15 Amalan Bulan Sya’ban yang Dianjurkan Rasulullah SAW dan Para Sahabat

3 months ago 72

Liputan6.com, Jakarta Bulan Sya’ban yang terletak di antara Rajab dan bulan suci Ramadan merupakan salah satu bulan mulia. Sejumlah hadis menyebutkan bahwa amalan bulan Sya’ban memiliki nilai spiritual sangat tinggi. Amalan bulan Sya’ban menjadi masa persiapan untuk menyucikan hati dan jiwa sebelum memasuki bulan puasa.

Pada masa lalu, selama bulan Sya’ban, Rasulullah SAW memperbanyak ibadah mulai. Seperti melakukan puasa sunnah, memperbanyak sholawat, hingga sedekah dan doa. Semua bentuk ibadah tersebut merupakan latihan rohani agar saat Ramadan tiba, seorang Muslim sudah siap secara lahir dan batin. Banyak ulama menyebut bulan Sya’ban sebagai jembatan spiritual menuju Ramadan.

Pada momen yang dikenal dengan bulan sholawat ini, kaum Muslim juga bisa mengamalkan berbagai jenis sholawat seperti sholawat nabi pendek, sholawat badar, sholawat syifa, sholawat asyghil, sholawat fatih, dan lain sebagainya. Rasulullah SAW bersabda bahwa pada bulan Sya’ban, seluruh amal manusia diangkat ke hadapan Allah SWT. Berikut penjelasan lengkap 15 amalan bulan Sya’ban sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya.

1. Memperbanyak Puasa Sunnah di Bulan Sya’ban

Rasulullah SAW dikenal sebagai orang yang sering berpuasa di bulan Sya’ban. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah RA, beliau berkata:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: "مَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلَّا رَمَضَانَ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ"

(HR. Bukhari dan Muslim)

Artinya: “Aku tidak pernah melihat Nabi SAW berpuasa sebulan penuh selain di bulan Ramadhan, dan aku tidak pernah melihat beliau lebih banyak berpuasa selain di bulan Sya’ban.”

Hadis ini menunjukkan betapa istimewanya bulan Sya’ban bagi Rasulullah SAW. Puasa di bulan ini menjadi latihan fisik dan spiritual sebelum memasuki Ramadan. Para ulama menjelaskan bahwa berpuasa di bulan Sya’ban juga dapat menghapus dosa-dosa kecil dan meningkatkan derajat keimanan. Puasa yang disertai membaca sholawat nariyah, sholawat busyro, atau sholawat adrikni bisa menjadi perantara untuk memperkuat kedekatan dengan Allah dan menenangkan hati saat menghadapi ujian kehidupan.

2. Memperbanyak Sholawat kepada Nabi SAW

Sya’ban juga dikenal sebagai bulan sholawat karena terdapat hadis yang menganjurkan umat Islam memperbanyak doa dan pujian kepada Nabi Muhammad SAW. Dalam riwayat Anas bin Malik disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

"أَكْثِرُوا الصَّلَاةَ عَلَيَّ فِي شَعْبَانَ، فَإِنَّ أَمْرَكُمْ يُعْرَضُ عَلَيَّ"

(HR. Baihaqi)

Artinya: “Perbanyaklah bersholawat kepadaku di bulan Sya’ban, karena urusan kalian akan diperlihatkan kepadaku.”

Membaca sholawat juga sarana memperbanyak pahala. Pada bulan ketika amal manusia diangkat ke langit, sholawat menjadi salah satu amalan paling ringan namun memiliki bobot besar di sisi Allah. Semakin banyak sholawat dibaca, semakin besar pula peluang mendapatkan syafaat Nabi di hari akhir.

3. Memperbanyak Doa dan Istighfar

Sya’ban adalah waktu terbaik untuk memperbanyak doa dan istighfar, karena di bulan ini Allah SWT membuka banyak pintu ampunan. Rasulullah SAW bersabda:

"رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ"

(HR. Tirmidzi)

Artinya: “Celakalah seseorang yang mendapati bulan Ramadhan tetapi dosanya belum diampuni.”

Hadis ini adalah pengingat penting agar umat Islam tidak menyia-nyiakan kesempatan di bulan Sya’ban untuk bertaubat. Memohon ampun sejak sebelum Ramadan membantu membersihkan hati dari dosa yang menghalangi keberkahan ibadah. Selain itu, doa yang dipanjatkan di bulan ini dipercaya lebih mudah dikabulkan karena suasana spiritualnya tinggi. Para ulama juga menganjurkan membaca istighfar minimal seratus kali setiap hari agar hati semakin tenang.

4. Menyambung Silaturahmi dan Meminta Maaf

Salah satu amalan utama yang sering ditekankan menjelang Ramadan adalah memperbaiki hubungan dengan sesama. Sya’ban adalah waktu yang tepat untuk menyambung silaturahmi, meminta maaf, dan saling mendoakan. Rasulullah SAW bersabda:

"تُفْتَحُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ وَيَوْمَ الْخَمِيسِ، فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ لا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا، إِلاَّ امْرَأً كَانَتْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ"

(HR. Muslim)

Artinya: “Pintu-pintu surga dibuka pada hari Senin dan Kamis, lalu diampuni setiap hamba yang tidak menyekutukan Allah sedikit pun, kecuali orang yang bermusuhan dengan saudaranya.”

Hadis ini menjadi dasar pentingnya menjaga hubungan baik sebelum datangnya bulan suci. Sya’ban memberikan kesempatan untuk memperbaiki hati karena permusuhan bisa menghalangi ampunan Allah. Umat Islam bukan hanya memperkuat ukhuwah, tapi juga mempersiapkan diri secara batin untuk menyambut Ramadhan dalam keadaan bersih dari dosa sosial.

5. Memperbanyak Sedekah dan Amal Kebaikan

Amalan bulan Sya’ban lainnya adalah memperbanyak sedekah dan amal sosial. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa para sahabat memperbanyak sedekah di bulan ini sebagai bentuk latihan kedermawanan sebelum Ramadhan. Rasulullah SAW sendiri dikenal sebagai orang yang paling dermawan, dan kedermawanan beliau semakin besar menjelang bulan puasa.

Sedekah di bulan Sya’ban memiliki dua manfaat besar yakni membersihkan harta dan melatih kepekaan sosial. Di masa kini, bersedekah tidak selalu harus berupa uang, tetapi bisa juga dengan membantu sesama, menyumbang makanan, atau mendukung kegiatan sosial. 

6. Menghidupkan Malam Nisfu Sya’ban dengan Ibadah

Salah satu malam paling mulia di bulan ini adalah malam Nisfu Sya’ban, yaitu malam pertengahan bulan Sya’ban (tanggal 15). Banyak riwayat menyebutkan bahwa malam tersebut adalah waktu di mana Allah SWT menurunkan rahmat dan pengampunan bagi hamba-Nya. Rasulullah SAW bersabda:

"يَطَّلِعُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى إِلَى خَلْقِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلَّا لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ"

(HR. Ibnu Majah)

Artinya: “Allah SWT menatap seluruh makhluk-Nya pada malam pertengahan Sya’ban, lalu Dia mengampuni semua makhluk-Nya kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan.”

Hadis ini menunjukkan pentingnya memperbanyak ibadah di malam Nisfu Sya’ban, baik dengan sholat malam, membaca Al-Qur’an, maupun berzikir. Malam Nisfu Sya’ban menjadi momen untuk bermuhasabah dan memohon ampunan sebelum memasuki Ramadhan. Para ulama menekankan bahwa ibadah di malam ini sebaiknya dilakukan dengan penuh kekhusyukan dan niat tulus semata-mata karena Allah, bukan karena tradisi semata.

7. Membaca Al-Qur’an Secara Rutin

Bulan Sya’ban juga adalah waktu yang tepat untuk meningkatkan interaksi dengan Al-Qur’an. Banyak sahabat Nabi mulai memperbanyak tilawah di bulan ini sebagai bentuk persiapan spiritual menuju Ramadan. Dalam surah Al-Fatir ayat 29–30, Allah SWT berfirman:

الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَّن تَبُورَ

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah, mendirikan salat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka, secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi.” (QS. Al-Fatir: 29)

Membaca Al-Qur’an di bulan Sya’ban juga bisa menjadi bentuk menyiapkan diri untuk tadarus di bulan Ramadhan. Banyak ulama salaf menutup urusan duniawi mereka menjelang Ramadan agar dapat fokus memperbanyak bacaan Al-Qur’an. Dengan memperkuat hubungan dengan Al-Qur’an di bulan Sya’ban, umat Islam akan lebih mudah mendapatkan keberkahan bacaan pada bulan suci Ramadan yang akan datang.

Salat malam memiliki kedudukan istimewa di setiap waktu, namun pada bulan Sya’ban nilainya berlipat ganda. Allah SWT berfirman:

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَّكَ عَسَىٰ أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا

Artinya: “Dan pada sebagian malam hari bertahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” (QS. Al-Isrā’: 79)

Pada bulan Sya’ban, salat malam menjadi sarana untuk memperbanyak doa dan permohonan ampunan sebelum datangnya Ramadan. Banyak ulama juga menganjurkan untuk menunaikan salat hajat di bulan ini, memohon agar diberi kekuatan dan umur panjang dalam beribadah hingga bulan suci yang akan datang.

9. Melatih Diri dengan Ibadah Istiqamah

Sya’ban sering disebut sebagai bulan pembiasaan. Rasulullah SAW mengajarkan pentingnya istiqamah dalam amal. Beliau bersabda:

"أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ"

(HR. Bukhari dan Muslim)

Artinya: “Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang dikerjakan secara terus-menerus, walaupun sedikit.”

Pesan ini sangat relevan bagi umat Islam di bulan Sya’ban. Alih-alih melakukan ibadah besar namun tidak konsisten, lebih baik memperbanyak amal kecil namun rutin seperti membaca dzikir pagi-petang, bersedekah ringan, atau menjaga sholat tepat waktu. Sehingga saat Ramadan tiba, hati kita sudah terbiasa dengan ritme ibadah yang stabil dan tidak merasa terbebani. Sya’ban menjadi masa latihan terbaik untuk mencapai keistiqamahan itu.

10. Menyucikan Niat dan Memperbaiki Hati

Setiap amal bergantung pada niat, dan bulan Sya’ban menjadi momen untuk memeriksa kembali arah niat ibadah kita. Dalam hadis terkenal disebutkan:

"إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى"

(HR. Bukhari dan Muslim)

Artinya: “Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.”

Bulan Sya’ban memberikan waktu bagi setiap Muslim untuk memperbaiki motivasi spiritualnya sebelum menghadapi Ramadan. Dengan hati bersih dan niat tulus, amal yang dilakukan akan lebih bermakna dan diterima oleh Allah SWT. Introspeksi dan penyucian hati di bulan ini menjadi langkah penting untuk menyambut bulan suci dengan penuh kesadaran spiritual.

11. Memperbanyak Dzikir dan Tasbih

Dzikir merupakan ibadah ringan di lisan tetapi berat di timbangan amal. Di bulan Sya’ban, dzikir memiliki makna khusus karena menjadi pengingat agar hati selalu terhubung dengan Allah. Allah SWT berfirman:

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

Artinya: “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

Membaca tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir setiap hari di bulan Sya’ban bisa menumbuhkan ketenangan batin. Sya’ban adalah waktu yang tepat untuk menanam kebiasaan dzikir, agar saat Ramadan datang, hati sudah terbiasa untuk senantiasa mengingat Allah SWT dalam setiap keadaan.

12. Melatih Diri untuk Sabar dan Menahan Amarah

Sabar bukan hanya dibutuhkan saat berpuasa, tetapi juga sebelum memasukinya. Sya’ban menjadi masa latihan untuk menahan diri dari amarah, membiasakan ucapan yang baik, dan menjauhi perdebatan sia-sia. Rasulullah SAW bersabda:

"لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِندَ الغَضَبِ"

(HR. Bukhari dan Muslim)

Artinya: “Orang kuat bukanlah yang pandai bergulat, melainkan orang yang mampu mengendalikan dirinya saat marah.”

Hadis ini adalah pedoman penting untuk membangun karakter sabar di bulan Sya’ban. Dengan mengendalikan emosi, seseorang sedang mempersiapkan diri untuk menahan hawa nafsu yang lebih berat di bulan Ramadan. Melatih kesabaran sejak dini juga akan membantu menjaga keharmonisan sosial dan spiritual, menjadikan diri lebih tenang dalam menjalani setiap ujian hidup.

13. Memperbanyak Doa Kebaikan Dunia dan Akhirat

Sya’ban adalah bulan ketika doa-doa diangkat ke langit, sehingga sangat dianjurkan memperbanyak doa kebaikan bagi diri sendiri, keluarga, dan umat Islam. Rasulullah SAW bersabda:

"إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ"

(HR. Tirmidzi)

Artinya: “Jika kamu meminta, mintalah kepada Allah; dan jika kamu memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah.”

Doa bukan hanya permintaan, tetapi juga bentuk pengakuan atas kelemahan manusia dan kebesaran Tuhan. Pada bulan Sya’ban, doa menjadi sarana memperkuat harapan agar Allah memberi kesempatan menyambut Ramadhan dengan umur panjang dan kesehatan. Doa yang tulus akan memperkuat hati, menumbuhkan optimisme, serta menjadi bekal menghadapi tantangan kehidupan dengan tawakal.

14. Membiasakan Diri dengan Kedisiplinan Ibadah

Kedisiplinan dalam waktu ibadah sangat ditekankan di bulan Sya’ban, karena ia menjadi jembatan menuju bulan Ramadhan yang penuh aturan dan ritme. Rasulullah SAW selalu menjaga waktu salat, meskipun sedang sibuk dalam urusan duniawi. Allah SWT berfirman:

إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَّوْقُوتًا

Artinya: “Sesungguhnya salat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisā’: 103)

Dengan menjaga disiplin salat, puasa, dan amal harian di bulan Sya’ban, seorang Muslim melatih dirinya untuk teratur dan konsisten. Hal ini bukan hanya memperkuat ibadah, tapi juga membentuk kepribadian yang lebih tertib dan bertanggung jawab. Sya’ban menjadi ruang latihan agar tubuh dan pikiran terbiasa dengan irama spiritual yang akan dijalani selama Ramadhan.

15. Meningkatkan Rasa Syukur 

Amalan bulan Sya’ban yang tak kalah penting adalah memperbanyak rasa syukur. Sebelum memasuki Ramadhan, seorang hamba perlu menyadari betapa banyak nikmat yang telah Allah berikan, mulai dari kesehatan, waktu, hingga kesempatan beribadah. Allah SWT berfirman:

لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Artinya: “Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu; tetapi jika kamu mengingkari, sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)

Rasa syukur dapat diwujudkan melalui lisan, hati, dan tindakan. Mengucapkan hamdalah, memperbanyak ibadah, serta membantu sesama adalah bentuk nyata dari syukur yang tulus. Dengan banyak bersyukur di bulan Sya’ban, seorang Muslim akan menyambut Ramadan dengan hati yang lapang, penuh kebahagiaan, dan kedekatan kepada Allah SWT.

Pertanyaan seputar Amalan Bulan Sya’ban

1. Apa keutamaan utama bulan Sya’ban menurut Rasulullah SAW?

Bulan ini adalah waktu ketika amal manusia diangkat ke hadapan Allah dan penuh ampunan.

2. Kapan malam Nisfu Sya’ban jatuh?

Malam Nisfu Sya’ban jatuh pada malam ke-15 bulan Sya’ban dalam kalender Hijriah.

3. Apakah boleh berpuasa penuh di bulan Sya’ban?

Boleh, karena Rasulullah SAW banyak berpuasa di bulan ini, kecuali sehari atau dua hari sebelum Ramadhan.

4. Apakah amalan di malam Nisfu Sya’ban memiliki dasar hadis?

Ya, ada beberapa hadis yang menyebut Allah mengampuni hamba-hamba-Nya pada malam tersebut.

5. Mengapa disebut bulan terlupakan umat?

Karena banyak orang fokus pada Rajab dan Ramadhan, sehingga melupakan keistimewaan Sya’ban.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |