Liputan6.com, Jakarta - Peristiwa Isra Mi’raj terjadi pada tahun kesepuluh kenabian, sebuah periode yang dikenal dalam sejarah Islam sebagai Amu al-Huzni atau Tahun Kesedihan. Pada masa ini, Nabi Muhammad SAW mengalami ujian beruntun berupa wafatnya dua pendukung utama dakwah, yaitu Khadijah binti Khuwailid (istri tercinta) dan Abu Thalib (paman sekaligus pelindung politik beliau).
Wafatnya kedua tokoh ini mengakibatkan "tertutupnya pintu-pintu dakwah" di Makkah karena tekanan kaum Quraisy yang semakin meningkat. Dalam titik nadir kesedihan inilah, Allah SWT memperjalankan Nabi SAW untuk memberikan hiburan spiritual sekaligus penguatan mental.
Merujuk Skripsi Kisah Isra Mi'raj dalam Al-Qur'an (aplikasi Teori Double Mouvement) oleh Mitha Diah Ayu Nur Pratiwi, dalam konteks dakwah, perjalanan ini mengajarkan bahwa kesabaran adalah keteguhan hati dalam menghadapi penolakan dan ujian berat.
Umat Islam dapat memetik pelajaran Isra Miraj tentang sabar menghadapi ujian dakwah dari peristiwa ini. Nilai moral dari kisah ini menunjukkan bahwa setiap kesulitan dalam menyampaikan kebenaran akan selalu dibarengi dengan penguatan spiritual dan "pertolongan langit" bagi mereka yang tetap konsisten di jalan-Nya.
Merujuk Jurnal Hikmah Peristiwa Isra Miraj sebagai Pondasi Keteguhan Tauhid dalam Sanubari dan Perilaku, oleh Murnia Suri dan Nurul Izzati, terdapat berbagai hikmah peristiwa Isra Mi'raj dalam konteks tauhid dan dakwah. Berikut ulasannya.
1. Sabar sebagai Pondasi Tauhid dalam Berdakwah
Peristiwa Isra Mi’raj merupakan ujian keimanan bagi umat Muslim untuk mempercayai hal gaib. Kesabaran dalam berdakwah berakar dari keteguhan tauhid dalam sanubari. Murnia Suri dan Nurul Izzati dalam penelitiannya menekankan bahwa keyakinan akan kebenaran peristiwa ini adalah bukti keimanan sejati yang mampu mengubah perilaku seseorang menjadi lebih konsisten dalam ketaatan.
Peristiwa ini diabadikan dalam QS. Al-Isra [17]: 1 yang menegaskan perjalanan hamba-Nya pada malam hari untuk memperlihatkan tanda-tanda kebesaran-Nya. Selain itu, QS. An-Najm [53]: 13-18 menjelaskan pengalaman spiritual Nabi saat berada di Sidratul Muntaha.
Imam Al-Razi dalam tafsirnya menjelaskan Isra Mi'raj dari perspektif ilmu pengetahuan (fisika dan kosmologi), menunjukkan bahwa kekuasaan Allah mampu melampaui segala batasan materi yang dihadapi pendakwah.
Syekh Abd al-Qadir al-Jilani dalam Tafsir al-Jilani memandang peristiwa ini sebagai representasi perjalanan spiritual menuju ma’rifat (keimanan tertinggi), di mana sabar adalah syarat mutlak bagi seorang salik (penempuh jalan Tuhan).
2. Hiburan bagi Sang Pejuang Dakwah (Tasliyah)
Secara historis, salah satu hikmah utama Isra Mi'raj adalah sebagai bentuk tasliyah (hiburan) dari Allah SWT. Pelajaran bagi para pendakwah masa kini adalah bahwa setiap kesulitan dalam menyampaikan kebenaran pasti akan diikuti oleh kemudahan dan kedekatan spiritual kepada Sang Pencipta.
Isra Mi’raj bukan sekadar peristiwa spiritual spektakuler, melainkan respons ilahi atas ujian berat yang menghimpit Rasulullah SAW. Peristiwa yang terjadi pada tahun kesepuluh kenabian, dikenal sebagai ‘Am al-Huzn (Tahun Kesedihan), terjadi tepat setelah Nabi kehilangan dua pendukung utama: paman beliau Abu Thalib dan istri tercinta Khadijah binti Khuwailid.
Hal ini termaktub dalam Al-Qur'an,. “Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.” (QS Al-Isra’: 1)
Menurut penafsiran Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azim, ayat ini menegaskan kemahaagungan Allah sekaligus menunjukkan bahwa perjalanan ini adalah hiburan (tasliyah) dan penguatan (ta’ziz) bagi Nabi yang sedang berduka.
Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi dalam Aisar at-Tafaasir menegaskan bahwa perjalanan ini dilakukan dengan jasad dan ruh, menekankan totalitas kepasrahan dan kesabaran Nabi kepada kehendak Allah.
3. Shalat sebagai Sarana Kontrol Diri
Perintah shalat lima waktu yang diterima langsung oleh Nabi SAW dalam peristiwa Mi’raj merupakan alat utama bagi seorang Muslim untuk menjaga kesabaran. Shalat berfungsi sebagai sarana pengendalian diri dalam bertindak, baik di dunia nyata maupun di media sosial.
Ketika Nabi “didekatkan” kepada Allah, beliau tidak meminta kekayaan, kemenangan, atau balasan atas penderitaan. Yang beliau terima justru perintah shalat, sebuah ibadah yang mengajarkan ketekunan, disiplin, dan kesabaran berkelanjutan.
Sayyid Qutb dalam Fi Zilal al-Qur’an menulis bahwa shalat adalah “mi’raj-nya orang beriman”, mengingatkan kita untuk selalu kembali kepada Allah dalam setiap ujian. Melalui shalat, pendakwah dan umat Islam secara umum akan mendapatkan kekuatan kesabaran untuk menjalaninya.
4. Sabar sebagai Jalan Kemenangan
Isra Mi’raj mengajarkan bahwa setiap kesulitan ada kemudahan, dan setiap ujian ada hikmah. Nabi bersabda: “Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Seluruh urusannya adalah kebaikan. Jika mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, dan itu baik baginya. Jika tertimpa kesusahan, ia bersabar, dan itu baik baginya.” (HR Muslim)
Dakwah adalah perjalanan panjang yang membutuhkan ketekunan, strategi, dan hati yang teguh. Sebagaimana Nabi dikuatkan oleh Isra Mi’raj, kita pun dapat mengambil kekuatan dari ibadah, doa, dan komunitas yang mendukung.
Bagi umat Islam saat ini, hikmah Isra Mi'raj menjadi refleksi untuk menjadi 'ibrah dalam menjalani kehidupan. Kesabaran Nabi menghadapi Tahun Kesedihan mengajarkan kita bahwa ujian dalam memperjuangkan nilai-nilai kebaikan (dakwah) adalah keniscayaan, namun Allah selalu menyediakan jalan keluar bagi mereka yang teguh dalam keimanannya.
Dengan pendekatan ini, kesabaran menjadi strategi dakwah yang efektif , tetap menjaga martabat ajaran Islam, sekaligus relevan dengan realitas masyarakat modern. Sebagaimana disebut dalam Al-Qur'an: “Maka bersabarlah engkau (Muhammad) sebagaimana kesabaran para rasul yang memiliki keteguhan hati...” (QS Al-Ahqaf: 35).
Implementasi Sabar Berdakwah di Era Modern
Melalui pendekatan Fazlur Rahman, nilai universal dari kisah Isra Mi’raj, yaitu keteguhan iman dan kesabaran, dapat dikontekstualisasikan dalam tantangan dakwah modern:
Dakwah di media digital yang penuh dengan “ujian” seperti hate speech, julid, dan cyberbullying memerlukan kesabaran dan etika komunikasi sebagaimana diajarkan Nabi. Flexing dan konsumerisme dapat dikikis dengan kesadaran bahwa hakikat hidup adalah pengabdian, bukan pamer.
1. Sabar Menghadapi Penolakan dan Kritik di Ruang Digital:
- Tidak terprovokasi oleh hate speech dan ujaran kebencian — meneladani Nabi yang tetap tenang meski dicaci dan dilempari batu di Thaif.
- Menyikapi “cancel culture” dengan dialog santun — menggunakan nalar dan data (ḥujjah) alih-alih emosi, sesuai prinsip qaulan karīma (perkataan yang mulia).
- Konsisten menyebarkan konten positif meski engagement rendah atau di-bully, karena dakwah adalah proses jangka panjang.
2. Sabar dalam Membangun Narasi Dakwah
- Menggunakan pendekatan gradual (tadarruj) — menyampaikan nilai Islam secara bertahap sesuai konteks audiens, tidak memaksakan pemahaman tekstual semata.
- Berdakwah melalui keteladanan (uswah hasanah) — menunjukkan akhlak mulia dalam interaksi sehari-hari di media sosial maupun luring, karena masyarakat kini lebih percaya pada contoh nyata daripada sekadar ceramah.
- Kreatif mengemas pesan dakwah — memanfaatkan media visual, podcast, atau konten edukatif yang mudah dicerna, tanpa menghilangkan esensi ajaran.
3. Sabar dalam Menjaga Konsistensi Ibadah dan Spiritualitas Diri
- Menjaga kualitas shalat sebagai sumber ketenangan — sebagaimana shalat adalah hadiah utama Isra Mi’raj yang menguatkan Nabi dalam dakwah.
- Istiqamah dalam mengkaji ilmu — baik ilmu agama maupun ilmu kontemporer, untuk menjawab tantangan zaman dengan jawaban yang berdasar.
- Berkolaborasi dengan komunitas atau organisasi Islam yang sevisi, agar beban dakwah tidak dipikul sendirian dan bisa saling menguatkan.
4. Sabar yang Progresif, Bukan Pasif
- Sabar dalam dakwah era digital bukan berarti diam atau pasif, tetapi:
- Bersikap elegan dalam menghadapi perbedaan
- Tidak mudah menyalahkan, tetapi mengajak berpikir
- Menjaga niat tulus karena Allah, bukan karena ingin viral atau diakui
People also Ask:
Apa pelajaran yang bisa diambil dari kisah Isra Miraj?
Pelajaran utama dari Isra Mi'raj adalah tentang kewajiban salat lima waktu sebagai tiang agama dan sarana komunikasi langsung dengan Allah, menunjukkan keagungan rahmat Allah dan kasih sayang-Nya, serta keikhlasan dan ketabahan Nabi Muhammad SAW dalam dakwah, bahkan saat menghadapi kesedihan dan penolakan, mengajarkan kita tentang pentingnya keimanan yang kokoh (dari ilmul yaqin ke ainul yaqin), kebersihan jiwa, perjuangan membela tempat suci (Masjidil Aqsa), serta pentingnya sains dan teknologi sebagai bentuk kemajuan umat.
Bagaimana pesan Isra dan Miraj dapat menginspirasi umat Muslim untuk memperkuat iman mereka dalam menghadapi kesulitan?
Pada intinya, Al-Isra' wal Mi'raj adalah kisah harapan. Kisah ini mengajarkan kita bahwa bahkan di saat-saat tergelap sekalipun, iman dapat menerangi jalan ke depan . Perjalanan ajaib Nabi meyakinkan umat Islam yang taat bahwa cobaan bukanlah akhir—melainkan jembatan menuju rahmat ilahi.
Apa ujian yang dihadapi Nabi sebelum Isra Miraj?
Sebelum melakukan Isra' Mi`raj, Nabi mengalami cobaan beruntun. Belum selesai penderitaan yang dialami Bani Hasyim pasca diboikot kaum kafir Quraisy [selama ± tiga tahun], Nabi ditinggal wafat paman beliau Abu Thalib dan tak lama kemudian menyusul istri tercinta beliau Sayyidah Khadijah al-Kubra.
Bagaimana cara kamu mengimplementasikan nilai Isra Miraj dalam kehidupan sehari-hari?
Mengimplementasikan Nilai-Nilai Isra Mi'raj dalam Kehidupan...Menjaga Kualitas Shalat. ...Berbuat Baik kepada Sesama. ...Menjaga Kebersihan dan Kesehatan. ...Meningkatkan Keimanan Melalui Ilmu. ...Memperbanyak Dzikir dan Doa. ...Menghindari Perilaku yang Tidak Bermanfaat. ...Mempererat Tali Silaturahmi.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4357195/original/092362700_1678761219-pexels-thirdman-7957066.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5158583/original/033672200_1741665428-kata-kata-sahabat-nabi.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2798272/original/079059200_1557206746-20190507-Mengisi-Waktu-Berpuasa-dengan-Tadarus-ARBAS-6.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5080366/original/098387100_1736160174-1736156793388_caption-quotes-islami-singkat.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5158368/original/097065700_1741665044-kata-kata-isra-miraj.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5468799/original/045139300_1768018023-fantastic-mosque-architecture-islamic-new-year-celebration.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4735410/original/014374300_1707130221-10217582.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4660564/original/081485600_1700737006-isra_miraj.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4737862/original/091578100_1707368217-fotor-ai-2024020811540.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3108148/original/088309000_1587459079-2642016.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3360668/original/038739700_1611729329-abdullah-faraz-fj-p_oVIhYE-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5409213/original/092336400_1762849057-ilustrasi_ceramah.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/842877/original/009596200_1428044283-Jenazah-Mpok-Nori-2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2803717/original/075543300_1557725237-20190513-Bulan-Ramadan-Momentum-Anak-Anak-Belajar-Al-Quran1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5457952/original/085391400_1767067413-unnamed.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4370308/original/064241200_1679646015-Shalot-Jumat-Pertama-Ramadhan-Di-Masjid-Istiqlal-Angga-2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1575221/original/040400200_1492996168-islamicitydotorg.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5153924/original/010138200_1741324616-1741320553002_ucapan-selamat-puasa-marhaban-ya-ramadhan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5158657/original/067229400_1741665557-kata-mutiara-pagi-hari-islami.jpg)






















:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5316291/original/015050100_1755231247-5.jpg)






