10 Tips Komunikasi Suami Istri Islami, Panduan Harmoni Keluarga Muslim Modern

3 months ago 93

Liputan6.com, Jakarta - Komunikasi suami istri dalam Islam bukan sekadar mekanisme penyampaian pesan, tetapi sarana membangun sakinah, mawaddah wa rahmah. Al-Qur’an dan hadis hadir sebagai fondasi utama.

Dalam konteks implementasi, para ulama klasik dan kontemporer menempatkan komunikasi suami istri menjadi bagian penting terciptanya keluarga yang harmonis. Pandangan ini cukup banyak dikaji ilmuwan dan para cendekia muda, mengingat kompleksitas persoalan rumah tangga di zaman modern.

Dalam el-Sunnah: Jurnal Kajian Hadis dan Integrasi Ilmu: Pola Komunikasi Suami Istri Perspektif Hadis, Putri Aisyah Delianti menjelaskan komunikasi dalam keluarga adalah alat pemelihara keutuhan rumah tangga dan penyeimbang gejolak emosi. Komunikasi itu dimulai dari kejujuran dan keterbukaan antara suami dan istri.

Al-Qur'an dalam QS. Ar-Rūm: 21 menjelaskan bahwa ketenangan dan kasih sayang lahir dari relasi yang dibangun dengan kata-kata lembut, dukungan emosional, dan saling memahami.

Berikut ini adalah tips komunikasi istri islami, untuk mewujudkan keluarga yang bahagia dan harmonis, berdasar Al-Qur'an dan hadis.

1. Gunakan Perkataan Lembut dan Tidak Menyakiti

Merujuk Mushaf Journal: Jurnal Ilmu Al Quran dan Hadis, berjudul Membangun Keluarga Bahagia: Nilai-Nilai Interaksi Suami Itri dalam Al-Qur'an, Ana Rahmawati dkk, Al-Qur’an membangun interaksi pasutri di atas tiga pilar: sakinah, mawaddah, dan rahmah, yang menjadi kerangka komunikasi penuh empati dan tanggung jawab.

Hadis-hadis Nabi SAW memperlihatkan teladan komunikasi rumah tangga yang penuh kelembutan dan penghargaan. Dalam riwayat Tirmidzi, Nabi ﷺ bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya.” Imam an-Nawawî menjelaskan bahwa hadis ini menjadi prinsip dasar akhlak komunikasi suami–istri—yakni memilih kata yang baik, menghargai perasaan pasangan, dan tidak menggunakan tutur yang menyakiti.

Berikut ini adalah tips komunikasi suami istri islami, berlandaskan Al-Qur'an dan hadis:

Gunakan Perkataan Lembut dan Tidak Menyakiti

Islam menempatkan kelembutan sebagai standar tertinggi dalam interaksi rumah tangga. Allah memerintahkan agar setiap ucapan dibangun dengan qaulan ma‘rūfan, perkataan yang pantas, baik, dan menenangkan (QS. An-Nisā’: 5). Kemudian, dalam hadis: “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya” (HR. Tirmidzi).

Al-Qur'an dan hadis menjadi dasar bahwa ukuran keutamaan seorang suami terlihat dari caranya berbicara dan memperlakukan istrinya.

Imam al-Nawawi menjelaskan bahwa hadis ini mengandung perintah untuk menghadirkan akhlak lembut dalam tutur kata, sedangkan Ibn Hajar menafsirkan khairukum sebagai standar kemuliaan seorang laki-laki dalam kehidupan domestik.

Komunikasi kasar, baik verbal maupun sikap, terbukti merusak ketenangan batin rumah tangga dan bertentangan dengan pola komunikasi Nabi SAW yang penuh kasih dan kelembutan.

2. Bersikap Jujur dan Terbuka dalam Komunikasi

Kejujuran adalah fondasi utama hubungan suami–istri. Allah memerintahkan orang beriman untuk bertakwa dan berkata dengan qaulan sadīdan, perkataan lurus, jujur, dan tidak berbelit sebagaimana dimaksud dalam QS. Al-Ahzab: 70.

Dalam Tafsir Ibn Katsir dijelaskan bahwa ayat ini menuntut kejujuran penuh, terutama dalam relasi dekat seperti pernikahan. Keterbukaan dalam menyampaikan perasaan, kebutuhan, ataupun kegelisahan membuat relasi lebih sehat, sekaligus menghindarkan prasangka dan konflik yang tidak perlu.

Berdasar studi, keterbukaan yang konsisten menjadi faktor penentu keharmonisan dan telah terbukti mampu menurunkan potensi pertikaian yang berulang.

3. Bangun Dialog dan Musyawarah dalam Mengambil Keputusan

Islam menjadikan musyawarah sebagai budaya komunikasi keluarga. Allah memuji orang beriman yang menyelesaikan persoalan mereka melalui musyawarah (QS. Asy-Syūrā: 38) dan bahkan memberikan contoh konkrit melalui perintah bermusyawarah dalam penyapihan anak (QS. Al-Baqarah: 233).

Nabi SAW pun mencontohkan musyawarah bersama istrinya, seperti ketika meminta pendapat Ummu Salamah pada peristiwa Hudaibiyah, sebuah pelajaran bahwa suara istri adalah bagian dari kebijaksanaan rumah tangga.

Imam al-Qurthubi menegaskan bahwa Al-Baqarah: 233 menjadi dalil kuat bahwa keputusan keluarga tidak boleh bersifat sepihak. Musyawarah adalah metode yang dipraktikkan Nabi SAW untuk meredakan konflik dan membangun rasa dihargai dalam diri pasangan.

4. Saling Menghargai dan Tidak Meremehkan Pasangan

Allah menggambarkan relasi suami–istri melalui metafora paling halus: “Mereka adalah pakaian bagimu dan kamu adalah pakaian bagi mereka” (QS. Al-Baqarah: 187).

Pakaian menutupi aib, memberi kenyamanan, dan melindungi dari bahaya, sebuah simbol betapa komunikasi harus dibangun dengan penghargaan dan penjagaan martabat pasangan.

Ibn Katsir menjelaskan bahwa hubungan suami–istri seharusnya mencerminkan kelekatan dan keintiman yang saling menguatkan, bukan merendahkan.

Ayat ini menjadi landasan etis untuk menjauhkan pasangan dari ucapan meremehkan atau sikap yang meruntuhkan harga diri pasangan.

5. Tunjukkan Rasa Cinta Secara Verbal dan Nonverbal

Al-Qur’an menegaskan bahwa Allah menanamkan mawaddah dan rahmah di antara suami–istri (QS. Ar-Rum: 21). Mawaddah, menurut Ibn Katsir, adalah cinta yang tampak dalam perilaku, bukan cukup disimpan dalam hati.

Sementara rahmah adalah belas kasih, kelembutan, dan empati yang ditampilkan saat pasangan berada dalam kelemahan. Komunikasi cinta tidak selalu harus berupa kata-kata manis; ia bisa hadir dalam perhatian kecil, ekspresi wajah yang hangat, atau sentuhan yang menenangkan.

Semua ini tidak mungkin hadir tanpa komunikasi yang benar, terarah, dan beradab. Ungkapan cinta, baik verbal maupun tindakan, adalah perwujudan nilai Qur’ani yang menjaga ketahanan emosional pasangan.

6. Kendalikan Emosi dalam Konflik dan Gunakan Kata-Kata Bijak

Konflik adalah bagian dari dinamika rumah tangga, tetapi Islam mengajarkan cara menyikapinya: “Tolaklah kejahatan dengan cara yang lebih baik” (QS. Fussilat: 34).

Nabi menegaskan bahwa orang kuat adalah yang mampu menahan amarah (HR. Bukhari), bukan yang menang dalam pertengkaran.

Imam Nawawi menjelaskan bahwa menahan marah adalah inti dari akhlak mulia, terlebih dalam relasi rumah tangga yang paling dekat. Ibn Hajar menyatakan bahwa kekuatan sejati adalah kemampuan menguasai diri ketika sedang tersulut emosi.

Dalam kajian Delianti, kendali emosi terbukti efektif mencegah eskalasi konflik, termasuk larangan mengungkit masa lalu atau mengeraskan suara yang dapat melukai pasangan.

7. Bangun Ketenangan (Sakinah) dalam Interaksi Sehari-hari

Sakinah bukan hadir dengan sendirinya, melainkan tumbuh dari suasana tutur kata, gesture, dan sikap yang menenangkan. QS. Ar-Rum: 21 menjelaskan bahwa sakinah adalah tujuan pernikahan sekaligus atmosfer komunikasi yang Islami.

Menurut al-Qurthubi, sakinah berarti perasaan aman dan tenteram yang muncul dari kehangatan hubungan, bukan tekanan atau ketakutan.

Dalam konteks ini, Rahmawati ddalam studinya menjelaskan bahwa sakinah dibangun dari kemampuan suami–istri untuk menjadi tempat pulang satu sama lain; tempat berbagi keluh, berbagi harapan, dan berbicara tanpa rasa dihakimi.

8. Menyelesaikan Perselisihan dengan Pendekatan Hikmah

Allah memerintahkan untuk mengajak kepada kebaikan dengan hikmah dan pelajaran yang baik (QS. An-Nahl: 125). Hikmah dalam keluarga berarti memilih waktu yang tepat, kata yang tidak menyakitkan, serta nada yang menenangkan.

Nabi SAW sendiri menyelesaikan masalah rumah tangga tanpa meninggikan suara, tetapi dengan sikap solutif dan penuh ketenangan.

Ibn Taimiyyah menyebut bahwa hikmah adalah kemampuan menempatkan sesuatu pada tempatnya, termasuk dalam nasihat yang diarahkan kepada pasangan. Komunikasi Nabi SAW berfokus pada penyelesaian masalah, bukan memperbesar letupan kecil menjadi konflik melebar.

9. Saling Mendukung dalam Ibadah dan Kebaikan

Kebaikan yang dikerjakan bersama memperkuat ikatan emosional maupun spiritual. Allah berfirman: “Tolong-menolonglah kalian dalam kebaikan dan ketakwaan” (QS. Al-Ma’idah: 2). Nabi SAW juga membiasakan membangunkan istrinya untuk qiyamul lail atau saling mendoakan dalam kebaikan.

Para ulama menekankan bahwa dukungan ibadah bukan hanya bernilai pahala, tetapi juga membangun solidaritas batin. Rahmah dalam keluarga mencakup dorongan untuk saling menegakkan kebaikan, saling memaafkan, dan saling mengingatkan ketika salah.

10. Menggunakan Humor Ringan untuk Mencairkan Suasana

Humor yang sehat adalah bagian penting dari komunikasi Islami. Nabi SAW pernah berlomba lari dengan Aisyah r.a., menunjukkan bahwa keceriaan adalah bagian dari hubungan yang hangat.

Para ahli hadis menyebut humor ringan sebagai wujud mu‘āsyarah bil-ma‘rūf, pergaulan baik yang menguatkan kedekatan emosional.

Interaksi positif seperti canda, humor, dan permainan sederhana adalah elemen yang efektif memelihara keharmonisan dan mencegah hubungan menjadi kaku atau tegang.

Pertanyaan Seputar Topik

1. Bagaimana cara berkomunikasi dengan suami dalam Islam?

Dalam Islam, komunikasi non-verbal juga penting. Senyum, tatapan penuh perhatian, atau gestur kasih sayang dapat memperkuat kata-kata dan menunjukkan kepada pasangan Anda bahwa Anda menghargai dan menghormatinya. Sarah dan Omar sering menggunakan gestur kasih sayang untuk memperkuat komunikasi mereka.

2. Apa saja contoh komunikasi yang baik menurut Islam?

Adab Berbicara kepada Orang Lain dalam Islam: Membangun Komunikasi yang SantunMenggunakan Bahasa yang Santun: Pilihlah kata-kata yang sopan dan santun saat berbicara. ...Mendengarkan dengan Baik: Berikan perhatian penuh saat orang lain berbicara. ...Menghindari Menginterupsi: Jangan memotong pembicaraan orang lain.

3. Cara komunikasi suami istri?

15 Cara Meningkatkan Komunikasi Suami-Istri Agar Langgeng dan ...15 Cara Meningkatkan Komunikasi Suami-Istri Agar Langgeng dan HarmonisMengobrol santai di tempat yang tenang.Mendengarkan dengan penuh perhatian.Gunakan bahasa yang jelas dan lugas.Melakukan kontak mata.Berikan waktu untuk berpikir.Berikan apresiasi.Lakukan aktivitas bersama yang meningkatkan komunikasi.

4. Bagaimana cara menyapa suami dalam Islam?

Salam tradisional di kalangan umat Muslim adalah Assalamu alaikum (semoga damai menyertaimu) yang ditanggapi dengan wa alaikum salaam (dan semoga damai menyertaimu).

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |