Liputan6.com, Jakarta - Sholat sunnah yang mengiringi ibadah wajib kembali dibahas masyarakat, khususnya terkait Perbedaan Sholat Sunnah Rawatib Qobliyah dan Ba'diyah yang sering menjadi pertanyaan umum di banyak majelis. Pembahasan ini penting karena keduanya memiliki fungsi berbeda meski sama-sama bertujuan menyempurnakan ibadah fardu seorang Muslim.
Perhatian terhadap Perbedaan Sholat Sunnah Rawatib Qobliyah dan Ba'diyah semakin meningkat karena banyak umat ingin memahami waktu pelaksanaannya agar tidak keliru. Perbedaan tersebut muncul dari sisi waktu, niat, serta jumlah rakaat yang disyariatkan pada setiap waktu sholat.
Ulama menjelaskan bahwa sholat rawatib memiliki posisi istimewa karena menjadi pelengkap dari kekurangan ibadah wajib yang mungkin tidak disadari. Hal ini menjadikannya amalan sunnah yang sangat dianjurkan dan memiliki keutamaan besar bagi para pelakunya.
Pemahaman terhadap rawatib juga mempermudah umat dalam mengatur ibadah harian, terutama bagi mereka yang ingin menjaga kualitas sholat lima waktu secara konsisten.
Pengertian dan Pembagian Sholat Rawatib
Sholat rawatib secara umum terbagi menjadi dua bagian, yaitu qobliyah dan ba'diyah. Sholat qobliyah adalah sholat sunnah yang dilakukan sebelum sholat fardu, sementara sholat ba'diyah merupakan sholat sunnah yang dikerjakan setelah sholat wajib selesai dilaksanakan.
Dalam beberapa hadis, sholat rawatib disebut sebagai amalan sunnah yang senantiasa dijaga Rasulullah, khususnya pada waktu-waktu tertentu. Para ulama menyebut rawatib sebagai amalan yang memiliki hubungan langsung dengan sholat wajib, sehingga kedudukannya lebih kuat dibandingkan sholat sunnah lainnya.
Pembagian ini bertujuan agar seorang Muslim memahami skema ibadah secara runtut, sehingga mampu menghindari kekeliruan dalam pelaksanaannya.
Penjelasan mengenai waktu pelaksanaannya pun diperjelas ulama fikih, termasuk Ibnu Qudamah yang menegaskan berlakunya batasan waktu sholat rawatib sesuai masuk dan berakhirnya waktu sholat wajib.
Tata Cara dan Niat Pelaksanaan
Dalam praktik ibadah, tata cara sholat qobliyah dan ba'diyah sama seperti sholat sunnah lainnya, baik dalam bacaan maupun gerakan. Perbedaan utama terletak pada niatnya, yang disesuaikan dengan waktu dan jenis sholat rawatib yang ingin dilakukan.
Pada sholat qobliyah Subuh misalnya, terdapat niat khusus yang sering disebut sebagai sunnah fajar, yaitu:
اُصَلِّى سُنَّةَ قَبْلِيَّةً الصُّبْحِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ ِللهِ تَعَالَى
Usholli sunnata qobliyyatas sh-shubhi rok’ataini mustaqbilal qiblati lillahi ta’ala
Artinya: Aku niat melakukan sholat sunnah sebelum Subuh dua rakaat menghadap kiblat karena Allah ta'ala.
Niat ini menjadi dasar seseorang memasuki sholat rawatib sesuai jenis dan waktunya. Selain itu, pada sholat Zuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya, terdapat variasi niat sesuai jenis sholat sunnah yang dilakukan.
Para ulama mengajarkan pentingnya menghadirkan niat sebagai pembeda antara sholat rawatib dan sholat sunnah lainnya, agar ibadah memiliki kejelasan tujuan di hadapan Allah.
Keutamaan Sholat Qobliyah dan Ba'diyah
Keutamaan rawatib menjadi alasan utama mengapa amalan ini sangat dianjurkan dalam kehidupan seorang Muslim. Salah satu fadilahnya adalah menjadi penyempurna kekurangan yang mungkin terjadi pada sholat wajib.
Hal ini ditegaskan Rasulullah dalam hadis riwayat Ibnu Majah, bahwa sholat sunnah dapat menambal kekurangan sholat fardu ketika seorang hamba dihisab. Dengan demikian, rawatib memiliki nilai fungsional yang sangat berarti dalam penyempurnaan ibadah.
Selain itu, sholat rawatib juga dapat mengantarkan seorang hamba mendapatkan rida Allah. Dalam riwayat An-Nasa’i disebutkan bahwa seseorang yang menjaga dua belas rakaat rawatib akan dibangunkan rumah di surga.
Keutamaan lain muncul pada sholat sunnah fajar atau qobliyah Subuh, yang disebut Rasulullah lebih baik dari dunia dan seisinya. Ucapan ini menunjukkan betapa besarnya nilai ibadah tersebut bagi kehidupan seorang Muslim.
Dalil dan Penjelasan Ulama Fikih
Dalam literatur fikih, penjelasan mengenai sholat rawatib ditemukan dalam berbagai mazhab dengan rincian yang relatif mirip. Ibnu Qudamah, dalam Al-Mughni, menjelaskan batasan waktu sholat qobliyah dimulai sejak masuknya waktu sholat fardu hingga sholat wajib dikerjakan.
Sementara itu, sholat ba'diyah dimulai setelah seseorang menyelesaikan sholat wajib hingga akhir waktu sholat tersebut. Penjelasan ini memudahkan umat memahami batas-batas yang tidak boleh dilanggar saat menunaikan rawatib.
Pendapat para ulama mazhab Syafi'i, Maliki, Hanbali, dan Hanafi pun memiliki titik temu mengenai kedudukan rawatib sebagai sunnah muakkadah pada beberapa waktu. Terutama qobliyah Subuh dan ba'diyah Maghrib yang sangat ditekankan pelaksanaannya.
Ulama terdahulu juga menegaskan bahwa meninggalkan rawatib tanpa uzur dianggap sebagai bentuk kelalaian, meskipun tidak berdosa. Namun, amalan ini sangat dianjurkan karena menjaga konsistensi ibadah seorang Muslim.
Rincian Jumlah Rakaat Rawatib
Dalam pelaksanaan harian, jumlah rakaat rawatib yang paling populer adalah dua belas rakaat. Rinciannya meliputi dua rakaat sebelum Subuh, empat rakaat sebelum Zuhur, dua rakaat setelah Zuhur, dua rakaat setelah Maghrib, dan dua rakaat setelah Isya.
Sebagian ulama menambahkan bahwa pada waktu Zuhur dan Ashar, seseorang dapat menambah jumlah rakaat qobliyah menjadi empat rakaat jika mampu. Hal ini berdasar hadis yang memuji orang yang menjaga empat rakaat sebelum Ashar.
Rincian ini menjadi acuan banyak umat untuk mengatur jadwal ibadah harian, terutama bagi mereka yang ingin melatih konsistensi dalam beribadah.
Keterangan tersebut juga menjadi dasar dalam memahami skema rawatib tanpa mengubah struktur yang diajarkan Rasulullah.
Peran Rawatib dalam Menjaga Kekhusyukan Ibadah
Sholat rawatib tidak hanya menjadi penyempurna, tetapi juga membantu seorang Muslim menjaga kekhusyukan ketika memasuki sholat wajib. Amalan sebelum dan sesudah sholat menjadi ruang persiapan mental untuk lebih fokus dalam ibadah.
Dengan menjaga rawatib secara konsisten, seseorang secara tidak langsung membangun kebiasaan ibadah yang teratur. Hal ini berdampak besar pada kualitas ibadah fardu yang menjadi kewajiban utama setiap Muslim.
Ulama mengatakan bahwa rawatib merupakan salah satu cara agar seorang Muslim tetap berada dalam ritme ibadah sepanjang hari. Dengan demikian, hidup seorang mukmin akan senantiasa berada dalam lingkar ibadah yang berkualitas.
Pada akhirnya, rawatib tidak hanya menjadi pelengkap ibadah, tetapi juga bentuk kedisiplinan spiritual yang sangat bermanfaat bagi seorang Muslim.
Pertanyaan Seputar Topik
1. Apa keutamaan terbesar sholat qobliyah Subuh?Keutamaan terbesar adalah lebih baik dari dunia dan seisinya, sebagaimana disebut Nabi dalam hadis sahih. Sholat ini sangat ditekankan untuk tidak ditinggalkan.
2. Apakah sholat rawatib boleh dijamaah?Sholat rawatib dianjurkan dikerjakan secara munfarid, namun tetap sah bila dilakukan berjamaah meski tidak disunnahkan.
3. Apakah boleh menggabungkan niat rawatib dengan sholat sunnah lain?Mayoritas ulama tidak menganjurkan penggabungan niat karena rawatib memiliki fungsi khusus sebagai pelengkap sholat wajib.
4. Kapan batas terakhir sholat ba'diyah?Batasnya adalah selama waktu sholat wajib tersebut belum habis, sesuai penjelasan ulama fikih.
5. Apakah meninggalkan rawatib termasuk dosa?Tidak berdosa, namun dianggap mengurangi keutamaan dan dinilai sebagai bentuk kelalaian terhadap sunnah muakkadah.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5515498/original/093226700_1772178025-010411500_1540352808-pf-ake3273-num.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5515616/original/022919100_1772182056-Terminal_Jatijajar_Depok.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4769102/original/014075000_1710171937-20240311-Taraweh_Pertama_di_Istiqlal-ANG_1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5382022/original/048339900_1760524874-Sholawat_dan_Berdzikir.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5505405/original/077638700_1771386569-2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5505591/original/004405000_1771391548-baju_kurung.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5515025/original/077930200_1772148384-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1606355/original/da4eee4c0f11eaa06447a469562bbdd4ommons.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5169865/original/011956600_1742551032-Depositphotos_650337252_S.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5501800/original/006278100_1770956928-unnamed__12_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5080366/original/098387100_1736160174-1736156793388_caption-quotes-islami-singkat.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5514935/original/093643200_1772126473-WhatsApp_Image_2026-02-24_at_16.46.14.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5514742/original/096572900_1772104605-ShopeePay_Gebyar_Ramadan_2026_01.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5514291/original/081789300_1772086565-073849700_1414158415-x6.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4377848/original/055270800_1680189080-pexels-thirdman-7956574.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5514838/original/031002600_1772111058-san1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/697821/original/26062014-jelang-puasa.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2220482/original/035724700_1526813013-The_Blue_Mosque_at_night.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5379059/original/056919200_1760334225-sholawat_asyghil.jpg)













:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1554094/original/040157900_1491121330-stairs-735995_1920.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5348709/original/090969100_1757859256-bioskop.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4010689/original/086569000_1651202668-pexels-rayn-l-3163677.jpg)









