Teks Khutbah Jumat Lengkap dengan Doanya

1 day ago 7

Kejujuran bukan cuma soal berkata benar, tetapi juga keberanian untuk tetap lurus ketika ada kesempatan untuk berbelok. Dalam keseharian, kita selalu bertemu situasi yang menguji integritas—mulai dari hal kecil seperti menjaga amanah, sampai keputusan besar yang menentukan arah hidup. Di sanalah nilai jujur menemukan maknanya: ia hadir sebagai penuntun yang membuat langkah tetap bersih dan hati tetap tenang.

Setiap orang tentu pernah merasa bahwa jujur itu tidak selalu mudah. Ada kalanya kejujuran terasa berat, bahkan seperti merugikan diri sendiri. Namun kenyataannya, kejujuran justru membuka pintu-pintu kebaikan yang tidak terduga. Ia memperbaiki hubungan, menumbuhkan rasa saling percaya, dan menjadikan seseorang lebih dihargai oleh lingkungannya.

Naskah khutbah Jumat yang mengangkat tema pentingnya kejujuran ini diharapkan menjadi pengingat agar nilai tersebut terus dijaga dalam kehidupan sehari-hari. Kejujuran bukan hanya ajaran agama, tetapi juga kebutuhan sosial agar hidup berjalan lebih damai dan penuh keberkahan. Semoga khutbah ini membawa manfaat dan menjadi inspirasi untuk terus menapaki jalan yang benar.

Kejujuran adalah pondasi dari kehidupan yang baik dan bermartabat. Sebagai manusia, kita sering dihadapkan pada berbagai pilihan, di setiap pilihan itu, ada kesempatan untuk berkata dan bertindak dengan jujur atau sebaliknya.

Kejujuran adalah pilihan yang harus kita lakukan setiap hari dan di setiap langkah. Meskipun kadang berat, hasilnya akan selalu membawa kebaikan, bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga bagi orang-orang di sekitar kita.

Naskah khutbah Jumat berikut ini dengan judul,

“Khutbah Jumat: Pentingnya Kejujuran dalam Kehidupan Sehari-hari.”

Khutbah I

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي تَفَرَّدَ فِي أَزَلِيَّتِهِ بِعِزِّ كِبْرِيَائِهِ، وَتَوَحَّدَ فِي صَمَدِيَّتِهِ بِدَوَامِ بَقَائِهِ، وَنَوَّرَ بِمَعْرِفَتِهِ قُلُوْبَ أَوْلِيَائِهِ، الدَّاعِي اِلَى بَابِهِ وَالْهَادِي لِأَحْبَابِهِ وَالْمُتَفَضِّلِ بِإِنْزَالِ كِتَابِهِ، تَبْصِرَةً وَذِكْرَى لِلْإِسْتِعْدَادِ لِيَوْمِ لِقَائِهِ. فَسُبْحَانَ مَنْ تَقَرَّبَ بِرَأْفَتِهِ وَرَحْمَتِهِ، وَتَعَرَّفَ اِلىَ عِبَادِهِ بِمَحَاسِنِ صِفَاتِهِ، فَانْبَسَطُوْا لِذِكْرِهِ وَدُعَائِهِ. أَحْمَدُهُ حَمْدَ مُعْتَرِفٍ بِالْعَجْزِ عَنْ اَلاَئِهِ، مُنْتَظِرٍ زَوَائِدَ بِرِّهِ وَوَلَائِهِ

‎أَشْهَدُ أَنْ لَااِلٰهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةً ضَمِنَ الْحُسْنَى لِقَائِلِهَا يَوْمَ لِقَائِهِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ خَاتَمُ أَنْبِيَائِهِ وَسَيِّدُ أَصْفِيَائِهِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَمَنِ اقْتَفَى أَثَرَهُمْ اِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ فَفَازَ بِاقْتِفَائِهِ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَاِيَّايَ أَوَّلًا بِتَقْوَى اللهِ تَعَالىَ وَطَاعَتِهِ، بِامْتِثَالِ أَوَامِرِهِ وَاجْتِنَابِ نَوَاهِيْهِ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوْا اتَّقُوا اللّٰهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيدًا

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, puji syukur kepada Allah swt, pada siang ini kita semua masih diberikan kesempatan untuk merasakan kembali nikmatnya bermunajat, beribadah dan berdoa kepada-Nya. Mudah-mudahan, keimanan dan ketakwaan terus melekat dalam diri kita semua, dan kita semua dipermudah oleh Allah untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik yang diridhai oleh-Nya.

Shalawat dalam salam mari senantiasa kita haturkan kepada panutan kita semua, Nabi Muhammad saw, allahumma shalli ‘alâ Muhammad wa ‘alâ alih wa shaḫbih, yang telah sukses menjadi teladan paripurna dalam menjalani kehidupan sehari-hari, teladan penuh kejujuran, kesabaran, kebijaksanaan dan kasih sayang yang selalu beliau berikan.

Semoga kita semua yang hadir pada pelaksanaan shalat Jumat ini, diakui sebagai umatnya dan mendapatkan syafaatnya. Amin ya rabbal âlamin. Baca Juga Khutbah Jumat: Kunci Kebahagiaan Hakiki Selanjutnya, sudah menjadi kewajiban dan keharusan bagi kami selaku khatib pada pelaksanaan shalat Jumat ini, untuk senantiasa mengajak dalam meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah swt, serta mengingatkan perihal pentingnya menjalani kehidupan sehari-hari dengan landasan iman dan takwa.

Sebab, hanya takwa satu-satunya bekal yang akan kita bawa menuju akhirat kelak, وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الأَلْبَابِ Artinya, “Bawalah bekal, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat.” (QS Al-Baqarah [2]: 197).

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah Salah satu pondasi penting dalam upaya meningkatkan keimanan dan ketakwaan adalah dengan senantiasa berkata jujur dalam beraktivitas, berinteraksi, bermasyarakat dan dalam semua kegiatan sehari-hari. Jujur merupakan ciri khas dan karakter yang ada dalam diri semua umat Islam yang tidak bisa dipisahkan. Allah swt berfirman dalam Al-Qur’an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَقُوْلُوا قَوْلًا سَدِيدًا

Artinya, “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.” (QS Al-Ahzab, [33]: 70).

Merujuk penjelasan Imam at-Thabari dalam dalam kitab Tafsir Jami’ul Bayan fi Ta’wilil Qur’an (juz XX, halaman 336), frasa qaulan sadidan pada ayat di atas memiliki makna perkataan yang jujur. Artinya, kita semua sebagai orang beriman harus selalu jujur dalam semua tindakan dan perkataan sehari-hari.

اِتَّقُوا اللّٰهَ وَقُوْلُوا قَوْلًا سَدِيدًا: يَعْنِي بِهِ فِي مَنْطِقِهِ وَفِي عَمَلِهِ كُلِّهِ، وَالسَّدِيْدُ الصِّدْقُ

Artinya, “(Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar), maksudnya adalah dalam semua ucapan dan perbuatan. Adapun yang dimaksud perkataan yang benar adalah jujur.”

Oleh sebab itu, penting bagi kita semua untuk selalu bersikap jujur dalam semua aktivitas, karena kejujuran merupakan ciri khas dan karakter setiap orang yang beriman. Kejujuran tidak hanya kata-kata, namun juga harus sesuai dengan aksi yang nyata. Kejujuran juga berlaku dalam semua lini kehidupan yang kita jalani, seperti dalam keluarga, dalam berbisnis, bertetangga, berteman, bekerja, dan lain sebagainya.

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah Rasulullah memberikan arahan yang sangat jelas bahwa kita harus selalu berpegang pada kejujuran, karena kejujuran adalah kunci menuju kebaikan. Ketika seseorang terbiasa jujur dalam setiap perkataan dan tindakannya, ia akan menemukan bahwa kejujuran itu membimbingnya ke arah perbuatan-perbuatan baik, atau al-birr. Birr adalah segala bentuk kebaikan, baik dalam hubungan dengan Allah maupun dengan sesama manusia. Ketika seseorang menjalani hidupnya dengan kejujuran, ia tak hanya memperbaiki diri, tetapi juga memberi dampak positif pada lingkungannya. Kebaikan ini, pada gilirannya, akan mengantarkannya ke surga, karena surga adalah tempat bagi mereka yang hidup dengan integritas dan kebaikan. Rasulullah saw bersabda:

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللّٰهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُوْرِ وَإِنَّ الْفُجُوْرَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللّٰهِ كَذَّابًا

Artinya, “Hendaklah kalian selalu bersikap jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan membawa pada kebaikan, dan kebaikan akan membawa pada surga. Seseorang yang senantiasa berkata jujur akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang sangat jujur (shiddiq). Dan jauhilah kebohongan, karena sesungguhnya kebohongan akan membawa pada keburukan, dan keburukan akan membawa pada neraka. Seseorang yang senantiasa berbohong akan dicatat di sisi Allah sebagai seorang pendusta.” (HR Bukhari & Muslim).

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah

Sebelum khatib menutup khutbah ini, kami akan menegaskan kembali bahwa jujur merupakan perilaku dan tindakan yang sangat penting untuk kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari, yang memiliki manfaat tidak hanya secara personal, namun juga berdampak secara komunal. Karena itu, Rasulullah dalam hadits di atas menegaskan bahwa kejujuran akan membawa kebaikan yang terus menerus dan berujung pada kebahagiaan abadi di surga, sementara kebohongan membuka jalan menuju kebinasaan dan siksa neraka. Rasulullah SAW dengan tegas mengingatkan kita agar selalu berkata benar, meskipun itu sulit, dan menjauhi kebohongan, meskipun tampaknya mudah. Demikian adanya khutbah Jumat, perihal pentingnya kejujuran dalam kehidupan sehari-hari. Semoga menjadi khutbah yang membawa berkah dan manfaat bagi kita semua. Amin ya rabbal alamin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ هَذَا الْيَوْمِ الْكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَاِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الصَّلَاةِ وَالصَّدَقَةِ وَتِلَاوَةِ الْقُرْاَنِ وَجَمِيْعِ الطَّاعَاتِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ جَمِيْعَ أَعْمَالِنَا إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ Khutbah II اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، اِلٓهٌ لَمْ يَزَلْ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيْلًا. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ، أَكْرَمُ الْأَوَّلِيْنَ وَالْأَخِرِيْنَ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ أٓلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ كَانَ لَهُمْ مِنَ التَّابِعِيْنَ، صَلَاةً دَائِمَةً بِدَوَامِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِيْنَ ‎أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَالصَّوْمِ وَجَمِيْعِ الْمَأْمُوْرَاتِ وَالْوَاجِبَاتِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِنَفْسِهِ. وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. إِنَّ اللّٰهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً ‎اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِيْ العَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وِالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَةً، اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ ‎عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرُكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Khutbah Jumat: Membudayakan Kejujuran

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَركَاتُهُاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ مَنَّ عَلَيْنَا بِنِعْمَةِ الْاِسْلَامِ ، وَلَا يَزَالُ يَوَالِى عَلٰى عِبَادِهِ مَوَا سِمِ الْفَضْلِ وَالْاِنْعَامِ. وَاَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ ذُوالْجَلَالِ وَالْاِكْرَمِ، وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللّٰهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلٰى آلِهِ وَاَصْحَابِهِ الْبَرَرَةِ الْكِرَامِ .

اَمَّا بَعْدُ : اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ يِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ تَعَالٰى : يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

Hadirin sidang Jumat rahimakumullahMarilah dalam kesempatan yang baik ini dan ditempat yang berkah ini kita lahirkan dan wujudkan rasa syukur kita ke hadirat Allah SWT bukan hanya dalam bentuk lisan tetapi yang lebih penting adalah mendayagunakan setiap nikmat yang telah Allah SWT karuniakan kepada kita untuk sebanyak-banyaknya beribadah kepada-Nya.

Shalawat teriring salam selalu kita sampaikan kepada junjungan, suri tauladan, panutan dan pemimpin kita Nabi dan Rasul Muhammad SAW beserta para keluarga, sahabat dan para pengikutnya yang setia sampai akhir zaman.

Dalam kesempatan ini pula mari kita berusaha semaksimal mungkin untuk selalu meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT dengan melaksanakan semua perintah-perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-larangan-Nya.

Semoga dengan cara ini Allah tetap mencatat kita semua bagian dari hamba-hamba yang bertaqwa dan di kelak hari akhir kita semua masuk dalam surga Firdaus-Nya. Aamiin Allahumma AAmiin.

Maasyiral Muslimin rahimakumullahJujur atau shiddiq merupakan salah satu sifat Rasul yang melekat pada dirinya. Kejujuran telah dilekatkan pada diri Rasul sebelum beliau diangkat menjadi Rasulullah SAW dengan menjadi agen perdagangan dari Khadijah RA yang pada akhirnya bisa menanamkan trust kepadanya. Ketertarikan Khadijah kepada Nabi Muhammad adalah atas dasar kejujuran beliau saat menjalankan usahanya. Dari sinilah Khadijah akhirnya menikah dengan Nabi Muhammad SAW. Dan pada saat yang sama beliau mendapat gelar al-Amin karena kejujurannya.

Kita sebagai umat Rasul harus bisa mengimplemantasikan sifat kejujuran ini dalam segala aspek kehidupan, karena kejujuran bagian dari akhlak mulia.

Kejujuran harus dipraktikkan baik dalam perdagangan, perpolitikan maupun sebagai pejabat atau pemimpin tertinggi dan yang lain. Kejujuran akan menghantarkan seseorang untuk meraih derajat dan kehormatan yang tinggi baik di mata Allah SWT maupun di mata sesama manusia.

Kejujuran akan menghantarkan seseorang meraih surga yang penuh dengan kenikmatan dan senantiasa dalam keridhoan Allah SWT.

Sifat jujur telah diterangkan Allah SWT dalam Alquran di antaranya adalah di surat At-Taubah ayat 119:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَكُوْنُوْا مَعَ الصّٰدِقِيْنَ

“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama-sama orang-orang yang benar.”

Juga di dalam Surat Al-Ahzab ayat 24 :

لِّيَجْزِيَ اللّٰهُ الصّٰدِقِيْنَ بِصِدْقِهِمْ ....

“Agar Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya.”

Dalam ayat di atas Allah telah memberikan statement bahwa orang beriman dan kebenaran ( kejujuran ) merupakan dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan.

Orang yang beriman dengan sempurna akan selalu menjunjung tinggi kebenaran atau kejujuran. Kejujuran akan mendapatkan balasan berbagai macam kebaikan dari Allah SWT.

Sebaliknya orang yang imannya tidak sempurna akan cenderung pada perilaku tidak jujur dan tidak menjunjung tinggi kebenaran yaitu bohong yang pada akhirnya akan selalu berbuat dosa.

Dosa-dosa yang selalu diperbuat akan membawanya menuju neraka. Orang yang tidak jujur dan selalu berbohong akan selalu berbuat kedurhakaan, durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya dan durhaka kepada sesama manusia. Kehidupannya selalu dalam ketidakpastian, ketidaktenangan dan benak serta otaknya akan memproduksi kebohongan-kebohongan baru.

Rasulullah SAW telah memetakan kedudukan orang yang selalu berbuat jujur dan orang yang selalu berbuat bohong, sebagaimana sabda beliau :

عَنْ اِبْنِ مَسْعُوْدِ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ‏:‏ "‏ إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِيْ إِلَى الْبِرِّ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِيْ إِلَى الْجَنَّةِ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ حَتّٰى يُكْتَبَ عِنْدَ اللّٰهِ صِدِّيْقًا، وَإِنَ الْكَذِبَ يَهْدِيْ إِلَى الْفُجُوْرِ، وَإِنَّ الْفُجُوْرَ يَهْدِيْ إِلٰى النَّارِ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتّٰى يُكْتَبَ عِنْدَ اللّٰهِ كَذَّابًا‏‏.‏

Dari Ibnu Mas’ud ra dari Nabi SAW, bahwa beliau telah bersabda:

“Sesungguhnya jujur menunjukkan kepada kebajikan dan kebajikan menunjukkan jalan ke surga. Sesungguhnya orang yang jujur akan selalu melakukan kejujuran sehingga dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur.

Dan sesungguhnya dusta menunjukkan kepada kedurhakaan dan kedurhakaan menunjukkan jalan ke neraka. Sesungguhnya orang yang berdusta akan selalu melakukan kedustaan sehingga dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” ( HR Bukhari dan Muslim )

Hadirin sidang Jumat RahimakumullahKejujuran akan selalu mengantarkan seseorang kepada kebajikan yang pada gilirannya akan mendapatkan kehormatan baik di sisi Allah maupun manusia. Dalam konteks kehidupan akhirat, orang jujur akan mendapatkan derajat tinggi dalam surga dan mendapatkan berbagai kenikmatan yang ada di dalamnya.

Dalam kehidupan dunia, orang yang berlaku jujur akan selalu mendapat apresiasi dan trust dari masyarakat. Trust inilah yang akan menghantarkannya menuju kedudukan yang mulia dihadapan masyarakat. Tetapi sebaliknya bagi orang yang selalu tidak jujur dan berdusta akan menghantarkannya kepada kedurhakaan.

Dalam kehidupan akhirat tipe orang yang semacam ini akan menjadi penghuni neraka dan di dalam kehidupn dunia, dia tidak akan mendapat kepercayaan dari masyarakat dan dianggap sebagai oarng yang tidak dapat dipercaya.

Untuk itu mari kita sebagai Muslim harus selalu berusaha untuk berbuat jujur meski dalam kondisi sesulit apapun dan bahkan saat mendapatkan ancaman maupun tekanan atau kesulitan. Pada hakikatnya di dalam kejujuran terdapat kesuksesan, keselamatan, dan kemuliaan. Hanya orang jujur sajalah yang akan mendapat derajat yang tinggi, kebahagiaan lahir batin dan keberhasilan yang luar biasa. Sayyidina Ali telah memberikan sebuah untaian kata yang beliau ingat dari Rasulullah SAW :

عَنْ اَبِيْ مُحَمَّدِنِالْحَسَنِ ابْنِ عَلِيِّ بْنِ اَبِيْ طَالِبِ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمَا حَفِظْتُ مِنْ رَسُوْلِ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : دَعْ مَا يَرِيْبُكَ اِلٰى مَا لَا يَرِيْبُكَ، فَاِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِيْنَةٌ وَالْكَذِبَ رِيْبَةٌ.

Dari Abu Muhammad Al-Hasan bin Ali bin Abi Tholib berkata :”Aku hafal sebuah hadits dari Rasulullah SAW yang menegaskan :”Tinggalkanlah apa yang meragukan dirimu, beralihlah kepada sesuatu yang tidak meragukan dirimu.

Sesungguhnya kejujuran adalah tenang, dan dusta adalah keraguan ( HR. At-Tirmidzi )

Hadits di atas memberikan penjelasan bahwa orang yang jujur akan selalu meraih ketenangan yang hakiki, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Sedangkan orang yang tidak jujur atau dusta hidupnya akan selalu resah, tidak tenang dan selalu tidak percaya diri dalam megarungi hidup dan kehidupan. Dia akan selalu ragu dalam melangkah untuk melakukan segala sesuatu. Dalam melakukan sesuatu orang yang tidak jujur akan selalu mencari jalan keluar untuk melakukan kebohongan-kebohongan yang lain.

Karena itu orang semacam ini akan selalu dalam keraguan di setiap langkah yang akan dilakukan. Untuk itu kita sebagai seorang Muslim harus mampu untuk meninggalkan hal-hal yang meragukan dan beralih kepada sesuatu hal yang jelas hukumnya. Jujur dan berintegritas akan selalu mendapatkan ketenangan sedangkan orang yang tidak jujur dan selalu bohong akan masuk dalam ruang keraguan yang mengakibatkan hidupnya tidak tenang. Ma’asyiral Muslimin RahimakumullahDari uraian singkat tentang bersikap jujur, paling ada lima keuntungan yang bisa diperoleh yaitu pertama, memperoleh ketenangan jiwa. Kejujuran itu mententramkan.

Ketentraman jiwa akan menjadikan hidup penuh dengan kebahagiaan. Sebaliknya dusta selalu mengusik ketenangan jiwa yang menjadikan seseorang menjadi gelisah dan resah.

Rasulullah SAW bersabda

اَلإِثْمُ مَا حَاكَ فِيْ صَدْرِكَ وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ

“Dosa adalah sesuatu yang mengganjal dalam hatimu dan kamu tidak suka jika orang lain mengetahuinya” ( HR. Muslim )

Kedua, memperoleh keberkahan hidup. Kiat untuk memperoleh keberkahan hidup adalah berlaku benar dan jujur. Rasul SAW bersabda :

اَلْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَالَمْ يَتَفَرَّقَا، فَاِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَابُوْرِكَ لَهُمَا فِيْ بَيْعِهِمَا، وَاِنْ كَذَبَا وَكَتَمَا مُحِقَتْ بَرْكَةُ بَيْعِهِمَا.

“Penjual dan pembeli masing-masing memiliki hak pilih ( khiyar ) selama keduanya belum berpisah. Bila keduanya berlaku jujur dan saling terus terang, maka keduanya akan memperoleh keberkahan dalam transaksi tersebut. Sebaliknya bila keduanya berlaku dusta dan saling menutup –nutupi, niscaya akan hilang keberkahan pada transaksi merek berdua.” (HR Bukhari dan Muslim )

Ketiga, memperoleh keselamatan, meski sikap jujur tidak disukai oleh pendusta dan bahkan berusaha untuk mencelakakn orang yang bersikap jujur. Hakikat keselamatan adalah segala sesuatu yang menghantarkan manusia menuju surganya Allah SWT. Rasul SAW bersabda :

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَاِنَّهُ مَعَ الْبِرِّ وَهُمَا فِيْ الْجَنَّةِ، وَاِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَاِنَّهُ مَعَ الْفُجُوْرِ وَهُمَا فِيْ الْنَّارِ

“Wajib atasmu berlaku jujur, karena jujur itu bersama kebaikan, dan keduanya di surga. Dan jauhkanlah dirimu dari dusta, karena dusta itu bersama kedurhakaan dan keduanya di neraka” ( HR. Ibnu Hibban )

Keempat, tercatat sebagai ahli kebenaran. Kita akan selalu bersama orang-orang yang benar jika kita menjalankan prinsip kebenaran dalam kehidupan. Rasul SAW bersabda :

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَالبِرُّ يَهْدِي إِلٰى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ ،وَيَتَحرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللّٰهِ صِدِّيقًا

Wajib atasmu berlaku jujur, karena kejujuran itu membawa kebaikan, dan kebaikan itu membawa ke surge. Seseorang yang selalu jujur dan memilih kejujuran akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. ( HR. Bukhari )

Kelima, terhindar dari kemunafikan. Salah satu ciri orang munafik adalah berdusta. Dan barang tentu kita sebagai seoarng Muslim yang taat tidak ingin digolongkan dalam kelompok semacam ini.

Demikianlah khutbah yang singkat ini. Semoga kita semua dalam meniti kehidupan ini dihiasi oleh kejujuran. Dengan kejujuran kita akan jauh dari kehancuran dan kebinasaan. Sedangka dusta akan menyebabkan kita kehilangan berkah, keselamatan dan ketentraman.

بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِاْلاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَ هُدَاهُ. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ،: يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَكُونُواْ مَعَ ٱلصَّٰدِقِينَ ١١٩

Kaum Muslimin sidang Jum’at rahimakumullah

“Kejujuran” menjadi ungkapan dan nilai kehidupan yang kembali mencuat dan populer saat ini. Kejujuran bukanlah persoalan yang sederhana dan mudah dilakukan. Usaha apa saja yang kita lakukan dapat berhasil karena adanya sikap jujur. Sebaliknya, akan berantakan dan tidak memperoleh yang diinginkan karena tidak adanya kejujuran. Saat ini bangsa Indonesia sering dilanda berbagai masalah yang datang silih berganti, mulai dari banjir, tanah longsor, puting beliung, kekeringan, kebakaran hutan, erupsi gunung merapi, dan sebagainya. Bisa jadi segala musibah yang ada tersebut penyebabnya adalah krisis kejujuran. Kehidupan menjadi rusak dan mengakibatkan kekacauan, bahkan kehancuran karena adanya ketidakjujuran. Maka Islam sangat mengedepankan kejujuran.

Allah SWT berfirman dalam QS. At-Taubah [9] ayat 119:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَكُونُواْ مَعَ ٱلصَّٰدِقِينَ ١١٩

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.”

Al-Baihaqi meriwayatkan suatu hadis Rasulullah Saw., bahwa beliau bersabda: “Sesungguhnya kejujuran itu menuntun kepada kebajikan, dan kebajikan itu menuntun kepada surga. Sesungguhnya seseorang akan berlaku jujur sampai ia ditulis di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Dan sesungguhnya kedustaan itu menuntun kepada kejahatan, dan kejahatan itu menuntun ke neraka. Sesungguhnya seseorang itu berlaku dusta sehingga ia ditulis di sisi Allah sebagai pendusta.” (Hadis Muttafaq ‘Alaih)

Jujur adalah bersatunya suara hati, ucapan, dan perbuatan, dan pastilah tidak ada yang rela dikatakan bohong atau disamakan dengan perilaku hewan yang tidak memiliki akal dan pikiran. Jujur mencerminkan sikap hati yang menggambarkan ketaatan seseorang kepada Allah dan Rasul-Nya. Orang yang jujur pasti tetap patuh kepada Allah dan menjalankan tuntutan Rasulullah Saw.

Manusia yang paling jujur di dunia ini adalah Nabi Muhammad Saw. Selain memiliki sifat Ash-shiddiq, juga diberi gelar Al-Amin, hal tersebut karena beliau dikenal dengan konsistennya menjalankan nilai-nilai kejujuran dalam kehidupannya sehari-hari. Gelar Al-Amin setelah banyak di kaji dalam bidang ekonomi sebagai salah satu rahasia sukses dalam berbisnis Nabi Muhammad Saw.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |