Pendidikan Anak Usia Dini Menurut Islam, Panduan Tarbiyah Sejak Pra-Kelahiran

3 months ago 37

Liputan6.com, Jakarta - Pendidikan anak usia dini menurut Islam merupakan proses pembentukan manusia yang dimulai sejak sangat dini, bahkan sebelum anak lahir. Perspektif ini menawarkan  konfigurasi berbeda, di mana lazimnya pendidikan anak usia dini (PAUD) dimulai pada umur emas anak setelah lahir.

M. Ihsan Dacholfany dan Uswatun Hasanah dalam buku Pendidikan Anak Usia Dini Menurut Konsep Islam menjelaskan, masa dini merupakan fase paling menentukan karena struktur emosional, akhlak, dan spiritual anak sedang dibentuk.

Islam menempatkan anak sebagai amanah dan titipan Allah yang harus dijaga fitrah, akhlak, kesehatan, serta perkembangan mentalnya. Karena itu, pendidikan pertama berlangsung dalam keluarga melalui keteladanan orangtua, kasih sayang, komunikasi, dan lingkungan yang bernilai ibadah.

Dalam Islam, pendidikan dimulai sejak sebelum anak lahir. Dalam konteks lebih luas, pendidikan usia dini bahkan dimulai ketika pra-pernikahan. Yang artinya, sebelum mendidik anak, (calon) orangtua harus mempersiapkan diri sebaik-baiknya, baik secara kognitif maupun spiritual.

Dasar Teologis Pendidikan Anak Usia Dini Menurut Islam

Merujuk Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali apa yang ditanamkan orangtua di usia dini akan membekas hingga dewasa. Pendidikan Islam menggabungkan tiga pendekatan utama, yaitu keteladanan, pembiasaan, dan suasana rumah yang penuh rahmah.

Islam memandang anak sebagai amanah yang harus dipelihara dan dididik secara holistik, jasmani, rohani, akal, dan akhlaknya. Pendidikan agama sejak dini merupakan fondasi pembentukan pribadi muslim.

“Anak merupakan amanah Allah. Kewajiban orangtua ialah menjaga dan memelihara anak demi pertumbuhan rohani dan jasmani," demikian dikutip dari buku Pendidikan Anak Usia Dini Menurut Konsep Islam.

Adapun landasan teologis pendidikan anak usia dini termaktub dalam Al-Qur'an maupun hadis. Di antaranya, QS. Ar-Rûm: 30 tentang fitrah manusia dan ketauhidannya.

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Rûm: 30).

Mak itu, pendidikan dini menjaga fitrah itu tetap lurus. Hal ini sejalan dengan Kesaksian azali yang termaktub dalam QS. Al-A‘râf 172 tentang perjanjian ruh manusia dengan Allah.

"(Ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari tulang punggung anak cucu Adam, keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksiannya terhadap diri mereka sendiri (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” (Kami melakukannya) agar pada hari Kiamat kamu (tidak) mengatakan, “Sesungguhnya kami lengah terhadap hal ini,” (QS. Al-A‘râf 172).

Ayat ini menjadi dasar bahwa anak memiliki potensi iman yang harus dirawat sejak dini.

Perspektif Islam tentang PAUD, Dimulai sejak Pra-Kehamilan

Merujuk ayat-ayat Al-Quran di atas, dalam perspektif Islam, Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) bukan mulai usia 0–6 tahun, tetapi sejak memilih pasangan hingga masa kehamilan. Hal ini selaras dengan literatur klasik seperti Tarbiyatul Aulad karya Abdullah Nashih Ulwan.

Maka itu, PAUD dalam perspektif Islam meliputi pra-kehamilan dan bahkan pra-pernikahan:

1. Memilih pasangan yang saleh

Nabi SAW bersabda: “Perempuan dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Maka pilihlah yang beragama, niscaya engkau beruntung.”(HR. Bukhari No. 5090 dan Muslim No. 1466).

Kualitas pendidikan anak ditentukan sejak pemilihan pasangan. Dalam Syarah Shahih Muslim, Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa hadis ini bukan perintah untuk menikahi wanita karena empat faktor tersebut, melainkan penjelasan tentang kebiasaan manusia dalam menentukan pasangan. Umumnya orang terpikat karena harta, keturunan (nasab), kecantikan, atau agama.

Dalam hal ini, agama menjadi faktor paling determinan.

2. Doa-doa dan Etika Rumah Tangga

Doa-doa dalam interaksi suami istri pra kelahiran juga menjadi faktor yang menentukan. Di antaranya adalah doa jima’, yang kelak menghindarkan anak dari gangguan setan

Hal ini berdasar hadis sahih dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma:

“Jika salah seorang di antara kalian ketika hendak menggauli istrinya membaca: Allahumma jannibnasy-syaithân wa jannibi asy-syaithâna mâ razaqtanâ, lalu jika dari hubungan itu ditakdirkan lahir seorang anak, maka setan tidak akan dapat membahayakannya.” (HR. Bukhari No. 141 dan Muslim No. 1434).

3. Tahap perkembangan janin (nutfah–‘alaqah–mudghah)

Baik sains, psikologi perkembangan dan agama Islam memandang, pada masa prakelahiran atau janin masih ada di dalam rahim sudah mampu menyerap ilmu dan contoh perilaku. Karenanya, pendidikan sudah harus dimulai pada fase ini.

Pembiasaan membaca Al-Qur'an, perilaku santun, tutur kata baik anak membentuk perilaku anak.

Perkembangan biologis janin ini juga didasarkan pada ayat-ayat Al-Qur’an (QS. Al-Mu'minun: 12–14, Al-Qiyamah: 37–39).

4. Peran suami selama kehamilan

Tak kalah penting adalah peran suami-ayah dalam pendidikan anak usia dini. Ayat QS. Al-A‘râf 189 dijadikan dasar bahwa suami harus mendampingi dan menenangkan istri yang mengandung.

Pendidikan Anak Sejak Lahir

Mengutip pandangan Prof. Zakiah Daradjat dalam buku Ilmu Jiwa Agama, agama berfungsi membimbing manusia menghadapi kesukaran dan menenteramkan batin. Pendidikan agama sejak kecil memberi pengaruh kuat pada perilaku religius seseorang.

Beberapa sunnah kelahiran dijelaskan bukan hanya sebagai ritual, tetapi fondasi pembentukan spiritual dan emosional anak.

1. Azan dan Iqamah

Azan dan iqamah yang diperdengarkan pada saat kelahiran adalah stimulus pertama bagi jiwa anak. Dalam hal ini, suara yang didengarnya adalah suara tauhid.

“Aku melihat Rasulullah mengumandangkan azan di telinga Hasan bin Ali…” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi).

Dalam perspektif psikologi Freudian, suara pertama berpengaruh pada jiwa bayi.

2. Tahnik

Tahnik adalah sunah Nabi SAW berupa mengunyah sedikit kurma lalu mengoleskan atau memasukkan cairan kurma yang sudah lumat ke langit-langit mulut bayi yang baru lahir.

Jika tidak ada kurma, dapat diganti dengan makanan manis lainnya. Praktik ini dilakukan oleh Nabi SAW terhadap bayi yang baru lahir pada masa beliau, termasuk terhadap anak-anak para sahabat.

Manfaat tahnik bisa dijelaskan dari perspektif syar‘i dan biologis, termasuk stimulus oral bayi.

3. Akikah dan cukur rambut

“Setiap anak tergadai dengan akikahnya; disembelihkan untuknya pada hari ketujuh, dicukur rambutnya, dan diberi nama.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah).

Hadis ini menjadi dasar tiga praktik penting pada masa awal kehidupan bayi, yakni kikah, cukur rambut dan memberi nama yang baik. Semua ini memiliki dimensi pendidikan yang mendalam.

Konsep Pendidikan Islam untuk Anak Usia Dini

Konsep pendidikan Islam untuk anak usia dini berpusat pada pembentukan manusia seutuhnya, jasmani, rohani, akal, dan akhlak, dengan berlandaskan fitrah dan nilai-nilai Al-Qur’an serta Sunnah.

Pendidikan tidak hanya berupa transfer pengetahuan, tetapi proses penanaman iman, adab, dan karakter melalui keteladanan, pembiasaan, dan lingkungan keluarga yang religius.

Ada dua hal terpenting, yakni:

1. Proses Membentuk Perilaku

Pendidikan Islam adalah proses mengubah perilaku dengan mengembangkan potensi akal, spiritual, emosional, dan sosial berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah.

Imam al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa pendidikan adalah “penyucian jiwa dan pembentukan akhlak”.

2. Konsep Abd (Hamba) dan Khalifah (pengelola/penanggung jawab)

Tujuan pendidikan dalam perspektif Islam terkait dengan misi penciptaan manusia sebagai ‘abd dan khalifah:

  • Menanamkan jiwa keagamaan
  • mengembangkan kepribadian
  • menghubungkan pendidikan keluarga
  • sekolah
  • membentuk manusia yang diridai Allah.

Tujuan pendidikan Islam adalah menghasilkan manusia yang menjalankan fungsi penghambaan kepada Allah, sekaligus tuntutannya sebagai makhluk yang diberi tanggung jawab mengelola dan merawat bumi (Khalifatul Ardh).

Perkembangan Anak Usia Dini dalam Islam

Penulis mengadopsi teori-teori perkembangan modern (Piaget, psikologi perkembangan) kemudian menghubungkannya dengan nilai Islam:

1. Perkembangan Kognitif (Piaget)

Anak berkembang melalui tahap sensori-motorik (0–2 tahun) dan pra-operasional (2–7 tahun). Belajar melalui pengalaman langsung, pengulangan, dan interaksi konkret.Islam mendukung proses ini melalui pembiasaan adab, stimulus lingkungan, dan pendidikan bertahap (tadarruj).

2. Perkembangan Bahasa

Kemampuan bahasa berkembang melalui interaksi, percakapan, dan stimulus verbal dalam keluarga. Lingkungan rumah yang penuh doa, salam, zikir, dan percakapan hangat memperkaya kosakata anak. Dalam Islam, orangtua dianjurkan memperdengarkan kata-kata baik karena ucapan adalah pendidikan.

3. Perkembangan Sosial-Emosional

Anak belajar melalui peniruan (modeling), konsep dari teori Bandura. Emosi, akhlak, dan perilaku sosial berkembang melalui teladan orangtua. Islam menyebut ini sebagai uswah hasanah. Keteladanan adalah metode pendidikan utama.

4. Perkembangan Fisik-Motorik

Motorik kasar dan halus berkembang melalui aktivitas gerak sesuai usia. Orangtua berkewajiban menjaga kesehatan dan aktivitas fisik anak sebagai bentuk amanah menjaga tubuh (‘hifzh al-nafs’ dalam maqasid syariah).

5. Tumbuhnya Jiwa Keagamaan Anak

Potensi keagamaan tumbuh dari pengalaman melalui orangtua, ucapan, tindakan, dan sikap. Potensi spiritual ada sejak lahir (fitrah), namun berkembang melalui pengalaman keseharian. Anak menangkap pengalaman ibadah (doa, salam, azan, kasih sayang) sebagai pembentuk spiritual awal.

6. Teori Modeling (Bandura)

Anak meniru apa yang dilihat, bukan sekadar apa yang diajarkan. Jika orangtua shalat, anak ingin meniru. Jika orangtua lembut dan jujur, anak merekamnya sebagai akhlak. Ini sesuai prinsip Islam bahwa pendidikan terbaik adalah teladan nyata.

7. Keterkaitan dengan Konsep Ta’dib

Ta’dib berarti penanaman adab yang benar dan merupakan inti dari pendidikan Islam. Pendidikan bukan hanya pengetahuan, tetapi menata jiwa agar mengenal tempatnya di hadapan Allah.

Anak belajar adab melalui disiplin lembut, keteladanan, pembiasaan amal, lingkungan yang tenang dan penuh rahmah.

Pendidikan Agama Islam pada Anak Usia Dini

1. Nilai-Nilai Keagamaan yang Harus Ditanamkan

Nilai inti yang ditanamkan adalah tauhid, ibadah dasar, adab (makan, berpakaian, tidur, toilet training), kemandirian, hingga kedisiplinan.

Hal ini sejalan dengan hadis: “Didiklah anakmu dengan tiga hal: cinta Nabi, cinta keluarga Nabi, dan membaca Al-Qur’an.” (diriwayatkan oleh Ad-Dailamidalam Musnad al-Firdaus dan disebut oleh Abu Bakr al-Bayhaqi dalam Syu‘ab al-Iman, tapi banyak yang menilainya Dhaif).

2. Metode Pendidikan

Metode pendidikan dalam Islam dilakukan melalui keteladanan (uswah), pembiasaan, nasihat, cerita, reward dan punishment yang proporsional, serta kasih sayang sebagai landasan utama.

Metode ini sejalan dengan gagasan Ibn Khaldun tentang pembelajaran bertahap dan Ibnu Miskawaih tentang pembentukan akhlak melalui habituasi.

Peran Orangtua dan Pola Asuh Islami

Dari paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa orangtua adalah pendidik utama. Dalam perspektif Islam, ada beberapa rekomendasi pola asuh:

1. Pola Asuh Demokratis Islami

Menghargai anak sebagai individu, memberikan pilihan seperlunya, memberikan penjelasan dengan lembut. menghindari kontrol berlebihan.

2. Penuh Empati dan Komunikasi

Anak diajak berdialog, dipahami perasaannya, dan dihormati sebagai pribadi.

3. Disiplin Penuh Kasih

Berdasarkan contoh dan pembiasaan, bukan ancaman.

4. Menghindari Kekerasan

Beberapa kesalahan pengasuhan, termasuk terlalu banyak intervensi, membandingkan anak, hingga ketidakkonsistenan orangtua.

5. Berdasar Delapan Fungsi Keluarga

Fungsi keluarga meliputi fungsi agama, fungsi cinta kasih, perlindungan, pendidikan (edukasi), sosialisasi, ekonomi,  biologis, dan transformasi budaya.

Penjelasan fungsi ini menunjukkan bahwa pendidikan anak usia dini tidak hanya kegiatan mengajar, tetapi proses total pembentukan manusia melalui atmosfer keluarga.

Pertanyaan Seputar Topik

1. Konsep pendidikan anak usia dini menurut Islam?

Pendidikan anak usia dini (PAUD) dalam Islam berfokus pada penanaman akidah sejak dini, pembentukan akhlak mulia, pengenalan ibadah, dan pembinaan kemandirian. Hal ini dilakukan dengan mencontohkan kebiasaan baik, membacakan Al-Qur'an, mengajarkan tanggung jawab, serta menjaga keseimbangan antara dunia dan akhirat.

2. Pengertian PAUD Menurut Maria Montessori?

Menurut Maria Montessori pendidikan anak usia dini adalah pendidikan yang diberikan untuk anak 0-6 tahun dilakukannya dilingkungan sekolah dengan materi keterampilan sehari-hari menggunakan metode lahiriah dan batiniah yang memberikan kebebasan anak untuk memilih aktivitas dan media yang ingin digunakan.

3. Apa pandangan Ki Hajar Dewantara tentang PAUD?

Ki Hajar Dewantara, seorang tokoh pendidikan nasional menyatakan bahwa pendidikan anak usia dini merupakan masa peka atau masa penting bagi kehidupan anak, dimana pada masa tersebut masa terbukanya jiwa anak sehingga segala pengalaman yang diterima anak pada masa usia di bawah tujuh tahun akan menjadi dasar jiwa yang

4. Bagaimana cara mendidik anak yang baik menurut syariat Islam?

8 Tips Cara Mendidik Anak Agar Sholeh - PT Mustika Pustaka NegeriMendidik anak dalam Islam menekankan pentingnya menanamkan tauhid dan akhlak mulia sejak dini, menjadi teladan yang baik, serta membiasakan ibadah dan kasih sayang. Metode lain yang dianjurkan termasuk mengajarkan tentang halal-haram, kemandirian, tanggung jawab, dan berdoa untuk mereka, serta selalu menghargai dan mendengarkan anak.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |