- Apa kata Rasulullah tentang kematian?
- Apa kata Alquran tentang kematian?
- Bagaimana cara menerima kematian sebagai bagian dari kehidupan?
Baca artikel ini 5x lebih cepat
Liputan6.com, Jakarta - Contoh ceramah tentang kematian agar jamaah lebih introspeksi menjadi langkah strategis bagi para penceramah agama, terutama pemula. Kematian adalah takdir yang misterius, sehingga nasihat spiritual amat dibutuhkan untuk membangkitkan jiwa umat yang terbuai kelalaian.
Allah SWT telah menegasikan di dalam Al-Qur'an mengenai kepastian ajal. Melalui Surah Ali 'Imran ayat 185, Allah berfirman, "Tiap-tiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati."
Imam al-Qurthubi dalam kitab At-Tadzkirah fi Ahwalil Mauta wa Umuril Akhirah (Mengingat Kematian dan Menyiapkan diri untuk Menghadapinya, terjemah Moh. Iqbal Ghazali) mengingatkan bahwa kesadaran akan maut harus membuahkan persiapan amal saleh nyata sebagai bekal akhirat.
Oleh karena itu, naskah materi dakwah mestinya disusun dengan narasi yang benar-benar mampu menyentuh sanubari. Pesan ini memutus atau mengurangi angan-angan duniawi dan menuntun langkah kita menuju ketakwaan.
Merangkum berbagai sumber, berikut ini adalah tujuh contoh ceramah tentang kematian agar jamaah lebih introspeksi. Simak selengkapnya.
1. Ceramah Tentang Kematian dan Hakikat Kecerdasan Sejati
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Alhamdulillahi rabbil 'alamin, wassholatu wasshalamu 'ala asyrofil anbiya-i wal mursalin, wa 'ala alihi wa sohbihi ajma'in.
Jamaah sekalian yang senantiasa dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Dalam kehidupan dunia ini, kita sering kali menilai kecerdasan seseorang dari seberapa banyak gelar akademik yang ia raih atau seberapa besar harta yang ia kumpulkan. Padahal, standar kecerdasan dalam ajaran Islam memiliki makna yang jauh lebih mendalam.
Mari kita bersama-sama merenungkan sabda Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam saat beliau ditanya oleh sahabat tentang siapakah mukmin yang paling cerdas itu:
أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا، أُولَئِكَ الْأَكْيَاسُ
Yang artinya, "Yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik mempersiapkan diri untuk sesudah kematian itu, mereka itulah orang-orang yang cerdas. "
Imam al-Qurthubi di dalam kitabnya yang diterjemahkan, Mengingat Kematian dan Menyiapkan diri untuk Menghadapinya, memberikan penjelasan mengenai standar kecerdasan yang sebenarnya ini.
Beliau menegaskan bahwa tanpa adanya persiapan diri untuk kematian itu, tentu hanya sekedar mengingat tidak banyak berguna dan tidak bermanfaat.
Oleh karena itu, cobalah kita bercermin untuk melihat diri kita sendiri, sebelum menilai orang lain, apakah kita sudah memulai untuk melaksanakan perintah Rasulullah SAW ini?
Kalau kita merasa sudah memulainya, lalu bagaimana dengan kondisi keimanan dan persiapan orang-orang terdekat di sekitar kita? Kehidupan dunia ini sungguh terlalu singkat untuk kita habiskan dalam kelalaian yang tak berujung.
Sesungguhnya bekal paling sempurna bukanlah harta dan kekayaan benda, melainkan ketakwaan dan deretan amal saleh yang kita persiapkan matang-matang sebelum maut menjemput secara tiba-tiba.
Semoga hati kita tidak dibutakan oleh gemerlap dunia, sehingga kita tidak termasuk ke dalam golongan orang-orang yang merugi di pengadilan Allah kelak.
Ya Allah, jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang cerdas, yang senantiasa mengingat kematian dan mempersiapkan bekal ketakwaan terbaik untuk berjumpa dengan-Mu.
Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
2. Ceramah Tentang Pemutus Segala Kenikmatan
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Innal hamdalillah, nahmaduhu wanasta'inuhu wanastaghfiruh. Wa na'udzubillahi min syururi anfusina wamin sayyidati a'malina.
Kaum muslimin wal muslimat, jamaah rahimakumullah yang saya cintai.
Setiap hari dari pagi hingga malam, kita sering kali tersibukkan dengan berbagai urusan duniawi yang membuat kita merasakan beragam kenikmatan hidup yang seolah-olah tidak akan pernah sirna.
Namun, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam telah memberikan sebuah pengingat yang tajam agar kita tidak terlena, sebagaimana sabda beliau dari riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu:
أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَادَمِ اللَّذَّاتِ
Yang bermakna, "Perbanyaklah mengingat yang memutuskan kenikmatan (maksudnya: kematian)."
Di dalam terjemahan kitab karya Imam al-Qurthubi, para ulama memberikan penjelasan yang sangat menyentuh mengenai sabda yang mulia ini.
Ulama menjelaskan bahwa kalimat ini merupakan kalimat ringkas yang menggabungkan peringatan dan nasehat, karena mengingat kematian dengan sebenarnya pasti akan mengurangi nikmatnya keindahan dunia serta menghalangi kita dari berangan-angan yang tak berujung.
Tentu saja, jiwa yang kosong dan hati yang sedang lupa akan Tuhan sangat membutuhkan nasehat seperti ini agar tidak angkuh menapaki bumi.
Mengingat kematian akan memutuskannya dari semua kenikmatan itu, menjaga benteng hati kita agar terhindar dari sikap terperdaya oleh gemerlap kemewahan dunia yang fana.
Bahkan saat kesempitan hidup dan ujian menimpa, mengingat kematian justru akan memudahkan kita untuk bersabar, sebab kita sangat sadar bahwa kesusahan di dunia ini sesungguhnya tidaklah kekal.
Marilah kita bangkitkan kesadaran rohani kita mulai hari ini, dan kita jadikan realitas kematian sebagai penasihat terdekat dalam mengambil setiap keputusan hidup.
Ya Allah, karuniakanlah kepada kami hati yang senantiasa terpaut pada akhirat, jauhkanlah kami dari cinta dunia yang membutakan, dan matikanlah kami dalam keadaan husnul khatimah.
Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
3. Ceramah Tentang Kepastian yang Meruntuhkan Kesombongan
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Segala puji bagi Allah Rabbul 'alamin. Selawat serta salam senantiasa tercurah kepada nabi akhir zaman, Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, beserta keluarga dan para sahabatnya.
Hadirin jamaah kaum muslimin yang dirahmati dan dimuliakan Allah.
Sudah menjadi sunnatullah yang tak bisa diubah bahwa setiap makhluk yang bernyawa pasti akan mati, hanya saja tidak ada satu pun di antara kita yang mengetahui kapan kematian itu akan datang.
Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menegaskan kepastian ini di dalam Al-Qur'an agar manusia senantiasa mawas diri:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ
Firman Allah tersebut memiliki arti yang jelas, "Setiap jiwa pasti akan merasakan mati...".
Imam al-Qurthubi di dalam kitabnya mengutip hikmah dari Khalifah Umar bin Khaththab Radhiyallahu 'Anhu yang sering menjadikan syair-syair pengingat kematian sebagai teguran.
Umar menyenandungkan bait yang mengingatkan bahwa perbendaharaan harta milik penguasa Hurmuz sekalipun tidak bisa memberi manfaat kepadanya walau hanya untuk memperpanjang usia satu hari.
Bahkan sekelas Nabi Sulaiman 'Alaihis Salam yang mampu menundukkan angin, jin, dan manusia pun tidak luput dari kematian yang pasti akan menghampirinya.
Apabila sudah jelas keterangan di atas, ketahuilah bahwa mengingat mati sejatinya mewariskan rasa gelisah terhadap dunia yang fana ini dan memusatkan pikiran ke akhirat.
Semua umat telah sepakat secara konsensus bahwa kematian itu tidak mempunyai batasan umur yang diketahui dan tidak pula zaman yang diketahui secara pasti.
Oleh karena itu, janganlah menunda-nunda tobat hanya dengan alasan fisik masih muda atau raga masih sehat, karena maut tidak pernah menunggu kesiapan manusia.
Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami ampunan-Mu sebelum maut benar-benar menjemput, rahmatilah raga kami saat sakaratul maut tiba, dan masukkanlah kami ke dalam surga-Mu yang luas.
Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
4. Ceramah Tentang Muhasabah Orang yang Cerdas dan Lemah
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Alhamdulillahi wabihi nasta'in 'ala umuriddunya waddin, wassholatu wasshalamu 'ala rasululillah, wa 'ala alihi wasohbihi ajma'in.
Jamaah majelis ilmu yang amat dirindukan oleh rida Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Umat manusia di muka bumi ini terbagi menjadi dua sifat besar dalam mengelola umurnya: mereka yang sadar akan waktu dan mereka yang tertipu oleh angan-angannya.
Sahabat Syaddad bin Aus Radhiyallahu 'Anhu meriwayatkan sebuah sabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam yang menampar relung batin kita:
الكَيْسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسِهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ
Rasulullah bersabda, "Orang yang cerdas adalah yang menghitung dirinya dan beramal untuk masa setelah mati, dan orang yang lemah adalah yang jiwanya mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan kepada Allah SWT."
Di dalam terjemahan buku Imam al-Qurthubi, beliau menukil penjelasan dari Abu Ubaid yang mengupas lebih dalam makna dari kata menghitung atau menghinakan diri tersebut.
Maksud sebenarnya adalah ia menghinakan dirinya di dunia dalam beribadah kepada Allah sebagai amal persiapannya kelak setelah mati.
Seorang mukmin yang peka akan menghisab amal perbuatannya di masa lalu, lalu cepat-cepat menggantikannya dengan amal shalih sebagai penebus kesalahannya.
Sebaliknya, orang yang lemah adalah orang yang penuh kekurangan dalam ibadah, patuh pada hawa nafsunya, namun terus saja berangan-angan kepada Allah agar mengampuninya.
Ini adalah bentuk kelalaian yang fatal, sesungguhnya Allah telah menyuruh dan melarangnya dengan aturan yang jelas, namun orang ini tetap menjadi hamba yang terperdaya.
Mari kita tanyakan ke dalam batin masing-masing, apakah perilaku kita sejalan dengan pinta lisan kita yang senantiasa memohon surga Firdaus setiap selesai salat?
Mari kita menjadi pribadi yang terus menghisab diri sendiri dan berzikir di setiap tarikan napas sebagai wujud keseriusan kita membekali diri sebelum dipanggil-Nya.
Ya Rabbul 'izzati, berikanlah kami hidayah untuk menundukkan hawa nafsu kami, dan berikanlah pertolongan agar kami mampu memperbanyak kebaikan guna menatap hari pembalasan kelak.
Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
5. Ceramah Tentang Bahaya Panjang Angan-Angan
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Segala puji bagi Allah, Dzat yang menghidupkan dan mematikan. Selawat serta salam mari senantiasa kita curahkan kepada teladan agung kita, Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam.
Jamaah kaum muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah.
Satu dari sekian banyak penyakit hati yang paling efektif menghapus ingatan tentang kematian adalah penyakit menumpuk harapan atau panjang angan-angan terhadap kenikmatan dunia.
Mari kita perhatikan teguran keras dari Allah Subhanahu wa Ta'ala di dalam Al-Qur'an Surah Fushshilat ayat dua puluh tiga:
وَذَلِكُمْ ظَنُّكُمُ الَّذِي ظَنَنتُم بِرَبِّكُمْ أَرْدَاكُمْ فَأَصْبَحْتُم مِّنَ الْخَاسِرِينَ
Firman-Nya berarti, "Dan yang demikian itu adalah prasangkamu yang telah kamu sangka terhadap Rabbmu, prasangka itu telah membinasakan kamu, maka jadilah kamu termasuk orang-orang yang merugi."
Ulama besar Imam al-Qurthubi mencantumkan wejangan Al-Hasan al-Bashri, bahwa sesungguhnya ada suatu kaum yang dilalaikan oleh angan-angan, sehingga mereka keluar dari dunia tanpa membawa satu pun amal kebaikan.
Seringkali ketika diingatkan, kaum tersebut beralibi dengan mengatakan bahwa mereka sedang berbaik sangka kepada Tuhannya.
Padahal itu bohong belaka; jika seseorang benar-benar berbaik sangka atau husnuzan kepada Allah, tentu ia akan berusaha keras memperbaiki amal perbuatannya.
Sa'id bin Jubair ikut menasihati bahwa sikap terperdaya dengan Allah adalah ketika seseorang terus menerus melakukan kemaksiatan namun berangan-angan mendapat ampunan Allah tanpa penyesalan.
Kondisi orang-orang yang terlena dunia namun mengharap kemuliaan akhirat dengan amal yang buruk itu diibaratkan seperti seseorang yang memukul besi yang sudah dingin.
Semoga detik ini menjadi momen penting bagi kita untuk terbangun dari mimpi angan-angan yang merusak, dan bergegas merajut amal kebaikan siang dan malam.
Ya Allah Yang Maha Pengampun, lindungilah kami dari tipu muslihat dunia serta angan-angan kosong yang menyesatkan, dan luruskanlah jalan kami agar kembali kepada-Mu dalam ketaatan.
Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
6. Ceramah Tentang Kesepian di Alam Kubur yang Gelap
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Alhamdulillahi rabbil 'alamin. Asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadan 'abduhu wa rasuluh. Allahumma sholli 'ala sayyidina Muhammad wa 'ala alihi wa sohbihi ajma'in.
Bapak, Ibu, dan saudara-saudari sekalian yang semoga selalu dalam rida Allah.
Bila tiba saatnya nyawa berpisah dari raga, seluruh kebanggaan dan kekayaan yang melekat pada tubuh kita seketika akan terlepas dan tak ada harganya.
Allah Subhanahu wa Ta'ala mengingatkan orientasi hidup kita secara lugas dalam Surah Al-Qashash ayat tujuh puluh tujuh:
وَابْتَغِ فِيمَا ءَاتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الآخرة
Ayat tersebut bermakna, "Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat."
Dalam penafsiran Imam al-Qurthubi, beliau menegaskan bahwa sungguh hak seorang mukmin itu adalah memalingkan dunianya untuk sesuatu yang kelak berguna di akhirat, dan bukan untuk bersikap sombong serta zalim.
Coba pikirkan sejenak, apabila engkau telah dipindah dari tempat tidur yang luas ke liang lahad yang sempit, segala kerabat, sahabat, dan rekan kerjamu akan berbalik mengkhianatimu dan meninggalkanmu sendirian.
Di kuburan itu, mereka perlahan akan menutupi tubuhmu dengan gundukan tanah basah, padahal sebelumnya selama di dunia engkau selalu terbiasa diselimuti oleh kain-kain sutra yang lembut.
Wahai manusia yang terus mengumpulkan harta dan bersusah payah merenovasi bangunan rumah, sadarilah bahwa sejatinya tidak ada sesuatu pun untukmu di sana selain balutan kain kafan putih.
Lalu di manakah harta yang bertahun-tahun engkau kumpulkan? Mampukah setumpuk uang tersebut menyelamatkan dirimu dari huru-hara alam kubur?
Maka dari itu, ringankanlah tangan kita untuk berbagi, salurkan titipan kekayaan yang ada pada jalan dakwah dan sedekah sebelum semuanya tak lagi bisa dijangkau oleh raga.
Ya Allah, berikanlah cahaya pelita dalam kubur kami kelak dengan amalan saleh kami, dan jadikanlah peristirahatan kami kelak sebagai sebagian dari taman-taman surga-Mu.
Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
7. Ceramah Tentang Kemuliaan Mengingat Kematian
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Segala puji mutlak milik Allah Azza wa Jalla. Selawat beriring salam semoga terus terlimpah kepada junjungan mulia umat, Nabi besar Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam.
Jamaah sekalian yang amat dicintai oleh Allah.
Isu mengenai maut seringkali dihindari karena dianggap menakutkan, padahal mengingatnya justru akan memompa energi spiritual yang sangat dibutuhkan oleh jiwa seorang mukmin agar tidak tersesat.
Mari kembali kita ingat sabda pencerah dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam tentang ciri insan terbaik di sisi Tuhan:
أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا، أُولَئِكَ الْأَكْيَاسُ
Sabda tersebut diterjemahkan, "Yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik mempersiapkan diri untuk sesudah kematian itu, mereka itulah orang-orang yang cerdas. "
Dalam kitab at-Tadzkirah, seorang ulama masyhur bernama Ad-Daqqaq menguraikan keutamaan luar biasa bagi orang yang menjaga tradisi batin ini.
Menurut beliau, barangsiapa yang benyak mengingat mati, maka ia akan diberi kemuliaan besar dengan tiga perkara: ia akan segera bertaubat, hatinya bersifat qana'ah, dan badannya menjadi rajin dalam beribadah.
Berbanding terbalik bagi mereka yang sengaja lupa terhadap maut; orang itu akan disiksa hatinya dengan tabiat menunda-nunda taubat, tidak pernah ridha dengan hartanya, dan diselimuti kemalasan dalam ibadah.
Wahai jamaah sekalian, kematian itu sungguh merupakan sebuah janji yang pasti benar dan ia akan menjadi hakim pelerai yang sangat adil.
Karena itu, beranikanlah diri kita meneteskan air mata taubat pada keheningan malam, mohonkanlah rida-Nya sebelum napas ditarik kembali ke haribaan Ilahi.
Jadikan lisan yang basah oleh zikir kematian sebagai perisai dari tamaknya hati demi kedamaian batin kita sendiri.
Ya Allah, anugerahkanlah kepada nurani kami sifat qana'ah, kuatkanlah fisik kami dalam melaksanakan perintah-Mu, dan terimalah peluh kesah tobat kami di sisa umur ini.
Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Pertanyaan Seputar Topik
Apa kata Rasulullah tentang kematian?
“Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda: “Jika manusia itu meninggal dunia, maka terputus amalnya kecuali tiga hal, sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Abu Daud, At-Tirmidzi, An-Nasa'i).
Apa kata Alquran tentang kematian?
"Janganlah kamu menduga bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, tetapi mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki" (Q.S. Ali-'Imran: 169).
Bagaimana cara menerima kematian sebagai bagian dari kehidupan?
Anda dapat melakukan ini dengan menerima dan mengakui bahwa kematian hanyalah bagian lain dari siklus kehidupan . Ketika Anda berpikir positif tentang kematian, Anda dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti dampak seperti apa yang ingin Anda tinggalkan di dunia. Anda dapat mempertimbangkan warisan apa yang ingin Anda tinggalkan.
Cukuplah kematian sebagai nasehat hadits?
Kajian Hadits Pengingat Tentang Kematian. “Perbanyaklah mengingat penghancur kelezatan, yaitu kematian.” (HR. Tirmidzi). “Cukuplah kematian itu sebagai pemberi peringatan.” Dengan mengingat kematian, kita akan terdorong untuk beramal saleh dan berhenti dari perbuatan maksiat.
Apa ciri-ciri orang mendekati ajal?
Tanda-Tanda Orang Mau Meninggal Dunia Secara Fisik dan MentalPenurunan tingkat kesadaran. Orang yang mendekati ajal biasanya tidur lebih lama dan terasa sulit dibangunkan. ...Penurunan nafsu makan dan minum. ...Fluktuasi tanda-tanda vital. ...6. Kelemahan fisik yang menyeluruh. ...7. Perubahan mental dan kebingungan.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5001890/original/093250500_1731385093-pakaian-ihram-bagi-laki-laki-adalah.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4480657/original/067372600_1687701903-person-ready-eat.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3137814/original/077843300_1590576336-sim-card-4475643.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4861241/original/046142300_1718179339-raka-dwi-wicaksana-Jbk_Tce8Z1U-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4824122/original/040369300_1715055236-ekrem-osmanoglu-WRbNWOMA-Xk-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5417163/original/082965300_1763523452-Ilustrasi_Haji.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5224221/original/059410800_1747625553-WhatsApp_Image_2025-05-19_at_09.44.26.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4863721/original/068009200_1718356035-20240614-Jamaah_Haji_di_Mina-AP_4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5403225/original/009668300_1762321820-Hajar_Aswad.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4481407/original/082543500_1687764700-_Jemaah_Haji_Hadapi_Cuaca_Panas_yang_Menyengat_di_Tanah_Suci-AFP__6_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-gray-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/2796590/original/052296600_1557042788-20190505_144552.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4437264/original/001657600_1684817338-izuddin-helmi-adnan-JFirQekVo3U-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4841759/original/035167100_1716551777-538281-17165404037598-berita.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5378584/original/033747300_1760257934-unnamed__52_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2876075/original/030089700_1565230144-20190807-Masjidil-Haram-Dipadati-Jemaah-Jelang-Puncak-Haji-AFP-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5533779/original/098475800_1773775028-unnamed__98_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1632447/original/056755900_1498200692-20170623-Salat-Jumat-Terakhir-Ramadan-Afandi-4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5163744/original/091320600_1742047214-pexels-rdne-7249191.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5473943/original/060119400_1768461944-klaim_purbaya_temukan_data_uang_jokowi.jpg)







:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3977835/original/066021800_1648524608-pexels-ahmed-aqtai-2233416_1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5469781/original/030433100_1768183342-Isra_Miraj_2026.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4735410/original/014374300_1707130221-10217582.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1575221/original/040400200_1492996168-islamicitydotorg.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5456521/original/033087800_1766898100-Gemini_Generated_Image_xyevcgxyevcgxyev_2.png)