Monolog Jiwa Yang Sakit Di Atas Panggung

14 hours ago 10

Mengenakan jubah hitam dengan beragam simbol tanda kehormatan dan pangkat di sekujur lengan dan bajunya, Raden Budi Yuwono sibuk menyiapkan pesta ulang tahun cucu tercintanya. Ia menyusun dekorasi dari aneka barang mainan tradisional, seperti dua kuda lumping, balon-balon, dan mainan plastik. Di kiri kanannya dekorasi penuh tumpukan kotak hadiah.

Saat ia menginjak mainan berupa mainan, benda  itu seperti menjerit. Raden Budi pun ikut kaget latah,”Eh ya ampuuun, astaga buaya to kamu?, kok bunyinya seperti bayi. Eh korban, eh korban..., buaya lagi, lagi-lagi buaya. Siapa yang mengirim buaya ini.. untung tidak ada wartawan, kalau ada pasti akan jadi olok-olokan, Presiden kok latah.” Ia menggerutu tentang kerja wartawan, media yang suka sembrono dan sembarangan, menganggap presiden sebagai manusia super, bukan seorang manusia. Jadi kalau dia salah sedikit pasti akan ditulis sembarangan. Penonton tertawa kecil.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Ia memilih menyiapkan ulang tahun cucunya dengan sederhana, rela menjadi badut untuk Nada. Ketimbang nanti kembali diolok-olok, dipermalukan seluruh rakyatnya. Ia terus berceloteh tentang persiapan ulang tahun itu hingga keluar kesah yang lebih dalam. Menyentuh sisi-sisi batin yang kesepian, ketakutan, khawatir dan gusar. Demikianlah Budi Ros aktor senior Teater Koma, Budi Ros tampil bermonolog dengan judul Megalomania pada Kamis-Jumat, 16-17 Juli 2026 di Gedung Kesenian Jakarta, Sebuah lakon yang cukup menggelitik di tengah situasi saat ini.

Penampilan penulis naskah, sutradara, sekaligus aktor Budi Ros dalam monolog Megalomania di Gedung Kesenian Jakarta, Jakarta, 16 Juli 2026. Tempo/Muhammad Zaki Fauzi

Megalomania, Jiwa Yang Sakit Di Atas Panggung

Dalam waktu hampir 50 menit, Budi Ros menampilkan seorang mengalomania. Naskah yang ditulisnya sejak 2008 kemudian diperbaiki lagi pada 2020 ini lebih menampilkan naskah monolog psikologis ketimbang satire kekuasaan, dan politik yang sangat menyentil kiri kanan dengan sangat kritis.

Budi Ros memang menghadirkan tokoh ambisius, menjadi seseorang yang bisa mengendalikan semua situasi, menampilkan citra diri yang terhormat, tapi hidup di balik topeng rapuh yang menutupi kehilangan dan keruntuhan diri secara perlahan. Bukan hanya tentang jabatan dan kekuasaan besar yang ingin digenggamnya,tetapi dalam kesehariannya. Ia mencoba bertahan dalam dunianya sendiri. Antara dunia nyata dan halusinasinya. Dunia dengan kekuasaan yang melenakan, sekaligus menyedihkan.

Perlahan ia membuka lapis demi lapis sang tokoh yang dilakonkan. Budi yang seorang presiden, sekaligus ketua partai. Seperti mencerminkan tokoh-tokoh politik di negeri ini. Ia mengaku tak bercita-cita sebagai presiden, tapi situasilah yang menghendakinya menjadi presiden. Cita-citanya sebagai direktur. Ia pernah menjadi direktur apa saja seperti direktur bulu mata, pabrik kerupuk, pabrik sendal jepit di desanya. Sebuah kisah kesuksesan yang ironis.

“Situasilah yang mendorong saya sampai posisi ini, kalau nggak karena itu saya emoooh, emooh, emooh. Disodok kiri disodok kanan, diobok-obok terus, capeek. Betul-betul capek,” ujarnya.

Meski mengaku capek, selalu dicemooh, ditertawakan, dihujat, tapi ia berpura-pura seperti tak terjadi apa-apa, seperti menikmati. Ia juga sok cukup bijak untuk merasa cukup dengan kekuasaannya yang hanya ingin dua periode saja, mencegah keluarganya mengikuti jejaknya. Namun  toh mereka juga malah bersemangat menggantikannya. Istrinya sangat berambisi menjadi presiden, bahkan ‘meracuni’ cucunya untuk menjadi.  Sebuah paradoks yang nyata. Paradoks demi paradoks terus mengikuti setiap perkataan sang Presiden. Hingga mencapai klimaksnya.

Tumpukan kardus yang disebut kotak hadiah ulang tahun menjadi layar yang memperlihatkan kerusuhan, ketika massa mengamuk, menjarah—seperti gambaran ketika terjadi kerusuhan pada 1998. Sebagai presiden yang harus menghadapi situasi yang genting, ia semula cukup tenang dengan mengandalkan para petinggi di bawahnya.

Namun lama kelamaan ia gusar juga ketika bawahannya gagal mengendalikan keadaannya. Kemarahan, kekecewaan yang sangat dalam dan merasa terkhianati. Ia meluapkannya dengan ledakan emosi, berteriak hingga menjerit dalam tangisan, mengobrak abrik semua persiapan ulang tahun sang cucu. Di sanalah terkuak tentang siapa Raden Budi Yuwono yang mengangankan diri sebagai seorang presiden.

Di pentas itu, Budi Ros bertindak sebagai penulis naskah, menyutradarai sekaligus mementaskan tokoh sang megaloman. Panggung dipenuhi dengan dekorasi ulang tahun sang cucu yang menggerakkan cerita. Budi  menghadirkan tokoh Nada, cucunya dengan boneka dan istrinya,  dengan mengubah suaranya. Budi menirukan suara bocah tiga tahun yang manja, dan suara istrinya yang cerewet, centil dan ambisius.

Celoteh Budi Ros memang tidak langsung menggedor. Ia mengajak penonton perlahan menekuri jalan cerita yang berpangkal dari ulang tahun sang cucu. Penonton juga diajak mendengarkan lalu keluh kesah hidupnya, kekecewaan-kekecewaannya. Sembari menceritakan kehebatan dirinya sebagai seorang yang penyayang keluarga, pemimpin yang bersahaja, patut diteladani, sosok yang demokratis. Perlahan dalam alur yang agak monoton. Ia baru benar-benar menggebrak di puncak akhir cerita.

Pukulan simbal dan ketukan bambu, hadir untuk menebalkan emosi dan perpindahan suasana. Diperkuat dengan sorot lampu di panggung untuk menampilkan nuansa emosi  sang tokoh, ketika ia marah, jengkel, sedih dan kecewa. Budi Ros sebagai aktor senior cukup matang mengantarkan cerita sang presiden. Ia menguasai panggung dengan kalimat-kalimat yang diiucapkannya. Mengajak penonton ikut berefleksi.

Budi Ros menyebutkan naskah ini salah satu dari 27 kumpulan monolog yang telah dibukukan. Ide menulis naskah Megalomania ini muncul sehabis berbincang-bincang dengan orang yang mengalami gangguan kejiwaan. Dari sanalah kemudian salah satu aktor kawakan di Teater Koma ini menggarap naskahnya dan menyutradarai lakon tersebut. Dia juga yang memerankan tokoh bernama Raden Budi Yuwono yang akan menjadi sentral cerita ini.

Sebenarnya sejak tahun tahun lalu ia ingin mementaskan naskah ini. Namun keinginan itu tertunda terbentur hal-hal teknis. Kendati demikian, ia merasa naskah ini bisa dipentaskan setiap saat. “Menurutku lakon ini bisa cocok kapan aja. Sekarang ini juga cocok karena banyak orang kena Megaloman. Bukan cuma hari ini. Penyakit  ini kan ada sepanjang zaman,” ujar Budi lagi.

Pentas ini bisa menjadi ‘pemanasan’ dari lakon yang akan dipentaskan oleh Teater Koma pada akhir bulan Juli nanti meski keduanya tidak saling berhubungan. Budi pun tidak tampil dalam pentas berjudul Rumah Sakit Jiwa yang akan dipentaskan Teater Koma. Meski begitu, keduanya sama-sama menyentil tema psikologis, soal penyakit kejiwaan di tengah masyarakat kini, yang diangkat ke panggung.

Pilihaan Editor:

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |