Bacaan Niat Puasa Syawal dan Qadha Ramadan, Berikut Ketentuan Lengkapnya

19 hours ago 6
  • Kapan waktu terbaik untuk melaksanakan puasa Syawal?
  • Apakah niat puasa qadha Ramadan harus dilafalkan pada malam hari?
  • Bolehkah menggabungkan niat puasa Syawal dan qadha Ramadan?

Baca artikel ini 5x lebih cepat

Liputan6.com, Jakarta - Bulan Syawal menjadi momen penting bagi umat Muslim untuk melanjutkan ibadah setelah Ramadan, salah satunya dengan menunaikan puasa sunnah Syawal. Puasa ini menawarkan keutamaan pahala yang besar, seolah berpuasa setahun penuh, sehingga banyak umat Muslim berlomba-lomba melaksanakannya.

Di sisi lain, bagi sebagian umat Muslim yang memiliki utang puasa Ramadan karena alasan syar'i, kewajiban qadha puasa menjadi prioritas yang harus segera ditunaikan. Puasa qadha ini hukumnya wajib dan harus diselesaikan sebelum Ramadan berikutnya tiba.

Seringkali muncul pertanyaan mengenai tata cara pelaksanaan kedua puasa ini, terutama terkait bacaan niat puasa Syawal dan qadha Ramadan, serta waktu pelaksanaan keduanya. Artikel ini akan mengulas tuntas panduan niat dan hukum penggabungan kedua puasa tersebut berdasarkan pandangan ulama.

Keutamaan dan Waktu Pelaksanaan Puasa Syawal

Puasa Syawal merupakan ibadah sunnah yang sangat dianjurkan dalam Islam, dilaksanakan selama enam hari di bulan Syawal, yaitu bulan setelah Ramadan. Keutamaan puasa ini sangat besar, di mana seseorang yang berpuasa Ramadan kemudian melanjutkannya dengan enam hari puasa Syawal akan mendapatkan pahala seperti berpuasa setahun penuh. 

Keutamaan tersebut didasarkan pada hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitabnya Shahih Muslim. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barang siapa berpuasa Ramadan kemudian diikuti dengan enam hari dari bulan Syawal, maka seakan-akan ia berpuasa sepanjang tahun.”(HR. Muslim, No. 1164)

Hadis ini menjelaskan bahwa pahala puasa Ramadan (setara 10 bulan) ditambah enam hari puasa Syawal (setara 2 bulan) akan menyempurnakan ganjaran seperti berpuasa selama satu tahun penuh. Puasa Syawal juga berfungsi sebagai penyempurna ibadah Ramadan, mirip salat sunnah rawatib yang menyempurnakan salat fardu. 

Selain itu, puasa ini membantu menjaga konsistensi ibadah setelah Ramadan dan sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat Allah SWT. Pelaksanaan puasa Syawal dapat dimulai setelah Hari Raya Idul Fitri, yaitu pada tanggal 2 Syawal, karena berpuasa pada 1 Syawal diharamkan.

Fleksibilitas menjadi ciri khas puasa Syawal; bisa dilakukan secara berurutan selama enam hari atau secara terpisah selama masih dalam bulan Syawal. Penting bagi umat Muslim untuk memahami waktu yang tepat serta keutamaan yang terkandung dalam puasa Syawal ini agar dapat meraih pahala maksimal.

Bacaan Niat Puasa Syawal yang Benar

Melafalkan niat puasa Syawal adalah bagian penting dari ibadah ini, meskipun niat dalam hati sudah mencukupi. Terdapat beberapa versi bacaan niat puasa Syawal yang dapat diamalkan, tergantung pada waktu niat dilafalkan dan apakah puasa dilakukan secara berurutan atau tidak.

Untuk niat puasa Syawal yang dilafalkan pada malam hari dan tidak berurutan, bacaannya adalah: 

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ الشَّوَّالِ لِلّهِ تَعَالَى

Latinnya: "Nawaitu shauma ghadin 'an adâ'i sunnatis Syawwali lillahi ta'âlâ." 

Artinya: "Aku berniat puasa sunnah Syawal esok hari karena Allah."

Apabila ingin berpuasa Syawal secara berurutan selama enam hari dan niat dilafalkan pada malam hari, bacaannya adalah: 

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سِتَّةٍ مِنْ شَوَّالٍ للهِ تعالى

Latinnya: "Nawaitu shauma ghadin 'an adai sittatin min syawwal lillahi ta'ala." 

Artinya: "Saya niat puasa pada esok hari untuk menunaikan puasa sunah enam hari dari bulan Syawal karena Allah Ta'ala."

Bagi yang terlupa melafalkan niat di malam hari, niat puasa Syawal masih sah jika diucapkan pada siang hari, selama belum makan, minum, atau melakukan hal yang membatalkan puasa sejak subuh. Bacaannya adalah: 

نَوَيْتُ صَوْمَ هَذَا اليَوْمِ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ الشَّوَّالِ لِلهِ تَعَالَى

Latinnya: "Nawaitu shauma hâdzal yaumi 'an adâ'i sunnatis Syawwâli lillâhi ta'âlâ." 

Artinya: "Aku berniat puasa sunah Syawal hari ini karena Allah SWT."

Kewajiban dan Waktu Pelaksanaan Puasa Qadha Ramadan

Puasa qadha Ramadan adalah kewajiban mutlak bagi setiap Muslim yang tidak dapat menunaikan puasa wajib di bulan Ramadan karena alasan syar'i. Alasan tersebut meliputi sakit, bepergian (musafir), haid, nifas, atau uzur lainnya yang dibenarkan oleh syariat Islam. Kewajiban ini secara tegas disebutkan dalam Al-Qur'an Surah Al-Baqarah ayat 184.

“(Yaitu) beberapa hari tertentu. Maka, siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain. Bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin. Siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, itu lebih baik baginya dan berpuasa itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”

Ayat ini menjadi dasar bahwa orang yang memiliki uzur syar’i seperti sakit atau musafir diperbolehkan tidak berpuasa di bulan Ramadan, namun tetap wajib menggantinya di hari lain setelah Ramadan. Waktu pelaksanaan puasa qadha sangat fleksibel, dapat dilakukan kapan saja di luar bulan Ramadan, mulai dari bulan Syawal hingga sebelum Ramadan berikutnya tiba. 

Meskipun demikian, sangat dianjurkan untuk segera menunaikannya tanpa menunda-nunda. Dalam mazhab Syafi'i, qadha puasa Ramadan tetap diperbolehkan meskipun telah melewati tanggal 15 Sya'ban, berbeda dengan puasa sunnah tanpa sebab yang dilarang setelah pertengahan Sya'ban. Memahami kewajiban dan waktu pelaksanaan qadha Ramadan ini penting agar utang puasa dapat terlunasi sesuai syariat.

Bacaan Niat Puasa Qadha Ramadan

Berbeda dengan puasa sunnah, niat puasa qadha Ramadan yang merupakan puasa wajib memiliki ketentuan khusus terkait waktu pelafalannya. Niat puasa qadha harus dilakukan pada malam hari, yaitu sebelum fajar menyingsing atau sebelum waktu Subuh tiba.

Bacaan niat puasa qadha Ramadan adalah: 

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ لِلَّهِ تَعَالَى

Latinnya: "Nawaitu shauma ghadin 'an qadhā'i fardhi syahri Ramadhāna lillâhi ta'âlâ." 

Artinya: "Aku berniat untuk mengqadha puasa bulan Ramadhan esok hari karena Allah SWT." 

Lafal niat ini penting untuk memastikan keabsahan puasa qadha yang ditunaikan. Dengan memperhatikan bacaan dan waktu niat, umat Islam bisa melaksanakan puasa qadha secara tertib dan sesuai tuntunan.

Pertanyaan Umum Seputar Topik

1. Kapan waktu terbaik untuk melaksanakan puasa Syawal?

Puasa Syawal dapat dimulai setelah Hari Raya Idul Fitri, yaitu pada tanggal 2 Syawal, dan bisa dilakukan secara berurutan atau terpisah selama masih dalam bulan Syawal.

2. Apakah niat puasa qadha Ramadan harus dilafalkan pada malam hari?

Ya, niat puasa qadha Ramadan, sebagai puasa wajib, harus dilakukan pada malam hari sebelum fajar menyingsing atau sebelum waktu Subuh tiba.

3. Bolehkah menggabungkan niat puasa Syawal dan qadha Ramadan?

Ada perbedaan pandangan ulama; mayoritas Mazhab Syafi'i membolehkan penggabungan, namun disarankan untuk mendahulukan puasa qadha Ramadan agar pahala puasa Syawal dapat diraih secara sempurna.

Anda Sedang Mengikuti Pembahasan Seputar

Edelweis Lararenjana, Alieza NurulitaTim Redaksi

Share

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |