Liputan6.com, Jakarta - Dalam kehidupan para sahabat Nabi Muhammad SAW, banyak kisah menarik yang bisa dijadikan pelajaran bagi umat Islam. Salah satunya adalah kebiasaan para sahabat dalam berdzikir atau berwirid setelah ibadah. Dua tokoh sahabat utama, Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab, diketahui memiliki gaya wirid yang sangat berbeda.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) daring, wirid adalah kutipan-kutipan Al-Qur'an yang ditetapkan untuk dibaca. Secara umum, istilah ini merujuk pada bacaan atau doa-doa tertentu yang dilakukan secara rutin dan terus-menerus sebagai bentuk ibadah atau pendekatan diri kepada Allah.
Dalam satu kesempatan pengajian, KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau akrab disapa Gus Baha menjelaskan dengan gaya khasnya tentang perbedaan tersebut. dia menekankan bahwa dua metode itu tidak bisa saling dibenturkan karena keduanya memiliki alasan masing-masing.
Berbeda gaya dzikir, tetapi sama-sama dilakukan dengan niat yang benar.
Gus Baha menjelaskan bahwa Sayyidina Abu Bakar dikenal dengan wiridnya yang sangat lirih. Bahkan saking lirihnya, sampai ada sahabat yang bertanya-tanya apakah ia benar-benar sedang berdzikir atau tidak. Hal ini sempat menjadi pembicaraan di kalangan para sahabat.
Dalam suatu riwayat, Nabi Muhammad SAW sampai memanggil Abu Bakar dan bertanya langsung. "Aku krungu kabar jare nak wiridan lirih, maksudmu piye?" kata Nabi sebagaimana dikisahkan oleh Gus Baha.
Dengan rendah hati, Abu Bakar menjawab, "Lah sing kulo sebut niku Allah Allah niku lirih mpun mireng," artinya yang disebut adalah nama Allah dengan lirih karena Allah sudah Maha Mendengar.
Penjelasan ini disampaikan Gus Baha dalam tayangan video di kanal YouTube @NgugemiDawuhMasyayikh yang banyak menyajikan pengajian dan ceramah keilmuan dari para ulama Nusantara.
Simak Video Pilihan Ini:
Unik, Profesor di Banyumas Dilantik di Kebun Kelapa
Sayyidina Umar Dzikirnya Sangat Keras
Di sisi lain, Sayyidina Umar bin Khattab justru dikenal dengan wiridnya yang keras. Bahkan menurut Gus Baha, wirid Umar bisa terdengar tanpa mikrofon atau pengeras suara. Suaranya lantang dan penuh semangat.
Umar memiliki alasan sendiri mengapa memilih cara yang demikian. Ia mengatakan bahwa ia sengaja mengeraskan bacaan wirid agar tidak mengantuk dan supaya orang-orang di sekitarnya ikut semangat berdzikir. Sebab, suasana yang hening kadang membuat mata berat.
Gus Baha menanggapi hal ini dengan guyonan khasnya. Ia menyebut bahwa para malaikat pencatat amal bisa kerepotan jika dzikirnya terlalu lirih. “Malaikat iku kan kasihan. Allah pasti krungu, tapi malaikat khawatir pas catat amal. Nanti repot ngrungokno tenanan,” ucapnya disambut tawa para jamaah.
“Messake sing nyatet le ngrungokno tenanan hahaha,” lanjut Gus Baha sambil tertawa, menggambarkan suasana santai tapi sarat makna dalam majelis ilmu tersebut.
Melalui penjelasan tersebut, Gus Baha ingin menekankan bahwa dalam urusan ibadah seperti wirid, tidak perlu memaksakan satu cara. Selama sesuai dengan adab dan tidak melanggar syariat, maka semuanya baik.
Ia juga menyampaikan bahwa ilmu keislaman harus selalu diperbarui dan dipahami dengan konteks sosial yang tepat. “Kulo lagi-lagi balik teng robbi zidni ilma. Jadi ilmu itu diperbarui terus karena yang kita kira tahu, ternyata masih bisa berubah, terutama soal sosial,” katanya.
Berbeda dengan masalah ibadah yang sifatnya sudah pakem, menurut Gus Baha, masalah sosial sering kali masih terbuka untuk diskusi dan perbedaan pandangan. Termasuk dalam hal wirid, yang sifatnya bisa menyesuaikan dengan keadaan dan kebiasaan orang.
Islam Menghargai Perbedaan dalam Kebaikan
Dalam konteks ini, kisah Abu Bakar dan Umar menjadi contoh nyata bahwa dua cara yang berbeda bisa sama-sama benar dan diterima. Kuncinya ada pada niat dan pemahaman akan esensi ibadah itu sendiri.
Gus Baha juga menyampaikan bahwa perbedaan seperti ini sudah semestinya dijadikan kekayaan pemikiran dalam Islam, bukan malah dijadikan alasan untuk menyalahkan satu sama lain.
Ia menekankan bahwa kekhusyukan dalam ibadah bukan hanya soal suara keras atau lirih, tapi sejauh mana hati terlibat dalam menyebut nama Allah dengan penuh cinta dan kesadaran.
Melalui gaya ceramahnya yang menggabungkan ilmu mendalam dengan humor segar, Gus Baha berhasil menyampaikan pesan agama dengan cara yang mudah dipahami oleh berbagai kalangan.
Ceramah-ceramah seperti ini menunjukkan betapa pentingnya memahami agama dengan pendekatan yang inklusif dan berlandaskan kasih sayang. Sebab, tujuan akhir dari semua amalan adalah mendekat kepada Allah, bukan saling membandingkan cara.
Penjelasan Gus Baha tentang Abu Bakar dan Umar adalah cerminan bagaimana Islam menghargai perbedaan dalam kebaikan. Dua sahabat Nabi dengan karakter dan pendekatan yang berbeda, namun sama-sama diterima dan dihargai dalam Islam.
Penulis: Nugroho Purbo/Madrasah Diniyah Miftahul Huda 1 Cingebul