7 Hikmah Puasa Asyura yang Bisa Diterapkan dalam Kehidupan Sehari-hari

8 hours ago 7

Liputan6.com, Jakarta - Bulan Muharram tidak hanya menandai awal penanggalan Hijriah, tetapi juga menyajikan momentum spiritual yang mendalam, khususnya di hari Asyura pada 10 Muharram. Terdapat hikmah puasa Asyura yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam perspektif Islam, puasa ini bukan sekadar ritual ibadah menahan lapar dan dahaga. Shaum ini sarat nilai filosofis dan historis yang dapat direfleksikan serta diterapkan dalam kehidupan modern sehari-hari.

Dalam tinjauan historis, terdapat berbagai peristiwa besar pada Muharram, terkhusus hari Asyura. Secara historis, dalam kalender Islam hari tersebut ditandai sebagai hari penting.

Merujuk buku Keutamaan Asyura dan Bulan Muharram karya Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid (diterjemahkan oleh Abu Salma Muhammad Rachdie, S.Si), buku Bulan Muharram dan Keutamaan Berpuasa di Dalamnya karya Said Yai, dan sumber kredibel lain, berikut ini adalah berbagai hikmah berpuasa Asyura yang sangat relevan sebagai panduan sikap hidup.

1. Menanamkan Jiwa Syukur atas Segala Nikmat dan Pertolongan

Asal muasal syariat puasa Asyura sangat erat kaitannya dengan ekspresi rasa syukur kepada Allah SWT.

Ketika Nabi Muhammad SAW tiba di Madinah, beliau mendapati orang-orang Yahudi berpuasa di hari Asyura karena hari itu adalah hari di mana Allah menyelamatkan Nabi Musa AS dan menenggelamkan Fir'aun.

Mengetahui hal itu, Nabi Musa berpuasa sebagai bentuk rasa syukur. Dalam riwayat Imam Ahmad juga ditambahkan bahwa hari itu adalah hari berlabuhnya bahtera Nabi Nuh AS di bukit Judi, sehingga beliau berpuasa sebagai bentuk syukur.

Hikmah ini mengajarkan umat manusia untuk selalu mengekspresikan rasa syukur (syukran lillah) setiap kali meraih keberhasilan, terlepas dari ujian, atau diselamatkan dari krisis hidup.

Syukur sejati tidak hanya diucapkan, tetapi dibuktikan melalui peningkatan amal ketaatan dan kontribusi positif bagi sesama, layaknya para Nabi yang mengejawantahkan syukur melalui puasa.

2. Muhasabah (Evaluasi Diri) dan Bertaubat

Keutamaan utama dari berpuasa Asyura adalah janji ampunan dari Allah atas dosa-dosa setahun yang lalu. Hal ini didasarkan pada sabda Nabi Muhammad SAW riwayat Imam Muslim: "Dan puasa di hari 'Asyura', saya berharap kepada Allah agar dapat menghapuskan (dosa) setahun yang lalu.".

Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Majmu' Syarh Al-Muhadzdzab menjelaskan bahwa puasa Asyura menggugurkan dosa-dosa kecil. Ibnul Qayyim memberikan peringatan keras agar seseorang tidak tertipu (ghurur) dengan mengandalkan puasa ini lantas meremehkan kewajiban (seperti shalat wajib) atau berani melakukan dosa besar.

Beliau menegaskan bahwa orang yang lisannya bertasbih namun gemar menggunjing kaum muslimin adalah orang yang tertipu. Pesan ini menuntut kita untuk memiliki rutinitas muhasabah atau evaluasi diri secara berkala. Kesalahan dan kelalaian di masa lalu harus ditebus dengan perbaikan diri (continuous improvement).

Seseorang harus profesional dalam mengevaluasi kelemahan diri serta tidak pernah menggampangkan kesalahan sekecil apa pun, apalagi memanipulasi ibadah sebagai kedok atas perilaku buruk.

3. Membangun Karakter dan Identitas Islam

Dalam pelaksanaannya, Rasulullah SAW menganjurkan umat Islam untuk menambahkan puasa pada hari kesembilan (Tasu'a) demi menyelisihi tradisi kaum Yahudi yang hanya berpuasa di hari kesepuluh.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Al-Fatawa Al-Kubra menyatakan bahwa Nabi sangat banyak melarang umatnya menyerupai (tasyabbuh) Ahli Kitab. Ibnu Hajar dalam Fathul Bari juga menjelaskan bahwa maksud penambahan hari puasa ini adalah "mukhalaafatan lil yahuud wan nashaara" (menyelisihi Yahudi dan Nasrani).

ANilai ini mendidik individu untuk memiliki prinsip yang teguh, mandiri, dan memiliki identitas karakter yang kuat. Dalam konteks sosial dan profesional, seseorang tidak boleh mudah terseret arus, ikut-ikutan tren yang merusak, atau sekadar membebek pada mayoritas (konformitas negatif).

Seorang Muslim harus memiliki ciri khas integritas yang membedakannya dari praktik-praktik tak etis di sekelilingnya.

4. Mengedepankan Sikap Kehati-hatian (Ihtiyath)

Anjuran puasa Tasu'a (9 Muharram) dan tanggal 11 Muharram juga memiliki dimensi kehati-hatian atau antisipasi.

Imam An-Nawawi menyebutkan bahwa salah satu hikmah puasa Tasu'a adalah sebagai bentuk ihtiyath (berhati-hati) jika terjadi kesalahan dalam perhitungan hari atau kurangnya jumlah hari dalam sebulan, sehingga seseorang tetap dipastikan mendapatkan puasa tepat di hari ke-10.

Hal serupa ditegaskan oleh Imam Ahmad bahwa jika penentuan awal Muharram rancu, dianjurkan berpuasa tiga hari sekaligus.

Hikmah ini merupakan dasar dari sikap kehati-hatian, manajemen risiko, dan kecermatan dalam bertindak. Sebelum mengambil keputusan atau menjalankan suatu program, biasakan untuk memiliki rencana cadangan (contingency plan), melakukan pengecekan ulang, dan tidak bertindak sembrono agar hasil yang dituju (goals) dapat tercapai dengan aman.

5. Menghindari Sikap Berlebihan

Sejarah mencatat bahwa hari Asyura kerap dirayakan dengan cara-cara yang keluar dari garis syariat Islam, baik melalui ekstremitas kesedihan maupun kegembiraan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Al-Fatawa Al-Kubra membantah keras tradisi Syiah yang menjadikan Asyura sebagai hari duka, merobek baju, dan melukai diri atas wafatnya Al-Husain. Di sisi lain, beliau juga menolak riwayat-riwayat palsu dari kaum yang merayakan Asyura dengan bersenang-senang, bercelak, memakai inai, dan memasak makanan khusus.

Ibnu Al-Haj dalam Al-Madkhal juga menyebut praktik-praktik tersebut sebagai bid'ah.Aplikasi Sehari-hari: Dalam menghadapi dinamika kehidupan, kedewasaan emosional sangat dibutuhkan. Saat tertimpa musibah, kita diajarkan untuk bersabar tanpa harus meratapi nasib secara destruktif.

Sebaliknya, saat meraih kesuksesan, kita tidak boleh larut dalam euforia hura-hura yang mengabaikan nilai-nilai kepatutan. Sikap pertengahan (proporsional) sesuai dengan kaidah (SOP) agama adalah kunci menjaga keseimbangan mental dan sosial.

6. Memahami Fikih Prioritas

Pelaksanaan puasa Asyura memberikan pelajaran penting mengenai hierarki kewajiban dalam Islam, terutama bagi mereka yang masih memiliki tanggungan (utang) puasa wajib di bulan Ramadan.

Syariat Islam membedakan dengan tegas antara ibadah yang bersifat fardu (wajib) dan tathawwu' (sunah). Puasa Asyura adalah ibadah sunah yang sangat dianjurkan, namun kedudukannya tidak boleh menggeser ibadah wajib.

Para ulama ahli fikih memberikan ketetapan hukum yang ketat terkait hal ini. Ad-Dasuki Rahimahullah menyatakan bahwa dimakruhkan berpuasa sunah (termasuk Asyura) bagi seseorang yang masih memiliki utang puasa wajib, baik itu qadha, nazar, maupun kafarat.

Bahkan, ulama dari mazhab Hanabilah (Hambali) berpendapat bahwa berpuasa sunah sebelum melunasi utang puasa Ramadan hukumnya haram dan puasanya dianggap tidak sah. Seseorang diharuskan mendahulukan yang wajib hingga lunas.

Hikmah ini mengajarkan esensi manajemen waktu dan penentuan skala prioritas (Fikih Prioritas). Dalam dunia profesional maupun ranah personal, seseorang harus memiliki komitmen untuk menuntaskan Key Performance Indicators (KPI) atau tanggung jawab utamanya terlebih dahulu sebelum mengambil proyek tambahan atau tugas sukarela. Mengabaikan kewajiban pokok demi mengejar prestasi tambahan adalah sebuah kekeliruan manajerial dan etika.

7. Menjaga Integritas

Banyak orang yang terjebak dalam ghurur (rasa tertipu atau ilusi kesalehan) ketika bersemangat mengejar keutamaan Asyura, namun melupakan pondasi akhlak dan etika dasar bermasyarakat.

Konteks Historis dan Dalil: Sabda Nabi SAW menjanjikan bahwa puasa Asyura dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu. Namun, keutamaan ini sering disalahpahami sebagai "lisensi" untuk meremehkan dosa-dosa lainnya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menegaskan bahwa puasa Asyura hanya menggugurkan dosa-dosa kecil saja. Lebih tajam lagi, Ibnul Qayyim Rahimahullah mengkritik fenomena orang-orang yang tertipu (ghurur); mereka sangat perhitungan dengan amal ibadah lisannya (seperti tasbih atau puasa sunah), namun di hari yang sama mereka dengan mudahnya menggunjing kaum Muslimin, mengoyak kehormatan orang lain, dan berbicara hal-hal yang tidak diridhai Allah.

Ibnul Qayyim menegaskan bahwa amal ketaatan sunah tidak akan berguna maksimal jika tidak disertai sikap meninggalkan dosa-dosa besar, terutama yang berkaitan dengan hak sesama manusia.

Hikmah ini merupakan teguran keras terkait integritas holistik. Kesalehan individu (ketaatan ritual) harus berbanding lurus dengan kesalehan sosial (etika komunikasi, empati, dan sikap profesional). Dalam lingkungan kerja atau sosial, reputasi seseorang tidak hanya dinilai dari seberapa keras ia bekerja atau seberapa banyak rutinitas pribadinya, melainkan dari kemampuannya menjaga lisan, menghindari gosip (toksisitas), dan menghargai kehormatan rekan-rekannya.

Pertanyaan Seputar Hikmah Puasa Asyura

Puasa Asyura memiliki hikmah apa?

Nabi SAW bersabda, “Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa di bulannya Allah, Muharam.” (HR Muslim). Salah satu keutamaan puasa pada hari Asyura adalah dapat menghapus dosa pada tahun sebelumnya dan barang siapa yang berpuasa Asyura, maka seperti puasa setahun penuh.

Apa saja 5 hikmah puasa?

Puasa memiliki lima hikmah utama yang meliputi aspek spiritual, pengendalian diri, kesehatan fisik, dan kepedulian sosial, yang bertujuan membentuk pribadi Muslim lebih tangguh.

Apa saja manfaat berpuasa pada hari Asyura?

Manfaat Berpuasa pada Hari Asyura. Ini adalah saatnya untuk bertobat dari dosa-dosa masa lalu dan membuat komitmen baru untuk hidup dengan benar . Anda sangat dianjurkan untuk melakukan introspeksi diri agar dapat memperbaiki karakter dan cara hidup Anda.

Apa 3 hikmah puasa?

Tiga hikmah utama berpuasa meliputi peningkatan ketakwaan dan pengendalian diri (fawa'id ruhiyah), pemupukan empati dan kepedulian sosial (fawa'id ijtima'iyah), serta peningkatan kesehatan fisik dan detoksifikasi tubuh (fawa'id shihhiyah)

Kenapa 10 Muharram istimewa?

Tanggal 10 Muharram (Hari Asyura) sangat istimewa karena sarat akan peristiwa bersejarah bagi para Nabi

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |