Apa Arti Birrul Walidain? Simak Pengertian, Dalil, Hukum hingga Implementasinya

3 days ago 8

Liputan6.com, Jakarta - Apa arti birrul walidain kerap menjadi pertanyaan bagi umat Islam. Sebab, frasa ini sering menjadi topik penting yang dibahas, mulai dari hukum hingga praktik atau implementasinya.

Merujuk Jurnal Birrul Walidain: Tanggung Jawab Moral dan Spiritual dalam Kehidupan Sehari-hari karya Herman, berbakti kepada orang tua atau birrul walidain merupakan ajaran inti dalam Islam yang menekankan pentingnya menghormati, mencintai, dan menaati kedua orang tua. Kewajiban ini tidak hanya bersifat moral, tetapi juga religius, dimana ridha Allah sangat terkait dengan ridha orang tua.

Pentingnya birrul walidain disebut dalam Al-Qur'an, “Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua.” (QS. Al-Isra’: 23)

Ayat ini menunjukkan agungnya hak orang tua dalam Islam. Allah menggandengkan perintah beribadah hanya kepada-Nya dengan perintah berbuat baik kepada orang tua, sebagai isyarat bahwa hak orang tua begitu besar, karena disebut setelah hak Allah.

Artikel ini akan menguraikan arti birrul walidain, dalil, hukum hingga implementasinya, merujuk studi ilmiah yang merujuk literatur klasik dan kontemporer.

Apa Arti Birrul Walidain?

Konsep Birrul Walidain menjadi fondasi spiritual yang menempatkan penghormatan kepada orang tua sebagai salah satu amal tertinggi dalam Islam. 

Masih merujuk jurnal yang sama, secara terminologi dan etimologi, Birrul Walidain memiliki makna yang sangat luas. Secara bahasa, birrul berasal dari kata al-birr yang berarti kebaikan, ketaatan, kebenaran, dan kesalehan. Sementara walidain adalah bentuk jamak dari walid (ayah) dan walidah (ibu).

Dengan demikian, birrul walidain secara istilah diartikan sebagai berbuat baik, berbakti, dan taat kepada kedua orang tua (Al-Munawwir, 1997).

Menurut Imam Hasan al-Bashri, berbakti kepada orang tua berarti mentaati semua perintah mereka selama tidak bertentangan dengan syariat Allah (Majdi Fathi Sayyid, 1998).

Dalam pandangan Herman (2025), Birrul Walidain adalah tanggung jawab moral dan spiritual yang mencakup niat batin dan tindakan nyata untuk menghormati serta membantu orang tua dalam kehidupan sehari-hari. Sementara, menurut Wahbah Az-Zuhaili, al-birru mencakup segala bentuk kebaikan yang menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, termasuk iman dan amal saleh.

Dalil Birrul Walidain dalam Al-Qur'an dan Statusnya dalam Islam

Merujuk jurnal Hadits tentang Anjuran Berbakti kepada Kedua Orang Tua, oleh Marlina, dalil mengenai birrul walidain terdapat dalam Al-Qur'an dan disebut dalam cukup banyak hadis.

Allah berfirman dalam QS. Al-Isra’ ayat 23:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

Artinya:“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua.”

Ayat ini sering disandingkan dengan perintah beribadah kepada Allah, menegaskan bahwa berbakti kepada orang tua adalah kewajiban yang sangat penting, dan bahkan disebut setelah kewajiban terhadap Allah SWT.

Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan agungnya hak orang tua dalam Islam. Allah menggandengkan perintah beribadah hanya kepada-Nya dengan perintah berbuat baik kepada orang tua, sebagai isyarat bahwa hak orang tua adalah hak terbesar setelah hak Allah.

Ibnu Katsir menafsirkan kata "إِحْسَانًا" (ihsanan) sebagai:

  • Ketaatan dan pelayanan kepada orang tua selama hidup
  • Berbakti dengan lemah lembut, tidak menyakiti dengan perkataan maupun perbuatan
  • Menjaga hak mereka meskipun mereka telah meninggal, dengan mendoakan, memohonkan ampun, dan menghormati hubungan kekerabatan mereka.

Ibnu Katsir juga mengutip hadits yang menyebutkan bahwa ridha Allah bergantung pada ridha orang tua, menegaskan bahwa durhaka kepada orang tua termasuk dosa besar yang disegerakan hukumannya di dunia.

Dalam Tafsir Al-Azhar , Buya Hamka menjelaskan bahwa setelah kewajiban tauhid, kewajiban paling utama bagi manusia adalah berbakti kepada orang tua sebagai bentuk syukur atas perantara keberadaan manusia di dunia.

Dalil Birrul Walidain dalam Hadis

Hadits tentang Keutamaan Ibu dalam Berbakti

Salah satu hadits paling terkenal yang menjadi landasan utama dalam berbakti kepada orang tua adalah:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قَالَ: أُمُّكَ. قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: أُمُّكَ. قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: أُمُّكَ. قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: أَبُوكَ.

Artinya:“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan bertanya, ‘Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak aku berbakti kepadanya?’ Nabi menjawab, ‘Ibumu.’ Dia bertanya lagi, ‘Kemudian siapa?’ Nabi menjawab, ‘Ibumu.’ Dia bertanya lagi, ‘Kemudian siapa?’ Nabi menjawab, ‘Ibumu.’ Dia bertanya lagi, ‘Kemudian siapa?’ Nabi menjawab, ‘Kemudian ayahmu.’”(HR. Bukhari dan Muslim).

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa penyebutan ibu sebanyak tiga kali menunjukkan keistimewaan dan kemuliaan ibu dalam Islam. Menurutnya, ibu mengalami tiga fase kesulitan besar: mengandung, melahirkan, dan menyusui.

Sementara peran ayah tidak kalah penting, terutama dalam pendidikan dan nafkah, namun secara khusus pengorbanan fisik dan emosional ibu lebih ditekankan (Al-Hafizh Zakiyyuddin, 1998).

Selain itu, Rasulullah juga bersabda mengenai dampak birrul walidain:

رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدَيْنِ، وَسَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِدَيْنِ

Artinya:“Ridha Allah tergantung pada ridha kedua orang tua, dan murka Allah tergantung pada murka kedua orang tua.”(HR. Tirmidzi, Ibnu Hibban, Hakim).

Hukum Berbakti kepada Orang Tua

Para ulama sepakat bahwa birrul walidain hukumnya fardhu ‘ain (wajib bagi setiap muslim), baik orang tua muslim maupun non-muslim, selama tidak memerintahkan kemaksiatan kepada Allah.

Imam Nawawi dalam Riyadhus Shalihin menegaskan bahwa durhaka kepada orang tua termasuk dosa besar dan balasannya dipercepat di dunia maupun akhirat.

Allah menyandingkan perintah menyembah-Nya dengan perintah berbuat baik kepada orang tua dalam QS. Al-Isra' ayat 23. Ayat ini melarang keras perkataan kasar (seperti "ah") dan memerintahkan penggunaan tutur kata yang mulia.

Dalam QS. Al-Ankabut ayat 8 dan QS. Al-Ahqaf ayat 15, Allah memberikan wasiat langsung kepada manusia agar senantiasa berbuat baik (ihsan) kepada ibu dan bapaknya.

Berbakti kepada orang tua merupakan amalan yang kedudukannya disetarakan dengan shalat pada waktunya dan jihad di jalan Allah.

Bentuk-Bentuk Berbakti kepada Orang Tua

Berdasarkan kajian hadits dan ulama, berikut adalah bentuk-bentuk bakti yang dapat dilakukan:

  • Bergaul dengan baik: Berbicara lembut, tidak meninggikan suara, dan tidak memotong pembicaraan.
  • Menaati perintah: Selama tidak bertentangan dengan syariat.
  • Memberi nafkah: Baik ketika diminta maupun tidak.
  • Mendoakan: Khususnya doa:
  • رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا“Ya Allah, sayangilah mereka berdua sebagaimana mereka menyayangiku di waktu kecil.”
  • Merawat di masa tua: Menjaga, mengobati, dan menghormati mereka.
  • Melanjutkan silaturahmi dan memuliakan sahabat mereka setelah wafat.

Birrul Walidain dalam Konteks Modern

Di era modern yang penuh dengan kesibukan dan sikap individualisme, penerapan Birrul Walidain menghadapi tantangan tersendiri. Implementasinya meliputi:

  • Manajemen Komunikasi: Menjaga komunikasi yang santun dan perhatian di tengah kesibukan pekerjaan.
  • Dukungan Fisik dan Emosional: Memastikan kebutuhan orang tua terpenuhi, terutama saat mereka memasuki usia lanjut, baik secara finansial maupun kehadiran batin.
  • Menjaga Nama Baik: Berperilaku baik di masyarakat agar menjadi kebanggaan bagi orang tua dan menjaga kehormatan keluarga.
  • Investasi Spiritual: Memahami bahwa berbakti kepada orang tua adalah sarana untuk mendapatkan keberkahan hidup dan kebahagiaan hakiki di tengah tekanan dunia modern.

Berbakti kepada Orang Tua yang Sudah Meninggal

Birrul walidain bukan hanya sekadar tradisi atau adab, melainkan kewajiban ibadah yang memiliki dasar kuat dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Ibu memiliki kedudukan khusus karena pengorbanan fisik dan emosionalnya, namun bakti kepada ayah tetap wajib.

Meskipun orang tua telah wafat, kewajiban Birrul Walidain tidaklah terputus. Berdasarkan literatur hadits dan penjelasan dalam jurnal Marlina (2024):

  • Mendoakan: Senantiasa memohonkan ampunan (istighfar) dan rahmat bagi mereka di setiap kesempatan.+1
  • Menunaikan Wasiat: Melaksanakan janji atau wasiat yang belum sempat mereka tunaikan semasa hidup.
  • Memuliakan Sahabat Mereka: Menjalin silaturahmi dan berbuat baik kepada teman-teman serta kerabat dekat orang tua.
  • Menyambung Silaturahmi Keluarga: Menjaga hubungan baik dengan kerabat yang garis keturunannya hanya terhubung melalui ayah atau ibu.

People also Ask:

Apa artinya dari birrul walidain?

Secara istilah, birrul walidain adalah berbakti, taat, berbuat ihsan, memelihara keduanya, memelihara dimasa tua, tidak boleh bersuara keras apalagi sampai menghardik mereka, mendoakan keduanya lebih-lebih setelah wafat, dan sebagainya, termasuk sopan santun yang semestinya terhadap kedua orang tua.

Apa saja contoh birrul walidain?

Birrul Walidain: Pengertian, Dalil, Keutamaan, dan Contoh ...Contoh birrul walidain (berbakti kepada orang tua) meliputi berbicara sopan, membantu pekerjaan rumah, merawat saat sakit/tua, mendoakan, mematuhi perintah yang baik, menjaga nama baik, dan menjalin silaturahmi dengan kerabat mereka, baik saat orang tua masih hidup maupun setelah meninggal dunia, sebagai wujud kasih sayang dan penghormatan.

Arti Nama birrul walidain?

Birrul walidain (berbakti kepada kedua orang tua) merupakan salah satu ajaran Islam yang utama dan tindakan yang mulia.

Kapan waktu sholat birrul walidain?

Sholat birrul walidain dilaksanakan sebanyak 2 rakaat setiap malam Kamis, setelah sholat Maghrib hingga Isya.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |