Kejanggalan Keluarga Peserta Tur Wisata Korea yang Kabur

6 days ago 15

PEMILIK biro perjalanan Berani Backpacker, Fariz Ragil Ramadhani alias Dhani, mengungkap sejumlah kejanggalan yang ditemukan saat menyambangi keluarga Femas Yani Arianto. Femas adalah pemuda asal Madiun, Jawa Timur yang diduga kabur saat menjadi peserta tur wisata ke Korea Selatan yang difasilitasi Berani Backpacker.

“Keluarga sepertinya menutup-nutupi masalah ini dengan mengatakan tidak mengetahui apapun,” kata Dhani saat dihubungi pada Ahad, 19 Juli 2026.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Femas diketahui memisahkan diri dari rombongan tur pada Ahad malam, 28 Juni 2026. Saat itu, seluruh peserta tengah dibebaskan mengeksplor pusat perbelanjaan Myeongdong di bawah supervisi pemimpin rombongan atau tour leader. Dhani mengatakan, Femas sempat pamit ke tour leader ingin membeli sepatu. “Saat itu ia memisahkan diri dan tidak kunjung kembali,” ujarnya.

Setelah menyadari hilangnya Femas, tim di lapangan langsung melakukan panggilan telepon dan mengirim pesan secara intensif kepada Femas untuk memintanya kembali bergabung dengan rombongan. Namun, tidak ada respons yang diterima.

Tak hanya melakukan penanganan di Korea Selatan, tim Berani Backpacker di Indonesia juga mendatangi langsung rumah orang tua Femas di Desa Bantengan, Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun. Dari kunjungan tersebut, pihak biro travel menemukan sejumlah indikasi bahwa pihak keluarga diduga sengaja menutup-nutupi pelarian Femas.

Awalnya, ibu kandung Femas, yang tercantum sebagai sponsor perjalanan, mengaku tidak tahu-menahu dan menyebut anaknya bertindak sendiri atas keputusannya. Namun, setelah dimintai keterangan lebih lanjut, pihak keluarga secara sadar mencetak rekening koran di bank dan menandatangani surat sponsor perjalanan.

Selain itu, sang ibu kedapatan menghapus seluruh riwayat percakapan telepon dan pesan dengan Femas dengan dalih emosi. Pihak keluarga juga sempat memberikan keterangan mengenai keberadaan Femas yang disebut sudah satu bulan tidak pulang ke rumah.

Padahal, kata Dhani, berdasarkan kesaksian tetangga, Femas masih terlihat menunaikan salat Jumat di kampung halamannya pada 26 Juni, tepat sebelum ia berangkat ke Korea Selatan.

Kejanggalan lain yang ditemukan, keluarga tidak memberikan keterangan yang utuh soal latar belakang pendidikan Femas. Dhani berujar, Femas diketahui pernah menempuh pendidikan bahasa di sebuah Lembaga Pelatihan Kerja atau LPK khusus untuk persiapan ke Korea Selatan.

Atas tindakan sepihak peserta ini, Dhani menegaskan bahwa seluruh pihak dirugikan secara materil maupun non-material, mulai dari pihak biro travel, provider visa, kru lapangan, hingga peserta tur lainnya yang terganggu. Ia menyatakan tidak menutup kemungkinan mengambil jalur hukum jika pihak penjamin terus tidak kooperatif.

"Kami punya semua data dan rekaman saat bertemu dengan keluarga Femas. Kami siap kapan saja untuk menyerahkan ke pihak berwenang jika memang dibutuhkan," kata Dhani.

Saat ini, Dhani berujar, fokus utama Berani Backpacker adalah berkoordinasi secara aktif dengan instansi terkait di Korea Selatan dan pihak berwenang di Indonesia agar Femas dapat segera ditemukan dan dipulangkan sesuai prosedur yang berlaku. “Saya berharap penanganannya bisa dipercepat, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan ke depannya kepada seluruh pihak, termasuk kepada Femas,” tutur dia.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |