Kenapa Puasa Syawal Sangat Dianjurkan setelah Idul Fitri? Simak 12 Fadhilahnya

8 hours ago 6
  • Kenapa puasa Syawal sangat dianjurkan setelah Idul Fitri?
  • Apakah boleh berpuasa pada hari raya Idul Fitri?
  • Bagaimana aturan pelaksanaan puasa Syawal?

Baca artikel ini 5x lebih cepat

Liputan6.com, Jakarta - Setelah Idul Fitri, umat Islam dianjurkan mengamalkan berbagai ibadah sunnah, salah satu yang utama dalah puasa enam hari di bulan Syawal. Lantas, kenapa puasa syawal sangat dianjurkan setelah Idul Fitri?

Jawaban utama adalah keutamaan puasa Syawal tersebut. Rasulullah SAW sebagaimanha termaktub dalam hadits riwayat Muslim nomor 1164, bersabda, "Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan, lalu ia mengiringinya dengan berpuasa selama enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa selama setahun." Muhammad Shalih al-Munajjid dalam kitab Faidah-Faidah Seputar Puasa Syawal menjelaskan bahwa pahala setahun ini berasal dari lipatganda pahala, di mana puasa Ramadhan bernilai sepuluh bulan dan puasa Syawal bernilai dua bulan.

Selain ganjaran besar, puasa Syawal juga memiliki fadhilah dan hikmah yang luar biasa. Sukamto HM dalam bukunya Amalan Sesudah Bulan Ramadhan menegaskan bahwa puasa Syawal melatih jiwa untuk tetap konsisten dalam ketaatan.

Berikut ini adalah 12 alasan kenapa puasa syawal sangat dianjurkan setelah Idul Fitri. Simak selengkapnya.

1. Pahala Puasa Setahun Penuh

Alasan paling utama mengapa puasa Syawal sangat dianjurkan adalah janji pahala yang luar biasa dari Rasulullah SAW. Dalam hadits yang shahih, beliau bersabda:

"Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan, lalu ia mengiringi dengan berpuasa selama enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa selama setahun."(HR. Muslim: 1164)

Penjelasan lebih rinci tentang keutamaan ini disampaikan dalam hadits lain yang diriwayatkan Imam Ahmad, Ibnu Majah, dan Ibnu Khuzaimah:

"Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan, maka puasa selama sebulan sebanding dengan puasa selama sepuluh bulan, dan puasa enam hari setelah Idul Fitri sebanding dengan puasa selama dua bulan. Dengan demikian, hal itu setara dengan puasa selama setahun penuh."(HR. Ahmad: 22412; Ibnu Majah: 1715; Ibnu Khuzaimah: 2115)

Dalam Ebook Faidah-Faidah Seputar Puasa Syawal karya Muhammad Shalih al-Munajjid, para ahli fikih dari madzhab Hanabilah dan Syafi'iyah menegaskan bahwa berpuasa Syawal setelah berpuasa Ramadhan setara dengan berpuasa wajib setahun penuh. Ini merupakan keistimewaan yang tidak dimiliki oleh puasa sunnah lainnya.

2. Menyempurnakan Kekurangan Puasa Ramadhan

Alasan kedua yang sangat fundamental adalah fungsi puasa Syawal sebagai "penambal" kekurangan yang mungkin terjadi saat menjalankan puasa Ramadhan. Tidak ada seorang pun yang dapat menjamin bahwa puasa Ramadhannya sempurna tanpa cela.

Salah satu faidah puasa Syawal adalah untuk mengoreksi kekurangan yang terjadi dalam pelaksanaan puasa wajib di bulan Ramadhan. Hal ini berdasarkan hadits tentang shalat yang kemudian dianalogikan untuk seluruh ibadah:

"Sesungguhnya amalan seorang hamba yang pertama kali dihisab adalah shalatnya... Jika ada kekurangan dalam shalat wajibnya, Allah ta'ala berfirman: 'Lihatlah apakah hamba-Ku mengerjakan shalat sunnah.' Jika dia mengerjakan shalat sunnah, kekurangan dalam shalat wajib akan disempurnakan dengan shalat sunnah..."(HR. Abu Dawud: 864; at-Tirmidzi: 413)

Dalam ebook Amalan Sesudah Bulan Ramadhan karya Sukamto HM, hal ini juga ditekankan bahwa shalat sunnah termasuk amalan yang mesti kita jaga karena akan menutupi kekurangan pada shalat wajib. Analogi yang sama berlaku untuk puasa Syawal yang berfungsi menyempurnakan puasa Ramadhan.

3. Tanda Diterimanya Puasa Ramadhan

Alasan ketiga adalah bahwa puasa Syawal menjadi indikasi diterimanya amalan puasa Ramadhan. Para ulama salaf sering mengatakan bahwa di antara tanda diterimanya suatu kebaikan adalah diberikan taufik untuk melakukan kebaikan setelahnya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah RA menyatakan bahwa amal kebaikan akan membuahkan amal kebaikan berikutnya. Orang yang berhasil menyempurnakan puasa Ramadhan kemudian tergugah hatinya untuk melanjutkan dengan puasa Syawal menunjukkan bahwa puasa Ramadhannya telah membekas dalam jiwanya.

Sebaliknya, orang yang setelah Ramadhan justru meninggalkan ketaatan dan kembali kepada kemaksiatan, patut dipertanyakan kualitas ibadah Ramadhannya. Ini sejalan dengan kaidah yang disebutkan dalam Ebook Faidah-Faidah Seputar Puasa Syawal bahwa orang yang mengetahui menjadi hujjah atas orang yang tidak mengetahui.

4. Mensyukuri Nikmat Ramadhan

Alasan keempat adalah sebagai bentuk syukur atas nikmat Allah berupa kesempatan beribadah di bulan Ramadhan dan ampunan yang diperoleh. Allah berfirman dalam Al-Qur'an: "Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku."(QS. Al-Baqarah: 152)

Berzikir dan berdoa adalah cara untuk selalu mengingat Allah dan memohon pertolongan-Nya. Puasa Syawal merupakan wujud syukur atas selesainya ibadah Ramadhan dengan selamat. Seorang hamba yang bersyukur akan mendapatkan tambahan nikmat dan keberkahan dari Allah.

5. Istiqamah Setelah Ramadhan

Melatih diri tetap istiqamah dalam ketaatan setelah Ramadhan berlalu sangat penting. Banyak orang yang rajin beribadah di bulan Ramadhan, namun setelah itu kembali lalai dan meninggalkan ibadah.

Menjaga amalan setelah Ramadhan agar kita tetap istiqamah dalam beribadah. Beliau menyebutkan berbagai amalan yang bisa dilakukan, dengan puasa Syawal sebagai prioritas utama karena keutamaannya yang besar.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang terus-menerus dilakukan walaupun sedikit."(HR. Bukhari dan Muslim)

Puasa Syawal menjadi sarana untuk mempertahankan momentum ibadah Ramadhan agar tidak terputus begitu saja.

6. Meneladani Nabi dalam Membatalkan Tathayyur Jahiliyah

Alasan keenam yang tidak kalah penting adalah untuk meneladani Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dalam membuang keyakinan-keyakinan keliru masyarakat jahiliyah. Sebagaimana dijelaskan dalam Ebook Faidah-Faidah Seputar Puasa Syawal, bangsa Arab jahiliyah memiliki pesimisme (tathayyur) untuk menikah di bulan Syawal.

Mereka berkeyakinan bahwa setiap wanita yang menikah di bulan Syawal akan menolak suaminya seperti unta betina menolak onta jantan yang mengangkat ekornya setelah dibuahi (hamil). Anggapan sial ini dimentahkan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dengan menikahi Aisyah dan membangun rumah tangga bersamanya di bulan Syawal.

Ummu al-Mukminin Aisyah radhiallahu 'anha meriwayatkan: "Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menikahinya di bulan Syawal dan membangun rumah tangga dengannya di bulan Syawal."(HR. Muslim: 1423)

Dengan berpuasa Syawal, kita turut serta dalam membangun kesadaran bahwa bulan Syawal adalah bulan yang diberkahi, bukan bulan sial sebagaimana keyakinan jahiliyah.

7. Membantah Bid'ah dan Khurafat

Alasan ketujuh adalah untuk membantah berbagai bid'ah dan khurafat yang berkembang di masyarakat terkait bulan Syawal. Dalam Ebook Faidah-Faidah Seputar Puasa Syawal disebutkan beberapa keyakinan keliru, di antaranya:

  • Keyakinan bahwa puasa Syawal wajib dilakukan setiap tahun
  • Perayaan "Idul Abrar" pada hari kedelapan Syawal
  • Pesimisme menikah di antara dua hari raya

Dengan menjalankan puasa Syawal sesuai tuntunan, kita turut membantah berbagai keyakinan keliru tersebut.

8. Keluasan Waktu dan Kemudahan Pelaksanaan

Alasan kedelapan adalah karena puasa Syawal memberikan keluwesan dalam pelaksanaannya. Dalam Ebook Faidah-Faidah Seputar Puasa Syawal dijelaskan beberapa kemudahan:

  • Boleh berurutan atau terpisah
  • Boleh digabung dengan puasa sunnah lain. Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah juga menegaskan hal serupa bahwa orang yang melaksanakan puasa Syawal juga dianggap telah melaksanakan puasa sunnah tiga hari di setiap bulan.
  • Boleh berpuasa di hari Sabtu. Apabila puasa Syawal bertepatan dengan hari Sabtu, tetap diperbolehkan karena puasa dilakukan dengan niat puasa Syawal, bukan karena mengkhususkan hari Sabtu untuk berpuasa.

Yang perlu dipahami adalah bahwa puasa Syawal yang sempurna adalah yang didahului dengan menyelesaikan qadha puasa Ramadhan terlebih dahulu. Dalam Ebook Faidah-Faidah Seputar Puasa Syawal dijelaskan:

Fatawa al-Lajnah ad-Daimah (10/392) menegaskan bahwa mengikutkan puasa Ramadhan dengan puasa Syawal tidak bisa terealisasi kecuali setelah menyempurnakan puasa Ramadhan.

9. Keutamaan Mendahulukan Qadha Ramadhan

Bagi mereka yang memiliki udzur seperti wanita yang mengalami nifas sehingga tidak berpuasa Ramadhan, diperbolehkan mengqadha di seluruh bulan Syawal, kemudian boleh berpuasa Syawal di bulan Dzulqa'dah karena penundaan yang dilakukan karena kondisi darurat.

Hal ini dikemukakan oleh Syaikh Ibnu Utsaimin dalam Majmu' Fatawa (20/19) dan juga difatwakan oleh gurunya, Syaikh Ibnu as-Sa'di dalam al-Fatawa as-Sa'diyah (hlm. 230).

10. Membangun Kesadaran bahwa Puasa Syawal adalah Sunnah

Puasa Syawal hukumnya sunnah. Dalam Ebook Faidah-Faidah Seputar Puasa Syawal disebutkan bahwa sebagian ulama terdahulu sempat enggan berpuasa Syawal karena khawatir timbul keyakinan pada sebagian orang bahwa puasa tersebut termasuk puasa Ramadhan.

Tuntunan yang selaras dengan sunnah yang shahihah lebih tepat dan berhak untuk diikuti, serta tidak boleh ditinggalkan karena perkataan seseorang, siapa pun dia. Alasan khawatir terjadi kesalahpahaman tidak boleh digunakan untuk menentang ketentuan yang telah jelas dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

Orang yang mengetahui menjadi hujjah atas orang yang tidak mengetahui. Artinya, mereka yang paham tentang keutamaan puasa Syawal berkewajiban menyampaikan kepada yang belum tahu, bukan malah meninggalkan sunnah karena khawatir terjadi kesalahpahaman.

11. Fleksibilitas Waktu untuk Muamalah

Dengan fleksibilitas waktu puasa Syawal, seseorang dapat mengatur jadwal puasanya sehingga tetap bisa bersilaturahmi di hari-hari pertama Syawal, kemudian melanjutkan puasa di hari-hari berikutnya.

Puasa Syawal yang pelaksanaannya bisa diatur (tidak harus berturut-turut) memberikan kesempatan untuk tetap menjalin silaturahmi dengan keluarga, tetangga, dan kerabat di hari-hari pertama Syawal.

12. Melatih Jiwa untuk Terus Beramal

Dari aspek psikologis dan spiritual, puasa Syawal melatih jiwa untuk terus beramal. Dalam Ebook Amalan Sesudah Bulan Ramadhan, disebutkan bahwa bulan Ramadhan adalah madrasah (sekolah) yang melatih umat Islam untuk meningkatkan ketaatan. Setelah Ramadhan berakhir, kita harus mempraktikkan ilmu dan kebiasaan baik yang telah dipelajari.

Puasa Syawal menjadi ujian pertama setelah Ramadhan: apakah seseorang mampu mempertahankan semangat ibadahnya atau justru kembali kepada kelalaian. Puasa Syawal membantu seseorang melewati masa transisi dari bulan penuh semangat (Ramadhan) menuju bulan-bulan biasa dengan tetap menjaga kualitas ibadah.

People Also Ask:

Kenapa setelah Idul Fitri tidak boleh berpuasa?

TIDAK BOLEH BERPUASA PADA HARI RAYA Hari raya Idul Fitri dan Idul Adha merupakan hari kebahagiaan bagi umat Islam, sehingga berpuasa pada kedua hari tersebut dilarang dalam Islam. Pada hari itu, Allah ﷻ mensyariatkan umat-Nya untuk bersyukur, bertakbir, serta menikmati hidangan yang halal sebagai bentuk ibadah.

Mengapa Puasa Sunnah Syawal Sangat Dianjurkan?

Mendekatkan diri kepada Allah. Melalui ibadah sunnah seperti puasa Syawal, seorang hamba dapat semakin dekat dengan Allah SWT. Dalam hadits Qudsi disebutkan bahwa Allah mencintai hamba-Nya yang senantiasa mendekat dengan amalan-amalan sunnah.

Apakah melaksanakan puasa Syawal harus setelah hari raya Idul Fitri?

Puasa Syawal adalah puasa sunnah yang dilakukan selama enam hari di bulan Syawal, bulan yang mengikuti Ramadan dalam kalender Hijriah. Puasa ini dapat dimulai setelah Hari Raya Idul Fitri, yaitu pada tanggal 2 Syawal, dan dapat dilakukan secara berurutan maupun terpisah selama masih dalam bulan Syawal.

Mengapa puasa enam hari di bulan Syawal dianjurkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam?

Maksudnya seperti berpuasa wajib selama setahun, sebab jika tidak demikian maka tidak terkhusus dengan Ramadhan dan enam hari Syawal, sebab satu kebaikan dilipatgandakan pahalanya menjadi sepuluh kali lipat.”

Apakah haram berpuasa setelah Idul Fitri?

Sebenarnya haram hukumnya berpuasa pada hari raya Idul Fitri , sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut: Beliau [Nabi Muhammad SAW] melarang berpuasa pada hari raya Idul Fitri dan hari raya Nahr (hari kurban, yaitu Idul Adha).

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |