7 Amalan setelah Subuh untuk Calon Jamaah Haji Usia 50 Tahun ke Atas, Ringan tapi Pahala Maksimal

2 hours ago 3

Liputan6.com, Jakarta - Fakta yang tak bisa dipungkiri, sebagian besar jemaah haji Indonesia adalah usia setengah baya ke atas. Di usia ini, fisik tak lagi se-fit usia-dua 20 atau 30-an tahun. Agar tak kehilangan keutamaan ibadah harian, umat Islam perlu mengetahui amalan setelah subuh untuk calon jamaah haji usia 50 tahun ke atas.

Merujuk buku Tuntunan Manasik Haji dan Umrah untuk Lansia, Ditjen Haji dan Umrah Kemenag, Islam sebagai agama yang penuh rahmat memberikan kabar gembira. Terdapat berbagai keringanan (rukhshah) bagi jemaah 50 tahun ke atas hingga yang sudah lanjut usia.

Waktu subuh memiliki kedudukan istimewa dalam Islam. Allah SWT berfirman dalam Surah al-Isra’ ayat 78, “Dirikanlah salat sejak matahari tergelincir sampai gelapnya malam dan (laksanakan pula salat) Subuh! Sesungguhnya salat Subuh itu disaksikan (oleh malaikat)". Rasulullah memiliki kebiasaan yang bisa diteladani calon jemaah haji.

Merangkum berbagai sumber, artikel ini akan mengulas amalan-amalan setelah subuh, terutama bagi calon jamaah haji usia 50 tahun ke atas, yang diperkut dengan dalil dan pandangan ulama.

1. Menyempurnakan Shalat Subuh Berjamaah

Amalan ini dimulai dengan syarat shalat subuh secara berjamaah. Bagi lansia atau mereka yang memiliki keterbatasan fisik, kemudahan telah diberikan. Sebagaimana disebutkan dalam buku Tuntunan Manasik Haji dan Umrah bagi Lansia Kemenag RI, shalat bagi jamaah lansia, risiko tinggi, dan disabilitas bisa dilakukan di mana saja di Tanah Haram, baik di hotel maupun di masjid terdekat, dan mereka tetap mendapatkan keutamaan pahala shalat sebagaimana di Masjidil Haram.

Bagi calon jamaah yang masih berada di tanah air, tentu shalat subuh berjamaah di masjid adalah yang paling utama. Allah sendiri telah menjamin bahwa shalat subuh disaksikan malaikat, untuk memperlihatkan keutamaannya.

Setelah shalat, jemaah dianjurkan untuk tidak beranjak terlebih dahulu. Terdapat berbagai amalan yang dicontohkan Nabi SAW, sebagaimana diriwayatkan dari Jabir bin Samrah RA, ia berkata, “Adapun Nabi SAW apabila telah selesai shalat subuh, beliau duduk di tempatnya hingga matahari terbit” (HR. Muslim).

Duduk Rasulullah adalah ibadah. Nabi SAW melakukan berbagai amalan yang bisa dicontoh oleh umatnya. 

2. Membaca Zikir Pagi (Adzkar ash-Shabah)

Membaca kumpulan zikir yang diajarkan Rasulullah SAW untuk dibaca pada waktu pagi (setelah subuh hingga terbit matahari). Amalan ini dilakukan sambil duduk di tempat shalat dengan posisi paling nyaman.

Zikir pagi dan petang merupakan benteng perlindungan dari Allah SWT, termasuk sarana terbesar yang disyariatkan oleh Allah untuk melindungi seseorang; dirinya, keluarganya, dan hartanya, dari segala keburukan, bencana, dan kesulitan.

Berdasarkan kitab al-Adzkar karya Imam an-Nawawi (wafat 676 H) yang merupakan rujukan utama dzikir bagi seluruh kalangan Ahlussunnah wal Jamaah, di antara zikir pagi yang utama adalah:

a. Sayyidul Istighfar (Penghulu Istighfar)

Arab: اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ. أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ. أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ. وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ. فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلَّا أَنْتَ

Latin: Allahumma anta rabbi, la ilaha illa anta khalaqtani wa ana 'abduka, wa ana 'ala 'ahdika wa wa'dika mastatha'tu. A'udzu bika min syarri ma shana'tu. Abu'u laka bini'matika 'alayya wa abu'u bidzanbi. Faghfirli fa innahu la yaghfirudz dzunuba illa anta.

Keutamaan: Imam al-Bukhari meriwayatkan bahwa barang siapa membacanya di pagi hari dengan penuh keyakinan lalu meninggal dunia pada hari itu, ia akan masuk surga. Demikian pula jika membacanya di sore hari lalu meninggal pada malamnya, ia akan masuk surga.

b. Tahlil (Laa ilaaha illallah)

Imam an-Nawawi dalam al-Adzkar menukil riwayat dari Sunan Abu Dawud dan Sunan Ibnu Majah tentang keutamaan membaca:

Arab: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Latin: Laa ilaaha illallah wahdahu laa syarikalah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa 'alaa kulli syai-in qadiir

Keutamaan: Satu kalimat dzikir ini memiliki keutamaan yang luar biasa berat di timbangan amal.

c. Tasbih

Sebagaimana hadis riwayat Muttafaq 'Alaih dari Abu Hurairah RA:

كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ، ثَقِيلَتَانِ فِى الْمِيزَانِ ، حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ : سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ ، سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ

"Ada dua kalimat yang ringan di lisan tetapi berat dalam timbangan dan dicintai oleh Allah Yang Maha Pemurah: Subhanallah wa bihamdih (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) dan Subhanallahil 'azhim (Maha Suci Allah Yang Maha Agung)."

Kedua kalimat ini dapat diulang-ulang dengan mudah tanpa memerlukan gerakan fisik apa pun.

Dzikir adalah makanan hati dan ruh. Ketika seorang hamba berusia lanjut tidak lagi mampu melakukan amalan fisik yang berat, maka dzikir menjadi amalan yang paling utama karena ringan di lisan namun berat di timbangan. Dzikir yang dilakukan dengan penuh kesadaran hati (hadirul qalb) lebih utama daripada amalan fisik yang dilakukan tanpa kekhusyukan.

3. Membaca Al-Qur'an (Tilawah)

Membaca Al-Qur'an setelah shalat subuh hingga matahari terbit, baik dengan mushaf maupun dengan hafalan. Bagi yang kesulitan membaca karena keterbatasan penglihatan, dapat mendengarkan bacaan Al-Qur'an melalui rekaman.

Waktu setelah subuh adalah waktu yang penuh berkah untuk membaca Al-Qur'an. Para ulama salaf sangat menjaga waktu ini untuk tilawah.

Meskipun buku tersebut secara khusus membahas tuntunan manasik haji, prinsip yang ditekankan adalah bahwa bagi jemaah lansia yang memiliki keterbatasan fisik, ibadah yang dapat dilakukan sambil duduk atau berbaring tetap memiliki nilai yang sempurna di sisi Allah SWT. Membaca Al-Qur'an adalah salah satu ibadah yang paling mudah dilakukan dalam kondisi apa pun.

Syekh Nawawi al-Bantani dalam kitab Nashaih al-'Ibad menjelaskan bahwa membaca Al-Qur'an di waktu pagi (setelah subuh) memiliki keutamaan khusus karena pada waktu tersebut hati sedang dalam kondisi paling jernih dan pikiran paling fokus. Beliau mengutip hadis bahwa siapa yang membaca Al-Qur'an di waktu pagi, maka ia akan mendapatkan keberkahan sepanjang harinya.

4. Duduk Berzikir hingga Matahari Terbit (Al-Julus li adz-Dzikri hatta thulu' asy-Syams)

Tidak berpindah dari tempat shalat setelah salam subuh, kemudian duduk berzikir kepada Allah SWT hingga matahari terbit. Amalan ini tidak membutuhkan gerakan fisik apa pun, cukup duduk di tempat dengan posisi paling nyaman.

Hadis riwayat at-Tirmidzi dari Anas RA, Rasulullah SAW bersabda: "Barang siapa yang shalat subuh berjamaah, kemudian ia duduk berzikir kepada Allah SWT hingga matahari terbit, lalu ia shalat dua rakaat (sunnah dhuha), maka baginya pahala seperti pahala haji dan umrah yang sempurna, sempurna, sempurna." (HR. at-Tirmidzi).

Ini adalah kabar gembira bagi mereka yang memiliki keterbatasan fisik atau finansial. Dengan amalan yang tidak menguras fisik sama sekali, seseorang dapat meraih pahala setara haji dan umrah sempurna setiap hari.

Sebagaimana diriwayatkan oleh 'Atha' bin as-Sa'ib, ia masuk menemui Abu 'Abdurrahman as-Sulami yang telah selesai shalat subuh dan sedang duduk di masjid. Ia berkata, "Jika engkau pergi dan duduk di tempat tidurmu, itu lebih nyaman." Beliau menjawab, "Aku mendengar Ali RA berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, 'Barang siapa yang melaksanakan shalat subuh dan tetap duduk (di tempatnya), maka para malaikat akan mendoakannya. Doa mereka adalah: Ya Allah, ampunilah dia, Ya Allah, rahmatilah dia'." (HR. Ahmad)

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin RA dalam Syarh Riyadhus Shalihin menjelaskan bahwa hadis ini menunjukkan betapa besar keutamaan yang diperoleh hanya dengan duduk berzikir setelah subuh. "Amalan ini sangat mudah dilakukan dan tidak memberatkan, sehingga seharusnya setiap muslim menjaganya, apalagi bagi mereka yang telah berusia lanjut dan tidak mampu melakukan amalan fisik yang berat."

5. Membaca Doa Perlindungan dari Kejahatan dan Penyakit

Membaca doa-doa perlindungan yang diajarkan Rasulullah SAW untuk dibaca pada pagi hari.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَصْبَحْتُ أُشْهِدُكَ وَأُشْهِدُ حَمَلَةَ عَرْشِكَ وَمَلَائِكَتَكَ وَجَمِيعَ خَلْقِكَ أَنَّكَ أَنْتَ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُكَ وَرَسُولُكَ

Latin: Allahumma inni ashbahtu usyhiduka wa usyhidu hamalata 'arsyika wa malaa'ikataka wa jamii'a khalqika annaka antallahu laa ilaaha illa anta wa anna Muhammadan 'abduka wa rasuuluka.

Keutamaan: Barang siapa mengucapkannya di pagi hari, maka Allah akan mengampuni dosa-dosa yang ia perbuat pada hari itu. Jika ia mengucapkannya di sore hari, Allah akan mengampuni dosa-dosanya pada malam itu (HR. Abu Dawud).

Doa Perlindungan Lainnya:

اللَّهُمَّ مَا أَصْبَحَ بِي مِنْ نِعْمَةٍ أَوْ بِأَحَدٍ مِنْ خَلْقِكَ فَمِنْكَ وَحْدَكَ لَا شَرِيكَ لَكَ، فَلَكَ الْحَمْدُ وَلَكَ الشُّكْرُ

Artinya: "Ya Allah, segala nikmat yang ada padaku atau pada seseorang dari makhluk-Mu di pagi ini adalah dari-Mu semata, tiada sekutu bagi-Mu, maka bagi-Mu segala puji dan bagi-Mu segala syukur."

Imam an-Nawawi dalam kitab Riyadhus Shalihin (bab tentang dzikir pagi dan petang) menjelaskan bahwa membaca doa-doa perlindungan setelah subuh adalah salah satu bentuk tafwidh (berserah diri) kepada Allah SWT. Seseorang yang telah berusia lanjut dan menyadari kerapuhan fisIKNya semakin membutuhkan perlindungan Allah dari berbagai bahaya, baik yang tampak maupun yang tidak tampak.

6. Memperbanyak Istighfar dan Taubat

Membaca istighfar (memohon ampunan kepada Allah) setelah shalat subuh. Bacaan yang paling sederhana adalah "Astaghfirullahal 'azhim" atau "Astaghfirullah wa atubu ilaih" yang diulang-ulang.

Bagi lansia yang tidak dapat melakukan ibadah fisik secara optimal, memperbanyak dzikir dan istighfar menjadi amalan yang sangat dianjurkan karena tidak membutuhkan tenaga besar dan bisa dilakukan kapan pun dan di mana pun.

Dalam hukum Islam (Fiqih) ada dua jenis hukum, yaitu 'Azimah dan Rukhsah. Rukhsah adalah hukum yang disyariatkan karena adanya 'udzur seperti masyaqqah (beban berat) dan hajat (kebutuhan mendesak). Bagi lansia yang mengalami kesulitan fisik, memperbanyak istighfar dan dzikir adalah bentuk rukhsah yang justru lebih utama daripada memaksakan diri melakukan ibadah fisik yang berat.

Istighfar di waktu pagi memiliki keutamaan menghapus dosa-dosa yang dilakukan pada malam sebelumnya dan membersihkan hati sebelum memulai aktivitas harian.

7. Shalat Dhuha Dua Rakaat (Penutup Rangkaian)

Setelah matahari terbit setinggi tombak (kira-kira 15-20 menit setelah terbit), melaksanakan shalat sunnah dhuha dua rakaat. Shalat ini dapat dilakukan sambil duduk bagi yang tidak mampu berdiri.

Shalat dhuha merupakan penyempurna pahala ibadah, termasuk saat haji dan umrah sebagaimana disebutkan dalam hadis at-Tirmidzi di atas. Selain itu, Rasulullah SAW bersabda:

يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلاَمَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ، فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ، وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ، وَنَهْيٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ، وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى

"Setiap persendian seseorang diwajibkan atasnya sedekah setiap hari ketika matahari terbit. Setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, menyuruh kepada kebaikan adalah sedekah, dan melarang dari kemungkaran adalah sedekah. Dan semua itu dapat dicukupi dengan dua rakaat shalat dhuha." (HR. Muslim)

Bagi lansia yang tidak mampu berdiri, shalat dhuha dapat dilakukan sambil duduk. Bahkan jika tidak mampu duduk, dapat dilakukan sambil berbaring. Prinsip ini sebagaimana disebutkan dalam buku Tuntunan Manasik Haji dan Umrah bagi Lansia yang merujuk pada hadis Rasulullah SAW tentang orang sakit yang shalat dengan posisi sesuai kemampuannya.

Dalam kitab al-Majmu' Syarh al-Muhadzdzab, Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa shalat dhuha termasuk shalat sunnah yang sangat dianjurkan (mu'akkad). Beliau juga menjelaskan bahwa seseorang yang memiliki udzur (termasuk usia lanjut) diperbolehkan shalat dengan posisi duduk dan tetap mendapatkan pahala yang sempurna, meskipun tidak sebanding dengan pahala shalat berdiri.

Pinsip Kemudahan (Rukhsah) bagi Lansia dalam Beribadah

Buku Tuntunan Manasik Haji dan Umrah bagi Lansia Kemenag RI menjelaskan secara rinci tentang bentuk-bentuk kemudahan yang diberikan Islam bagi mereka yang memiliki udzur, termasuk lansia. Terdapat tujuh kategori bentuk kemudahan:

  • Pengguguran, contoh: gugurnya kewajiban Haji bagi orang yang tidak mampu;
  • Pengurangan, contoh: salat qashar;
  • Pergantian, contoh: tayamum;
  • Mendahulukan, contoh: jamak taqdim;
  • Mengakhirkan, contoh: jamak ta'khir;
  • Perubahan, contoh: salat khauf;
  • Kelonggaran (Tarkhas/Ibaha): Mengecualikan suatu larangan karena keadaan darurat atau kebutuhan yang mendesak.

Prinsip inilah yang menjadi dasar bahwa seorang muslim usia 50 tahun ke atas tidak perlu merasa terbebani dengan tuntutan ibadah fisik yang berat. Sebaliknya, ia dapat memilih amalan-amalan yang ringan namun berpahala besar, seperti amalan setelah subuh yang telah diuraikan di atas.

Pertanyaan Umum Seputar Topik

Amalan apa saja yang pahalanya sama seperti haji?

7 Amalan Berpahala Seperti HajiShalat Berjamaah di Masjid. ...Duduk di Masjid Setelah Shalat Subuh hingga Matahari Terbit. ...Niat yang Tulus untuk Berhaji. ...Berbakti kepada Orang Tua. ...Menunaikan Umrah di Bulan Ramadan. ...Membantu Orang dalam Kesulitan. ...Berdzikir Sepanjang Hari.

Amalan sunnah yang dapat dikerjakan saat ibadah haji?

Berikut ini tujuh sunnah haji dan umrah yang penting Anda ketahui dan laksanakan.Ifrad. ...Membaca Talbiyah. ...3. Tawaf Qudum. ...Mabit di Muzdalifah. ...Salat Sunnah Tawaf. ...6. Mabit di Mina. ...Tawaf Wada' ...Meninggalkan Rukun Haji dan Umrah dengan Sengaja.

Amalan yang harus dilakukan dalam ibadah haji apabila ditinggalkan tetap sah tetapi wajib membayar dam disebut?

Wajib haji adalah rangkaian amalan yang harus dilaksanakan, namun jika ada yang terlewat, ibadah haji tetap sah dengan konsekuensi membayar dam.

Segala sesuatu yang harus dikerjakan ketika Melaksanakaan ibadah haji?

Menurut Kementerian Agama, lima wajib haji yang harus dilakukan para jamaah, di antaranya:Ihram atau melakukan niat berhaji sesuai miqat yang telah ditentukan.Mabit di Muzdalifah.Mabit di Mina.Melakukan lempar jumrah di Aqabah, Wusta dan Ula.Thawaf wada' untuk jamaah yang meninggalkan Mekah.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |