Liputan6.com, Jakarta - Bulan Dzulhijjah merupakan salah satu bulan mulia dalam kalender Islam. Puncak dari syiar di bulan ini adalah wukuf di Arafah, perayaan Idul Adha yang jatuh pada tanggal 10 Dzulhijjah, dan berlanjut pada rangkaian hari yang disebut sebagai Hari Tasyrik. Pertanyaan yang kerap muncul adalah, Hari Tasyrik ada berapa?
Hari Tasyrik menempati posisi yang sangat unik dalam ranah fikih Islam. Pada periode ini, Allah SWT "menjamu" hamba-Nya dengan kelapangan rezeki dan mewajibkan umat Islam untuk menikmati hidangan, sehingga melahirkan hukum-hukum khusus yang wajib ditaati.
Untuk memahami esensi waktu istimewa ini secara utuh, penting bagi setiap muslim mengetahui berapa lama durasi Hari Tasyrik, dari mana asal-usul penamaannya, serta apa saja batasan dan amalan yang menyertainya.
Merangkum e-book Amalan Awal Dzulhijjah hingga Hari Tasyrik karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, buku Asal Usul Hari Tasyrik karya Ustadz Aris Munandar, serta literatur klasik dan kontemporer lain, berikut ini adalah ulasan lengkap Hari Tasyrik.
Hari Tasyrik Ada Berapa?
Hari Tasyrik terdiri dari tiga hari, yaitu tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. Ketetapan mengenai jumlah hari ini didasarkan pada firman Allah SWT dalam Surah Al-Baqarah ayat 203: "Dan berzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang terbilang..."
Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal dalam e-booknya mengutip penjelasan dari sahabat Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma yang termaktub dalam berbagai kitab tafsir (seperti Tafsir Ibnu Katsir). Ibnu 'Abbas menegaskan bahwa yang dimaksud dengan "hari yang terbilang" (ayyamum ma'dudat) dalam ayat tersebut adalah tiga hari setelah Idul Adha, yakni Ayyamut Tasyriq (Hari-hari Tasyrik).
Kesepakatan para ulama tafsir dan ahli fikih menetapkan bahwa durasinya secara spesifik jatuh pada tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah, berakhir ketika matahari terbenam pada tanggal 13.
Meski begitu, terdapat pula perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai jumlah pastinya. Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitabnya Fathul Bari bi Syarhi Shahihil Bukhari menyebutkan bahwa sebagian ulama berpendapat Hari Tasyrik terdiri atas dua hari, sementara sebagian ulama lainnya mengatakan terdiri atas tiga hari.
Namun demikian, pendapat yang lebih kuat dan diikuti oleh mayoritas ulama (jumhur) adalah bahwa Hari Tasyrik berjumlah tiga hari, yaitu tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. Pendapat ini didasarkan pada berbagai dalil, termasuk sabda Rasulullah SAW yang menyebut hari Tasyrik dalam bentuk jamak (plural) yang menunjukkan jumlah tiga hari.
Asal Usul Hari Tasyrik
Secara linguistik dan historis, Ustadz Aris Munandar dalam bukunya Asal Usul Hari Tasyrik menguraikan bahwa kata Tasyrik (التشْرِيق) berasal dari akar kata dalam bahasa Arab yang berarti "menjemur" atau memaparkan sesuatu di bawah terik matahari.
Penamaan ini berkaitan erat dengan tradisi masyarakat Arab di masa lalu. Pada tanggal 10 Dzulhijjah (Idul Adha), mereka menyembelih hewan kurban dalam jumlah besar. Karena pada zaman dahulu belum ada teknologi pendingin (kulkas) untuk mengawetkan daging yang berlimpah, masyarakat menyayat daging-daging tersebut tipis-tipis, melumurinya dengan garam, lalu menjemurnya di bawah terik matahari pada tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah.
Tujuannya adalah membuat dendeng agar daging bisa disimpan lama. Dari aktivitas massal menjemur daging di tiga hari tersebut, muncullah istilah "Hari Tasyrik".
Larangan di Hari Tasyrik dan Alasannya
Aturan paling fundamental di Hari Tasyrik adalah larangan berpuasa secara mutlak. Umat Islam diharamkan melaksanakan puasa jenis apa pun, baik puasa sunnah, qadha, maupun nadzar (kecuali bagi jemaah haji tamattu' atau qiran yang tidak mampu membayar dam/denda kurban).
Larangan ini bersumber langsung dari sabda Rasulullah ﷺ: "Hari-hari Tasyrik adalah hari makan dan minum, serta hari untuk mengingat Allah." (HR. Muslim no. 1141).
Dalam sabda lainnya yang diriwayatkan dari Uqbah bin Amir, Rasulullah ﷺ bersabda: "Hari Arafah, hari Idul Adha, dan hari-hari Tasyrik adalah hari raya kita umat Islam; hari-hari tersebut adalah hari makan dan minum." (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).
Imam An-Nawawi dalam kitab Syarh Shahih Muslim menjelaskan larangan ini dengan tegas. Menurut beliau, hadits-hadits di atas adalah nas yang secara gamblang menetapkan bahwa Hari Tasyrik merupakan kelanjutan dari hari raya (Idul Adha).
Allah telah menetapkan hari-hari tersebut secara spesifik sebagai waktu untuk makan dan minum (pesta/jamuan). Berpuasa di waktu yang telah ditetapkan sebagai "hari perayaan dan jamuan Allah" adalah bentuk ketidakpatuhan terhadap syariat.
Hikmah Larangan Berpuasa di Hari Tasyrik
Berdasarkan penjelasan dalam e-book Amalan Awal Dzulhijjah hingga Hari Tasyrik, pelarangan ini membawa hikmah sosiologis dan spiritual yang mendalam:
- Mensyukuri Jamuan Allah: Hari Tasyrik adalah momen distribusi daging kurban secara masif. Larangan berpuasa memastikan seluruh lapisan masyarakat, dari yang kaya hingga fakir miskin, dapat bersama-sama menikmati daging kurban sebagai wujud syukur atas nikmat Allah.
- Pemulihan Fisik (Taqwiyatul Abdan): Rangkaian ibadah haji maupun persiapan kurban sangat menguras energi. Makan dan minum di hari-hari ini berfungsi mengembalikan stamina fisik agar kaum muslimin kembali kuat dalam beraktivitas.
- Energi untuk Ketaatan: Makanan dan minuman yang dikonsumsi bukan semata-mata pemuas nafsu perut, melainkan diorientasikan sebagai sumber energi untuk memperbanyak ibadah, salat, dan zikir kepada Allah SWT.
Amalan-Amalan yang Dianjurkan di Hari Tasyrik
Meskipun aktivitas menahan lapar (puasa) ditiadakan, pintu ibadah lain justru terbuka lebar. Berikut adalah amalan yang sangat disunnahkan di Hari Tasyrik:
- Melanjutkan Penyembelihan Kurban: Waktu berkurban masih terbuka. Umat Islam diperbolehkan menyembelih hewan kurbannya pada siang maupun malam hari di tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah (berakhir sebelum Maghrib pada tanggal 13).
- Takbir Muqayyad: Mengumandangkan takbir setiap selesai menunaikan salat fardu lima waktu. Ibnu Rajab dalam kitab Fathul Bari (dikutip oleh Aris Munandar) menyebutkan bahwa para ulama sepakat amalan takbir purna-salat ini disyariatkan hingga waktu Asar di hari Tasyrik terakhir.
- Memperbanyak Zikir dan Tahmid: Sesuai hadits Muslim, ini adalah hari dzikrullah. Umat Islam sangat dianjurkan untuk terus bertasbih, bertahmid memuji Allah setiap selesai makan minum, dan bertahlil di setiap kesempatan.
- Membaca Doa Sapu Jagat: Dianjurkan memperbanyak doa permohonan kebaikan paripurna: "Rabbana aatina fid dunya hasanah, wa fil akhirati hasanah, wa qinaa 'adzaban naar" (Ya Tuhan kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari siksa neraka).
Pertanyaan Seputar hari Tasyrik
Berapa hari tasyrik Idul Adha?
Hari Tasyrik Idul Adha berlangsung selama 3 hari, yaitu jatuh pada tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah dalam penanggalan Hijriah.
Hari tasyrik 11 12 13 Dzulhijjah itu apa?
Hari tasyrik merupakan hari raya umat islam yang jatuh pada setelah idul adha yaitu hari ke 11, 12,13 pada bulan dzulhijjah menurut kalender islam.
Senin 9 Juni apakah hari tasyrik?
Ya, hari Senin tanggal 9 Juni (bertepatan dengan 13 Dzulhijjah) merupakan hari terakhir Hari Tasyrik.
3 hari tasyrik itu apa?
Hari Tasyrik adalah tiga hari setelah Hari Raya Idul Adha yang bertepatan dengan tanggal 11, 12, dan 13 bulan Dzulhijah. Ada yang menyebut hari tasyrik berasal dari kata yusyrikun yang berarti menjemur. Dalam hal ini, tasyrik berarti menjemur daging kurban.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3515648/original/043308100_1626760051-20210720-Pemotongan-Hewan-Kurban-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5450229/original/030945800_1766134797-unnamed__2_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3516535/original/022805800_1626851247-pexels-photo-6587473.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3516536/original/071123800_1626851248-pexels-mikhail-nilov-7582420.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4478171/original/051039000_1687492216-hari_tasyrik.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3516488/original/076834800_1626849309-pexels-asifgraphy-4348424.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4449837/original/055086300_1685614290-WhatsApp_Image_2023-06-01_at_17.06.22.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5597928/original/080198400_1778159546-kartun-nabi-telanjang-diunggah-ke-facebook.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5456521/original/033087800_1766898100-Gemini_Generated_Image_xyevcgxyevcgxyev_2.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3430346/original/057356100_1618535827-coffee-cup-with-different-dried-fruits-nuts.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4482816/original/057401700_1687846159-Kekhusyukan_jemaah_haji_panjatkan_doa_di_Jabal_Rahmah-AP__7_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5380783/original/022608800_1760432989-Ilustrasi_Qunut.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4081826/original/095015200_1657181935-eid-al-adha-g4b5ad3a7d_1920.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4864911/original/016662100_1718506973-sholat_Idul_Adha_di_Masjid_Agung_Al-Azhar-HERMAN_13.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6457492/original/012970200_1779321170-20150924164137-melihat-penyembelihan-hewan-kurban-di-masjid-sunda-kelapa-012-nfi.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6491381/original/093362700_1779349295-jaga-stok-daging-di-jakarta-ahok-teken-mou-dengan-mentan-amran.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5404281/original/095677800_1762401262-Doa.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4174191/original/099991100_1664358430-bacaan-doa-setelah-adzan-beserta-arti-dan-keutamaannya.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5385863/original/035777200_1760946460-KIP_Kuliah.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5502852/original/043074800_1771048777-4.jpg)
















