Liputan6.com, Jakarta - Nyekar atau ziarah kubur jelang Ramadhan telah menjadi tradisi yang mengakar kuat di Indonesia. Namun tradisi ini juga memunculkan pertanyaan yang nyaris selalu berulang, Bolehkah nyekar menjelang ramadhan menurut Islam?
Dalam berbagai studi kontemporer, fenomena sosial-keagamaan ini bukan sekadar ritual tahunan, melainkan wujud akulturasi harmonis antara ajaran Islam tentang tadzkirotul maut (mengingat kematian) dan kearifan lokal dalam menghormati leluhur.
Masyarakat memanfaatkan momen ini untuk melakukan "pembersihan" spiritual dan fisik; membersihkan makam orang tua atau kerabat, memanjatkan doa ampunan, serta membaca Yasin dan tahlil sebagai bekal menyambut bulan puasa dengan hati yang lebih lembut dan terkoneksi dengan akhirat.
Mengutip Jurnal Fenomena Ziarah: Antara Kesalehan, Identitas Ke-Islaman dan Dimensi Komersial, Ahmad Rodli menjelaskan, di luar aspek ritual, tradisi nyekar juga mencerminkan dimensi sosiologis dan ekonomi yang signifikan dalam struktur masyarakat Muslim Indonesia. Berikut ini ulasan lengkapnya.
Hukum Ziarah Kubur Jelang Ramadhan
Secara mendasar, hukum ziarah kubur dalam Islam telah mengalami perubahan status (nasakh) dari yang semula dilarang menjadi dianjurkan (sunnah). Dasar hukum ziarah kubur merujuk pada hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Buraidah RA
"Dahulu aku melarang kalian berziarah kubur, maka (sekarang) berziarahlah kalian." (HR. Muslim, no. 977). Dalam riwayat lain ditambahkan redaksi: "karena sesungguhnya ziarah kubur itu mengingatkan kalian pada akhirat."
Ibnu Hajar Al-Haitami dalam kitab Al-Fatawa al-Fiqhiyah al-Kubra menegaskan bahwa ziarah kubur disunnahkan secara mutlak (kapan saja) dan tidak terbatas waktu.
Melakukan ziarah kubur menjelang Ramadhan hukumnya adalah Boleh (Mubah) bahkan Sunnah, selama niatnya lurus untuk mendoakan si mayit dan mengingat akhirat, serta tidak meyakini bahwa waktu tersebut adalah syarat sah puasa Ramadhan.
Jumhur ulama sepakat bahwa ziarah kubur adalah sunnah karena memiliki dimensi tadzkirotul maut (mengingat kematian). Pada prinsipnya tidak ada perintah khusus dan tidak ada larangan khusus untuk ziarah di waktu menjelang Ramadhan tersebut.
Karena tidak adanya larangan, umat Islam diperbolehkan mengambil inisiatif (fadhailul a'mal) untuk mengirim doa pada momentum yang dianggap baik.
Dimensi Kesalehan dan Identitas
Merujuk studi lapangan dan literatur, Ahmad Rodli dalam jurnalnye menjelaskan bahwa ziarah kubur bisa dilihat dari berbagai perspektif. Aktivitas nyekar tidak hanya berhenti pada ritual fikih semata. Ziarah memiliki dimensi yang luas, meliputi:
1. Kesalehan Spiritual
Ziarah menjadi sarana "charging" spiritual. Rodli menyoroti bahwa ziarah adalah ekspresi kesalehan (piety) di mana seorang hamba membangun koneksi emosional dan spiritual dengan pendahulunya serta Sang Pencipta.
2. Identitas Ke-Islaman
Tradisi ini mempertegas identitas Islam kultural di Indonesia yang menghargai birrul walidain (berbakti pada orang tua) bahkan setelah mereka tiada.
3. Dimensi Sosial & Komersial
Selain aspek ritual, jurnal tersebut juga mencatat adanya dimensi sosial dan ekonomi yang tumbuh di sekitar makam-makam wali atau tokoh agama, yang menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar.
Adab Ziarah Kubur
Agar ziarah kubur bernilai ibadah dan tidak terjerumus pada perilaku sia-sia, berikut adalah adab-adab yang dirumuskan para ulama, termasuk Imam Nawawi dalam Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzab:
1. Mengucapkan Salam
Saat memasuki area pemakaman, disunnahkan mengucapkan salam kepada penghuni kubur
2. Tidak Duduk di Atas Kuburan
Dilarang menduduki, menginjak, atau melangkahi nisan/gundukan makam secara langsung sebagai bentuk penghormatan kepada jenazah.
3. Mendoakan Mayit
Inti dari ziarah adalah mendoakan ampunan. Dianjurkan membaca surah Yasin, Al-Fatihah, Tahlil, dan doa-doa pengampunan lainnya.
4. Menjaga Hati (Tadzkirotul Maut)
Menghadirkan rasa takut dan tunduk hati, menyadari bahwa peziarah pun kelak akan menyusul ke liang lahat.
5. Perilaku Sopan
Tidak berbicara kasar, bergurau berlebihan, atau melakukan hal-hal duniawi yang tidak bermanfaat di area makam.
Hal-Hal yang Dilarang saat Ziarah Kubur
Meskipun dianjurkan, terdapat batasan (larangan) dalam ziarah kubur agar akidah tetap terjaga:
Niyahah (Meratap)
Menangis histeris, menampar pipi, atau merobek baju karena tidak terima dengan takdir kematian. Rasulullah SAW bersabda, "Aku berlepas diri dari orang yang mencukur rambutnya, berguling-guling dan merobek-robek baju (saat berkabung)".
Syirik (Meminta kepada Kuburan)
Ini kesalahan fatal. Dilarang meminta rezeki atau jodoh kepada mayit. Permintaan doa harus tetap ditujukan kepada Allah SWT, meskipun dilakukan di lokasi makam.
Thawaf di Kuburan
Diharamkan mengelilingi kuburan layaknya Thawaf di Ka'bah.
Duduk di Atas Kuburan
Rasulullah SAW mengingatkan bahwa duduk di atas bara api hingga terbakar pakaiannya lebih baik daripada duduk di atas kuburan.
Hikmah Ziarah Kubur Jelang Ramadhan
Tradisi Nyekar menjelang Ramadhan adalah akulturasi budaya dan agama yang positif selama diletakkan pada koridor syariat. Ia menjadi pengingat bagi yang hidup bahwa Ramadhan adalah kesempatan emas untuk beribadah sebelum kematian menjemput, sekaligus bentuk bakti kepada orang tua yang telah tiada. Berikut ini hikmahnya:
1. Mengingat Kematian
Ini adalah hikmah utama yang disebutkan dalam hadis Nabi. Berziarah di momen menjelang Ramadhan berfungsi sebagai "rem" bagi keduniawian, mengingatkan peziarah bahwa hidup di dunia bersifat sementara. Kesadaran ini sangat penting untuk melembutkan hati sehingga siap menjalani ibadah puasa dengan lebih khusyuk dan tawadhu.
2. Bentuk Bakti kepada Orang Tua
Bagi mereka yang orang tuanya telah tiada, nyekar adalah wujud kesinambungan bakti. Momen ini menjadi sarana membuktikan bahwa cinta dan penghormatan seorang anak tidak terputus oleh kematian. Doa anak yang saleh diyakini menjadi amalan yang terus mengalir pahalanya bagi orang tua di alam barzah.
3. Persiapan & Penyucian Hati
Ramadhan adalah bulan suci yang menuntut kesucian jiwa. Dengan mengunjungi makam, melihat nisan, dan mendoakan para pendahulu, hati yang mungkin keras karena rutinitas duniawi diharapkan menjadi luluh. Kondisi batin yang bersih dan insyaf (sadar diri) adalah modal terbaik untuk memasuki gerbang bulan suci.
4. Menyambung Tali Silaturahmi
Sebagaimana disinggung dalam Jurnal Fenomena Ziarah (Ahmad Rodli), tradisi ini memiliki dimensi sosial yang kuat. Momen nyekar sering kali menjadi titik kumpul keluarga besar yang tinggal berjauhan. Mereka bertemu di pusara leluhur, saling bermaafan, dan mempererat kekerabatan (ukhuwah) sebelum masing-masing sibuk dengan ibadah puasa.
5. Mendoakan Ampunan bagi Ahli Kubur
Hikmah ini bersifat altruistik (untuk orang lain). Ziarah adalah waktu khusus yang diluangkan untuk memohonkan maghfirah (ampunan) dan rahmat Allah bagi si mayit. Bacaan istighfar, tahlil, dan doa peziarah menjadi "hadiah" spiritual yang sangat dinantikan oleh ahli kubur untuk meringankan beban atau menambah kenikmatan mereka di alam sana.
People also Ask:
Bolehkah ziarah kubur menjelang Ramadhan?
Ziarah kubur menjelang Ramadan merupakan tradisi yang memiliki dasar dalam ajaran Islam. Rasulullah saw. telah memperbolehkannya dengan tujuan mengingatkan manusia akan akhirat.
Bagaimana hukumnya menziarahi kuburan ulama kyai atau orang shalih dengan niat untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memohon berkah kepada nya?
“Memohon berkah dengan menziarahi makam orang-orang shaleh hukumnya tidak apa-apa, jika para peziarah (perempuan) tersebut sudah tua” (Muhammad Amin Ibnu Abidin, Raddul Muhtar Alad Durril Mukhtar, juz 3, h. 151). “Sesungguhnya menziarahi makam orang-orang shaleh dianjurkan, guna memperoleh keberkahan dan pelajaran.
Nyekar sebelum Ramadhan namanya apa?
REJOSARI (KabaRe) - Menjelang bulan suci Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri, masyarakat Jawa memiliki tradisi yang kental, yaitu ziarah kubur atau yang dikenal dengan istilah "nyekar". Tradisi ini merupakan bentuk penghormatan kepada leluhur dan refleksi diri bagi keluarga yang masih hidup.
Kapan waktu ziarah kubur sesuai sunnah?
Tradisi yang berkembang di Indonesia, ziarah kubur dilakukan pada Kamis setelah Ashar dan Jumat. Waktu tersebut dikatakan erat dengan bertambatnya roh pada kubur. Keterangan ini disebutkan Sulaiman bin Umar bin Muhammad Al-Bujairimi dalam At-Tajrid li Naf'il 'Abid ala Syarhil Manhaj, seperti dinukil NU Online.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4357195/original/092362700_1678761219-pexels-thirdman-7957066.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5158583/original/033672200_1741665428-kata-kata-sahabat-nabi.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2798272/original/079059200_1557206746-20190507-Mengisi-Waktu-Berpuasa-dengan-Tadarus-ARBAS-6.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5080366/original/098387100_1736160174-1736156793388_caption-quotes-islami-singkat.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5158368/original/097065700_1741665044-kata-kata-isra-miraj.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5468799/original/045139300_1768018023-fantastic-mosque-architecture-islamic-new-year-celebration.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4735410/original/014374300_1707130221-10217582.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4660564/original/081485600_1700737006-isra_miraj.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4737862/original/091578100_1707368217-fotor-ai-2024020811540.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3108148/original/088309000_1587459079-2642016.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3360668/original/038739700_1611729329-abdullah-faraz-fj-p_oVIhYE-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5409213/original/092336400_1762849057-ilustrasi_ceramah.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/842877/original/009596200_1428044283-Jenazah-Mpok-Nori-2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2803717/original/075543300_1557725237-20190513-Bulan-Ramadan-Momentum-Anak-Anak-Belajar-Al-Quran1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5457952/original/085391400_1767067413-unnamed.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3309137/original/055065200_1606475068-nurhan-yC70QqvrPRk-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4370308/original/064241200_1679646015-Shalot-Jumat-Pertama-Ramadhan-Di-Masjid-Istiqlal-Angga-2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1575221/original/040400200_1492996168-islamicitydotorg.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5153924/original/010138200_1741324616-1741320553002_ucapan-selamat-puasa-marhaban-ya-ramadhan.jpg)






















:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5316291/original/015050100_1755231247-5.jpg)






