Peringatan 1 Suro di Keraton Surakarta di Tengah Dualisme

2 hours ago 2

PERINGATAN 1 Suro di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat pada Selasa, 16 Juni 2026 malam hingga Rabu 17 Juni 2026 dini hari, berlangsung di tengah dualisme kepemimpinan yang tengah terjadi di lingkungan keraton.

Pantauan Tempo, sejak Selasa sore sekitar pukul 16.00 WIB kawasan Keraton Surakarta mulai ramai dengan kedatangan kerabat, abdi dalem dan sentana dalem untuk mengikuti rangkaian perayaan pergantian tahun Jawa. Aktivitas terpusat di sekitar Sasana Sewaka dan area inti keraton.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Kubu SISKS Paku Buwono XIV atau KGPH Hangabehi menempati Paningrat Ler atau kanopi sisi utara Sasana Sewaka. Hangabehi tampak duduk bersama Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) GKR Koes Moertiyah Wandansari atau Gusti Moeng dan KGPH Panembahan Agung Tedjowulan.

Sementara itu, SISKS Paku Buwono XIV atau KGPH Puruboyo berada di Sasana Parasdya bersama anggota keluarganya. Pendukung kedua kubu menempati area yang berbeda di sekitar Sasana Sewaka.

Pendukung Hangabehi terlihat memenuhi pelataran timur dan sebagian sisi selatan Pendapa Sasana Sewaka. Adapun pendukung Puruboyo berkumpul di sebagian pelataran sisi selatan kawasan tersebut. Dari pantauan di lokasi, Hangabehi dan para pendukungnya tampak menghadap ke arah timur. Sementara Puruboyo berada di area Sasana Parasdya yang terletak di sisi lain kompleks keraton.

Menjelang pergantian hari, perhatian pengunjung tertuju pada pelaksanaan kirab pusaka Malam 1 Suro. Kubu Hangabehi tetap menjalankan prosesi kirab dengan mengeluarkan pusaka keraton untuk dibawa berkeliling sesuai rute yang telah ditentukan, termasuk mengerahkan kebo bule atau kerbau albino keturunan kerbau Kiai Slamet. Ribuan warga tampak memadati sejumlah titik di sepanjang jalur kirab. Abdi dalem yang terlibat dalam prosesi berjalan beriringan mengawal pusaka selama kirab berlangsung.

Di sisi lain, kubu Puruboyo tidak mengeluarkan pusaka dan tidak melaksanakan kirab pusaka. Keputusan tersebut dikonfirmasi oleh Pengageng Paran Parakarsa PB XIV Puruboyo, KPAAd Nur Wijaya Adiningrat. Menurutnya, keputusan tersebut diambil berdasarkan sejumlah pertimbangan. 

"Dengan pertimbangan berbagai macam hal, termasuk prioritas keselamatan pusaka dan lain hal, maka Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Pakubuwono XIV memutuskan untuk tidak mengluarkan pusaka malam hari ini," kata Nur Wijaya. 

Menurut dia, keputusan tersebut merupakan kewenangan Sinuhun. Ia membantah anggapan bahwa keputusan itu dipengaruhi pelaksanaan kirab oleh kubu lain. Meski pusaka tidak dikeluarkan, rangkaian kegiatan tetap berjalan di lingkungan kubu Puruboyo.

"Upacara peringatan Malam 1 Suro itu bukan cuma kirab saja. Akan tetapi, ada khaul dalem Pakubuwono X, terus ada wilujengan, ada doa bersama, ada iktikaf dan salat hajat di Masjid Pujosono, terus ada juga doa di Bandengan, dan lain sebagainya," katanya.

Adapun para abdi dalem atau sentana dalem yang ingin mengikuti kirab keliling, berdoa, bermunajat kepada Tuhan, hingga laku lampah, dipersilakan. 

Hingga rangkaian kegiatan berakhir pada Rabu dini hari, pelaksanaan Malam 1 Suro di Keraton Surakarta berlangsung dengan pengamanan dan pengawasan di kawasan keraton, dengan masing-masing kubu menjalankan agenda sesuai kegiatan yang telah disiapkan. 

SISKS Paku Buwono XIV atau KGPH Puruboyo (kiri) hadir saat malam peringatan Malam 1 Suro di Keraton Surakarta, 16 Juni 2026. TEMPO/Septhia Ryanthie

Harapan dan Keberkahan Bersama

Sementara kerabat Keraton Surakarta Hadiningrat, KPH Eddy Wirabhumi, menyebut rangkaian acara berjalan dengan baik dan penuh harapan untuk keberkahan bersama. Menjaga suasana positif salah satu hal penting dalam peringatan tersebut agar membawa dampak baik tidak hanya bagi masyarakat, tetapi juga bagi keraton.

“Mudah-mudahan kebaikan itu juga memantul ke Keraton Surakarta dan juga suasana yang bagus ini mudah-mudahan kita bisa pertahankan sehingga saya belum tahu sampai titik gimana nanti akhirnya akan semua, mudah-mudahan bismillah bagus semua,” ucapnya.

Peringatan dan kirab malam 1 Suro sendiri merupakan tradisi tahunan yang sarat nilai spiritual dan budaya di lingkungan Keraton Surakarta. Menurut Pangageng Parentah Keraton Surakarta, KGPHA Panembahan Dipokusumo, peringatan malam 1 Suro atau tahun baru Jawa di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat dimaknai bukan sekadar tradisi seremonial, tetapi juga ruang refleksi spiritual, budaya, dan sosial yang telah berlangsung turun-temurun lebih dari lima dekade. 

Tradisi ini juga merupakan bagian dari tugas kebudayaan dalam menyambut datangnya tahun Jawa. Konsistensi pelaksanaan ritual tersebut membuat tradisi malam 1 Suro di Keraton Surakarta ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda tingkat nasional oleh Kementerian Kebudayaan melalui Direktorat Jenderal Perlindungan.

Dipokusumo menjelaskan, terdapat sejumlah rangkaian utama dalam peringatan malam 1 Suro sarat makna simbolik dan spiritual. Sedikitnya ada lima kegiatan inti yang dilaksanakan di lingkungan keraton. Mulai dari doa bersama, persiapan kirab, salat hajat di masjid keraton, meditasi atau semedi, hingga prosesi kirab pusaka yang menjadi puncak kegiatan. Rangkaian ditutup dengan ibadah berjamaah sebagai bentuk pengharapan keselamatan dan keberkahan.

Seluruh rangkaian tradisi ini mengandung pesan moral tentang keselamatan dan introspeksi diri. Selain itu  tradisi ini juga menjadi ruang refleksi atas kehidupan manusia dalam menjaga keseimbangan hubungan dengan Tuhan, sesama, dan alam. Termasuk filosofi Jawa yang menekankan pentingnya harmoni dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari alam hingga kepercayaan.

Menurutnya, tradisi 1 Suro menjadi momentum untuk mengingat kembali nilai-nilai tersebut agar kehidupan tetap selaras dan membawa keselamatan. Selain aspek spiritual, Keraton Surakarta juga melihat peringatan 1 Suro sebagai bagian dari pengembangan wisata budaya yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat. “Keraton bagaimana pun harus bisa berkorelasi dengan semua yang terkait termasuk budaya-budaya yang bisa menjadikan nilai ekonomi dalam hal ini komodifikasi,” ujar Dipokusumo.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |