10 Amalan Utama di Sepuluh Malam Terakhir Ramadhan, Dicontohkan Rasulullah

2 hours ago 2

Liputan6.com, Jakarta - Sepuluh malam terakhir Ramadhan merupakan anugerah terbesar yang diberikan Allah kepada umat Islam. Di momen inilah terdapat malam Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Untuk memaksimalkan keberkahannya, umat Islam perlu mengetahui amalan utama di sepuluh malam terakhir Ramadhan.

Rasulullah SAW telah memberikan teladan terbaik dalam menghidupkan malam-malam ini dengan berbagai amalan utama. `Aisyah RA meriwayatkan, yang artinya: "Bahwa Rasulullah SAW ketika memasuki sepuluh terakhir malam Ramadhan beliau mengencangkan ikat pinggangnya, menghidupkan (beribadah) malam itu dan membangunkan keluarganya." (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Merujuk Buku Menghidupkan 10 Malam Terakhir Ramadhan karya Syaikh 'Abdullah al-Jarullah terdapat berbagai amalan utama yang bisa dilaksanakan pada 10 hari terakhir Ramadhan.

Jika sepuluh hari pertama adalah fase rahmat dan sepuluh hari kedua adalah fase maghfirah (pengampunan), maka sepuluh hari terakhir adalah fase itqun minan nar atau pembebasan dari api neraka. Simak ulasannya.

Berikut adalah amalan-amalan utama yang dianjurkan untuk dihidupkan pada sepuluh malam terakhir Ramadhan:

1. I'tikaf di Masjid

I'tikaf merupakan amalan yang sangat ditekankan pada sepuluh hari terakhir Ramadhan. Menurut Syaikh 'Abdullah al-Jarullah, istilah itikaf berasal dari bahasa Arab yang bermakna berdiam diri pada sesuatu, dan digunakan untuk ibadah dengan tinggal dan menetap di masjid guna beribadah serta mendekatkan diri kepada Allah .

Aisyah RA meriwayatkan:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللهُ

"Sesungguhnya Nabi SAW beri'tikaf pada sepuluh terakhir bulan Ramadhan sampai beliau wafat." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa pada tahun wafatnya, Nabi beri'tikaf selama dua puluh hari .

Imam Az-Zuhri berkata, "Sungguh mengherankan kondisi umat Islam yang meninggalkan itikaf, padahal Nabi SAW tidak pernah meninggalkannya sampai beliau diwafatkan oleh Allah."

Al-Hafizh Ibnu Rajab menjelaskan hikmah i'tikaf dalam kitabnya Latha'if Al-Ma'arif, bahwa i'tikaf mengandung hikmah yang sangat besar, yaitu menjaga seorang hamba dari pergaulan, pembicaraan, dan tidur yang berlebihan, serta faktor-faktor penghambat lainnya yang dapat merusak hati dan menghalanginya untuk fokus dalam ketaatan kepada Allah.

2. Menghidupkan Malam dengan Qiyamullail (Shalat Malam)

Salah satu ciri utama Rasulullah di sepuluh malam terakhir adalah menghidupkan malam-malam tersebut dengan berbagai ibadah, terutama shalat malam.

Dalil:`Aisyah RA meriwayatkan:

ماعلمته صلى الله عليه وسلم قام ليلة حتى الصباح

"Aku selalu menyaksikan beliau beribadah selama Ramadhan hingga menjelang subuh." (HR. Muslim)

Abu Hurairah RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

"Barangsiapa yang qiyamullail pada malam Lailatul Qadar karena iman dan hanya berharap pahala kepada Allah, maka dosa-dosanya yang berlalu akan diampuni." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Imam An-Nawawi dalam kitabnya Riyadhus Shalihin menjelaskan bahwa keutamaan ini diperoleh bagi siapa saja yang mendirikan shalat pada malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan (membenarkan janji Allah) dan ihtisab (mengharap pahala dari Allah semata, bukan karena riya atau tujuan duniawi).

Ibnu Bathal dalam Syarah Shahih Al-Bukhari menjelaskan bahwa hadits tentang kesungguhan Nabi di sepuluh malam terakhir menginformasikan kepada kita bahwa malam qadar terdapat pada sepuluh malam terakhir Ramadhan. Karenanya, Rasulullah SAW lebih fokus beribadah pada malam tersebut.

3. Membaca Al-Qur'an dan Mentadabburinya

Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur'an, sehingga membaca dan merenungkan maknanya menjadi amalan yang sangat utama, terlebih di sepuluh malam terakhir.

Dalil:Allah SWT berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ

"Bulan Ramadhan adalah bulan yang diturunkan di dalamnya Al-Quran, sebagai petunjuk bagi manusia dan keterangan dari petunjuk tersebut, serta pembeda (antara yang hak dan yang batil)." (QS. Al-Baqarah: 185)

Rasulullah SAW bersabda:

اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لأَصْحَابِهِ

"Bacalah Al-Qur'an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafa'at bagi para pembacanya." (HR. Muslim)

Penjelasan Ulama:Imam An-Nawawi dalam Al-Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur'an menjelaskan bahwa membaca Al-Qur'an di akhir malam lebih utama dibandingkan awal malam, sedangkan waktu terbaik membaca Al-Qur'an di siang hari adalah setelah shalat Subuh .

Para ulama salaf sangat antusias membaca Al-Qur'an di bulan Ramadhan. Al-Aswad ibnu Yazid biasa mengkhatamkan Al-Qur'an dalam waktu enam malam. Ketika memasuki bulan Ramadhan, ia menamatkannya dalam tiga malam. Jika masuk sepuluh malam terakhir, ia menamatkannya setiap malam .

Imam Asy-Syafi'i mengkhatamkan Al-Qur'an pada sepuluh malam terakhir Ramadhan setiap malam, antara Maghrib dan Isya. Demikian juga diriwayatkan dari Abu Hanifah—Semoga Allah merahmatinya .

Al-Hafizh Ibnu Rajab dalam Latha'if Al-Ma'arif memberikan keterangan bahwa larangan menamatkan Al-Qur'an dalam masa kurang dari tiga hari berlaku hanya jika itu dijadikan kebiasaan pada kondisi-kondisi biasa. Adapun di waktu-waktu utama seperti Ramadhan, khususnya sepuluh malam terakhir yang di dalamnya terdapat Lailatul Qadar, dianjurkan untuk memperbanyak bacaan Al-Qur'an.

4. Memperbanyak Doa, Khususnya Doa Lailatul Qadar

Memperbanyak doa, terutama memohon ampunan, merupakan amalan yang sangat dianjurkan di sepuluh malam terakhir.

Aisyah RA meriwayatkan:

عَنْ عَائِشَةَ، أَنَّهَا قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ وَافَقْتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ مَا أَدْعُو قَالَ: تَقُولِينَ اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

"Dari Aisyah RA, sesungguhnya dia berkata, '(Aku pernah bertanya kepada Rasulullah), "Wahai Rasulullah, doa apa yang bisa aku baca ketika mendapati Lailatul Qadar?" Nabi menjawab, "Bacalah Allāhumma innaka 'afuwwun tuḥibbul 'afwa fa'fu 'annī (Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan Engkau mencintai orang yang meminta maaf, karenanya maafkanlah aku).'" (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad; Tirmidzi mengatakan hadits ini hasan shahih)

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa doa ini sangat tepat untuk dibaca di malam Lailatul Qadar karena inti dari malam tersebut adalah pengampunan dosa. Kata "al-'afwu" berarti menghapus dan menghilangkan bekas dosa, lebih sempurna daripada sekadar maghfirah.

Dr. Wahbah Az-Zuhaili dalam Fiqih Islam Wa Adillatuhu menjelaskan bahwa disunahkan untuk menghidupkan malam sepuluh terakhir bulan Ramadhan agar mendapatkan malam Lailatul Qadar, salah satunya dengan memperbanyak doa dan istighfar pada waktu sahur.

5. Membangunkan Keluarga untuk Ibadah

Rasulullah SAW tidak hanya beribadah sendiri, tetapi juga membangunkan keluarganya agar turut meraih keutamaan malam-malam mulia ini.

Dalil:Hadits Abi Dzar menggambarkan hal ini dengan jelas:

قام بهم ليلة ثلاث وعشرين وخمس وعشرين ذكر أنه دعا أهله ونساءه ليلة سبع وعشرين خاصة

"Bahwasannya Rasulullah saw beserta keluarganya bangun (untuk beribadah) pada malam 23, 25, 27. Khususnya pada malam 29."

Bahkan dalam satu riwayat, Rasulullah pernah membangunkan Fathimah dan Ali di malam hari dan berkata, "Ayo bangun-bangun, shalat-shalat."

Dalam kitab Syarah Shahih Muslim, Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa membangunkan keluarga untuk shalat malam merupakan sunnah yang sangat dianjurkan, terutama di waktu-waktu utama seperti sepuluh malam terakhir Ramadhan. Ini menunjukkan perhatian Nabi terhadap keluarganya agar tidak kehilangan keutamaan malam yang agung.

Syaikh 'Abdullah al-Jarullah dalam kitabnya menekankan bahwa seorang muslim tidak boleh hanya mencukupkan diri dengan beramal sendiri dan membiarkan keluarganya tidur, karena itu adalah kelalaian yang nyata.

6. Memperbanyak Sedekah dan Berbagi

Rasulullah SAW adalah orang yang paling dermawan, dan kedermawanannya semakin meningkat di bulan Ramadhan, terlebih lagi di sepuluh hari terakhir.

Ibnu Abbas RA berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ بِالْخَيْرِ وَكَانَ أَجْوَدَ مَا يَكُونُ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ

"Rasulullah SAW adalah manusia yang paling dermawan dalam kebaikan, dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan." (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam Fathul Mu'in karya Zainuddin Al-Malibari, dijelaskan bahwa di antara amalan utama di sepuluh hari terakhir Ramadhan adalah memperbanyak sedekah, mencukupi kebutuhan keluarga, serta berbuat baik kepada kerabat dan tetangga.

Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa makna "lebih dermawan" di sini mencakup sedekah dengan harta, juga dengan ilmu, bantuan tenaga, dan segala bentuk kebaikan lainnya.

7. Memperbanyak Dzikir dan Istighfar

Mengingat Allah dengan dzikir seperti tasbih, tahmid, tahlil, dan istighfar merupakan amalan yang ringan namun besar pahalanya, terutama di malam-malam yang penuh berkah.

Allah SWT berfirman:

وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

"Laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar." (QS. Al-Ahzab: 35)

Rasulullah SAW mengajarkan bahwa kalimat-kalimat dzikir yang paling dicintai Allah adalah yang diucapkan secara terus-menerus (dawam), meskipun pendek, seperti Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar, dan Laa Ilaaha Illallah.

Dr. Wahbah Az-Zuhaili dalam Fiqih Islam Wa Adillatuhu menyebutkan bahwa di antara amalan menghidupkan sepuluh malam terakhir adalah memperbanyak istighfar pada waktu sahur, dan dianjurkan membaca sayyidul istighfar.

8. Membersihkan Diri dan Memakai Wangi-wangian

Rasulullah SAW juga mengajarkan untuk memperhatikan kebersihan diri, terutama ketika memasuki waktu-waktu ibadah di sepuluh malam terakhir.

Aisyah RA meriwayatkan:

كَانَ النَّبيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ رَمَضَانُ قَامَ وَنَامَ فَإِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ الْمِئْزَرَ وَاجْتَنَبَ النِّسَاءَ وَاغْتَسَلَ بَيْنَ الْأَذَانَيْنِ وَجَعَلَ الْعِشَاءَ سَحُوْرًا

"Ketika memasuki bulan Ramadhan, Rasulullah bangun malam (untuk beribadah) dan juga menggunakannya untuk tidur. Begitu masuk sepuluh hari terakhir, beliau kencangkan sarung, menjauhi istri-istrinya (untuk beribadah), mandi antara dua adzan (maghrib dan isya)." (HR. Ibnu Abi 'Ashim)

Para ulama menjelaskan bahwa mandi antara Maghrib dan Isya' ini bertujuan untuk membersihkan diri dalam rangka menyambut malam-malam ibadah dengan kesegaran dan kebersihan, sebagai persiapan lahiriah untuk meraih Lailatul Qadar .

Dalam kitab Nihayatul Muhtaj karya Imam Ar-Ramli, disebutkan bahwa dianjurkan bagi mereka yang mengharapkan Lailatul Qadar untuk membersihkan diri dengan mandi dan berpakaian yang rapi dan wangi, karena kebersihan lahiriah membantu kekhusyukan batiniah.

9. Introspeksi Diri (Muhasabah) dan Taubat

Sepuluh malam terakhir adalah waktu yang tepat untuk merenung, menghisab diri, dan bertaubat atas segala kesalahan.

Dalam hadits tentang puasa Ramadhan, disebutkan:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

"Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan ihtisab (introspeksi diri), maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (HR. Bukhari dan Muslim)

Umar bin Khattab RA berkata:

حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا

"Hisablah dirimu sebelum nanti kamu dihisab."

Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumiddin menjelaskan bahwa muhasabah (introspeksi diri) adalah kunci perbaikan diri. Dengan merenungi kesalahan dan dosa yang telah dilakukan, seorang hamba akan semakin terdorong untuk memohon ampun dan memperbaiki kualitas ibadahnya.

10. Mencari Lailatul Qadar di Malam Ganjil

Kesempurnaan dari seluruh amalan di atas adalah tujuannya: meraih malam Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan.

Rasulullah SAW bersabda:

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

"Carilah lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat lain disebutkan:

الْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ فِي وِتْرٍ

"Carilah ia (Lailatul Qadar) di sepuluh malam terakhir pada malam ganjil." (HR. Bukhari)

Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hikmah dirahasiakannya Lailatul Qadar adalah agar kaum muslimin bersungguh-sungguh dalam beribadah di seluruh sepuluh malam terakhir, tidak hanya bergantung pada satu malam tertentu.

Syaikh 'Abdullah al-Jarullah dalam kitabnya menekankan bahwa orang-orang generasi terdahulu sangat antusias dalam beribadah di sepuluh malam terakhir, mereka memperlihatkan bentuk antusias yang paling maksimal dalam melakukan ketaatan, ibadah, shalat malam, dan dzikir demi meraih Lailatul Qadar.

Keutamaan Amalan di Sepuluh Hari Terakhir Ramadhan

Amalan-amalan yang dilakukan di sepuluh hari terakhir Ramadhan memiliki keutamaan yang luar biasa. Berikut adalah beberapa keutamaan tersebut:

1. Terdapat Malam Lailatul Qadar

Keutamaan terbesar sepuluh malam terakhir adalah keberadaan Lailatul Qadar di dalamnya. Allah SWT berfirman: "Malam Lailatul Qadar itu lebih baik dari seribu bulan." (QS. Al-Qadr: 3)

Para ulama menafsirkan bahwa beribadah pada malam Lailatul Qadar lebih baik daripada ibadah selama seribu bulan (sekitar 83 tahun) yang tidak mengandung malam tersebut. Ini adalah keutamaan yang sangat besar, sebuah kesempatan emas yang tidak boleh disia-siakan.

2. Pengampunan Dosa-Dosa yang Telah Lalu

Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa yang qiyamullail pada malam Lailatul Qadar karena iman dan hanya berharap pahala kepada Allah, maka dosa-dosanya yang berlalu akan diampuni." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa pengampunan ini mencakup dosa-dosa kecil, dan sebagian ulama berpendapat mencakup dosa besar jika diiringi taubat yang sungguh-sungguh.

3. Diturunkannya Malaikat dengan Segala Kebaikan

Allah SWT berfirman: "Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan." (QS. Al-Qadr: 4)

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa para malaikat turun ke bumi membawa kebaikan, keberkahan, dan rahmat. Mereka turun bersama turunnya Jibril, dan memberi salam kepada setiap mukmin yang sedang beribadah.

4. Malam Penuh Kesejahteraan hingga Fajar

Allah SWT berfirman: "Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar." (QS. Al-Qadr: 5)

Malam Lailatul Qadar adalah malam yang penuh keselamatan dan kesejahteraan. Setan tidak dapat berbuat jahat pada malam itu, dan Allah melimpahkan kebaikan serta keselamatan bagi hamba-hamba-Nya yang beribadah.

5. Pintu-Pintu Langit Dibuka

Rasulullah SAW bersabda: "Apabila tiba malam Lailatul Qadar, Jibril turun bersama sekelompok malaikat, mereka mendoakan setiap hamba yang berdiri atau duduk yang berdzikir kepada Allah." (HR. Al-Baihaqi).

6. Waktu Mustajab untuk Berdoa

Lailatul Qadar merupakan salah satu waktu yang paling mustajab untuk berdoa. `Aisyah RA bertanya kepada Rasulullah tentang doa yang tepat untuk malam itu, dan beliau mengajarkan doa khusus memohon ampunan.

7. Pahala Dilipatgandakan

Di sepuluh malam terakhir Ramadhan, seluruh amal kebaikan dilipatgandakan pahalanya. Bahkan, satu amalan di malam Lailatul Qadar nilainya melebihi ibadah selama 83 tahun.

8. Momen Pembebasan dari Api Neraka

Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba yang dibebaskan (dari api neraka) setiap hari dan setiap malam (di bulan Ramadhan), dan setiap muslim memiliki doa yang mustajab." (HR. Ahmad)

Para ulama menjelaskan bahwa pembebasan dari api neraka ini lebih banyak terjadi di sepuluh malam terakhir, terutama di malam Lailatul Qadar .

9. Momen Diturunkannya Al-Qur'an

Lailatul Qadar adalah malam diturunkannya Al-Qur'an dari Lauh Mahfuzh ke langit dunia secara keseluruhan, kemudian diturunkan secara berangsur-angsur kepada Nabi SAW selama 23 tahun. Ini menunjukkan kemuliaan dan keberkahan malam tersebut.

10. Puncak Kesungguhan Nabi SAW

Rasulullah SAW bersungguh-sungguh dalam beribadah di sepuluh malam terakhir melebihi malam-malam lainnya. `Aisyah RA berkata: "Nabi SAW apabila memasuki sepuluh malam terakhir, beliau mengencangkan sarungnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya." (HR. Bukhari dan Muslim).

Mengikuti sunnah Nabi dalam menghidupkan malam-malam ini merupakan keutamaan tersendiri, karena kita akan mendapatkan pahala mengamalkan sunnah di samping pahala ibadah itu sendiri.

People also Ask:

Apa saja amalan 10 hari terakhir Ramadhan?

Amalan-Amalan Terbaik di 10 Hari Terakhir RamadhanI'tikaf di Masjid. ...Memperbanyak Salat Malam. ...Membaca dan Tadabbur Al-Qur'an. ...Memperbanyak Doa, Terutama Doa Lailatul Qadar. ...Bersedekah dengan Harta dan Tenaga. ...6. Memperbanyak Dzikir dan Istighfar. ...7. Membangunkan Keluarga untuk Ibadah. ...Menghindari Perbuatan Sia-Sia.

Apa yang dianjurkan Nabi Muhammad saw di 10 hari terakhir bulan Ramadan?

Rasulullah SAW senantiasa melakukan i'tikaf pada 10 hari terakhir Ramadhan untuk lebih banyak beribadah. Memperbanyak Salat Malam, Salat tahajud dan ibadah malam lainnya menjadi amalan utama pada 10 malam terakhir. Malam Lailatul Qadar adalah momen istimewa yang sebaiknya diisi dengan ibadah.

Apa yang sebaiknya dibaca dalam 10 hari terakhir Ramadan?

Doa yang sangat dianjurkan untuk dibaca selama 10 malam terakhir Ramadan adalah: “ Allaahumma innaka 'afuwwun, tuhibb al-'afwa, fa'fu 'anni ,” yang artinya, “Ya Allah, Engkau Maha Pengampun, dan Engkau mencintai pengampunan, maka ampunilah aku.” Umat Islam dianjurkan untuk mengulang doa ini selama 10 hari terakhir Ramadan dan memohon rahmat Allah

Apa saja yang dilakukan malam Lailatul Qadar?

Malam Lailatul Qadar adalah kesempatan emas yang diberikan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala untuk umat Islam. Dengan memperbanyak amalan seperti itikaf, sholat, tadarus, dzikir, dan sedekah, kita bisa meningkatkan peluang kita untuk mendapatkan malam yang lebih baik dari seribu bulan ini.

10 malam terakhir Ramadhan baca surat apa?

Surat Al-Qadr sendiri sering dibacakan saat shalat tarawih, terutama di sepuluh malam terakhir Ramadhan.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |