Wilsen Willim Hidupkan Wastra Nusantara dalam Dokumentasi Reinventing Tenun

11 hours ago 12

CANTIKA.COMJakarta - Perjalanan sebuah koleksi mode tidak selalu dimulai dari sketsa di atas meja kerja. Bagi perancang mode Wilsen Willim, proses kreatif itu membawanya menempuh perjalanan lintas pulau, bertemu para perajin, mengenal cerita di balik sehelai kain, hingga mencari kemungkinan baru bagi wastra Indonesia untuk hadir dalam bahasa mode kontemporer.

Perjalanan tersebut kini dirangkum dalam serial dokumenter bertajuk Reinventing Tenun: Journey to Algorithm. Dokumenter ini menjadi bagian dari perayaan satu dekade perjalanan Wilsen Willim di industri mode sekaligus merekam proses di balik koleksi adibusana pertamanya, Algorithm: Universal Language.

"Melalui enam episode, dokumenter ini mengikuti perjalanan Wilsen menjelajahi empat daerah di Indonesia untuk menggali kekayaan tenun sekaligus melihat bagaimana kain tradisional dapat terus berkembang secara berkelanjutan," ucap Wilsen melalui siaran pers. 

Empat wilayah tersebut memiliki karakter wastra Nusantara yang berbeda. Wilsen mengunjungi Jembrana, Bali, untuk mengenal Tenun Songket; Bandung Selatan, Jawa Barat, untuk menelusuri Tenun Sutra Garut; Kapuas Hulu dan Putussibau, Kalimantan Barat, untuk mempelajari Tenun Dayak Iban; serta Halaban, Sumatera Barat, tempat Songket Minang menjadi bagian dari kekayaan tradisi masyarakat setempat.

Perjalanan ini memperlihatkan bahwa sehelai tenun membawa lebih dari sekadar motif dan warna. Di balik proses pembuatannya, terdapat pengetahuan turun-temurun, keterampilan tangan, identitas budaya, serta kehidupan para perajin yang menjaga tradisi tersebut tetap hidup dari generasi ke generasi.

Wilsen Willim mendokumentasikan perjalanan menghidupkan tenun dalam Reinventing Tenun: Journey to Algorithm/Foto: Doc. Wilsen Willim

Kolaborasi Lintas Material dan Keahlian

Eksplorasi Wilsen dalam koleksi Algorithm: Universal Language tidak berhenti pada tenun. Dalam proses menciptakan koleksi adibusana tersebut, ia turut melibatkan sejumlah kolaborator dari berbagai bidang kriya dan material.

Salah satunya adalah Christina Harjanto dari Ecotouch yang mengembangkan serat denim daur ulang. Ada pula Eva dari Oemah Batiqu yang menghadirkan keterampilan Batik Ciwaringin dari Cirebon.

Kolaborasi juga melibatkan Cannesia Soekotjo melalui jenama produk kulit Peau, Inggrid Saidbun dari jenama alas kaki Bocorocco, serta Diatri Mitha dan Valerie Hadiningrat dari jenama aksesori Subeng Klasik.

Dalam perjalanan kreatif tersebut, Wilsen juga mendapat dukungan dan pandangan dari Ibu Tasya Kusnadi sebagai perwakilan Yayasan Kawan Lama. Sementara Ibu Sjamsidar Isa turut hadir sebagai mentor dan pemerhati wastra. Selain dikenal sebagai Ketua Indonesia Fashion Designer Council, Sjamsidar Isa juga menjadi pembina Cita Tenun Indonesia.

Pertemuan berbagai disiplin ini kemudian menjadi bagian penting dalam menerjemahkan gagasan Algorithm: Universal Language. Seperti namanya, koleksi tersebut berangkat dari gagasan mengenai bahasa universal dan keterhubungan. Dalam prosesnya, tenun tradisional bertemu dengan material daur ulang, kriya kulit, batik, alas kaki, hingga aksesori.

Dari Desa Perajin ke Panggung Adibusana

Wilsen Willim mendokumentasikan perjalanan menghidupkan tenun dalam Reinventing Tenun: Journey to Algorithm/Foto: Doc. Wilsen Willim

Reinventing Tenun: Journey to Algorithm tidak hanya merekam perjalanan Wilsen mengunjungi sentra-sentra wastra. Dokumenter ini juga mengikuti proses panjang ketika berbagai material tersebut mulai diterjemahkan menjadi karya mode.

Mulai dari perjumpaan dengan para perajin, eksplorasi material, proses kreatif di balik layar, hingga akhirnya koleksi tersebut tampil sebagai adibusana di atas panggung.

Perjalanan panjang itu bermuara pada peragaan koleksi Algorithm: Universal Language yang digelar di ballroom Hotel Mulia, Jakarta, pada 8 Juli 2026. Sehari setelahnya, koleksi tersebut kembali diperlihatkan dalam acara Re-See di Rumah Heritage Jakarta pada 9 Juli 2026.

Lewat dokumenter ini, publik diajak melihat sisi yang sering kali tidak tampak ketika sebuah koleksi mode sudah selesai dan berjalan di atas runway. Ada perjalanan, eksperimen, kegagalan, percakapan, serta kerja tangan banyak orang yang menjadi bagian dari sebuah karya.

Dokumenter Reinventing Tenun: Journey to Algorithm disutradarai oleh sineas sekaligus fotografer muda Jibril Erlangga. Enam episode perjalanan tersebut kemudian dirangkai menjadi satu film berdurasi 56 menit 57 detik.

Film ini pertama kali diputar secara terbatas di XXI Plaza Indonesia, bertepatan dengan perayaan ulang tahun Wilsen Willim yang ke-33. Penayangan terbatas kemudian dilanjutkan untuk kalangan siswa di FLIX ASHTA District 8 pada 24 Agustus 2026.

Menemukan Masa Depan Tenun

Di tengah cepatnya perputaran industri mode, perjalanan Wilsen Willim menjadi pengingat bahwa inovasi tidak selalu berarti meninggalkan akar. Justru dari tradisi, terdapat banyak kemungkinan yang masih bisa digali.

Reinventing Tenun: Journey to Algorithm merekam upaya melihat kembali tenun dengan cara pandang baru. Kain-kain yang lahir dari tradisi lokal tidak ditempatkan sebagai artefak masa lalu, tetapi menjadi bagian dari percakapan kreatif yang terus bergerak.

Dari tangan para perajin di berbagai daerah hingga panggung adibusana Jakarta, perjalanan tersebut memperlihatkan bagaimana sebuah karya dapat lahir dari pertemuan banyak pengetahuan. Dan mungkin, di situlah makna “reinventing” menemukan bentuknya: menjaga akar tetap terlihat, sambil memberi ruang bagi tradisi untuk berjalan menuju masa depan.

ECKA PRAMITA 

Halo Sahabat Cantika, Yuk Update Informasi Terkini Gaya Hidup Cewek Y dan Z di Instagram dan TikTok Cantika.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |