KEMENTERIAN Energi dan Sumber Daya Mienral (ESDM) menetapkan 60 persen produksi gas dari Lapangan Abadi Blok Masela akan dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Gas tersebut akan diprioritaskan untuk mendukung industri pupuk, pembangkit listrik, jaringan gas, hingga program hilirisasi, sementara porsi ekspor dibatasi maksimal 40 persen.
"Kami akan alokasikan produksi gas Blok Masela minimal 60 persen untuk memenuhi kebutuhan domestik dan maksimal 40 persen untuk ekspor. Sebagian gas akan dimanfaatkan untuk hilirisasi PT Pupuk yang berencana membangun industri di sini," kata Menteri ESDM Bahlil Lahadalia melalui keterangan tertulis, Jumat, 17 Juli 20926.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Selain untuk industri pupuk, gas itu juga disuplai untuk PT PLN, PT Perusahaan Gas Negara (PGN) serta sejumlah perusahaan swasta. Menurut Bahlil, langkah tersebut dapat meningkatkan nilai tambah sumber daya alam sekaligus menciptakan aktivitas ekonomi baru di Maluku.
Kementerian ESDM bersama SKK Migas memastikan alokasi gas untuk pasar domestik telah dimasukkan ke dalam dokumen Plan of Development (PoD) proyek tersebut. Pasokan gas itu diproyeksikan memenuhi kebutuhan industri, pabrik pupuk, hingga pembangkit listrik yang terus meningkat dalam beberapa tahun mendatang.
Lapangan Abadi di Wilayah Kerja Masela merupakan salah satu Proyek Strategis Nasional yang berada sekitar 180 kilometer di lepas pantai Pulau Yamdena, Laut Arafura. Blok ini memiliki kontrak kerja sama yang berlaku hingga 2055 dan dirancang memproduksi 9,5 juta ton LNG per tahun, gas pipa sebesar 150 juta kaki kubik standar per hari (MMSCFD), serta sekitar 35 ribu barel kondensat per hari.
Adapun investasi proyek LNG Abadi Masela mencapai US$ 21 miliar atau sekitar Rp 342 triliun, termasuk tambahan US$ 1 miliar untuk teknologi carbon capture and storge. Blok migas ini dikelola oleh INPEX Corporation melalui anak perusahaannya INPEX Masela, Ltd. menjadi operatornya.
Pengembangan proyek mencakup fasilitas produksi bawah laut, Floating Production Storage and Offloading (FPSO), pipa gas sepanjang sekitar 175 kilometer menuju daratan, serta pembangunan kilang LNG di darat. Proyek ini juga akan menerapkan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) untuk mengurangi emisi karbon dalam proses produksi LNG.








































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5531528/original/007916600_1773619112-unnamed__10_.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4403008/original/008750000_1681991372-20230420-Pemantauan-Hilal-Iqbal-7.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5544736/original/021119200_1775115709-gibran_promo_motor_-_klaim.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5378584/original/033747300_1760257934-unnamed__52_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4067423/original/029499900_1656490392-WhatsApp_Image_2022-06-29_at_2.40.46_PM.jpeg)
