GALERI Orbital Dago di Bandung menghelat pameran bersama karya lima orang seniman dengan judul Drawing, Lagi-lagi Drawing sejak 15-26 Juli 2026. Lebih dari sekedar citra, karya gambar Bambang Subarnas, Sri Setyawati Mulyani alias Cipuk, Ni Ketut Ayu Sri Wardani, Isa Perkasa, dan Pupung Prayitno dibuat sebagai ekspresi, kontemplasi, refleksi dan narasi, spontanitas ide, serta eksperimentasi.
Sri Setyawati Mulyani alias Cipuk menampilkan karya bergambar figur, lanskap, juga abstrak dengan menggunakan tinta, cat air, arang, dan akrilik yang digaris, digores, atau ditoreh. Dia menanggalkan unsur pesan dalam karya karena cukup menikmati prosesnya setiap saat. Goresan garis yang dibuat menjadi hiburan sekaligus terapi. “Saya enggak bisa melukiskan pemberontakan, kesakitan, kembalinya karya itu untuk menghibur diri lagi,” ujarnya saat pembukaan pameran, 15 Juli 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Sementara Bambang Subarnas menjadikan drawing sebagai ruang kontemplasi dan eksplorasi bentuk. Garis dalam karyanya tidak hanya hadir sebagai batas visual melainkan proses pencarian yang memperlihatkan hubungan antara spontanitas dan pengendalian. Ada pun Pupung Prayitno menyajikan karya gambar dan teks pada kertas yang disusun seperti buku catatan harian, serta pada kanvas.
Sedangkan Ni Ketut Ayu Sri Wardani menampilkan kekaryaannya yang personal sebagai perempuan Bali dan pernah bersuamikan orang Batak. Budaya Bali ikut mempengaruhi gambarnya yang kadang disertai kritik. Setelah suaminya meninggal, dia fokus menggambar untuk menampilkan budaya Batak dan Toba di antaranya melalui figur perempuan. Ayu melihat ada kemiripan perempuan Batak dengan Bali yaitu pekerja keras.
Performance art Isa Perkasa di depan karyanya, 15 Juli 2026. Tempo/Anwar Siswadi
Di depan karyanya yang bergambar Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu serta penderitaan rakyat Palestina, Isa Perkasa melakukan art performance. Dia melilitkan benang wol berwarna merah di bagian kepala dengan ketat. “Saya menyampaikan kesakitan tentang luka di tanah Palestina,” ujarnya.
Menurut Ketua Dewan Kurator Galeri Nasional Aminudin TH Siregar yang membuka acara, para seniman di pameran ini memperluas istilah drawing sehingga tidak melulu soal gambar. Dia melihat ada ketidak puasan seniman pada kategori drawing atau gambar. “Sebenarnya itu dorongan purba dari kesenimanan yang dari dulu ingin memperluas,” katanya.
Sementara menurut Rifky Effendy dari Galeri Orbital Dago, drawing dalam sejarah seni rupa sering kali ditempatkan sebagai wilayah yang paling dekat dengan awal mula berpikir visual. Sebelum menjadi lukisan, patung, instalasi, atau bentuk artistik lainnya, hampir setiap gagasan berangkat dari sebuah garis. Namun, dalam perkembangan seni modern hingga kontemporer, drawing tidak lagi sekadar dipahami sebagai tahap persiapan atau sketsa menuju karya akhir. “Drawing telah menjadi praktik artistik yang mandiri,” ujarnya.








































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5531528/original/007916600_1773619112-unnamed__10_.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4403008/original/008750000_1681991372-20230420-Pemantauan-Hilal-Iqbal-7.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5544736/original/021119200_1775115709-gibran_promo_motor_-_klaim.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5378584/original/033747300_1760257934-unnamed__52_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4067423/original/029499900_1656490392-WhatsApp_Image_2022-06-29_at_2.40.46_PM.jpeg)
