Liputan6.com, Jakarta - Ada dua sisi beririsan antara Muharram dan Suro dalam tradisi di Indonesia, khususnya Jawa. Untuk itu, kita perlu memahami mitos dan fakta seputar bulan Suro dalam pandangan Islam.
Bulan Muharram adalah bulan yang penuh kemuliaan dalam perspektif Islam. Muharram adalah Syahrullah (Bulan Allah) dan termasuk dalam asyhurul hurum (bulan-bulan haram/suci) yang disebutkan secara eksplisit dalam QS. At-Taubah ayat 36. Di bulan ini, umat Islam dianjurkan memperbanyak puasa sunnah, terutama puasa Asyura pada tanggal 10 yang dapat menghapus dosa setahun lalu.
Tetapi, di sisi lain, ketika bulan yang sama disebut sebagai “Suro” dalam penanggalan Jawa, hasil akulturasi Sultan Agung pada abad ke-17, kemudian melahirkan mitos. Sebagian masyarakat Jawa meyakini bulan Suro sebagai bulan yang wingit (keramat), di mana kekuatan gaib sangat dominan sehingga manusia ada berbagai pantangan yang tak boleh dilanggar.
Merujuk jurnal Bulan Suro dalam Perspektif Islam dan Tradisi Bulan Suro di Pulau Jawa oleh Za'farullah Jamaly dan sumber lainnya, berikut ini adalah mitos dan fakta bulan Suro dalam Islam.
Mitos Pertama: Bulan Suro adalah Bulan Sial, Penuh Pantangan
Mitos paling masif adalah keyakinan bahwa bulan Suro membawa kesialan, malapetaka, atau bencana. Banyak orang enggan memulai usaha, pindah rumah, atau bahkan bepergian jauh karena takut “kena sial” di bulan ini.
Dalam Islam, tidak ada satu bulan pun yang membawa kesialan. Semua waktu—siang, malam, bulan, dan hari—adalah ciptaan Allah yang baik. Keyakinan bahwa suatu masa atau waktu tertentu membawa nasib buruk disebut tathayyur (meyakini kesialan), dan ini adalah perbuatan syirik kecil.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Thiyarah (meyakini kesialan) itu adalah syirik.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi). Dalam riwayat lain, beliau menegaskan: “Tidak ada ‘adwa (penularan penyakit tanpa izin Allah), tidak ada thiyarah, tidak ada hamah, dan tidak ada Shafar.” (HR. Bukhari Muslim).
Dengan demikian, menganggap bulan Muharram atau Suro sebagai bulan sial adalah keyakinan yang bertentangan dengan tauhid. Muslim sejati hanya meyakini bahwa kebaikan dan keburukan semata-mata datang dari Allah.
Mitos Kedua: Dilarang Menggelar Pernikahan di Bulan Suro
Di kalangan masyarakat Jawa, larangan menikah di bulan Suro adalah salah satu pantangan paling kuat. Mereka meyakini bahwa pernikahan yang dilangsungkan pada bulan ini tidak akan langgeng, sering bertengkar, atau bahkan mendatangkan musibah bagi kedua mempelai dan keluarganya.
Hukum menikah di bulan Muharram adalah boleh (mubah). Tidak ada satu pun dalil dari Al-Qur’an maupun Hadis yang melarang pernikahan di bulan ini. Larangan tersebut murni berasal dari adat istiadat yang tidak memiliki landasan syariat.
Dalam jurnal Jenang Sura karya Sofi Ghoniyah (UIII), dijelaskan bahwa larangan ini muncul karena masyarakat Jawa menganggap bulan Suro terlalu mulia dan “milik Allah”, sehingga manusia dianggap tidak pantas mengadakan hajatan. Keyakinan semacam ini tidak dikenal dalam Islam.
Bahkan, Rasulullah ﷺ sendiri menikahkan putrinya Fatimah dengan Ali bin Abi Thalib di bulan Dzulhijjah atau Muharram menurut sejumlah riwayat, tanpa ada larangan apapun.
Oleh karena itu, jika ada pasangan yang ingin menikah di bulan Muharram, tidak ada halangan syariat sedikit pun. Justru, memilih bulan yang mulia untuk mengawali bahtera rumah tangga bisa menjadi berkah tersendiri.
Mitos Ketiga: Ritual Mandi, Bercelak dan Berinai di Hari Asyura
Sebagian masyarakat melakukan ritual khusus di hari Asyura (10 Muharram), seperti mandi besar, bercelak mata, memakai pacar (inai), atau menyediakan makanan tertentu dengan keyakinan akan mendapat perlindungan sepanjang tahun.
Ada pula yang meyakini bahwa barangsiapa mandi di hari Asyura maka ia tidak akan sakit selama setahun penuh.
Tidak ada satu pun hadis shahih yang menerangkan ritual-ritual tersebut. Semua riwayat tentang keutamaan bercelak, mandi, atau memakai inai di hari Asyura adalah palsu dan dusta atas nama Nabi Muhammad ﷺ.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam Al-Fatawa al-Kubro dengan tegas menyatakan bahwa seluruh riwayat tentang amalan-amalan khusus selain puasa di hari Asyura adalah tidak berdasar.
Amalan-amalan ini termasuk kategori bid’ah, yaitu mengada-ada dalam agama tanpa petunjuk dari syariat. Rasulullah ﷺ bersabda: “Barangsiapa mengada-adakan sesuatu dalam urusan agama kami yang bukan darinya, maka ia tertolak.” (HR. Bukhari Muslim).
Satu-satunya amalan yang dianjurkan di hari Asyura adalah puasa, baik pada tanggal 9 (Tasu’a) maupun 10 (Asyura), serta memperbanyak doa, dzikir, dan sedekah.
Mitos Keempat: Bulan Suro adalah Bulan Kesedihan untuk Meratapi Husain
Bagi sebagian kalangan, terutama yang terpengaruh paham Syi’ah, bulan Muharram, khususnya hari Asyura, dianggap sebagai bulan berkabung atas syahidnya Husain bin Ali di Padang Karbala. Mereka mengadakan acara ratapan, menampar-nampar pipi, merobek baju, bahkan menyayat kepala hingga berdarah sebagai wujud kesedihan.
Tindakan tersebut sangat dilarang dalam syariat Islam. Rasulullah ﷺ bersabda: “Bukan termasuk golonganku orang yang menampar-nampar pipi, merobek-robek baju, dan berteriak-teriak seperti teriakan orang-orang di masa Jahiliyah.” (HR. Bukhari).
Meratapi kematian seseorang secara berlebihan hingga melukai diri sendiri tidak pernah diajarkan oleh Nabi. Meskipun kepergian Husain adalah musibah besar, Islam mengajarkan kesabaran dan tidak berlebihan dalam berkabung.
Bahkan, menjadikan hari Asyura sebagai hari kesedihan khusus justru menyelisihi sunnah Rasulullah ﷺ yang menjadikannya hari syukur dan puasa.
Sebaliknya, sebagian kalangan lain justru menjadikan hari Asyura sebagai hari raya dengan berhias dan bersukaria. Ini pun keliru. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa kedua kelompok, yang berduka berlebihan dan yang bergembira berlebihan, sama-sama menyimpang dari sunnah.
Mitos Kelima: Malam 1 Suro Penuh Setan, Dilarang Keluar Rumah
Banyak orang tua melarang anak-anaknya keluar rumah pada malam 1 Suro karena konon setan dan makhluk halus berkeliaran dengan bebas. Ada pula yang melakukan ritual “bersih desa” atau menabur bunga di perempatan jalan untuk mengusir roh jahat.
Setan dan jin memang berkeliaran setiap saat, tidak hanya di malam 1 Suro. Namun, Islam mengajarkan bahwa perlindungan dari gangguan mereka bukan dengan mengurung diri atau ritual-ritual tertentu, melainkan dengan memperbanyak dzikir, membaca Al-Qur’an, membaca doa masuk rumah, dan memperkuat iman.
Rasulullah SAW mengajarkan doa perlindungan dari kejahatan makhluk yang tidak terbatas pada waktu tertentu. Tidak ada larangan keluar rumah di malam 1 Suro berdasarkan dalil syariat. Anggapan bahwa malam itu “istimewa” bagi setan hanyalah mitos yang berasal dari kepercayaan pra-Islam.
Tradisi Bulan Suro dalam Pandangan Islam
Islam mengakui keberadaan tradisi (‘urf) sebagai salah satu pertimbangan hukum, dengan syarat tidak bertentangan dengan syariat. Oleh karena itu maka tradisi yang mengandung kemusyrikan, seperti keyakinan bulan sial, larangan menikah karena takut musibah, ritual mandi dan bercelak dengan keyakinan tertentu, serta sesajen, wajib ditinggalkan.
Tradisi yang bersifat sosial dan tidak menyalahi aqidah, seperti berkumpul, makan bersama, berbagi makanan (Jenang Sura) dengan niat sedekah dan silaturahmi, diperbolehkan bahkan dianjurkan, selama niatnya diluruskan hanya karena Allah.
Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid dalam Keutamaan Asyura dan Bulan Muharram menegaskan bahwa yang terpenting adalah mengisi bulan Muharram dengan amalan sunnah: puasa, dzikir, taubat, dan menjauhi dosa, tanpa mencampuradukkan dengan ritual-ritual bid’ah.
Keutamaan Utama Bulan Suro dalam Islam
1. "Syahrullah", Bulan yang Sangat Mulia
Bulan Suro (Muharram) disebut sebagai Syahrullah (Bulan Allah), sebuah gelar kehormatan yang tidak diberikan kepada bulan lainnya karena kemuliaannya yang agung. Gelar ini juga sekaligus menjadi isyarat bahwa bulan ini sangat dimuliakan oleh Allah, layaknya Baitullah yang merupakan rumah suci-Nya.
2. Masuk dalam Empat Bulan Haram (Suci)
Muharram merupakan salah satu dari empat bulan haram (Asyhurul Hurum) yang disebutkan dalam Al-Qur’an, di mana peperangan sangat dilarang. Sebagai bulan haram, dosa dan pahala di dalamnya akan dilipatgandakan, sehingga umat Islam sangat dianjurkan untuk menjauhi kezaliman dan memperbanyak amal kebaikan.
3. Bulan untuk Memperbanyak Amal Saleh
Para ulama seperti Imam Al-Ghazali menyatakan bahwa Muharram adalah waktu yang sangat dianjurkan untuk memperbanyak amal shalih, seperti shalat sunnah, membaca Al-Qur'an, dan berdzikir. Momentum ini dapat digunakan sebagai sarana mendekatkan diri dan tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) di awal tahun baru Hijriah.
4. Puasa Sunnah Paling Utama Setelah Ramadhan
Puasa di bulan Muharram merupakan puasa sunnah paling utama setelah puasa Ramadhan, sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Muslim. Keutamaan ini berlaku untuk semua puasa sunnah yang dilakukan di bulan tersebut, baik di awal, tengah, maupun akhir bulan.
Pertanyaan Seputar Mitos dan Fakta Seputar Bulan Suro
Ada apa dengan bulan Suro menurut Islam?
Bulan Suro (Muharram) adalah bulan mulia dalam Islam sebagai pembuka kalender Hijriah. Umat Islam dianjurkan memperbanyak amal ibadah, seperti puasa Tasu'a dan Asyura. Berbeda dari syariat Islam yang menganggapnya bulan suci, tradisi Jawa mengaitkannya dengan mitos sakral/mistis yang melarang hajatan atau keluar rumah.
Apa yang tidak boleh dilakukan ketika bulan Suro?
Memahami Malam 1 Suro dari Pantangan hingga Tradisinya!Larangan Keluar Rumah.Tidak Boleh Bicara atau Berisik.Tidak Menggelar Pernikahan.Pindah Rumah.
Apakah malam Satu Suro berbahaya menurut Islam?
Dalam pandangan Islam, malam satu Suro (yang bertepatan dengan malam 1 Muharram) tidak berbahaya dan bukan waktu yang menakutkan. Sebaliknya, Islam menganggapnya sebagai waktu yang sangat mulia dan salah satu bulan yang dihormati (bulan haram).
Kenapa kita tidak boleh keluar saat malam Satu Suro?
Larangan keluar rumah saat malam satu suro berasal dari kepercayaan masyarakat Jawa bahwa malam tersebut sangat sakral karena pintu dimensi gaib terbuka, sehingga roh leluhur dan makhluk halus dipercaya berkeliaran di bumi. Bepergian dianggap dapat mendatangkan kesialan, mengganggu ketenangan spiritual, atau memicu bahaya mistis, terutama bagi mereka yang memiliki weton tertentu.
Kenapa 1 Suro dikaitkan dengan hal mistis?
Malam 1 Suro identik dengan hal mistis karena dipercaya sebagai waktu di mana batas antara dunia nyata dan gaib menipis. Di tengah nuansa Kejawen, momen pergantian tahun baru Jawa dan Hijriah ini dianggap sakral, memunculkan tradisi seperti pensucian diri, tapa bisu, hingga larangan menggelar pernikahan atau bepergian malam.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2803721/original/093651700_1557725240-20190513-Bulan-Ramadan-Momentum-Anak-Anak-Belajar-Al-Quran5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6470090/original/081962400_1779331661-ribuan-umat-islam-di-kediri-berdoa-bersama-sambut-1-muharram.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5430345/original/058586700_1764661122-ilustrasi_ulama.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5508639/original/064303600_1771581286-woman-taking-care-her-nails.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4749999/original/079429500_1708587393-masjid-pogung-raya-owQ3N7FZgIM-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3444300/original/037742600_1619765801-20210430-Suasana_Sholat_Jumat_Minggu_Ketiga_Ramadhan_di_Masjid_Istiqlal-3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6470151/original/005986700_1779331713-20151013211910-berdoa-bersama-menyambut-tahun-baru-1437-hijriah-007-dru.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3545940/original/072552600_1629436124-pexels-mentatdgt-1071979__2_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5309824/original/049461300_1754640312-56c16cba-d65e-4d65-9a2f-45a2fa7bdd9a.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5415138/original/047923100_1763361872-Gemini_Generated_Image_4jbcgr4jbcgr4jbc.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3080217/original/090585300_1584550865-PEMAKAMAN_SUMARTININGSIH-ridlo.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3108176/original/099514400_1587459746-close-up-of-text-on-paper-318451__1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3141446/original/078371000_1591071405-15263.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6482548/original/013766300_1779342038-20151031125144-jenazah-pak-raden-disalatkan-007-isn.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5525602/original/003097400_1773046669-unnamed__54_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/4965916/original/088874300_1728606330-71e10bc4-3bdd-481d-8e06-a8d1c390de31.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5407952/original/091057200_1762758448-amalan_sebelum_tidur_3.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5099253/original/014485500_1737179002-1737173325942_arti-takziah.jpg)











:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5502852/original/043074800_1771048777-4.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/744355/original/077375600_1412055173-ihram.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5499207/original/032366000_1770779753-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-02-11T101208.314.jpg)




