Liputan6.com, Jakarta - Kisah nabi, rasul dan orang-orang shaleh dalam Al-Qur'an menjadi pelajaran penting bagi umat Islam. Salah satunya adalah kisah kesabaran Nabi Ayub AS menghadapi ujian, yang diulas cukup mendalam dalam nash.
Dr. Amin bin Abdullah asy‐Syaqawi dalam Buku Qishatu Nabiyyillahi Ayyuba 'Alaihis Salaam mengungkapkan, ada kekhasan kisah nabi atau orang shaleh yang disarikan dari Al-Qur'an. Al-Qur’an menghadirkan satu pola yang selalu berulang: ujian, kesabaran, lalu pertolongan.
Kisah para rasul bukan sekadar cerita, melainkan ibrah, peneguh hati, dan cahaya bagi orang beriman. Di antara deretan cerita itu, kisah Nabi Ayyub AS adalah salah satu yang paling sering dikutip ketika manusia membicarakan penderitaan dan kesabaran.
Ini bukan soal lamanya penderitaan Nabi Ayyub AS yang dalam berbagai riwayat disebut hingga 18 tahun, tetapi tentang cara beliau menghadapinya, tanpa satu keluhan pun kepada Allah. Nabi Ayyub bukan pasrah dengan keadaan, ini adalah tentang kesabaran, tawakkal, dan harapan melalui doa-doa kepada Allah SWT.
Kisah Kesabaran Nabi Ayub AS Menghadapi Ujian
Sebelum ujian itu datang, Ayyub adalah seorang nabi yang hidup dalam limpahan nikmat. Ia memiliki tanah luas di wilayah Huran, dekat negeri Syam. Ladangnya subur, ternaknya banyak, keluarganya besar dan penuh kebahagiaan.
Semua orang mengenalnya sebagai sosok dermawan yang lembut, “lisan yang basah dengan zikir dan hati yang lapang dengan syukur, tulis as-Syaqawi.
Namun sebagaimana lazim pada nabi-nabi terdahulu, ujian besar selalu datang. Ujian itu bukan untuk merendahkan, melainkan untuk meninggikan derajat.
Ujian itu turun perlahan, tetapi pasti. Kekayaannya lenyap, anak-anaknya wafat, dan akhirnya tubuhnya sendiri dilanda penyakit yang merusak hampir seluruh bagian.
Diriwayatkan, kulitnya mengelupas, tulang dan urat tampak, sementara orang-orang menjauhinya karena takut tertular.
Meski begitu, Nabi Ayyub tetap teguh dengan imannya. Hati dan lisannya tak henti-henti bertasbih, siang dan malam. Hatinya tetap menyala bak lentera yang terus menerus ditiup angin badai dari segala arah.
Nabi Ayyub AS Diasingkan
Pada puncak penderitaannya, Nabi Ayyub dikucilkan di luar kota. Tak ada lagi tempat bagi Ayyub di tengah masyarakatnya.
Muncul pemandangan ironis. Seorang nabi yang semula penuh dengan kemuliaan dan dihormati, kini tinggal di tempat yang bahkan binatang pun enggan berlama-lama di sana.
Namun, di tengah terendah ujian itu, Allah menyisakan satu cahaya, istrinya. Sang istri, yang namanya tidak disebut dalam riwayat, keteguhannya melampaui banyak nama yang diingat sejarah.
Dia merawat Ayyub tanpa lelah. Istri Nabi Ayyub juga bekerja serabutan demi mendapatkan uang untuk membeli makanan. Hingga suatu hari, warga menolak mempekerjakannya karena takut tertular penyakit Ayub.
Dalam putus asa, ia menggadaikan kepang rambutnya demi membeli makanan untuk suaminya. Besoknya ia menggadaikan kepang yang lain. Kepalanya kini gundul, tetapi justru dari situlah puncak doa Ayub terucap.
Ketika mengetahui hal itu, Nabi Ayyub AS amat sedih dan menengadah seraya berdoa,
أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ
“(Ya Tuhanku), aku telah ditimpa penyakit, dan Engkau adalah Yang Maha Penyayang di antara segala penyayang.” (QS. Al-Anbiya’: 83)
Doa itu bukan keluhan; itu adalah pengakuan lemah dan pujian lembut kepada Allah, doa paling indah dari seorang hamba yang telah kehilangan segalanya, kecuali Tuhan.
Pertolongan Ajaib Allah
Dalam Buku Kisah Nabi Ayyub Alaihis Salam (versi Indonesia Qishatu Nabiyyillahi Ayyuba 'Alaihis Salaam) penerjemah Muzaffar Sahidu, Allah menjawab doa itu dengan cara yang tak disangka. Kepada Ayub datang perintah lembut,
"Hantamkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandidan untuk minum. (QS. Shad: 42)
Tak menunggu lama, Aybub menghentakkan kakinya ke tanah. Dari bumi yang kering dan penuh debu itu memancar mata air sejuk.
Ia lantas mandi dan meminumnya. Seketika penyakitnya luruh. Kulitnya kembali segar, tubuhnya pulih, kekuatannya bangkit. Semua yang hilang, dikembalikan.
Allah bukan hanya menyembuhkan. Ayyub bahkan membuat keluarganya lebih sejahtera dan bahagia. Jumlahnya juga berlipat lebih banyak.
Dalam satu hadis sahih, bahkan disebutkan saat Ayub mandi, hujan belalang emas turun kepadanya. Ia memungutnya, hingga Allah menegur dengan penuh kasih:
“Wahai Ayub, bukankah Aku telah mencukupimu?” Ayub menjawab, “Benar, wahai Tuhanku. Tetapi aku tidak pernah puas dengan keberkahan-Mu.”
Menurut as-Syaqawi, jawaban Nabi Ayyub AS ini bukan ketamakan, melainkan kerinduan seorang hamba terhadap rahmat Tuhannya.
Ibrah Kisah Kesabaran Nabi Ayyub AS
Dalam konteks modern, kisah kesabaran Nabi Ayyub menghadapi ujian ini mengandung ibrah yang relevan:
1. Ujian Tidak Berarti Allah Membenci
Kisah Ayub menunjukkan bahwa ujian justru tanda kedekatan. Nabi Muhammad SAW sendiri menegaskan bahwa ujian terberat menimpa para nabi. Semakin kuat iman seseorang, semakin berat ujiannya. Ayub adalah cerminan ayat itu.
2. Istirja’ Sebagai Pelipur dan Hidupkan Harapan
Dalam setiap musibah, doa “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun” bukan sekadar kalimat formal. Ia adalah deklarasi bahwa kehilangan adalah bagian dari perjalanan pulang kepada Allah. Ayub membuktikan bahwa dari istirja’, datanglah pengganti yang lebih baik. Sebagaimana disebut dalam QS. Al-Baqarah; 155-157.
3. Istri Shalehah
Kepahlawanan istri Ayub adalah pelajaran besar bagi rumah tangga muslim. Dia setia ketika semua orang pergi, bekerja ketika suaminya tak bisa, dan bertahan ketika dunia menjauh.
Ujian itu bukan hanya ujian Ayub, tapi juga ujian cinta, kesetiaan, dan kemuliaan hati seorang istri.
4. Pertolongan Allah Selalu Datang dari Jalan yang Tak Diduga
Air yang memancar dan menjadi wasilah kesembuhan Nabi Ayyub AS menjadi salah satu bukti pertolongan tak terduga Allah SWT.
5. Bersabar, Sebab Pertolongan Selalu Dekat
Kisah Ayub adalah pesan langsung untuk setiap orang yang sedang diuji sakit, kehilangan harta dan keluarga, ditinggalkan kerabat dan dikucilkan masyarakat.
Dan pada akhirnya, pertolongan Allah datang, seindah mata air yang memancar dari tanah gersang.
Hikmah Kesabaran dan Doa Nabi Ayyub AS
Merujuk jurnal "Kisah Nabi Ayyub Dalam QS. Al-Anbiya’ Ayat 83-84 (Analisis Hermeneutika Wilhelm Dilthey)" oleh Dita Erlin Enjelina dan Wahidul Anam, terdapat Hikmah dari kesabaran dan doa Nabi Ayyub AS:
1. Sabar dalam Ujian
Nabi Ayyub adalah teladan kesabaran selama 18 tahun menderita, tanpa mengeluh kecuali hanya kepada Allah.
2. Kekuatan Doa
Doa yang dipanjatkan dengan penuh harap kepada rahmat Allah mustajab.
3. Pentingnya Istri yang Shalihah
Istri Nabi Ayyub adalah contoh kesetiaan dan pengorbanan dalam mendampingi suami yang sedang diuji.
4. Allah Selalu Memberi Jalan Keluar
Allah memberikan kemudahan setelah kesulitan, seperti kisah Nabi Ayyub yang diizinkan memukul istrinya dengan seikat rumput sebagai pengganti sumpahnya untuk mencambuk 100 kali.
5. Bersyukur atas Nikmat Kesehatan
Setelah sembuh, Nabi Ayyub bersyukur dengan berkata:"Benar wahai Tuhanku, akan tetapi aku tidak pernah merasa cukup dengan keberkahan yang Engkau berikan kepadaku." (HR. Al-Bukhari).
Seputar Pertanyaan Topik
1. Bagaimana Nabi Ayub as menghadapi ujian yang menimpanya?
Nabi Ayyub as melalui hari demi hari menerima dengan sabar atas cobaan yang menimpa dirinya. Menurut al-Jurjani, sabar adalah tidak berkeluh kesah kepada selain Allah tentang pedihnya suatu cobaan. Kesabaran terbagi menjadi tiga macam.
2. Apa yang bisa kita pelajari dari kisah Nabi Ayub tentang kesabaran?
Dari kisah ini kita belajar bahwa ujian hidup bukan untuk membuat kita putus asa, tapi untuk menguatkan iman dan mendekatkan diri kepada Allah. Kesabaran Nabi Ayub adalah teladan bagi kita semua.
3. Apa ujian Nabi Ayyub untuk membuktikan kecintaannya kepada Allah subhanahu wa ta'ala?
Allah SWT mengujinya dengan mengambil semua yang dimiliki, bahkan hingga dirinya sendiri terserang berbagai macam penyakit. Tubuhnya menjadi rusak, hanya menyisakan hati dan lisan yang masih digunakan untuk terus berdzikir mengingat Allah SWT.
4. Bagaimana sikap saudara Nabi Ayub di saat Nabi Ayub mendapat ujian?
Khutbah Jumat: Tiga Kategori Sikap Sabar
Kedua saudara itulah yang selalu memberinya makan dan menemuinya. Allah berkehendak menurunkan ujian kepada hamba-Nya.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5515498/original/093226700_1772178025-010411500_1540352808-pf-ake3273-num.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5515616/original/022919100_1772182056-Terminal_Jatijajar_Depok.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4769102/original/014075000_1710171937-20240311-Taraweh_Pertama_di_Istiqlal-ANG_1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5382022/original/048339900_1760524874-Sholawat_dan_Berdzikir.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5505405/original/077638700_1771386569-2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5505591/original/004405000_1771391548-baju_kurung.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5515025/original/077930200_1772148384-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1606355/original/da4eee4c0f11eaa06447a469562bbdd4ommons.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5169865/original/011956600_1742551032-Depositphotos_650337252_S.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5501800/original/006278100_1770956928-unnamed__12_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5080366/original/098387100_1736160174-1736156793388_caption-quotes-islami-singkat.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5514935/original/093643200_1772126473-WhatsApp_Image_2026-02-24_at_16.46.14.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5514742/original/096572900_1772104605-ShopeePay_Gebyar_Ramadan_2026_01.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5514291/original/081789300_1772086565-073849700_1414158415-x6.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4377848/original/055270800_1680189080-pexels-thirdman-7956574.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5514838/original/031002600_1772111058-san1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/697821/original/26062014-jelang-puasa.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2220482/original/035724700_1526813013-The_Blue_Mosque_at_night.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5379059/original/056919200_1760334225-sholawat_asyghil.jpg)













:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1554094/original/040157900_1491121330-stairs-735995_1920.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5348709/original/090969100_1757859256-bioskop.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4010689/original/086569000_1651202668-pexels-rayn-l-3163677.jpg)









