996).

Dalam hadits lain: "Tidaklah manusia memasuki waktu pagi, melainkan ada dua malaikat yang turun (ke bumi). Salah satu dari kedua malaikat itu berdoa, 'Ya Allah! Berikanlah ganti (yang baik) kepada orang yang bersedekah.' Sedang malaikat yang satunya lagi mengatakan, 'Ya Allah! Timpakanlah kehancuran pada orang yang menahan hartanya (kikir).'" (HR. Bukhari)

Panduan Praktis:

  • Sediakan tabung sedekah di rumah dan biasakan mengisinya setiap hari
  • Tetapkan jumlah kecil namun konsisten, misalnya RM1 atau Rp1.000 per hari.
  • Sedekah tidak terbatas pada uang, bisa berupa makanan, pakaian, atau bahkan senyuman.

4. Menjaga Shalat Sunnah Rawatib

Shalat rawatib adalah shalat sunnah yang mengiringi shalat fardhu, sebelum dan sesudahnya. Amalan ini sangat ringan namun pahalanya luar biasa.

Rasulullah SAW bersabda: "Tidaklah seorang hamba muslim melakukan shalat sunat karena Allah Ta'ala setiap hari 12 rakaat melainkan Allah akan membangunkan untuknya sebuah rumah di surga." (HR. Muslim No. 728) [citation:Ebook30]

Dalam hadits lain, Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya amal hamba yang pertama kali dihisab pada hari Kiamat adalah shalat fardhu. Jika ia menyempurnakannya, maka baiklah. Jika tidak, maka disampaikan: Lihatlah oleh kalian, apakah hamba itu memiliki amalan (shalat) sunah? Jika memiliki amalan shalat sunah, sempurnakan amalan shalat fardhu dengan amal shalat sunahnya." (HR. Ibnu Majah).

Rincian Shalat Rawatib

Dalam kitab Al-Muhadzdzab fî Fiqh al-Imâm asy-Syâfi'î (juz I, halaman 83), dijelaskan rincian shalat rawatib :

Shalat sunnah rawatib muakkad (sangat dianjurkan) - 10 rakaat:

  • Dua rakaat sebelum shalat Subuh
  • Dua rakaat sebelum shalat Dhuhur
  • Dua rakaat setelah shalat Dhuhur
  • Dua rakaat setelah shalat Maghrib
  • Dua rakaat setelah shalat Isya

Shalat sunnah rawatib ghairu muakkad (anjurannya tidak sekokoh muakkad) - 8 rakaat:

  • Dua rakaat tambahan sebelum Dhuhur (sehingga menjadi 4 rakaat)
  • Dua rakaat tambahan setelah Dhuhur (sehingga menjadi 4 rakaat)
  • Empat rakaat sebelum Ashar

Dalilnya adalah hadits riwayat Ummu Habibah RA bahwa Nabi SAW bersabda: "Barangsiapa yang menjaga shalat empat rakaat sebelum dhuhur dan empat rakaat setelahnya, maka ia diharamkan masuk neraka." (HR. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa'i, dan Ibnu Majah).

5. Qiyamullail (Shalat Malam)

Ramadan melatih kita bangun malam untuk shalat Tarawih dan Tahajud. Kebiasaan ini sangat dianjurkan untuk dipertahankan.

Allah SWT berfirman dalam Surah As-Sajdah ayat 16-17: "Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan penuh harap, serta mereka menafkahkan apa pun rejeki yang Kami berikan. Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan."

Rasulullah SAW bersabda: "Solat yang paling utama setelah solat fardu adalah solat malam." (HR. Muslim No. 1163).

Dalam hadits lain: "Lakukanlah qiyamullail karena ia adalah kebiasaan orang-orang soleh sebelum kamu, ia mendekatkan kamu kepada Allah, menghapuskan dosa-dosamu, dan mencegah kamu daripada melakukan dosa." (HR. Tirmidzi No. 3549).

6. Membaca Al-Qur'an Setiap Hari

Tradisi tadarus yang hidup selama Ramadan harus menjadi kebiasaan harian.

Rasulullah SAW bersabda: "Bacalah Al-Qur'an, karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafa'at bagi para pembacanya." (HR. Muslim No. 804).

Dalam hadits lain: "Siapa saja membaca satu huruf dari Kitabullah (Al-Qur'an), maka baginya satu kebaikan. Dan satu kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kali lipatnya." (HR. Tirmidzi).

Keutamaan Khusus Waktu Subuh

Waktu setelah Subuh memiliki keistimewaan tersendiri untuk membaca Al-Qur'an. Allah berfirman dalam Surah Al-Isra ayat 78: "Sesungguhnya salat Subuh itu disaksikan (oleh malaikat)."

Para mufassir seperti Imam al-Ṭabari dan Ibn Katsir menjelaskan bahwa "masyhūdan" berarti disaksikan oleh malaikat malam dan malaikat siang yang berkumpul pada waktu Subuh.

7. Dzikir Pagi dan Petang

Dzikir adalah amalan ringan yang menjaga hati tetap terhubung dengan Allah sepanjang hari.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 152: "Maka, ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.".

Rasulullah SAW bersabda: "Hendaklah lisanmu senantiasa basah dengan mengingat Allah." (HR. Tirmidzi)

Dzikir Pilihan

Di antara dzikir pagi yang sangat dianjurkan adalah:

- Dzikir tauhid (dibaca 100 kali)

لا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

"Tidak ada tuhan selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segala kerajaan dan pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu."

- Pernyataan ridha (dibaca pagi dan petang)

رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا، وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا، وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا

"Aku ridha Allah sebagai Tuhanku, Islam sebagai agamaku, dan Muhammad sebagai nabiku."

Kebiasaan menghadiri majelis ilmu dan kajian di bulan Ramadan harus dilanjutkan.

Rasulullah SAW bersabda: "Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim." (HR. Ibnu Majah, 2008).

Sukamto dalam bukunya Amalan Sesudah Bulan Ramadhan menjelaskan, dengan ilmu, kita dapat meningkatkan kualitas ibadah dan memahami agama dengan lebih baik. Dengan ilmu kita bisa membuka cendela dunia, artinya dengan ilmu kita bisa tahu perkembangan teknologi dan lain-lain.

9. Shalat Dhuha

Shalat Dhuha adalah shalat sunnah yang dikerjakan pada waktu pagi, setelah matahari terbit hingga sebelum masuk waktu Dhuhur.

Rasulullah SAW bersabda: "Pada setiap pagi, setiap sendi manusia perlu bersedekah... dan mencukupi semua itu dengan solat dua rakaat yang dilaksanakan pada waktu Dhuha." (HR. Muslim No. 720).

Dalam hadits lain: "Wahai anak Adam, kerjakanlah solat Dhuha untuk-Ku sebanyak empat rakaat pada awal pagi, nescaya Aku akan mencukupkan keperluanmu sepanjang hari." (HR. Ahmad No. 19420 – Sahih menurut Al-Albani).

10. Puasa Sunnah Lainnya: Senin-Kamis, Ayyamul Bidh, dan Muharram

Setelah Ramadan, masih banyak puasa sunnah yang bisa dilanjutkan.

Rasulullah SAW bersabda: "Sebaik-baik puasa setelah Ramadlan adalah puasa di bulan Allah, bulan Muharram." (HR. Muslim).

Imam An Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menyebutkan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa Muharram adalah bulan yang paling mulia untuk melaksanakan puasa sunnah.

Puasa Asyura

Keutamaan Puasa Asyura (10 Muharram) disebutkan oleh Rasulullah SAW melalui hadis: "Puasa Asyura dapat melebur dosa satu tahun sebelumnya." (HR. Muslim)

Dalam kitab Irsyadul 'Ibad karya Syaikh Zainuddin al-Malibari, dijelaskan bahwa pahala puasa Asyura adalah mendapatkan pengampunan tujuh puluh tahun dari dosa-dosa yang pernah dilakukan.

Puasa Senin-Kamis

Dari Aisyah RA, ia berkata: "Rasulullah SAW sangat antusias dan bersungguh-sungguh dalam melakukan puasa pada hari Senin dan Kamis." (HR. Tirmidzi, An-Nasai, Ibnu Majah, Imam Ahmad).

Puasa Ayyamul Bidh

Rasulullah SAW bersabda: "Puasa tiga hari di setiap bulannya adalah seperti berpuasa sepanjang tahun." (HR. Bukhari).

Keutamaan Konsistensi Ibadah Setelah Ramadan

Para ulama menyebutkan beberapa keutamaan menjaga konsistensi ibadah setelah Ramadan:

1. Tanda Diterimanya Amalan Ramadan

Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitabnya Latha'if al-Ma'arif menjelaskan membiasakan puasa setelah puasa Ramadhan merupakan tanda diterimanya amal puasa di bulan Ramadhan. Sesungguhnya Allah jika menerima suatu amal hamba, maka Allah beri ia taufik untuk melakukan amal shalih setelahnya.

Sebagian ulama berpendapat, balasan dari kebaikan adalah kebaikan setelahnya. Maka barangsiapa melakukan kebaikan kemudian diikuti dengan kebaikan lain, itu menjadi tanda diterimanya kebaikan pertama.

2. Mendapatkan Cinta Allah

Rasulullah SAW bersabda: "Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang terus-menerus meskipun sedikit." (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menunjukkan bahwa Allah tidak melihat besar kecilnya amalan, tetapi konsistensi dan keikhlasan di dalamnya.

3. Menyempurnakan Ibadah Wajib

Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa ibadah sunnah berfungsi menyempurnakan kekurangan dalam ibadah wajib. Shalat sunnah rawatib menutup celah-celah kekurangan dalam shalat fardhu, puasa sunnah menyempurnakan puasa Ramadhan, sedekah sunnah membersihkan harta dan jiwa.

4. Menyelamatkan dari Sifat Munafik

Janganlah kita menjadi hamba Ramadhan yang hanya rajin ketika bulan itu tiba, tetapi jadilah hamba Allah yang konsisten dalam ketaatan sepanjang tahun. Ramadhan memang telah berlalu, namun Rabb-nya Ramadhan, Allah Subhanahu wa Ta'ala, tetap hidup dan mengawasi kita setiap saat.

5. Mendapatkan Keberkahan Waktu dan Rezeki

Silaturahmi dan sedekah yang dilakukan secara konsisten akan melapangkan rezeki dan memanjangkan umur. Dzikir dan doa di waktu-waktu mustajab akan membuka pintu-pintu keberkahan yang tidak disangka-sangka.

People Also Ask:

Amalan yang dilakukan setelah Ramadhan?

Salah satu bentuk nyata Jaga Amalan Setelah Bulan Ramadhan adalah dengan terus berinfaq dan membantu sesama. Jangan tunda kebaikan. Setiap rupiah yang kita keluarkan di jalan Allah akan kembali dalam bentuk keberkahan hidup.

Apa amalan yang dianjurkan setelah Ramadhan untuk mempertahankan kebiasaan baik?

Jika setelah Ramadhan kita tetap rajin shalat, membaca Al-Qur'an, bersedekah, dan menjaga akhlak, itulah tanda Ramadhan kita diterima. Sebaliknya, jika ibadah menurun drastis, maka perlu introspeksi diri. Imam Hasan Al-Bashri mengatakan bahwa pahala kebaikan adalah kebaikan berikutnya.

Apa saja amalan 10 hari terakhir Ramadhan?

Pada 10 hari terakhir Ramadan, amalan utamanya adalah meningkatkan ibadah untuk meraih Lailatul Qadar, seperti memperbanyak salat malam (tahajud, witir), tilawah Al-Qur'an, zikir dan doa, bersedekah, serta i'tikaf di masjid, bahkan membangunkan keluarga untuk ikut beribadah, karena malam-malam ini sangat istimewa dan penuh kemuliaan.

Hadits barang siapa senang dengan datangnya bulan Ramadhan?

Hadits tentang "barang siapa senang dengan datangnya bulan Ramadhan, Allah haramkan jasadnya masuk neraka" adalah populer tetapi derajatnya lemah/palsu (maudhu'), meskipun maknanya sejalan dengan hadits-hadits shahih tentang keutamaan Ramadhan seperti dibukanya pintu surga, ditutupnya pintu neraka, dan dibelenggunya setan, yang menjadi kabar gembira bagi orang beriman untuk berlomba meraih pahala. Hadits shahih yang lebih sesuai adalah sabda Rasulullah tentang keutamaan bulan Ramadhan itu sendiri, yang mendorong kegembiraan karena banyaknya kebaikan dan ampunan.

Amalan apa yang saya ingin lanjutkan setelah Ramadhan?

Setelah Ramadhan, pastikan untuk tetap menjaga kualitas salat wajib dengan khusyuk serta melanjutkan kebiasaan salat sunnah seperti salat dhuha, rawatib, dan tahajud.

Anda Sedang Mengikuti Pembahasan Seputar

Nanik Ratnawati, Fadila AdelinTim Redaksi

Share

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |