Liputan6.com, Jakarta - Suasana santai bersama teman sering kali menjadi momen yang ditunggu-tunggu. Tertawa, berbincang ringan, dan menanti hidangan yang menggoda. Namun, bagaimana bila tepat saat makanan tiba, suara adzan pun berkumandang?
Pertanyaan ini bukan hal asing di tengah masyarakat. Ketika perut mulai keroncongan dan makanan sudah terhidang, adzan yang berkumandang menimbulkan dilema, makan dulu atau sholat terlebih dahulu?
Masalah ini menjadi semakin menarik karena berkaitan dengan adab dalam beribadah dan menjaga kekhusyukan sholat. Di satu sisi, makan adalah kebutuhan jasmani. Di sisi lain, sholat adalah kewajiban rohani yang tidak bisa disepelekan.
Dikutip dari Pustaka Ilmu Sunni Salafiyah - KTB (www.piss-ktb.com), terdapat sejumlah hadis shahih yang membahas kondisi ini secara jelas. Liputan6.com mencoba merangkum persoalan ini berdasarkan berbagai referensi yang dijadikan pedoman oleh para ulama.
Dalam kitab Nailul Authar karya Imam Asy-Syaukani disebutkan, Rasulullah SAW bersabda: "Jika makan malam telah dihidangkan, maka dahulukan makan sebelum sholat Maghrib dan jangan tergesa-gesa."
Hadis tersebut diriwayatkan oleh Anas bin Malik dan disebut dalam banyak riwayat shahih lainnya, termasuk dari Aisyah dan Ibnu Umar. Ketiganya menunjukkan pola yang sama: utamakan makan terlebih dahulu sebelum melaksanakan sholat.
Salah satu hadis dari Ibnu Umar yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Abu Dawud menjelaskan: "Jika makanan telah dihidangkan dan adzan berkumandang, maka makanlah terlebih dahulu dan jangan tergesa-gesa hingga selesai."
Simak Video Pilihan Ini:
Kocak, Battle Dance Campursari ala SOBAT AMBYAR SMA Sigaluh Banjarnegara
Lapar Bisa Ganggu Khusuknya Sholat
Ibnu Umar bahkan tidak beranjak ke masjid meski mendengar bacaan imam, selama dirinya masih makan. Ini menunjukkan bagaimana perhatian terhadap kekhusyukan sholat sangat penting dalam Islam.
Dalam Syarah Nawawi ‘ala Muslim, dijelaskan bahwa sholat dalam keadaan lapar atau menahan buang hajat dihukumi makruh. Alasannya adalah hati tidak akan bisa fokus dan khusyu’ saat melaksanakan ibadah.
Nabi SAW bersabda: "Tiada sholat saat makanan telah dihidangkan, dan tiada sholat ketika seseorang menahan kencing dan kotoran." Artinya, hal-hal duniawi yang mengganggu konsentrasi bisa menurunkan kualitas ibadah.
Ulama menyatakan, apabila waktu sholat masih panjang dan cukup untuk melaksanakan ibadah setelah makan, maka makan terlebih dahulu adalah pilihan terbaik. Tujuannya agar tidak terburu-buru dalam beribadah.
Namun jika waktu sholat sudah sempit dan dikhawatirkan akan habis jika makan terlebih dahulu, maka sholat tetap harus didahulukan. Dalam hal ini, menjaga waktu sholat lebih utama.
Kemakruhan melaksanakan sholat dalam kondisi lapar yang mengganggu kekhusyukan ini disepakati oleh jumhur ulama. Dengan demikian, situasi harus dilihat secara bijak dan proporsional.
Bukan hanya tentang memilih makan atau sholat, namun tentang bagaimana memastikan ibadah dilakukan dengan khidmat, tanpa gangguan dari keinginan perut yang belum terpenuhi.
Makanlah Terlebih Dahulu, dan Jangan Tinggalkan Sholat!
Dalam konteks pertemuan sosial, seperti nongkrong bersama teman atau acara keluarga, hendaknya makanan diatur sedemikian rupa agar tidak berbarengan dengan waktu sholat.
Perencanaan waktu menjadi kunci untuk menyeimbangkan antara kebutuhan jasmani dan kewajiban ruhani. Dalam Islam, keduanya tidak saling meniadakan tetapi justru saling melengkapi.
Nabi Muhammad sangat memperhatikan aspek kejiwaan dan ketenangan hati dalam beribadah. Sholat bukan sekadar kewajiban, tetapi komunikasi langsung antara hamba dan Tuhannya.
Jika hati tidak tenang karena lapar, maka percakapan spiritual itu bisa terganggu. Maka tidak heran, jika Rasulullah memberikan solusi agar makan lebih didahulukan dalam situasi tersebut.
Para ulama menegaskan, hadis-hadis ini menunjukkan kepekaan Islam terhadap kondisi manusia. Islam tidak memaksakan ibadah yang terburu-buru dan tanpa kesiapan mental.
Namun penting juga untuk tidak menjadikan makan sebagai alasan menunda sholat hingga waktu habis. Jika memungkinkan, segera makan secukupnya lalu langsung mendirikan sholat dengan tenang.
Dengan pemahaman ini, umat Islam diharapkan bisa mengambil jalan tengah yang bijak. Tidak fanatik terhadap salah satu tindakan, tapi memperhatikan keadaan dan waktu sholat yang tersedia.
Jadi, jika kamu berada dalam situasi makan dan adzan datang, serta kamu benar-benar lapar, maka makanlah terlebih dahulu. Tapi jangan lupakan kewajiban untuk segera sholat setelahnya. Wallahu a’lam.
Penulis: Nugroho Purbo/Madrasah Diniyah Miftahul Huda 1 Cingebul