7 Contoh Khutbah Idul Adha Berbagai Tema, Kisah Nabi Ibrahim hingga Kepedulian Sosial

19 hours ago 5

Liputan6.com, Jakarta - Referensi contoh khutbah Idul Adha yang sesuai dengan tuntunan syariat adalah langkah penting bagi khatib untuk menjaga kesempurnaan ibadah. Khutbah bukan sekadar orasi, ada rukun dan syarat sah agar diterima di sisi Allah SWT.

Dalam kitab Fiqh al-Manhaji, Syekh Musthafa al-Khin menegaskan bahwa khatib wajib memenuhi rukun seperti memuji Allah, bershalawat, dan berwasiat takwa. Rukun ini merupakan pilar utama yang menentukan sahnya pelaksanaan khutbah hari raya bagi seluruh jamaah.

Mengutip Imam Nawawi dalam Al-Majmu’, pengulangan takbir serta pembacaan ayat Al-Qur'an adalah syiar yang memperkuat esensi ibadah. Hal ini bersandar pada teladan Rasulullah SAW yang senantiasa mengagungkan asma Allah dalam setiap kesempatan khutbahnya.

Berikut ini adalah tujuh contoh teks khutbah Idul Adha berbagai naskah siap baca yang disusun sesuai rukun khutbah Idul Adha.

1. Khutbah Idul Adha Tema: Meneladani Pengorbanan Nabi Ibrahim AS

Khutbah I

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Walillahil hamd.

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

Hadirin jamaah Idul Adha yang dirahmati Allah, pada pagi yang penuh berkah ini, kita berkumpul menggemakan takbir, tahlil, dan tahmid. Suara keagungan Allah bergema di seluruh penjuru dunia, mengingatkan kita pada kebesaran Sang Pencipta dan kelemahan kita sebagai hamba. Momentum ini selalu membawa ingatan kita pada sejarah agung bapak para nabi, yaitu Nabi Ibrahim AS dan putra kesayangannya, Nabi Ismail AS.

Ujian keimanan yang dialami oleh Nabi Ibrahim AS bukanlah ujian biasa. Setelah puluhan tahun menanti kehadiran seorang anak, Allah SWT justru memerintahkannya untuk menyembelih putra yang sangat dicintainya itu. Perintah ini datang melalui mimpi yang hakiki, menguji seberapa besar cinta Ibrahim kepada Tuhannya dibandingkan dengan cintanya kepada dunia dan keluarganya.

Tanpa keraguan, Nabi Ibrahim menyampaikan mimpi tersebut kepada Ismail. Luar biasanya, sang anak yang saleh itu merespons dengan penuh ketaatan dan kepasrahan kepada Allah SWT. Ia tidak menolak, tidak memberontak, melainkan mendukung ayahnya untuk melaksanakan perintah Sang Khaliq. Inilah puncak dari pengorbanan dan kepatuhan seorang hamba sejati.

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

Ayat di atas, Surah Ash-Shaffat ayat 102, menceritakan dialog luar biasa tersebut. Maka tatkala anak itu sampai pada umur sanggup berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar."

Pelajaran terbesarnya bagi kita saat ini adalah tentang memprioritaskan Allah di atas segalanya. Seringkali kita terjebak dalam kecintaan duniawi—baik itu harta, jabatan, maupun keluarga—yang membuat kita lalai dari perintah Allah. Kurban hari ini adalah simbolisasi menyembelih ego dan hawa nafsu kita, demi meraih rida-Nya semata.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Allahu Akbar. Walillahil hamd.

Khutbah II

الْحَمْدُ لِلَّهِ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مَنْ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ.

Jamaah yang berbahagia, pada khutbah kedua ini, mari kita mantapkan kembali niat kurban kita semata-mata karena Allah. Daging dan darah kurban itu tidak akan sampai kepada Allah, melainkan ketakwaan kitalah yang akan mencapai-Nya. Mari jadikan keteladanan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan beragama kita.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

2. Tema: Mengikis Sifat Kehewanan dalam Diri Manusia

Khutbah I

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Walillahil hamd.

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, di pagi Idul Adha yang suci ini, puji syukur tak henti-hentinya kita panjatkan ke hadirat Allah SWT. Kita disatukan dalam kebersamaan, melantunkan takbir yang memecah keheningan jiwa, untuk kembali mengingat kebesaran-Nya. Hari raya kurban ini bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan ibadah yang sarat akan makna mendalam bagi pembersihan jiwa manusia.

Menyembelih hewan kurban, seperti kambing, sapi, atau unta, adalah ibadah fisik yang kasat mata. Namun, hakikat dari penyembelihan tersebut sesungguhnya diarahkan pada diri kita sendiri. Kita diperintahkan untuk "menyembelih" dan mengikis sifat-sifat kehewanan yang kerap kali bersarang kuat di dalam hati dan perlahan merusak nilai kemanusiaan kita.

 Sifat-sifat kehewanan itu wujudnya bermacam-macam dalam kehidupan sehari-hari. Ada sifat rakus yang selalu ingin menguasai hak orang lain, sifat sombong yang merasa diri paling hebat, sifat egois yang tidak memedulikan penderitaan sesama, hingga sifat amarah yang sering tak terkendali. Idul Adha hadir untuk mematikan sifat-sifat buruk tersebut agar jiwa kita kembali suci di hadapan Sang Maha Kuasa.

 لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ

Dalam Surah Al-Hajj ayat 37 Allah menegaskan: "Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik."

Melalui pemahaman ayat ini, kita sadar bahwa ketaatan dan kebersihan hatilah yang menjadi esensi. Jangan sampai kita berkurban puluhan hewan, namun sifat rakus dan sombong masih melekat kuat dalam diri. Mari jadikan darah kurban yang menetes hari ini sebagai saksi luruhnya segala dosa dan hilangnya sifat hewani dari sanubari kita.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Allahu Akbar. Walillahil hamd.

Khutbah II

الْحَمْدُ لِلَّهِ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مَنْ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ.

Saudara-saudaraku seiman, mari di khutbah kedua ini kita perkuat komitmen diri. Setelah kita melaksanakan shalat Id dan memotong hewan kurban, jadikan diri kita manusia yang lebih bermanfaat bagi sesama. Jauhi sifat dengki, mari hidup dalam harmoni, dan tumbuhkan kasih sayang layaknya manusia seutuhnya yang selalu dirahmati Allah.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

3. Tema: Kurban Sebagai Jembatan Kepedulian Sosial

Khutbah I

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Walillahil hamd.

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

Jamaah Idul Adha yang dimuliakan Allah, hari raya kurban membawa pesan kebahagiaan yang harus dirasakan oleh semua kalangan tanpa memandang status sosial. Di tengah-tengah lantunan takbir yang kita kumandangkan, terdapat panggilan kemanusiaan yang sangat kuat. Islam adalah agama yang menyeimbangkan antara ibadah kepada Allah dan kasih sayang kepada sesama manusia.

Banyak saudara-saudara kita di luar sana yang hidup dalam keterbatasan. Jangankan untuk memikirkan hidangan mewah, untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari saja mereka sangat kesulitan. Di sinilah syariat kurban hadir sebagai solusi nyata sekaligus jembatan kepedulian sosial, meruntuhkan tembok pemisah antara si kaya dan si miskin yang mungkin selama ini terbangun di lingkungan kita.

 Membagikan daging kurban bukanlah sekadar rutinitas atau ajang pamer kekayaan materi. Ia adalah wujud nyata ikatan persaudaraan umat Islam. Dengan memberikan sebagian dari rezeki kita dalam bentuk daging kurban, kita telah menerbitkan senyum kebahagiaan di wajah kaum dhuafa, fakir, dan miskin, menjadikan hari ini sebagai hari raya yang sesungguhnya bagi mereka.

 لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ ۖ فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ

Hal ini selaras dengan perintah Allah dalam Surah Al-Hajj ayat 28: "Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir."

Oleh karena itu, mari kita jadikan momentum penyembelihan kurban ini untuk sungguh-sungguh melatih kepekaan sosial kita. Jangan ada lagi tetangga kelaparan sementara kita tidur lelap dalam keadaan kenyang. Kepedulian sosial yang kita pupuk di hari Idul Adha ini harus terus menyala dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari di luar bulan Dzulhijjah.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Allahu Akbar. Walillahil hamd.

Khutbah II

الْحَمْدُ لِلَّهِ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مَنْ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ.

Hadirin kaum muslimin, kedermawanan adalah sifat para kekasih Allah. Di khutbah yang kedua ini, khatib mengajak kita semua untuk tidak henti-hentinya mengulurkan tangan membantu sesama. Kurban yang sejati adalah ketika kita mampu mengorbankan ego dan sebagian apa yang kita cintai demi kebaikan saudara-saudara kita yang sangat membutuhkan pertolongan.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ ارْزُقْنَا حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يَنْفَعُنَا حُبُّهُ عِنْدَكَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

4. Tema: Keluarga Nabi Ibrahim Sebagai Teladan Umat

Khutbah I

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Walillahil hamd.

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

Hadirin jamaah shalat Idul Adha yang berbahagia, setiap kali kita merayakan Idul Adha, kita tidak bisa lepas dari keteladanan sebuah keluarga mulia yang tercatat dengan tinta emas dalam sejarah peradaban Islam. Keluarga itu adalah keluarga Nabi Ibrahim AS. Keluarga ini adalah potret ideal yang sarat akan nilai-nilai tauhid, ketaatan, kesabaran, dan perjuangan tiada batas.

Nabi Ibrahim sebagai kepala keluarga adalah sosok ayah yang bijaksana namun sangat tegas memegang teguh kalimat tauhid. Siti Hajar, istrinya, adalah sosok ibu yang tegar, ikhlas, dan pantang menyerah meski harus ditinggalkan di padang pasir tandus bersama bayinya. Dan Nabi Ismail adalah potret anak saleh, penyejuk hati orang tua, yang rela mengorbankan nyawanya demi perintah Allah.

 Keluarga Ibrahim sukses melewati berbagai ujian maha berat karena fondasi keluarga mereka dibangun murni di atas ketaatan kepada Sang Pencipta. Saat ini, institusi keluarga banyak menghadapi tantangan luar biasa, terutama di era modern yang penuh godaan. Keteladanan keluarga Ibrahim harus kita hidupkan kembali dalam mendidik anak dan membina rumah tangga agar terhindar dari kehancuran moral.

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

Doa yang selalu dipanjatkan Nabi Ibrahim AS dalam Surah As-Saffat ayat 100 yang berbunyi: "Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh." Doa ini mengajarkan kita bahwa memiliki keturunan yang saleh dan salihah adalah harta paling berharga, jauh melebihi segala perhiasan dunia, karena merekalah penyelamat kita di akhirat kelak.

Mari kita jadikan keluarga Nabi Ibrahim sebagai rujukan utama dalam mendidik anak-anak kita. Tanamkan akidah yang kuat sejak dini, ajarkan kemandirian seperti kegigihan Siti Hajar, dan contohkan kepatuhan tanpa keraguan seperti Nabi Ibrahim. Dengan demikian, insya Allah akan lahir generasi-generasi masa kini yang tangguh dan selalu bertakwa kepada Allah.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Allahu Akbar. Walillahil hamd.

Khutbah II

الْحَمْدُ لِلَّهِ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مَنْ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ.

Hadirin rahimakumullah, di khutbah kedua ini mari kita tekadkan hati untuk terus menjaga keluarga kita dari panasnya api neraka. Jadikan rumah kita taman-taman surga tempat bersemainya keimanan. Semoga Allah membimbing keluarga kita menjadi keluarga yang damai, penuh kasih sayang, yang kelak dikumpulkan kembali di surga-Nya.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

5. Tema: Makna Ibadah Haji dan Kesetaraan Manusia

Khutbah I

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Walillahil hamd.

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

Ma'asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah, saat kita bersuka cita merayakan Idul Adha di sini, jutaan saudara seiman kita sedang berada di Tanah Suci Makkah untuk menunaikan rukun Islam yang kelima, yakni ibadah haji. Hati kita senantiasa terhubung dengan mereka yang sedang wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah, dan melontar jumrah di Mina.

Ibadah haji menampilkan miniatur padang mahsyar dan menyajikan pesan kesetaraan yang luar biasa kuat kepada dunia. Di sana, semua jamaah laki-laki wajib melepaskan pakaian kebesarannya, menanggalkan status sosial, harta, dan jabatannya. Mereka hanya mengenakan dua helai kain putih tak berjahit yang disebut kain ihram, melambangkan kain kafan yang kelak membalut jasad kita saat kembali kepada-Nya.

Fenomena pakaian ihram ini dengan tegas meruntuhkan tembok kesombongan manusia. Di hadapan Allah, tidak ada bedanya antara pemimpin dan rakyat jelata, antara konglomerat dan orang biasa, semuanya setara bersimpuh merendahkan diri memohon ampunan. Hal ini memukul telak ego manusia yang sering merasa lebih baik dari orang lain semata-mata karena atribut duniawi.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Pesan kesetaraan ini terukir abadi dalam Surah Al-Hujurat ayat 13: "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."

Oleh karenanya, mari kita buang jauh-jauh sikap diskriminatif dan sifat merasa paling mulia di antara manusia lainnya. Kemuliaan sejati tidak pernah diukur dari apa yang kita kenakan, kendaraan yang kita kendarai, atau kekayaan yang kita tumpuk, melainkan dari kedalaman iman dan kebersihan hati kita dalam menjalankan syariat Allah SWT.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Allahu Akbar. Walillahil hamd.

Khutbah II

الْحَمْدُ لِلَّهِ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مَنْ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ.

Kaum muslimin yang berbahagia, di sisa waktu khutbah ini, mari kita doakan saudara-saudara kita yang sedang menunaikan ibadah haji agar dianugerahi kekuatan fisik dan meraih haji yang mabrur. Dan bagi kita yang belum berkesempatan, semoga Allah mudahkan langkah dan rezeki kita untuk bisa segera memenuhi panggilan-Nya di Baitullah.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ ارْزُقْنَا زِيَارَةَ بَيْتِكَ الْمُعَظَّمِ وَرَسُوْلِكَ الْمُكَرَّمِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

6. Tema: Keikhlasan Sebagai Syarat Diterimanya Amal

Khutbah I

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Walillahil hamd.

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

Jamaah Idul Adha yang dirahmati Allah, ibadah kurban sejatinya telah ada jauh sebelum syariat Nabi Muhammad SAW dan ketaatan Nabi Ibrahim AS. Sejarah kurban telah terukir sejak masa putra-putra manusia pertama, Nabi Adam AS, yaitu Habil dan Qabil. Peristiwa ini menyimpan pelajaran krusial tentang parameter diterimanya sebuah amal ibadah di sisi Allah SWT.

Habil, yang merupakan seorang peternak, berkurban dengan domba yang paling gemuk, terbaik, dan diserahkan dengan penuh keikhlasan kepada Sang Pencipta. Sebaliknya, Qabil, seorang petani, mempersembahkan hasil pertaniannya yang buruk, busuk, dan diberikan dengan perasaan terpaksa serta kikir. Akhir dari kisah ini, kurban Habil diterima oleh Allah, sedangkan kurban Qabil ditolak mentah-mentah.

Penolakan ini memicu kedengkian yang luar biasa dalam hati Qabil hingga berujung pada peristiwa pembunuhan pertama di muka bumi. Inti dari peristiwa bersejarah ini menegaskan bahwa Allah tidak melihat wujud materi atau kemewahan barang yang dikurbankan, melainkan melihat kemurnian hati dan tingkat keikhlasan pelakunya. Amal ibadah sekecil apa pun jika dilakukan dengan ikhlas akan bernilai besar, namun amal sebesar apa pun jika dilandasi riya tidak akan dihiraukan-Nya.

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ آدَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْآخَرِ قَالَ لَأَقْتُلَنَّكَ ۖ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

Al-Qur'an mengabadikan kisah ini dalam Surah Al-Ma'idah ayat 27: "Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): 'Aku pasti membunuhmu!'. Berkata Habil: 'Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa'."

Ayat ini adalah peringatan keras dan refleksi mendalam bagi kita semua. Saat kita memotong hewan kurban hari ini, mari kita evaluasi hati nurani kita: murnikah niat ini karena Allah semata? Ataukah terselip keinginan agar dipuji tetangga, hasrat pamer kekayaan, atau sekadar menjaga gengsi sosial? Mari bersihkan niat, jadikan keikhlasan sebagai fondasi setiap langkah peribadatan kita.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Allahu Akbar. Walillahil hamd.

Khutbah II

الْحَمْدُ لِلَّهِ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مَنْ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ.

Jamaah yang mulia, mari kita terus tingkatkan level keikhlasan dan ketakwaan dalam diri kita. Jangan biarkan ibadah yang telah mengorbankan harta benda dan keringat menjadi sia-sia tanpa pahala sama sekali. Semoga kurban yang kita tunaikan tahun ini diterima oleh Allah SWT layaknya Allah menerima kurban Habil di masa lalu.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوْبَنَا مِنَ النِّفَاقِ وَأَعْمَالَنَا مِنَ الرِّيَاءِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

7. Tema: Mensyukuri Nikmat Allah Melalui Ibadah Kurban

Khutbah I

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Walillahil hamd.

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

Ma'asyiral muslimin wal muslimat yang dirahmati Allah, jika kita sejenak merenungkan setiap detik napas yang kita hirup, kesehatan yang masih menopang raga kita, serta rezeki yang senantiasa kita nikmati hingga hari raya ini, kita akan sangat menyadari betapa tak terhingganya nikmat Allah. Tidak ada satupun alat ukur buatan manusia yang mampu menghitung rincian anugerah tersebut.

Oleh karena itu, menghadirkan rasa syukur adalah sebuah kewajiban mutlak bagi setiap hamba. Namun, syukur yang utuh tidaklah cukup hanya dengan mengucap lafaz syukur di bibir saja. Syukur harus diwujudkan dengan kepatuhan ibadah dan kerelaan menyisihkan sebagian harta yang dicintai di jalan Allah. Salah satu bentuk pengejawantahan rasa syukur tertinggi di bulan Dzulhijjah adalah dengan menunaikan ibadah kurban.

 Mengeluarkan sebagian rezeki finansial untuk membeli hewan kurban adalah wujud konkret cinta kita kepada Sang Pemberi Rezeki. Ketika kita berkurban, kita sedang membuktikan bahwa harta tidak membuat hati kita buta, melainkan justru menjadi jembatan amal untuk mendekatkan diri kepada Allah. Pengorbanan hewan kurban ini jauh lebih kecil nilainya jika disandingkan dengan keselamatan dan kebahagiaan yang terus Allah limpahkan dalam hidup kita.

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ * فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ * إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ

Surat Al-Kautsar ayat 1-3 turun khusus untuk menegaskan prinsip ini. Allah berfirman: "Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus (dari rahmat Allah)." Perintah berkurban dalam ayat ini diletakkan bersandingan langsung dengan perintah shalat sebagai representasi ibadah syukur.

Maka dari itu, bagi siapapun di antara kita yang telah dititipi kelebihan rezeki oleh Allah, janganlah merasa berat dan enggan untuk berkurban. Jangan menunggu sisa harta untuk berkurban, tapi siapkan dan sisihkanlah harta khusus untuk itu. Semoga setiap tetes darah hewan kurban yang mengalir menjadi saksi amal ibadah, mensucikan harta kekayaan kita, dan mengundang limpahan berkah di dunia maupun di akhirat.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Allahu Akbar. Walillahil hamd.

Khutbah II

الْحَمْدُ لِلَّهِ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مَنْ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ.

Hadirin jamaah yang dimuliakan Allah, di penghujung khutbah singkat ini, mari kita koreksi diri sejauh mana kita telah pantas disebut sebagai hamba yang pandai bersyukur. Jadikanlah momen Idul Adha ini titik tolak kebangkitan kedermawanan kita. Jangan pernah lelah berbuat kebajikan, teruslah berbagi manfaat, dan biarkan cahaya keikhlasan memandu setiap jejak langkah kita di muka bumi ini.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Pertanyaan Seputar Khutbah Idul Adha

Lebaran Idul Adha 2026 jatuh pada tanggal berapa?

Lebaran Idul Adha 2026 jatuh pada Rabu, 27 Mei 2026.

Instagram +1Penetapan ini telah disahkan oleh Pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia serta disepakati pula oleh Muhammadiyah.

Tanggal 10 Dzulhijjah jatuh pada hari apa?

Tanggal 10 Dzulhijjah diperingati sebagai Hari Raya Idul Adha (atau Lebaran Haji). Pada hari besar umat Islam ini, dilaksanakan ibadah shalat Idul Adha dan penyembelihan hewan kurban.

Kapan Idul Adha pemerintah?

Pemerintah menetapkan Hari Raya Idul Adha 1447 H jatuh pada hari Rabu, 27 Mei 2026. Keputusan ini diputuskan langsung oleh Kementerian Agama (Kemenag) melalui Sidang Isbat awal Zulhijah.

Idul Adha 1446 Hijriah tanggal berapa?

Gelar Sedang Isbat, Pemerintah Tetapkan Idul Adha 1446 H Jatuh pada 6 Juni 2025. Tubankab – Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag) resmi menetapkan 1 Dzulhijjah 1446 Hijriah jatuh pada Rabu, 28 Mei 2025. Dengan demikian, Hari Raya Iduladha 1446 H atau 10 Dzulhijjah akan diperingati pada Jumat, 6 Juni 2025.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |