Ayat Al Quran tentang Menuntut Ilmu dalam Islam untuk Mencari Pengetahuan

3 months ago 98

Liputan6.com, Jakarta Dalam Islam, mereka yang mencari pengetahuan mendapat kedudukan yang sangat mulia. Hal ini diterangkan dalam berbagai ayat Al Quran tentang menuntut ilmu, yang menjadi landasan fundamental yan mencorong umat muslim untuk terus belajar dan mengembangkan diri. Al Quran sebagai kitab suci tidak hanya mengandung petunjuk, namun juga memberikan motivasi luar biasa untuk menggali berbagai ilmu pengetahuan.

Betapa pentingnya menuntut ilmu dalam Islam tercermin dalam banyaknya ayat Al Quran tentang menuntut ilmu yang tersebar dalam berbagai surat. Ayat-ayat ini tidak hanya memerintahkan untuk mencari ilmu, tapi juga menjelaskan keutamaan, adab, dan tujuan yang benar dalam menuntut ilmu. Allah SWT juga memberikan kedudukan istimewa bagi mereka yang berilmu.

Untuk memahami dan mengamalkan ayat Al Quran tentang menuntut ilmu yang memotivasi, berikut ini telah Liputan6 rangkum informasi lengkapnya, pada Selasa (25/11).

Keutamaan dan Kedudukan Tinggi Orang Berilmu

Dalam Al Quran telah ditegaskan bahwa Allah SWT meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan berilmu. Hal ini dijelaskan dalam surat Al Mujadalah ayat 11 yang berbunyi:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ انشُزُوا فَانشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

"Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: 'Berlapang-lapanglah dalam majelis', maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: 'Berdirilah kamu', maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Mujadalah: 11)

Ayat ini menunjukan bahwa orang yang beriman dan berilmu akan mendapatkan kedudukan istimewa di sisi Allah SWT, mereka tidak hanya diangkat derajatnya di dunia, tetapi juga di akhirat. Kata ‘derajat’ ini mengindikasikan tingkatan yang bertingkat-tingkat, menunjukan bahwa semakin dalam ilmu seseorang, semakin tinggi pula kedudukan nya.

Dalam surat Ali Imran ayat 18 yang mana telah disebutkan bahwa Allah SWT menyebutkan orang-orang berilmu sebagai saksi keesaan-Nya:

شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ ۚ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

"Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS. Ali Imran: 18)

Ayat ini menempatkan orang berilmu sejajar dengan malaikat sebagai saksi keesaan Allah SWT, yang menunjukan kedudukan yang mulia. Orang berilmu adalah mereka yang mampu melihat tanda-tanda kekuasaan Allah SWT melalui ilmu yang mereka miliki.

Di lain surat juga dijelaskan tentang hubungan keilmuan dan ketaatan yang erat, tepatnya dalam surat Al Fathir ayat 28:

وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ وَالْأَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ كَذَٰلِكَ ۗ إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ

"Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun." (QS. Al-Fathir: 28)

Dalam ayat ini dijelaskan bahwa semakin dalam ilmu seseorang tentang ciptaan Allah, semakin bertambah pula rasa takutnya kepada Allah SWT. Para ulama yang berilmu tinggi adalah mereka yang paling takut kepada Allah SWT karena mereka lebih memahami keagungan-Nya.

Perintah Membaca dan Belajar sebagai Dasar Menuntut Ilmu

Wahyu pertama yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW adalah perintah yang menerangkan untuk umat muslim membaca dan menuntut ilmu, hal ini sebagaimana tercantum dalam Surat Al Alaq ayat 1 sampai 5:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5)

"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan qalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya." (QS. Al-'Alaq: 1-5)

Dalam ayat ini menunjukan pentingnya membaca pintu gerbang ilmu pengetahuan. Allah SWT juga menyebutkan dirinya sebagai Yang Maha Pemurah (Al Akram) setelah menyebutkan perintah membaca, mengindikasikan bahwa kemurahan Allah salah satunya diwujudkan melalui pemberian ilmu kepada manusia.

Tidak hanya perintah untuk menuntut ilmu dan kebaikannya. Allah SWT juga mengajarkan doa untuk menambah ilmu dalam surat Thaha ayat 144, berikut ini:

فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ ۗ وَلَا تَعْجَلْ بِالْقُرْآنِ مِن قَبْلِ أَن يُقْضَىٰ إِلَيْكَ وَحْيُهُ ۖ وَقُل رَّبِّ زِدْنِي عِلْمًا

"Maka Maha Tinggi Allah Raja Yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al-Qur'an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu, dan katakanlah: 'Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.'" (QS. Thaha: 114)

Ayat ini juga mengajarkan pentingnya bersabar dalam menuntut ilmu dan tidak tergesa-gesa. Dalam ayat lainnya Allah juga menjelaskan tujuan diturunkan Al Quran untuk menyebarkan ilmu baik kepada umat manusia, hal ini dijelaskan dalam surat Shad ayat 29:

كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

"Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran." (QS. Shad: 29)

Ayat ini juga menekankan pentingnya tadabbur (perenungan mendalam) terhadap ayat-ayat Al Quran. Orang-orang yang berakal adalah mereka yang mampu mengambil pelajaran dan hikmah dari ayat-ayat Allah SWT.

Ilmu sebagai Anugerah dan Amanah dari Allah SWT

Al Quran dalam ayat-ayatnya menjelaskan bahwa semua ilmu pada hakikatnya berasal dari Allah SWT, hal ini tepatnya dijelaskan dalam surat Al Baqarah ayat 255, dimana Allah berfirman:

وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ

"Dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya." (QS. Al-Baqarah: 255)

Ayat ini menunjukan bahwa ilmu manusia sangat terbatas jika dibandingkan dengan ilmu Allah SWT. Segala ilmu yang dimiliki manusia adalah pemberian dan kehendak Allah SWT semata. Hal ini mengajarkan umat muslim untuk memiliki sikap rendah hati dalam menuntut ilmu dan tidak sombong dengan ilmu yang dimiliki.

Di lain ayat terdapat juga kisah Nabi Musa AS dan Nabi Khidir dalam surat Al Kahf ayat 65, yang menjelaskan:

فَوَجَدَا عَبْدًا مِّنْ عِبَادِنَا آتَيْنَاهُ رَحْمَةً مِّنْ عِندِنَا وَعَلَّمْنَاهُ مِن لَّدُنَّا عِلْمًا

"Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba dari hamba-hamba Kami yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami." (QS. Al-Kahf: 65)

Ayat dan surat ini menunjukan bahwa ada ilmu yang diberikan Allah SWT secara langsung kepada hamba-Nya yang terpilih, yang dikenal sebagai ‘ilmu laduni’. Hal ini menunjukan bahwa ilmu yang sejati adalah ilmu yang datang dari Allah SWT.

Selain itu, terdapat juga penjelasan dalam surat Yusuf ayat 22, dimana Allah SWT menceritakan tentang pemberian ilmu kepada Nabi Yusuf AS, yang berbunyi:

وَلَمَّا بَلَغَ أَشُدَّهُ آتَيْنَاهُ حُكْمًا وَعِلْمًا ۚ وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ

"Dan tatkala dia telah cukup dewasa, Kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik." (QS. Yusuf: 22)

Ayat ini menunjukan bahwa Allah memberikan ilmu dan hikmah kepada hamba-Nya yang berbuat baik. Ilmu dan hikmah adalah karunia Allah yang diberikan kepada orang-orang pilihan.

Etika dan Motivasi dalam Menuntut Ilmu

Dalam menuntut ilmu, Al Quran juga mengajarkan adab dan etika yang harus dijaga selama prosesnya. Hal ini dijelaskan dalam surat Al Kahf ayat 66, dikisahkan bagaimana Nabi Musa AS meminta izin untuk belajar kepada Khidir, berikut lengkapnya:

قَالَ لَهُ مُوسَىٰ هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰ أَن تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا

"Musa berkata kepadanya: 'Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar yang telah diajarkan kepadamu?'" (QS. Al-Kahf: 66)

Ayat ini juga menunjukan sikap rendah hati dan sopan yang harus dimiliki oleh seorang pencari ilmu. Meskipun Nabi Musa AS adalah seorang nabi yang mulia, ia tetap bersikap humble ketika meminta untuk belajar. Ini mengajarkan bahwa dalam menuntut ilmu, tidak ada yang terlalu tinggi atau terlalu rendah untuk belajar dari orang lain.

Islam juga sangat menekankan pentingnya mempelajari agama secara mendalam. Hal ini terdapat dalam surat Al Taubah ayat 122 yang berbunyi:

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنفِرُوا كَافَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَائِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

"Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya." (QS. At-Tawbah: 122)

Ayat ini menjelaskan pentingnya tafaqquh fi ad-din (pendalaman ilmu agama). Sebagian umat Islam harus mengkhususkan diri untuk mempelajari diri untuk mempelajari agama secara mendalam agar dapat mengajarkan dan memberikan peringatan kepada yang lain.

Dalam bagian Al Quran yang lain, tepatnya pada Surat Al Ankabut ayat 43, Allah SWT menjelaskan bahwa hanya orang yang berilmu yang bisa memahami perumpamaan-Nya. Berikut bunyi ayatnya:

وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ ۖ وَمَا يَعْقِلُهَا إِلَّا الْعَالِمُونَ

"Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu." (QS. Al-Ankabut: 43)

Ayat ini menunjukan bahwa ilmu merupakan kemampuan yang penting untuk bisa memahami makna-makna yang dalam dan perumpamaan-perumpamaan Allah SWT. Tanpa ilmu, seseorang tidak akan mampu menangkap hikmah dan pelajaran yang terkandung dalam ayat-ayat Allah SWT.

Tanya Jawab (Q&A)

A: Islam menekankan pentingnya menuntut ilmu karena ilmu adalah kunci untuk mengenal Allah SWT dan memahami tujuan penciptaan manusia. Dengan ilmu, manusia dapat menjalankan tugasnya sebagai khalifah di bumi dengan baik, membedakan antara yang haq dan bathil, serta meningkatkan kualitas ibadah dan kehidupannya. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Mujadalah: 11 yang meninggikan derajat orang berilmu.

Q: Apakah ada perbedaan antara ilmu agama dan ilmu dunia dalam Islam?

A: Dalam perspektif Islam, tidak ada dikotomi yang kaku antara ilmu agama dan ilmu dunia. Semua ilmu yang bermanfaat dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam adalah baik untuk dipelajari. Yang penting adalah niat dan tujuan mempelajari ilmu tersebut harus untuk mencari ridha Allah dan kemaslahatan umat. Sebagaimana dalam QS. Al-'Alaq: 1-5, perintah membaca mencakup semua ilmu yang bermanfaat.

A: Motivasi menuntut ilmu dapat diperoleh dengan merenungkan ayat-ayat Al-Qur'an tentang keutamaan ilmu, seperti QS. Thaha: 114 yang mengajarkan doa meminta tambahan ilmu. Selain itu, ingatlah bahwa menuntut ilmu adalah ibadah, dan Allah akan meninggikan derajat orang yang berilmu. Bergaullah dengan orang-orang yang berilmu dan selalu berdoa kepada Allah untuk diberikan kemudahan dalam menuntut ilmu.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |