INSTITUT Drawing Bandung menggelar pameran bertajuk Merespons Kenangan di studio seniman Rosid sejak 13 – 31 Juli 2026. Ide karya mereka terinspirasi dari ruangan dan aneka benda antik yang dikoleksi tuan rumah, seperti alat pertanian, perabot, serta kendaraan.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Peserta yang terlibat dalam pameran itu adalah Andi Yudha, Anton Susanto, Deden Imanudin, Ferry Curtis, Hawe Setiawan, Isa Perkasa, Mola. Kemudian juga Prabu Perdana, Rendra Santana, Rosid, Setiyono Wibowo, Yoyo Hartanto, dan Yus Arwadinata. Kekaryaan mereka tidak ditempatkan untuk berkumpul di suatu ruangan melainkan tersebar di berbagai titik.
Semula menurut Rosid, karya untuk pameran akan dipajang secara khusus di ruang galeri. Namun niat itu kemudian batal karena koleksi karyanya harus dipindah dulu agar ruang galeri kosong. Sementara area studio yang merangkap kafe dinilai cukup luas untuk memajang karya.
“Jadi dipasang di tempat makan dari depan sampai belakang, ruang studio, dan galeri, bersama barang dan karya koleksi yang sudah ada,” kata Rosid saat ditemui di tempatnya, Jalan Cigadung Raya Tengah nomor 40 Bandung, Rabu 15 Juli 2026.
Cara pameran seperti itu membawa konsekuensi lain. Pengunjung pameran pada beberapa titik agak kesulitan melihat karya karena tempatnya diisi oleh tamu. Rosid mengakui masalah itu. “Memang ada kendalanya begitu tapi keseluruhan di tempat ini banyak karya juga,” ujarnya.
Seniman sekaligus pengajar, Andi Yudha Asfandiyar, tertarik dengan deretan bangku dan meja untuk siswa di sekolah yang seluruhnya berbahan kayu. Dia menempatkan bentuk siluet enam anak yang seolah tengah duduk belajar di kelas. Pada bagian kepala, leher, dan dada tiap siluet itu Andi menggambar jenis tanaman berbunga yang beragam seperti halnya karakter manusia. Di meja depan ditempatkan alat penyiram tanaman sebagai simbol perawatan dari guru, orang tua, dan lingkungan sosial sekitar kepada anak agar dapat tumbuh dengan baik.
Karya Isa Perkasa di pameran Merespons Kenangan. Tempo/Anwar Siswadi
Ada pun Isa Perkasa menggambar wajah para seniman pada 20-an piring merah yang digantungkan di langit-langit kafetaria bagian belakang. Karyanya yang kontras dengan kayu-kayu tua di ruangan, mengangkat soal nasib seniman yang dilupakan atau ditinggalkan. Sementara Rendra Santana membuat gambar dan lukisan bercorak realis dan surealis untuk mengungkap kenangan masa hidupnya di kampung yang bernuansa tradisional.
Seniman sekaligus arsitek, Setiyono Wibowo, menggambar aneka keong yang kertasnya memanjang seperti taplak namun diletakkan di bawah kaca penutup lisung atau alat penumbuk padi dari kayu. Karya lain yang dipajang di dinding bergambar lisung. Sedangkan Anton Susanto menggambar dengan corak abstrak menggunakan tinta dan arang tentang memori tak berwujud. Sementara Mola menampilkan sejumlah sketsa gambar berwajah orang yang tak ingin dilupakan.








































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5531528/original/007916600_1773619112-unnamed__10_.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4403008/original/008750000_1681991372-20230420-Pemantauan-Hilal-Iqbal-7.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5544736/original/021119200_1775115709-gibran_promo_motor_-_klaim.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5378584/original/033747300_1760257934-unnamed__52_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4067423/original/029499900_1656490392-WhatsApp_Image_2022-06-29_at_2.40.46_PM.jpeg)
