6 Kisah Akhlak Nabi Muhammad SAW dalam Kehidupan Sehari-hari, Teladan Terbaik Umat Islam

3 hours ago 5

Liputan6.com, Jakarta - Kisah akhlak Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan sehari-hari menjadi bagian dari catatan sejarah Islam. Namun, lebih dari itu, keteladanan Rasulullah menjadi cermin bagi umat manusia dalam menjalani kehidupan.

Akhlak Nabi SAW merupakan gambaran nyata dari ajaran Al-Qur'an yang diterapkan dalam setiap ucapan, sikap, dan perbuatan. Ketika Aisyah RA ditanya mengenai akhlak Rasulullah, ia menjawab, "Akhlak beliau adalah Al-Qur'an."

Kemuliaan akhlak Rasulullah ditegaskan langsung oleh Allah SWT dalam Al-Qur'an. Dalam QS. Al-Qalam ayat 4, Allah berfirman, "Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.". Dalam QS. Al-Ahzab ayat 21, Allah SWT juga menyebut Rasulullah sebagai sosok yang memiliki uswatun hasanah, atau teladan yang baik bagi orang-orang beriman.

Kisah tentang kelembutan, kejujuran, kesabaran, dan kepedulian Rasulullah pun banyak dikaji oleh para ulama dari generasi ke generasi. Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menempatkan keteladanan terhadap akhlak Rasulullah sebagai bagian penting dalam perjalanan menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.

Di tengah kehidupan modern yang bergerak semakin cepat, keteladanan Nabi Muhammad SAW tetap memiliki tempat penting. Nilai-nilai tersebut perlu dihidupkan dalam perilaku sehari-hari agar semangat meneladani Rasulullah benar-benar menjadi bagian dari kehidupan umat Islam.

Kisah Akhlak Nabi Muhammad SAW dalam Kehidupan Sehari-hari

1. Kisah Pengemis Yahudi Buta: Kesabaran dan Keikhlasan Tanpa Batas

Di sudut pasar Madinah, hiduplah seorang pengemis Yahudi buta yang setiap hari selalu berkata kepada setiap orang yang mendekatinya: "Wahai saudaraku, jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya kalian akan dipengaruhinya".

Namun, setiap pagi Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawa makanan. Tanpa berkata sepatah kata pun, beliau menyuapi makanan yang dibawanya kepada pengemis itu.

Rasulullah melakukannya dengan penuh keikhlasan hingga menjelang wafat. Setelah beliau wafat, tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu.

Suatu hari, Abu Bakar ash-Shiddiq RA bertanya kepada putrinya, Aisyah RA, tentang sunnah Rasulullah yang belum ia kerjakan. Aisyah menjawab, "Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang berada di sana".

Keesokan harinya, Abu Bakar pergi ke pasar dengan membawa makanan. Ketika ia mulai menyuapi si pengemis, orang buta itu marah sambil berteriak, "Siapakah kamu?" Abu Bakar menjawab, "Aku orang yang biasa."

Namun si pengemis berkata, "Bukan! Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku. Apabila ia datang kepadaku, tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut dengan mulutnya. Setelah itu, ia berikan padaku".

Kisah ini mengajarkan bahwa kebaikan sejati dilakukan tanpa pamrih, bahkan kepada mereka yang membenci sekalipun. Rasulullah SAW telah mengajarkan prinsip hidup teramat agung: segala kesukaran harus dihadapi dengan lapang dada, dan setiap kejahatan dibalas dengan kebaikan.

2. Kisah Wanita Tua yang Selalu Meludahi Nabi, Kesabaran Membuahkan Hidayah

Setiap kali Rasulullah SAW melintas di depan rumah seorang wanita tua, beliau selalu diludahi oleh wanita tua itu. Namun, Rasulullah tidak pernah membalasnya. Beliau menghadapinya dengan penuh kesabaran.

Suatu hari, saat Rasulullah SAW melewati rumah wanita tua itu, beliau tidak bertemu dengannya. Karena penasaran, beliau pun bertanya kepada seseorang tentang wanita tua itu. Orang yang ditanya pun heran, mengapa Rasulullah menanyakan kabar tentang wanita tua yang telah berlaku buruk kepadanya. Ternyata wanita tua itu sedang sakit.

Bukannya gembira, justru Rasulullah memutuskan untuk menjenguknya. Wanita tua itu tidak menyangka jika Rasulullah mau menjenguknya.

Bahkan, ketika ia sadar bahwa manusia yang menjenguknya adalah orang yang selalu diludahinya setiap kali melewati depan rumahnya, si wanita tua itu pun menangis di dalam hatinya, "Duhai, betapa luhur budi manusia ini. Kendati tiap hari aku ludahi, justru dialah orang pertama yang menjengukku kemari".

Dengan menitikkan air mata haru, wanita tua itu bertanya, "Wahai Muhammad, mengapa engkau menjengukku, padahal tiap hari aku meludahimu?" Rasulullah menjawab dengan bijak, "Aku yakin engkau meludahiku karena engkau belum tahu tentang kebenaranku. Jika engkau telah mengetahuinya, aku yakin engkau tidak akan melakukannya".

Mendengar jawaban bijak dari Rasulullah, wanita tua itu pun menangis dalam hati dan dengan penuh kesadaran mengikrarkan dua kalimat syahadat: "Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah".

Kisah ini mengajarkan bahwa kesabaran dan kebaikan dapat meluluhkan hati yang paling keras sekalipun. Balaslah kejahatan dengan kebaikan, karena kebaikan akan menghapuskan kejahatan.

3. Kisah Peletakan Hajar Aswad, Kebijaksanaan yang Mencegah Perpecahan

Pada usia 35 tahun, Rasulullah SAW terlibat dalam peristiwa penting yang hampir menimbulkan peperangan di Makkah. Ketika Ka'bah rusak karena banjir, kaum Quraisy berinisiatif membangunnya kembali.

Namun, saat tiba pada bagian Hajar Aswad, muncul sengketa besar: setiap kabilah ingin memperoleh kehormatan meletakkannya di tempat asalnya. Fanatisme suku semakin memanas hingga hampir menumpahkan darah.

Akhirnya, mereka sepakat untuk menyerahkan keputusan kepada orang pertama yang masuk dari pintu Ka'bah. Dan atas takdir Allah, orang itu adalah Muhammad SAW. Seketika mereka berseru, "Inilah al-Amin, kami semua ridha kepadanya!".

Beliau lalu mengambil kain, meletakkan Hajar Aswad di tengahnya, dan mengajak setiap kepala kabilah memegang ujung kain itu. Mereka bersama-sama mengangkatnya hingga ke sudut Ka'bah. Setelah itu, Rasulullah SAW sendiri dengan tangan mulia beliau meletakkan batu itu pada tempatnya.

Keputusan yang sederhana ini menyelamatkan masyarakat Makkah dari perpecahan yang hampir berujung pada peperangan. Rasulullah SAW tidak mengambil kehormatan itu untuk dirinya sendiri, tetapi membaginya dengan semua pihak. Kebijaksanaan beliau berhasil mencegah pertumpahan darah antar kabilah yang memperebutkan kehormatan tersebut.

4. Kisah Badui Kencing di Masjid: Kelembutan dan Kasih Sayang

Anas bin Malik RA meriwayatkan suatu ketika para sahabat sedang berada di dalam masjid bersama Rasulullah SAW. Kemudian, datanglah seorang badui, yakni orang dusun yang tinggal di pinggiran kota. Tiba-tiba saja, si badui berlari ke arah tembok masjid dan buang air kecil di situ. Para sahabat spontan bangkit dan hendak menghardik badui itu.

Namun, Rasulullah SAW bersabda dengan penuh kelembutan, "Janganlah kalian menghentikannya. Biarkanlah ia hingga selesai dengan hajatnya!" Mereka pun membiarkan si badui hingga ia selesai kencing.

Setelah itu, Rasulullah SAW menasihati si badui agar jangan lagi kencing di dalam masjid karena ini adalah tempat shalat yang harus dijaga kebersihan dan kesuciannya. Selanjutnya, beliau menyuruh sahabat agar mengambil seember air dan beliau sendiri berdiri menyiram bekas air kencing si badui itu.

Rasulullah SAW adalah sosok yang penyabar dan penyayang. Anas bin Malik RA berkata, "Selama aku berkhidmat kepada Rasulullah selama 10 tahun, aku tidak pernah mendengar beliau berkata (mengeluh) 'ah.' Beliau juga tidak pernah mempertanyakan apa yang aku kerjakan, tidak pernah mengatakan, 'mengapa kamu tidak begini, mengapa tidak begitu'" (HR Bukhari-Muslim).

5. Kisah Penghormatan kepada Tamu, Sikap Santun dan Rendah Hati

Rasulullah SAW adalah teladan dalam menghormati tamu. Suatu ketika, Jabir bin Abdillah al-Bajali hadir di majelis Nabi SAW. Namun, ia tidak mendapati tempat sehingga memilih duduk di dekat pintu. Lantas, Rasulullah melipat bajunya dan memberikan kepadanya seraya berkata, "Silakan duduk di atasnya!"

Diambillah baju itu oleh Jabir dan diletakkan di wajahnya lalu diciumnya seraya menangis serta dikembalikannya kepada Nabi yang mulia. "Semoga anda dimuliakan oleh Allah sebagaimana engkau memuliakanku," katanya.

Dalam pergaulan sehari-hari, Rasulullah selalu mendahului mengucapkan salam kepada orang yang dijumpainya, lalu menyodorkan tangannya lebih dahulu untuk bersalaman. Beliau tidak akan melepas tangannya sebelum orang itu melepas tangannya sendiri.

Apabila bercakap-cakap dengan seseorang, beliau tidak memalingkan wajahnya sampai orang itu pergi. Rasulullah SAW tidak memotong pembicaraan seseorang hingga ia selesai berbicara. Dengan demikian, orang-orang yang bersama beliau merasakan bahwa mereka sangat dihargai dan dihormati.

6. Kisah Pengampunan saat Fathu Makkah: Kemenangan Hati

Puncak keteladanan akhlak Rasulullah SAW terlihat saat Fathu Makkah (penaklukan Kota Makkah). Saat kembali ke kota yang pernah mengusir dan menyakitinya, beliau tidak menampilkan dendam. Sebagai pemenang, justru beliau kembali dengan kepala tertunduk penuh kerendahan hati.

Di hadapan kaum Quraisy yang pasrah menanti hukuman, beliau memberikan pengampunan massal. Kalimat legendaris pun beliau lontarkan: "Pergilah kalian semua, sesungguhnya kalian bebas!". Pengampunan ini menaklukkan hati lebih tajam dari pedang, membuktikan bahwa kekuatan sejati terletak pada kemampuan memaafkan.

Bahkan ketika Rasulullah SAW dilempari batu saat berdakwah di Tha'if—hingga kakinya berdarah—beliau tidak membalas kebencian dengan kebencian.

Malaikat Jibril datang dan menawarkan untuk membalas penduduk Tha'if dengan menghancurkan mereka, namun Rasulullah menolak dan malah mendoakan mereka agar keturunan mereka kelak menyembah Allah. Akhlak mulia ini menunjukkan bahwa memaafkan adalah akhlak yang paling agung.

Hikmah Kisah Akhlak Nabi Muhammad SAW dalam Kehidupan Sehari-hari

1. Kebaikan Akan Mengalahkan Kebencian

Kisah pengemis Yahudi buta dan wanita tua yang meludahi Rasulullah mengajarkan bahwa kebaikan yang tulus dan konsisten pada akhirnya akan mengalahkan kebencian. Rasulullah tidak pernah membalas kejahatan dengan kejahatan, melainkan dengan kebaikan yang justru meluluhkan hati musuh-musuhnya.

2. Kesabaran adalah Kunci Meraih Hidayah

Kisah wanita tua yang akhirnya masuk Islam setelah Rasulullah menjenguknya saat sakit menunjukkan bahwa kesabaran dalam menghadapi ujian dapat membuahkan hasil yang indah. Rasulullah tidak pernah putus asa dalam menyampaikan kebenaran, bahkan kepada mereka yang paling keras menentangnya.

3. Kebijaksanaan Mencegah Perpecahan

Kisah peletakan Hajar Aswad mengajarkan pentingnya kebijaksanaan dan musyawarah dalam menyelesaikan konflik. Rasulullah tidak mengambil kehormatan untuk dirinya sendiri, tetapi membaginya dengan semua pihak demi mencegah pertumpahan darah. Kedamaian, musyawarah, dan kebersamaan lebih utama daripada kemenangan segolongan saja.

4. Kelembutan Mendidik Lebih Efektif daripada Kekerasan

Kisah badui yang kencing di masjid mengajarkan bahwa kelembutan dan kasih sayang dalam menegur kesalahan lebih efektif daripada kemarahan dan kekerasan. Rasulullah tidak menghardik si badui, tetapi menasihatinya dengan santun dan bahkan membersihkan sendiri bekasnya.

5. Kerendahan Hati adalah Tanda Kemuliaan Sejati

Kisah-kisah Rasulullah dalam bergaul—mulai dari mendahului salam, menghormati tamu, hingga mengampuni musuh—mengajarkan bahwa kerendahan hati adalah tanda kemuliaan sejati. Sebagai pemimpin, Rasulullah tetap rendah hati, tidak sombong, dan selalu menghargai setiap orang tanpa memandang status sosial.P

Pertanyaan Seputar Kisah Akhlak Nabu Muhammad SAW

1. Apa saja kisah akhlak Nabi Muhammad SAW yang paling terkenal?

Beberapa kisah akhlak Nabi yang paling terkenal antara lain: kisah Rasulullah menyuapi pengemis Yahudi buta setiap pagi, kisah wanita tua yang selalu meludahi beliau namun akhirnya masuk Islam, kisah peletakan Hajar Aswad yang mencegah perpecahan, kisah badui yang kencing di masjid, dan kisah pengampunan saat Fathu Makkah.

2. Bagaimana akhlak Nabi Muhammad SAW terhadap orang yang membencinya?

Rasulullah SAW tidak pernah membalas kebencian dengan kebencian. Beliau selalu merespons kejahatan dengan kebaikan, kesabaran, dan kasih sayang. Kisah pengemis Yahudi buta dan wanita tua yang meludahi beliau adalah bukti nyata bahwa beliau tetap berbuat baik kepada orang yang membencinya hingga akhirnya mereka mendapatkan hidayah.

3. Apa yang dimaksud dengan "akhlak Nabi adalah Al-Qur'an"?

Ungkapan ini berasal dari jawaban Aisyah RA ketika ditanya tentang akhlak Rasulullah. Maknanya adalah seluruh perilaku, ucapan, dan tindakan Nabi Muhammad SAW merupakan perwujudan nyata dari ajaran Al-Qur'an. Beliau mengamalkan setiap nilai yang terkandung dalam kitab suci dalam kehidupan sehari-hari.

4. Bagaimana cara meneladani akhlak Nabi Muhammad dalam kehidupan sehari-hari?

Meneladani akhlak Nabi dapat dilakukan dengan: selalu berkata jujur dan amanah, bersikap sabar dan pemaaf, menghormati tamu dan mendahului salam, tidak memotong pembicaraan orang lain, bersikap lembut dan tidak kasar, serta membalas kejahatan dengan kebaikan.

5. Apa bukti bahwa Nabi Muhammad memiliki akhlak yang mulia sebelum diangkat menjadi rasul?

Sebelum diangkat menjadi rasul, Nabi Muhammad SAW sudah dikenal dengan gelar al-Amin (orang yang terpercaya) karena kejujuran dan amanahnya. Hal ini dibuktikan ketika beliau dipercaya menyelesaikan sengketa peletakan Hajar Aswad pada usia 35 tahun. Beliau juga dikenal sebagai pribadi yang jujur, ulet, dan tekun meskipun seorang yatim.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |