Tips Praktis Cara Tetap Rajin Mengaji setelah Bulan Ramadhan, Simak Manfaatnya

13 hours ago 3

Liputan6.com, Jakarta - Umat Islam meningkatkan amal dan ibadah di bulan Ramadhan, termasuk membaca Al-Qur’an. Namun, setelah Ramadhan berlalu, semangat itu seringkali mengendur. Oleh sebab itu, kita perlu mengetahui cara tetap rajin mengaji setelah bulan Ramadhan.

Setelah Ramadhan lazimnya aktivitas harian kembali normal sehingga kesibukan duniawi kembali menyita waktu. Akibatnya, Al-Qur’an yang tiap hari dibaca pada bulan suci mulai ditinggalkan.

Merujuk Ebook Keutamaan Al-Qur'an, karya Prof. DR. Mahmud al-Dausary, Alih Bahasa: DR. Muhammad Ihsan Zainuddin, Lc., M.Si, Al-Qur’an adalah petunjuk bagi orang-orang bertakwa, bukan hanya untuk bulan Ramadhan, tetapi untuk sepanjang hayat, sebagaimana disebut dalam QS. Al-Baqarah: 185. Ayat ini menegaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk sepanjang masa, bukan hanya untuk satu bulan.

Lantas, bagaimana cara kita menjaga konsistensi membaca Al-Qur’an setelah Ramadhan? Artikel ini akan menyajikan panduan praktis berdasarkan dalil-dalil Al-Qur’an, hadits, serta pandangan para ulama dari tiga referensi utama,  utama: Keutamaan Al-Qur’an karya Prof. DR. Mahmud al-Dausary, Pembelajaran Ilmu-Ilmu Qur’an karya Nur Hidayat, dan Amalan setelah Ramadhan karya Sukamto.

1. Menjadwalkan Waktu Khusus Setiap Hari

Salah satu kunci istiqamah adalah menjadikan membaca Al-Qur’an sebagai rutinitas harian yang tidak bisa ditawar. Pilihlah waktu yang paling nyaman dan kondusif, misalnya setelah shalat Subuh, menjelang siang, atau sebelum tidur. Allah berfirman:

أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَى غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآنَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا

"Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula) shalat Subuh. Sesungguhnya shalat Subuh itu disaksikan (oleh malaikat)." (QS. Al-Isra’: 78)

Waktu Subuh adalah saat yang penuh berkah dan disaksikan malaikat, sehingga sangat dianjurkan untuk membaca Al-Qur’an di waktu tersebut. Dalam buku Amalan setelah Ramadhan, Sukamto mengingatkan bahwa menjaga shalat sunnah juga membantu menjaga kedekatan dengan Allah, dan dengan sendirinya memudahkan kita untuk membaca Al-Qur’an. Beliau mengutip hadits:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "إِنَّ اللَّهَ قَالَ: مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ..." (رواه البخاري)

"Barangsiapa memusuhi wali-Ku, maka Aku mengumumkan perang terhadapnya. Dan tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang telah Aku wajibkan kepadanya. Dan senantiasa hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya..." (HR. Bukhari)

Dengan menjadwalkan waktu membaca Al-Qur’an, kita melatih diri untuk konsisten, dan lambat laun akan menjadi kebiasaan yang sulit ditinggalkan.

2. Memulai dengan Target Kecil dan Bertahap

Jangan langsung memaksakan diri untuk membaca satu juz setiap hari jika itu berat. Mulailah dengan target yang ringan, misalnya satu halaman, setengah halaman, atau bahkan beberapa ayat saja. Yang penting adalah kontinuitas. Rasulullah ﷺ bersabda:

أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ (متفق عليه)

"Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling kontinu meskipun sedikit." (Muttafaq ‘alaih)

Allah sendiri berfirman:

فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ (المزمل: 20)

"Maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al-Qur’an." (QS. Al-Muzzammil: 20)

Ayat ini, sebagaimana dikutip oleh Sukamto dalam bukunya, memberikan keringanan bahwa kita tidak perlu memaksakan diri di luar batas kemampuan. Yang penting adalah membaca secara rutin apa yang mudah bagi kita. Dengan target kecil, kita terhindar dari rasa malas dan putus asa di tengah jalan.

3. Bergabung dengan Halaqah atau Kelompok Mengaji

Membaca Al-Qur’an secara berjamaah memiliki keutamaan yang luar biasa. Selain memotivasi, kita juga bisa saling mengingatkan dan memperbaiki bacaan. Dalam buku Keutamaan Al-Qur’an, Prof. Mahmud al-Dausary menyebutkan hadits:

وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ (رواه مسلم)

"Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah (masjid), mereka membaca kitab Allah dan mempelajarinya di antara mereka, melainkan akan turun ketenangan kepada mereka, rahmat meliputi mereka, malaikat mengelilingi mereka, dan Allah menyebut-nyebut mereka di hadapan makhluk yang ada di sisi-Nya." (HR. Muslim)

Ibnu Baththal rahimahullah menjelaskan bahwa keutamaan ini diperoleh karena mereka berkumpul untuk mentadabburi Al-Qur’an, bukan sekadar membaca tanpa pemahaman. Dalam halaqah, kita bisa saling menyimak, mengoreksi, dan mendiskusikan makna ayat, sehingga bacaan kita lebih berkualitas.

4. Memahami Makna dan Mentadabburi Ayat

Salah satu penyebab cepat bosan membaca Al-Qur’an adalah karena kita membacanya tanpa memahami artinya. Padahal, Al-Qur’an diturunkan untuk direnungkan. Allah berfirman:

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ (ص: 29)

"Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran." (QS. Shad: 29)

Prof. Mahmud al-Dausary dalam bukunya menjelaskan bahwa Al-Qur’an diberkahi dari berbagai sisi, termasuk keberkahan dalam makna dan petunjuknya. Ketika kita memahami ayat yang kita baca, hati akan terasa tersentuh, dan kita akan semakin cinta untuk membacanya.

Dalam Pembelajaran Ilmu-Ilmu Qur’an, Nur Hidayat juga menekankan pentingnya ilmu tafsir untuk memahami Al-Qur’an. Beliau mengutip pandangan Imam Al-Ghazali bahwa membaca Al-Qur’an dengan tadabbur akan membuka pintu-pintu kebaikan dan menjauhkan hati dari kelalaian.

5. Memanfaatkan Teknologi untuk Mempermudah

Di era digital, kita bisa memanfaatkan berbagai aplikasi Al-Qur’an yang dilengkapi terjemahan, tafsir, dan audio murottal dari qari’ ternama. Mendengarkan bacaan yang merdu dapat membangkitkan semangat.

Selain itu, kita bisa mengikuti kajian online atau grup WhatsApp yang rutin membagikan ayat dan tadabbur harian. Hal ini membantu kita tetap terhubung dengan Al-Qur’an di tengah kesibukan.

6. Berdoa Memohon Kemudahan dan Istiqamah

Kita tidak bisa berbuat apa-apa tanpa pertolongan Allah. Mintalah kepada-Nya agar dimudahkan dalam membaca, memahami, dan mengamalkan Al-Qur’an. Doa adalah senjata orang mukmin. Rasulullah ﷺ sendiri sering berdoa:

اللَّهُمَّ اجْعَلِ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قَلْبِي، وَنُورَ صَدْرِي، وَجَلَاءَ حُزْنِي، وَذَهَابَ هَمِّي (رواه أحمد)

"Ya Allah, jadikanlah Al-Qur’an sebagai penyejuk hatiku, cahaya dadaku, pelipur laraku, dan penghilang kegelisahanku." (HR. Ahmad)

7. Mengingat Keutamaan dan Manfaat Membaca Al-Qur’an

Motivasi terbesar adalah mengetahui keutamaan yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya bagi para pembaca Al-Qur’an. Hal ini akan kita bahas secara rinci pada bagian berikutnya.

Manfaat Membaca dan Mentadabburi Al-Qur’an Secara Rutin

Membaca Al-Qur’an bukan sekadar aktivitas lisan, tetapi memiliki dampak luar biasa bagi jiwa dan kehidupan. Berikut beberapa manfaat yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan hadits:

1. Mendapatkan Petunjuk ke Jalan yang Lurus

Allah berfirman: "Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus." (QS. Al-Isra’: 9)

Prof. Mahmud al-Dausary menjelaskan bahwa Al-Qur’an memberi petunjuk ke jalan yang paling adil dan benar dalam semua aspek kehidupan, baik akidah, akhlak, muamalah, hingga politik. Dengan rutin membacanya, kita akan senantiasa berada di jalan yang diridhai Allah.

2. Sebagai Cahaya yang Menerangi Hati

Allah menamakan Al-Qur’an sebagai cahaya: "Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu, dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang." (QS. An-Nisa’: 174)

Cahaya ini menerangi hati, mengeluarkannya dari kegelapan syirik, keraguan, dan maksiat menuju iman dan ketakwaan.

3. Mendatangkan Ketenangan dan Rahmat

Saat membaca Al-Qur’an dengan khusyuk, hati akan merasakan ketenangan. Allah berfirman: "(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra’d: 28)

Dalam hadits yang telah disebutkan, berkumpul untuk membaca Al-Qur’an mendatangkan ketenangan, rahmat, dan naungan malaikat.

4. Menyembuhkan Penyakit Hati

Al-Qur’an adalah syifa’ (obat) bagi penyakit-penyakit hati seperti dengki, sombong, ragu, dan cinta dunia. Allah berfirman: "Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman." (QS. Al-Isra’: 82)

Ar-Razi menjelaskan bahwa Al-Qur’an adalah obat untuk penyakit rohani (seperti akidah yang batil dan akhlak tercela) dan juga dapat menjadi wasilah kesembuhan penyakit jasmani dengan keberkahannya.

5. Mendapatkan Pahala Berlipat Ganda

Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa membaca satu huruf dari kitab Allah, maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf." (HR. Tirmidzi, dishahihkan Al-Albani)

Ini adalah perniagaan yang tidak akan merugi, karena setiap huruf mendatangkan pahala berlipat.

6. Menaikkan Derajat di Surga

Bagi yang menghafal dan membaca Al-Qur’an, derajatnya akan dinaikkan di surga sesuai dengan hafalannya. Rasulullah ﷺ bersabda: "Dikatakan kepada sahabat Al-Qur’an: 'Bacalah, naiklah, dan bacalah dengan tartil sebagaimana engkau membacanya dengan tartil di dunia. Sesungguhnya tempatmu berada pada akhir ayat yang engkau baca.'" (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

Ini menunjukkan bahwa semakin banyak hafalan dan bacaan, semakin tinggi derajatnya di surga.

Keutamaan Membaca Al-Qur’an

Prof. DR. Mahmud al-Dausary memaparkan berbagai keutamaan membaca Al-Qur’an yang dapat memotivasi kita untuk terus istiqamah:

  1. Membaca Al-Qur’an adalah perniagaan yang tidak merugi. Allah berfirman dalam QS. Fathir: 29-30 bahwa orang-orang yang membaca kitab Allah, mendirikan shalat, dan menafkahkan rezeki, mereka mengharapkan perniagaan yang tidak akan rugi, dan Allah akan menyempurnakan pahala mereka serta menambah karunia-Nya.
  2. Setiap huruf diganjar sepuluh kebaikan, sebagaimana hadits di atas. Ini merupakan kemurahan Allah yang luar biasa.
  3. Orang yang mahir membaca Al-Qur’an akan bersama para malaikat yang mulia. Sedangkan yang terbata-bata mendapat dua pahala (pahala membaca dan pahala kesulitan). Hal ini berdasarkan hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha.
  4. Ketenangan, rahmat, dan malaikat turun saat berkumpul membaca Al-Qur’an. Ini menjadi motivasi untuk tidak membaca sendirian saja, tetapi juga bergabung dalam majelis-majelis Al-Qur’an.
  5. Al-Qur’an akan menjadi syafaat di hari kiamat. Rasulullah ﷺ bersabda: "Bacalah Al-Qur’an, karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi pembacanya." (HR. Muslim)
  6. Orang yang membaca Al-Qur’an dan mengamalkannya, kedua orang tuanya akan diberi mahkota dan pakaian kemuliaan. Dalam hadits yang diriwayatkan Ahmad dan Abu Daud, disebutkan bahwa kedua orang tua penghafal Al-Qur’an akan dipakaikan dua helai pakaian yang nilainya melebihi dunia dan seisinya, karena kesabaran mereka mengajarkan Al-Qur’an kepada anaknya.
  7. Al-Qur’an akan meninggikan derajat suatu kaum dan merendahkan yang lain. Sebagaimana sabda Nabi: "Sesungguhnya Allah mengangkat derajat suatu kaum dengan kitab ini dan merendahkan yang lain dengannya." (HR. Muslim).

People also Ask:

Bagaimana mempertahankan ibadah setelah Ramadhan?

Berikut beberapa cara untuk menjaga konsistensi ibadah setelah Ramadhan:Melanjutkan Puasa Sunnah Syawal. ...Menjaga Kualitas Salat Wajib dan Sunnah. ...Konsisten Membaca Al-Qur'an. ...Memperbanyak Sedekah dan Berbuat Kebaikan. ...Mempererat Silaturahmi. ...6. Berdoa agar Diberi Keistiqamahan.

Apa amalan yang dianjurkan setelah Ramadhan untuk mempertahankan kebiasaan baik?

Jika setelah Ramadhan kita tetap rajin shalat, membaca Al-Qur'an, bersedekah, dan menjaga akhlak, itulah tanda Ramadhan kita diterima. Sebaliknya, jika ibadah menurun drastis, maka perlu introspeksi diri. Imam Hasan Al-Bashri mengatakan bahwa pahala kebaikan adalah kebaikan berikutnya.

Apa yang harus kita lakukan setelah bulan Ramadhan?

Berikut beberapa amalan penting yang bisa kita jaga sebagai bukti bahwa Ramadhan benar-benar membekas dalam diri:Puasa Sunnah Syawal. Rasulullah SAW bersabda: ...2. Tilawah dan Tadabbur Al-Qur'an. ...3. Sedekah Rutin. ...4. Shalat Malam & Dhuha. ...Silaturahmi & Memperbaiki Hubungan.

Cara Khatam Alquran di Bulan Ramadhan?

Berikut 7 caranya.Niat dan konsisten. Cara pertama yang harus dilakukan adalah pastikan kamu mempunyai niat yang kuat untuk mengkhatamkam Alquran. ...Menyesuaikan target dengan kemampuan. ...Baca dua lembar usai salat. ...1 juz 1 hari. ...Perhatikan jadwal datang bulan. ...Tabung di awal Ramadan.

Hadits barang siapa senang dengan datangnya bulan Ramadhan?

Hadits tentang "barang siapa senang dengan datangnya bulan Ramadhan, Allah haramkan jasadnya masuk neraka" adalah populer tetapi derajatnya lemah/palsu (maudhu'), meskipun maknanya sejalan dengan hadits-hadits shahih tentang keutamaan Ramadhan seperti dibukanya pintu surga, ditutupnya pintu neraka, dan dibelenggunya setan, yang menjadi kabar gembira bagi orang beriman untuk berlomba meraih pahala. Hadits shahih yang lebih sesuai adalah sabda Rasulullah tentang keutamaan bulan Ramadhan itu sendiri, yang mendorong kegembiraan karena banyaknya kebaikan dan ampunan.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |