Cara Menjaga Lisan dan Hati setelah Hari Kemenangan, Simak Penjelasan Ulama

4 hours ago 3
  • Apa bunyi hadits menjaga lisan?
  • Mengapa kita harus menjaga hati dan lisan?
  • Apa yang harus dilakukan untuk menjaga lisan?

Baca artikel ini 5x lebih cepat

Liputan6.com, Jakarta - Salah satu hikmah terpenting Ramadhan adalah mengajarkan pengendalian hawa nafsu; menahan haus dan lapar dan pengendalian diri yang di antaranya menjaga lisan dan hati. Seturut datangnya Idul Fitri, ada tantangan besar bagi setiap muslim, bagaimana menjaga lisan dan hati setelah hari kemenangan.

Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan mengamalkannya, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya." (HR. Bukhari). Esensi puasa adalah pembentukan karakter, termasuk pengendalian lisan. Setelah Ramadhan berlalu, tantangan menjaga lisan justru semakin berat karena kita kembali berinteraksi sosial secara intensif.

Merujuk Kitab Al-Adzkar (Bab: Hifdz-ul-Lisan), Imam Nawawi menegaskan bahwa setiap muslim mukallaf wajib menjaga lisannya dari segala jenis perkataan, kecuali terhadap pembicaraan yang mengandung manfaat. Beliau mengutip firman Allah: "Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir." (QS. Qaf [50]: 18).

Berikut ini adalah cara menjaga lisan dan hati setelah Idul Fitri, berdasarkan Kitab Al-Adzkar karya Imam Nawawi dan literatur praksis keislaman lainnya, yaitu Ebook Amalan setelah Ramadhan karya Sukamto HM (UII), Ebook 30 Inspirasi Ibadah Syawal, dan Ebook Panduan Amalan Syawal.

1. Prinsip Dasar: Berkata Baik atau Diam

Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam." (HR. Bukhari dan Muslim)

Imam Nawawi menjelaskan bahwa hadits ini adalah dalil jelas bahwa seseorang tidak boleh berbicara kecuali pembicaraannya baik dan mengandung manfaat. Jika seseorang ragu apakah suatu pembicaraan mengandung manfaat atau tidak, maka janganlah berbicara .

Imam Asy-Syafi'i rahimahullah berkata: "Apabila seseorang hendak berbicara, maka hendaknya dia berpikir sebelum berbicara. Jika ada kebaikan yang bermanfaat pada apa yang akan ia katakan, maka dia hendaklah berbicara. Dan jika dia meragukannya, maka dia jangan berbicara sampai dia menjernihkan keraguan itu (dengan menjadikan pembicaraannya baik)."

2. Menyadari Bahaya Perkataan Ringan

Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya seseorang mengucapkan kata-kata, ia tidak menyangka bahwa ucapannya menyebabkan ia tergelincir di neraka lebih jauh dari jauhnya antara timur dan barat." (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat lain: "Sesungguhnya seseorang laki-laki mengatakan sebuah kalimat yang diridhai Allah dan ia tidak menyadarinya sampai di tempatnya, ternyata dengan kalimat itu Allah menuliskan keridhaan-Nya hingga hari Dia bertemu dengannya. Sesungguhnya seorang laki-laki mengatakan suatu kalimat yang dimurkai Allah dan ia tidak menyadarinya sampai ditempatnya, ternyata karena kalimat tersebut Allah menulis kemurkaan-Nya hingga hari Dia bertemu dengannya."

3. Memahami Bahwa Lidah Adalah Kunci Segalanya

Dalam hadits riwayat Tirmidzi, Mu'adz bin Jabal bertanya kepada Rasulullah SAW tentang amalan yang dapat memasukkan ke surga dan menjauhkan dari neraka. Setelah menjelaskan pokok-pokok Islam, shalat, zakat, puasa, dan haji, Rasulullah SAW bersabda:

Artinya: "Maukah bila aku beritahukan kepadamu tentang kunci semua perkara itu?" Aku menjawab: "Ya, wahai Rasulullah." Maka beliau memegang lidahnya dan bersabda: "Jagalah ini." Aku bertanya: "Wahai Rasulullah, apakah kami dituntut (disiksa) karena apa yang kami katakan?" Maka beliau bersabda: "Semoga engkau selamat. Adakah yang menjadikan orang menyungkurkan mukanya (atau ada yang meriwayatkan batang hidungnya) di dalam neraka, selain ucapan lidah mereka?".

4. Menjauhi Ghibah dan Namimah

Imam Nawawi memberikan panduan praktis untuk menjauhi ghibah:

Pertama, merenungkan firman Allah: "Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir." (QS. Qaf: 18)

Kedua, merenungkan firman Allah: "Dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar." (QS. An-Nur: 15)

Ketiga, mengingat hadits tentang kalimat yang menjerumuskan ke neraka.

Keempat, membiasakan diri untuk berkata pada diri sendiri sebelum berbicara: "Allah bersamaku", "Allah menyaksikanku", "Allah mengawasiku".

5. Menjaga Pertemanan dan Lingkungan

Dalam Ebook Amalan setelah Ramadhan, Sukamto HM menekankan pentingnya menjaga silaturahmi dengan orang-orang shalih. Rasulullah SAW bersabda: "Seseorang itu tergantung agama temannya. Maka hendaklah kalian melihat siapa yang menjadi temannya." (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).

Bergaul dengan orang-orang shalih akan membantu kita menjaga lisan karena mereka akan mengingatkan jika kita tergelincir.

6. Memperbanyak Dzikir dan Istighfar

Dzikir adalah benteng utama dari godaan setan. Dalam Ebook 30 Inspirasi Ibadah Syawal disebutkan bahwa memperbanyak istighfar dan dzikir dapat membersihkan hati. Allah berfirman: "Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra'd: 28)

7. Melanjutkan Puasa Sunnah

Puasa sunnah, terutama puasa Syawal, Senin-Kamis, dan Ayyamul Bidh, melatih kita untuk terus mengendalikan diri, termasuk lisan. Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa berpuasa Ramadhan kemudian diikuti dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa sepanjang tahun." (HR. Muslim).

Cara Membersihkan Hati

Imam Nawawi menjelaskan bahwa pikiran-pikiran yang kadang terlintas dalam benak seseorang atau ketika seseorang berbicara kepada dirinya sendiri, selama lintasan pemikiran itu tidak menetap dan terus-menerus ada padanya, maka hal itu dapat dimaafkan menurut ijma para ulama. Hal ini karena dia tidak mempunyai pilihan untuk menghentikan lintasan pemikiran ini .

Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya Allah telah membolehkan bagi umatku apa yang dibisikkan hatinya, selama mereka tidak mengatakannya atau beramal dengannya." (HR. Bukhari dan Muslim).

Para ulama berkata: "Hal ini berkaitan dengan ide-ide yang terlintas dalam benak seseorang, namun tidak menetap dan bertahan disana.".

Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin yang dikutip Imam Nawawi memberikan panduan membersihkan hati dari prasangka buruk:

  1. Tidak mempercayai bisikan setan. Ketika pikiran buruk terlintas, ingatlah bahwa itu adalah bisikan setan yang harus ditolak.
  2. Mencari udzur (alasan baik) bagi saudaranya. Umar bin Khattab berkata: "Janganlah engkau berprasangka buruk terhadap perkataan yang keluar dari saudaramu, selama engkau masih bisa mencari udzur (alasan baik) baginya."
  3. Meningkatkan doa dan kebaikan kepada orang yang kita curigai. Al-Ghazali berkata: "Kapanpun pikiran buruk mengenai Muslim lainnya terlintas dalam benakmu, maka jadikan itu untuk meningkatkan perhatianmu dan bersikap baik kepadanya karena ini akan membuat iblis murka dan mengusirnya dari dirimu.".

Bahaya Lisan Menurut Imam Nawawi

 Imam Nawawi dalam Al-Adzkar memberikan definisi yang sangat jelas tentang ghibah: "Ghibah adalah ketika engkau menyebutkan sesuatu tentang seseorang yang dia benci, apakah itu tentang tubuhnya, agamanya, kehidupan dunianya, dirinya, penampilan fisiknya, karakternya, kekayaannya, anaknya, ayahnya, isterinya, pembantunya, budaknya, sorbannya, pakaiannya, caranya berjalan, senyumnya, kegeramannya, kernyitannya, kegembiraannya, atau hal-hal lain yang berhubungan dengan di atas. Demikian juga, sama saja apakah engkau menyebutkan sesuatu mengenainya dengan kata-kata, tulisan, atau menunjukkannya dengan isyarat mata, tangan atau kepala."

Lebih lanjut, beliau merinci contoh-contoh ghibah:

  • Tentang tubuh: "dia buta", "dia pincang", "dia bermata muram", "dia botak", "dia pendek", "dia tinggi", "dia hitam", "dia kuning"
  • Tentang agama: "dia seorang pelaku maksiat", "dia pencuri", "dia pengkhianat", "dia zalim", "dia menganggap remeh shalat"
  • Tentang dunia: "dia berakhlak buruk", "dia tidak mengacuhkan orang lain", "dia terlalu banyak bicara", "dia terlalu banyak makan dan tidur"
  • Tentang orang tua: "ayahnya seorang pelaku maksiat", "seorang India", "seorang Negro", "seorang petani"
  • Tentang karakter: "dia berakhlak buruk", "sombong", "suka bertengkar", "dia gegabah", "dia seorang tiran"

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an: "Dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Hujurat [49]: 12)

Rasulullah SAW dalam hadits yang diriwayatkan Muslim menjelaskan hakikat ghibah: "Tahukah kamu apakah ghibah itu?" Sahabat menjawab: "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui." Beliau bersabda: "Kamu menyebut-nyebut saudaramu dengan sesuatu yang dia benci." Beliau ditanya: "Bagaimana kalau memang saudaraku melakukan apa yang kukatakan?" Beliau menjawab: "Kalau memang dia melakukan seperti apa yang kamu katakan berarti kamu telah menghibahinya. Sebaliknya jika dia tidak melakukan apa yang kamu katakan, maka kamu telah memfitnahnya.". 

Namimah (Adu Domba) dan Bahayanya

Imam Nawawi mendefinisikan namimah sebagai: "Ketika seseorang membawa dan menyampaikan pembicaraan dari suatu kelompok perorangan kepada pihak lain dengan tujuan untuk menyebabkan perselisihan diantara keduanya."

Beliau menegaskan bahwa namimah diharamkan berdasarkan ijma para ulama. Dalilnya adalah firman Allah: "Yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah." (QS. Al-Qalam [68]: 11)

Dan hadits riwayat Bukhari dan Muslim: "Tidak masuk surga orang yang suka mengadu domba."

Bahkan dalam hadits lain, Rasulullah SAW menunjukkan dahsyatnya dosa namimah ketika melewati dua kubur yang penghuninya sedang disiksa, salah satunya karena suka mengadu domba.

Implementasi Praktis Menjaga Lisan dan Hati Pasca-Idul Fitri

1. Muhasabah Harian

Luangkan waktu setiap hari, misalnya sebelum tidur, untuk mengevaluasi apa yang telah kita ucapkan sepanjang hari. Tanyakan pada diri sendiri: Apakah ada perkataan yang menyakiti orang lain? Apakah ada ghibah atau namimah yang terlanjur terucap?

2. Meminta Maaf Jika Tergelincir

Jika kita menyadari telah melakukan ghibah, maka wajib untuk segera bertaubat dan meminta maaf kepada orang yang dighibahi. Imam Nawawi menjelaskan empat syarat taubat dari ghibah:

  • Segera berhenti dari maksiat
  • Menyesali perbuatan
  • Bertekad tidak mengulangi
  • Meminta maaf kepada orang yang dighibahi

3. Memperbanyak Shalawat dan Doa

Rasulullah SAW bersabda:"Barangsiapa bershalawat kepadaku satu kali, maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali." (HR. Muslim). Shalawat membersihkan hati dan mendatangkan ketenangan.

4. Sibukkan Diri dengan Hal Bermanfaat

Dalam Ebook 30 Inspirasi Ibadah Syawal disebutkan bahwa mengisi waktu dengan ibadah dan kegiatan positif akan mengurangi peluang untuk berbicara yang tidak bermanfaat. Rasulullah SAW bersabda: "Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan apa-apa yang tidak berguna baginya." (HR. Tirmidzi).

5. Memilih Majelis Ilmu

Hadiri majelis-majelis ilmu yang mengingatkan kita tentang akhirat dan bahaya lisan. Dalam Ebook Panduan Amalan Syawal disebutkan bahwa majelis ilmu adalah taman surga yang mengelilingi kita dengan malaikat.

People also Ask:

Apa bunyi hadits menjaga lisan?

Hadits Menjaga LisanHadis tentang menjaga lisan sangat banyak, intinya adalah perintah untuk berkata baik atau diam jika tidak bisa berkata baik (HR. Bukhari & Muslim), karena lisan bisa menjadi penyebab utama seseorang terperosok ke neraka (HR. Muslim), namun menjamin lisan dan kemaluan akan dijamin masuk surga (HR. Bukhari).

Mengapa kita harus menjaga hati dan lisan?

Dengan menjaga lisan, seorang muslim tidak hanya menjaga hubungan baik dengan sesama, tetapi juga mendekatkan diri kepada Allah SWT dan meraih kemuliaan di dunia maupun akhirat.

Apa yang harus dilakukan untuk menjaga lisan?

Berikut beberapa cara efektif untuk menjaga lisan:Zikir dan Doa. Memperbanyak zikir dan doa agar lisan selalu berada dalam kondisi yang baik dan dijauhkan dari perkataan yang tidak bermanfaat.2. Berpikir Sebelum Berbicara. ...Membiasakan Diam. ...Menghindari Topik-topik Negatif. ...Membangun Lingkungan yang Positif.

Apa kesimpulan dari menjaga lisan?

Perkataan yang baik dan menjaga lisan dapat mempererat tali persaudaraan, memperbaiki hubungan sosial, dan menghindarkan kita dari konflik. Sebaliknya, perkataan yang buruk akan menimbulkan kebencian dan perpecahan.

Apa artinya خيركم من تعلم القرآن?

‪Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, وَمَاۤ ءَاتَىٰكُمُ ...‬‏Arti hadits "خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَ عَلَّمَهُ" adalah "Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur'an dan mengajarkannya" (HR. Bukhari), yang menekankan bahwa nilai tertinggi seseorang terletak pada kemampuannya untuk belajar Al-Qur'an (membaca, memahami, dan mengamalkan) serta menyebarkan ilmunya kepada orang lain, menjadikan mereka insan yang paling bermanfaat dan mulia di sisi Allah SWT.

Anda Sedang Mengikuti Pembahasan Seputar

Nanik Ratnawati, Fadila AdelinTim Redaksi

Share

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |