13 Contoh Teks Kultum Tarawih Ramadhan 2026, Santai dan Lucu tapi Penuh Makna

6 hours ago 3

Liputan6.com, Jakarta - Kultum Tarawih Ramadhan menjadi oase intelektual yang menjaga keberlangsungan tradisi keilmuan Islam di tengah hiruk-pikuk modernitas. Di masa sekarang, saat arus informasi begitu cepat namun seringkali dangkal, kultum menjadi salah satu instrumen untuk "men-charge" iman sekaligus menambah pemahaman agama jamaah secara langsung.

Bagi masyarakat, ceramah singkat ini menjadi jembatan agar ibadah puasa tidak hanya menjadi rutinitas fisik semata, melainkan bertransformasi menjadi proses pendewasaan spiritual yang berbasis pada ilmu pengetahuan (fiqh).

Pentingnya menanamkan ilmu di sela ibadah ini bersandar pada dalil Al-Qur'an Surah Al-Mujadilah ayat 11 yang menegaskan bahwa Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat. Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin, menjelaskan bahwa "Ilmu adalah pemimpin amal, dan amal adalah pengikutnya" (al-'ilmu imamul 'amal, wal 'amalu tabi'uhu). Sesaat berada di majelis ilmu untuk memahami esensi ibadah lebih utama daripada amalan tanpa pemahaman.

Berikut ini adalah 13 contoh teks kultum tarawih Ramadhan 2026, yang disusun dengan bahasa santai, lucu tapi penuh makna.

Naskah 1: Keutamaan Sabar di Bulan Puasa

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan semesta alam, yang telah mempertemukan kita kembali dengan bulan Ramadhan 1447 H di Cilacap dan sekitarnya. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada baginda Nabi Muhammad SAW yang menjadi teladan terbaik bagi umat manusia dalam segala aspek kehidupan.

Hadirin jamaah shalat tarawih yang dirahmati Allah, Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan sebuah latihan besar bagi kesabaran kita. Sabar adalah napas dari ibadah puasa, karena tanpa kesabaran, puasa kita hanya akan menjadi rutinitas yang melelahkan tanpa makna spiritual yang mendalam.

Sabar terbagi menjadi tiga bagian: sabar dalam ketaatan, sabar dalam menjauhi maksiat, dan sabar menghadapi ujian. Di bulan ini, kita dipaksa melatih ketiganya sekaligus secara intensif dari terbit fajar hingga terbenam matahari.

Allah SWT berfirman dalam Surah Az-Zumar ayat 10:

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Artinya: "Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas."

Melalui ayat ini, kita paham bahwa ganjaran bagi mereka yang bersabar di bulan Ramadhan tidaklah terhitung jumlahnya. Bayangkan, pahala puasa itu langsung Allah yang membalasnya karena puasa adalah rahasia antara hamba dan Penciptanya.

Ketabahan kita saat menahan emosi ketika diprovokasi orang lain adalah bentuk sabar yang nyata. Rasulullah mengajarkan, jika seseorang mencaci kita saat puasa, katakanlah "Aku sedang puasa." Ini adalah benteng agar puasa kita tidak sia-sia.

Sabar juga berarti konsisten dalam menjalankan shalat tarawih dan tadarus Al-Qur'an meski raga terasa lelah setelah bekerja seharian. Kelelahan dalam ketaatan akan hilang, namun pahalanya akan tetap abadi di sisi Allah.

Mari kita jadikan Ramadhan tahun ini sebagai momentum untuk mempertebal stok sabar dalam hati kita. Orang yang sabar adalah orang yang kuat, bukan karena ia tidak bisa membalas, tapi karena ia mampu mengendalikan dirinya.

Semoga Allah SWT senantiasa membimbing hati kita agar tetap istiqomah dalam kesabaran. Jangan sampai kita menjadi golongan orang yang merugi karena kehilangan pahala puasa akibat ketidakmampuan menahan amarah dan nafsu.

Sebelum mengakhiri kultum ini, mari kita berdoa: Allahumma inni as-aluka shabran jamilan, wa qalban syakiran, wa lisanan dzakiran. Ya Allah, hamba memohon kesabaran yang indah, hati yang bersyukur, dan lisan yang senantiasa berdzikir.

Semoga seluruh ibadah kita semua diterima oleh Allah SWT. Amin ya Rabbal 'Alamin.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Naskah 2: Ramadhan Sebagai Madrasah Kejujuran

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Alhamdulillah, marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang masih memberikan kita napas dan hidayah untuk berdiri di rumah-Nya yang mulia ini. Shalawat serta salam kita haturkan kepada Nabi Muhammad SAW, uswatun hasanah bagi kita semua.

Hadirin yang dimuliakan Allah, puasa adalah ibadah yang paling jujur. Seseorang bisa saja bersembunyi di kamar dan makan dengan lahap tanpa ada satu pun manusia yang tahu, lalu keluar seolah masih berpuasa. Namun, seorang mukmin tidak melakukannya karena ia tahu Allah Maha Melihat.

Inilah mengapa puasa disebut sebagai "Madrasah Kejujuran". Kita dilatih untuk merasa diawasi oleh Allah (Muraqabah) setiap detik. Jika kejujuran ini bisa kita bawa ke luar bulan Ramadhan, maka dunia ini akan menjadi tempat yang jauh lebih baik.

Rasulullah SAW bersabda:

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ

Artinya: "Hendaknya kalian jujur, karena kejujuran itu membawa kepada kebaikan." (HR. Muslim)

Kejujuran adalah pondasi dari segala amal saleh. Tanpa kejujuran, puasa kita hanyalah topeng formalitas. Kejujuran menuntut kesesuaian antara apa yang ada di dalam hati, apa yang diucapkan lisan, dan apa yang dikerjakan oleh anggota badan.

Di era digital seperti sekarang, kejujuran menjadi barang mewah. Banyak orang mudah menyebar berita bohong atau berbuat curang demi keuntungan pribadi. Ramadhan hadir untuk mereset kembali mentalitas kita menjadi pribadi yang berintegritas.

Seorang mahasiswa atau pekerja di perkantoran yang berpuasa seharusnya menjadi orang yang paling jujur dalam tugasnya. Karena ia sadar, rezeki yang berkah hanya datang dari cara-cara yang jujur dan diridhai Allah.

Bayangkan jika semua pemimpin, pedagang, dan masyarakat kita memiliki sifat Ash-Shiddiq (Jujur). Pastilah keberkahan akan turun dari langit dan bumi sebagaimana janji Allah dalam Al-Qur'an.

Mari kita evaluasi diri, apakah puasa kita sudah membekas dalam perilaku jujur sehari-hari? Ataukah kita masih sering berdusta untuk menutupi kesalahan? Ingatlah bahwa kejujuran akan menuntun kita ke surga, sedangkan kedustaan akan menyeret pelakunya ke neraka.

Marilah kita berdoa: Allahumma arinal haqqa haqqan warzuqnat tbi'ah, wa arinal bathila bathilan warzuqnaj tinabah. Ya Allah, tunjukkanlah yang benar itu benar dan berilah kami kekuatan untuk mengikutinya, serta tunjukkan yang batil itu batil dan berilah kami kekuatan untuk menjauhinya.

Semoga kita semua lulus dari madrasah Ramadhan ini dengan predikat sebagai pribadi yang paling jujur. Amin.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Naskah 3: Pentingnya Menjaga Lisan saat Berpuasa

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT, Sang Pemilik Nyawa, yang memberikan kita kesempatan emas untuk meraup pahala di bulan Ramadhan 2026 ini. Shalawat dan salam semoga tetap terlimpah kepada Rasulullah SAW, keluarga, dan para sahabatnya.

Hadirin jamaah sekalian, seringkali kita fokus menahan lapar dan haus, namun lalai menjaga lisan. Padahal, lisan adalah anggota tubuh yang paling tajam dan bisa menghanguskan pahala puasa kita dalam sekejap jika tidak dijaga dengan benar.

Ghibah, fitnah, dan berkata kasar adalah racun bagi ibadah puasa. Sangat rugi jika kita sudah lemas menahan lapar seharian, namun pahalanya ludes karena kita membicarakan aib orang lain di media sosial atau saat berbincang santai.

Rasulullah SAW memberikan peringatan keras dalam sebuah hadits:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

Artinya: "Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang ia tahan." (HR. Bukhari)

Hadits ini adalah "tamparan" spiritual bagi kita. Allah tidak butuh puasa kita jika lisan kita masih kotor. Puasa yang berkualitas adalah puasa yang juga melibatkan panca indera kita dari perbuatan maksiat.

Menjaga lisan di bulan Ramadhan berarti memperbanyak dzikir, tadarus, dan kata-kata yang memotivasi. Jika tidak bisa berkata baik, maka diam adalah pilihan yang jauh lebih mulia dan menyelamatkan.

Di tengah hiruk pikuk informasi saat ini, menjaga lisan juga mencakup menjaga jari-jari kita dalam mengetik komentar di internet. Satu komentar buruk bisa menyakiti hati orang lain dan merusak kesucian bulan Ramadhan yang kita jalani.

Mari kita jadikan lisan kita sebagai sumber kesejukan bagi orang di sekitar kita. Berikan pujian yang tulus, berikan nasihat yang lembut, dan hindari perdebatan yang tidak berguna agar puasa kita mencapai derajat Taqwa.

Setiap kata yang kita ucapkan akan dicatat oleh malaikat Raqib dan Atid. Maka, pastikan catatan amal kita di bulan suci ini penuh dengan kalimat-kalimat thayyibah yang akan memberatkan timbangan kebaikan kita di akhirat kelak.

Penting bagi kita, khususnya civitas akademika dan masyarakat Cilacap, untuk menunjukkan bahwa puasa menghasilkan lisan yang santun dan penuh hikmah. Inilah ciri mukmin sejati yang dicintai oleh Allah dan sesama manusia.

Mari kita memohon kepada Allah: Allahummaj'al lisanana lisanan dzakiran, wa qalbana qalban khasyi'an. Ya Allah, jadikanlah lisan kami lisan yang selalu berdzikir dan hati kami hati yang selalu khusyuk kepada-Mu.

Semoga Allah SWT menjaga lisan kita dari segala bentuk dosa dan menjadikan puasa kita puasa yang maqbul. Amin ya Rabbal 'Alamin.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Naskah 4: Keajaiban Sedekah di Bulan Suci

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat-Nya sehingga kita dapat berkumpul di malam yang penuh berkah ini. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, manusia paling dermawan yang pernah ada.

Hadirin yang dirahmati Allah, Ramadhan adalah bulan di mana pintu surga dibuka lebar dan pintu neraka ditutup rapat. Salah satu kunci utama untuk mengetuk pintu surga tersebut adalah dengan memperbanyak sedekah. Sedekah di bulan ini memiliki nilai yang berlipat ganda dibanding bulan lainnya.

Sedekah bukan hanya tentang uang, tapi tentang kepedulian kita terhadap sesama yang kurang beruntung. Di sekitar kita, mungkin masih banyak saudara yang kesulitan untuk sekadar menikmati hidangan sahur atau berbuka yang layak.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 261:

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ

Artinya: "Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji."

Ayat ini mengingatkan kita bahwa harta yang disedekahkan tidak akan berkurang, melainkan justru akan tumbuh subur dan membawa keberkahan. Allah menjanjikan balasan yang jauh lebih besar daripada apa yang kita keluarkan dengan ikhlas.

Rasulullah SAW sendiri dikenal sebagai orang yang paling dermawan, dan kedermawanan beliau meningkat drastis saat memasuki bulan Ramadhan. Beliau digambarkan lebih dermawan daripada "angin yang berhembus" karena kecepatannya dalam memberi.

Sedekah juga berfungsi sebagai pembersih bagi puasa kita dari noda-noda kecil yang mungkin tidak sengaja kita lakukan. Ia menjadi pelengkap yang menyempurnakan ibadah batiniah kita dengan aksi nyata kemanusiaan.

Di lingkungan kampus UNIKMA Cilacap atau di lingkungan rumah kita, mari kita mulai dari hal terkecil. Berbagi segelas air atau sebungkus nasi untuk orang yang berbuka adalah amal jariyah yang tak ternilai harganya.

Jangan menunggu kaya untuk bersedekah, karena sedekah paling utama adalah saat kita sendiri berada dalam kondisi sempit namun tetap mau berbagi. Inilah bukti keimanan yang sesungguhnya di hadapan Allah SWT.

Mari kita jadikan Ramadhan 2026 ini sebagai momentum untuk melatih tangan di atas agar selalu memberi. Semoga dengan sedekah, Allah mengangkat segala penyakit, melapangkan rezeki, dan memudahkan segala urusan kita di dunia maupun akhirat.

Marilah kita berdoa: Allahumma a'thii munfiqan khalafan, wa a'thii mumsikan talafan. Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak, dan berikanlah kehancuran bagi orang yang kikir. Amin.

Demikian kultum singkat ini, semoga bermanfaat bagi kita semua.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Naskah 5: Menjemput Malam Lailatul Qadar

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Alhamdulillah, puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT atas kesempatan beribadah di bulan yang mulia ini. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW yang selalu merindukan umatnya.

Hadirin jamaah tarawih, kita kini sedang melangkah menuju puncak Ramadhan, yaitu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Lailatul Qadar adalah dambaan setiap mukmin karena keagungan dan keberkahan yang terkandung di dalamnya.

Malam tersebut adalah malam turunnya Al-Qur'an dan turunnya para malaikat ke bumi untuk mendoakan keselamatan bagi manusia. Tidak ada yang tahu pasti kapan malam itu tiba, namun Rasulullah memberikan petunjuk untuk mencarinya di sepuluh malam terakhir.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Qadr ayat 3:

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

Artinya: "Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan."

Makna "lebih baik dari seribu bulan" berarti satu malam ibadah kita setara dengan ibadah selama lebih dari 83 tahun. Betapa besar kasih sayang Allah yang memberikan "diskon" pahala luar biasa bagi umat Muhammad yang usianya relatif pendek.

Untuk mendapatkan malam mulia ini, kita tidak bisa hanya berdiam diri atau sekadar menunggu. Kita harus menjemputnya dengan meningkatkan intensitas shalat malam, membaca Al-Qur'an, dan beristighfar memohon ampunan-Nya.

Jangan sampai kita termasuk orang yang merugi, yang melewati sepuluh hari terakhir hanya dengan sibuk mempersiapkan baju baru atau kue lebaran. Persiapan spiritual jauh lebih penting daripada persiapan material di akhir Ramadhan ini.

Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk memperbanyak doa khusus di malam-malam tersebut. Doa yang singkat namun mencakup segala ampunan yang kita butuhkan dari Sang Maha Pemaaf.

Mari kita kencangkan ikat pinggang, kurangi waktu tidur, dan perbanyak sujud di sepertiga malam terakhir. Ajaklah keluarga kita untuk menghidupkan malam-malam ini dengan suasana ketaatan yang hangat di rumah maupun di masjid.

Semoga Allah SWT mempertemukan kita dengan Lailatul Qadar dalam keadaan iman yang kuat dan kesehatan yang prima. Biarlah malam itu menjadi titik balik perubahan diri kita menjadi pribadi yang lebih bertaqwa.

Mari kita berdoa bersama: Allahumma innaka 'afuwwun tuhibbul 'afwa fa'fu 'anni. Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, Engkau menyukai pemaafan, maka maafkanlah aku. Amin ya Rabbal 'Alamin.

Akhir kata, semoga kita semua meraih kemenangan sejati.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Naskah 6: Memperbaiki Kualitas Shalat di Bulan Ramadhan

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam yang memberikan kita kekuatan untuk berdiri menjalankan shalat tarawih malam ini. Shalawat serta salam semoga terlimpah kepada teladan kita Nabi Muhammad SAW.

Hadirin yang dirahmati Allah, shalat adalah tiang agama dan amal pertama yang akan dihisab di hari kiamat kelak. Di bulan Ramadhan ini, kita memiliki kesempatan emas untuk memperbaiki kualitas shalat kita yang mungkin selama ini masih terburu-buru.

Shalat bukan hanya gerakan fisik, melainkan dialog antara hamba dengan Sang Pencipta. Jika puasa adalah menahan diri dari yang membatalkan, maka shalat adalah sarana untuk mengisi jiwa dengan cahaya ketenangan.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 45:

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ

Artinya: "Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk."

Ayat ini mengingatkan kita bahwa shalat bisa menjadi solusi atas segala beban hidup kita jika dilakukan dengan khusyuk. Ramadhan melatih kita untuk lebih disiplin waktu dalam mengejar shalat lima waktu maupun shalat sunnah.

Banyak di antara kita yang mungkin hanya mengejar jumlah rakaat tarawih namun melupakan thuma'ninah atau ketenangan. Padahal, inti dari shalat adalah kehadiran hati (hudhurul qalb) di hadapan Allah SWT.

Mari kita belajar memahami setiap bacaan yang kita ucapkan dalam shalat agar kita tahu apa yang kita minta kepada-Nya. Dengan memahami arti bacaan, konsentrasi kita akan lebih terjaga dan shalat terasa lebih bermakna.

Bagi adik-adik mahasiswa di UNIKMA atau para pekerja, jangan jadikan kesibukan sebagai alasan untuk menunda shalat. Ingatlah bahwa shalat yang tepat waktu adalah salah satu amal yang paling dicintai oleh Allah SWT.

Perbaikilah wudhu kita, rapikanlah pakaian kita, dan hadirkanlah rasa takut serta harap saat berdiri di atas sajadah. Anggaplah setiap shalat yang kita lakukan adalah shalat terakhir kita di dunia ini sebelum menghadap-Nya.

Jika shalat kita benar, maka perilaku kita di luar shalat pun akan ikut benar, karena shalat yang mabrur akan mencegah perbuatan keji dan munkar. Semoga Ramadhan 2026 ini menjadi titik awal shalat kita yang lebih berkualitas.

Marilah kita berdoa: Rabbij'alni muqimas shalati wa min dzurriyati, Rabbana wa taqabbal du'a. Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.

Terima kasih atas perhatiannya, semoga Allah menerima amal ibadah kita.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Naskah 7: Al-Qur'an Sebagai Pedoman Hidup

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Alhamdulillah, puji syukur kepada Allah SWT yang telah menurunkan Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi umat manusia. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, sang pembawa risalah kebenaran.

Hadirin jamaah yang berbahagia, bulan Ramadhan disebut juga sebagai Syahrul Qur'an atau bulan Al-Qur'an. Di bulan inilah wahyu pertama diturunkan untuk menerangi kegelapan dunia dengan cahaya iman dan ilmu pengetahuan.

Membaca Al-Qur'an di bulan Ramadhan memiliki keutamaan yang luar biasa, di mana setiap hurufnya bernilai pahala yang berlipat ganda. Namun, tujuan utama Al-Qur'an bukan hanya untuk dibaca, melainkan untuk dipahami dan diamalkan.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 185:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ

Artinya: "Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil)."

Al-Qur'an adalah manual kehidupan bagi setiap mukmin agar tidak tersesat dalam menjalani ujian dunia yang fana. Ia memberikan jawaban atas segala kegelisahan hati dan solusi atas problematika sosial yang kita hadapi.

Sudahkah kita menjadikan Al-Qur'an sebagai referensi utama dalam mengambil keputusan? Ataukah Al-Qur'an hanya menjadi pajangan di lemari yang hanya disentuh saat bulan Ramadhan tiba?

Marilah kita targetkan tidak hanya khatam secara bacaan, tapi juga khatam dalam memahami maknanya. Bacalah terjemahannya, ikuti kajian tafsirnya, dan renungkanlah pesan-pesan cinta Allah yang ada di dalamnya.

Di zaman modern ini, tantangan ideologi dan moral sangat besar. Al-Qur'an adalah benteng pertahanan terakhir kita agar tetap berada di jalan yang lurus sesuai dengan keinginan Sang Pencipta.

Jadikan rumah-rumah kita bercahaya dengan lantunan ayat suci Al-Qur'an, bukan hanya dipenuhi suara televisi atau gadget. Anak-anak kita perlu dididik untuk mencintai Al-Qur'an sejak dini agar karakter mereka terbentuk dengan kuat.

Semoga kita semua tergolong sebagai Ahlul Qur'an, yaitu orang-orang yang selalu berinteraksi dengan kitabullah dan mendapatkan syafaatnya di hari kiamat. Mari kita jadikan Ramadhan tahun ini lebih bermakna dengan kedekatan kita pada Al-Qur'an.

Mari berdoa: Allahummarhamna bil Qur'an, waj'alhu lana imaman wa nuran wa hudan wa rahmah. Ya Allah, sayangi kami dengan Al-Qur'an, jadikanlah ia bagi kami sebagai pemimpin, cahaya, petunjuk, dan rahmat.

Sekian kultum malam ini, semoga menjadi renungan bagi kita semua.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Naskah 8: Berbakti Kepada Orang Tua (Birrul Walidain)

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT, Dzat yang Maha Pengasih. Shalawat serta salam semoga tetap terlimpah kepada Rasulullah SAW yang sangat menghormati kedudukan orang tua.

Hadirin yang dimuliakan Allah, di tengah kesibukan kita mengejar pahala puasa, jangan pernah melupakan satu pintu surga yang paling dekat, yaitu orang tua kita. Berbakti kepada mereka adalah kewajiban yang kedudukannya berada tepat di bawah kewajiban menyembah Allah.

Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk memperbaiki hubungan dengan ayah dan ibu. Jika mereka masih ada, muliakanlah mereka. Jika mereka sudah tiada, kirimkanlah doa-doa terbaik di setiap waktu mustajab saat berbuka.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Isra ayat 23:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

Artinya: "Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak."

Ayat ini menyandingkan perintah tauhid dengan perintah berbuat baik kepada orang tua. Ini menunjukkan betapa tingginya derajat orang tua di mata Allah. Ridha Allah terletak pada ridha mereka, dan murka Allah terletak pada murka mereka.

Jangan sampai kita rajin tarawih dan sedekah, namun lisan kita masih kasar dan menyakiti hati ibu kita. Puasa kita melatih kesabaran, maka praktikkanlah kesabaran itu saat menghadapi orang tua yang mungkin sudah mulai menua dan cerewet.

Memberikan perhatian kecil seperti menelepon jika berjauhan atau menyajikan menu berbuka favorit mereka adalah bentuk ibadah yang sangat besar pahalanya. Jangan tunda untuk berbuat baik sebelum waktu memisahkan kita.

Ingatlah perjuangan ibu yang mengandung dan menyusui, serta ayah yang membanting tulang demi masa depan kita. Semua kesuksesan yang kita raih hari ini, termasuk kesempatan belajar di kampus seperti UNIKMA, tak lepas dari doa-doa tulus mereka.

Jadilah anak yang membawa keberkahan bagi orang tua, bukan anak yang menjadi beban pikiran bagi mereka. Mintalah maaf atas segala khilaf yang telah kita lakukan selama ini agar puasa kita lebih tenang dan berkah.

Mari kita manfaatkan momen Ramadhan 2026 ini untuk lebih sering memeluk mereka, mencium tangan mereka, dan mendoakan keselamatan mereka. Semoga Allah mengumpulkan kita kembali bersama orang tua kita di surga-Nya kelak.

Marilah berdoa: Rabbighfirli waliwalidayya warhamhuma kama rabbayani shaghira. Ya Tuhanku, ampunilah dosaku dan dosa kedua orang tuaku, dan sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku di waktu kecil.

Semoga kultum ini mengingatkan kita akan bakti yang tulus.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Naskah Kultum Lucu Insiparatif: Bahaya Penyakit Hati, Iri dan Dengki di Era Digital

Kali ini naskahnya dibumbui sedikit humor yang relatable (nyambung dengan kehidupan sehari-hari) tapi tetap sarat makna dan inspiratif:

Bahaya Penyakit Hati, Iri dan Dengki di Era Digital

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan kita nikmat sehat, sehingga kita bisa duduk bersama di sini tanpa harus merasa iri melihat tetangga sebelah yang baru saja ganti mobil. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, manusia yang hatinya paling bersih dari segala penyakit.

Hadirin yang dirahmati Allah, puasa itu bukan cuma menahan lapar dari nasi padang, tapi juga menahan "lapar mata" saat melihat postingan orang lain di media sosial. Seringkali, saat kita sedang lemas-lemasnya puasa, eh... ada teman posting foto makanan mewah atau liburan. Di situlah iman dan rasa iri kita diuji secara bersamaan.

Penyakit hati seperti iri dan dengki ini ibarat "virus" yang tidak terlihat tapi merusak sistem amal kita. Iri itu unik; kita yang sakit hati, tapi orang lain yang makan enaknya. Kita yang sibuk merasa panas, padahal orang lain tidak merasa apa-apa.

Rasulullah SAW bersabda:

إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ

Artinya: "Jauhilah oleh kalian sifat hasad (iri dengki), karena sesungguhnya hasad itu dapat memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar." (HR. Abu Dawud)

Bayangkan, kita sudah susah payah bangun sahur, menahan haus seharian, dan tarawih lama-lama, tapi semua pahalanya habis terbakar hanya gara-gara kita tidak senang melihat teman di UNIKMA dapat nilai bagus atau dapat beasiswa. Rugi sekali, bukan?

Penyakit hasad ini kalau dibiarkan bisa bikin kita tidak bersyukur. Kita terlalu fokus menghitung nikmat orang lain, sampai lupa menghitung nikmat sendiri. Padahal, Allah sudah mengatur porsi rezeki dan ujian masing-masing seperti porsi takjil di masjid—tidak akan tertukar.

Ramadhan tahun 2026 ini adalah momen yang tepat untuk "uninstal" aplikasi penyakit hati dalam diri kita. Belajarlah untuk ikut senang ketika orang lain senang (tasamuh). Kalau teman dapat rezeki, ucapkan "Barakallah", bukannya malah sibuk cari-cari kesalahannya.

Obat dari penyakit hati ini cuma satu: Ridha dengan ketetapan Allah. Jika kita merasa cukup dengan apa yang Allah berikan, maka hati kita akan tenang. Orang yang paling kaya bukanlah yang paling banyak hartanya, tapi yang paling lapang hatinya.

Hadirin sekalian, mari kita jadikan sisa Ramadhan ini untuk membersihkan "file sampah" di hati kita. Jangan biarkan scroll Instagram berubah menjadi scroll dosa karena rasa dengki yang muncul. Fokuslah pada perbaikan diri sendiri agar kita menjadi versi terbaik di hadapan Allah.

Semoga puasa kita tahun ini tidak hanya membuat perut kita kempes, tapi juga membuat ego dan kesombongan kita ikut mengempis. Hati yang bersih adalah kunci utama untuk merasakan lezatnya ibadah dan kedekatan dengan Sang Pencipta.

Mari kita berdoa: Allahumma thahhir qulubana minan nifaq, wa a'malana minar riya'. Ya Allah, bersihkanlah hati kami dari kemunafikan dan amal kami dari sifat pamer (riya). Lindungilah kami dari sifat iri yang merusak pahala.

Terima kasih atas perhatiannya, semoga hati kita setenang air di Teluk Penyu.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Naskah 10: Keutamaan Memberi Makan Orang Berbuka (The Power of Takjil)

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang masih memberikan kita kesempatan untuk berbuka puasa, bukan cuma berbuka harapan. Shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada baginda Nabi Muhammad SAW, teladan sejati dalam hal berbagi.

Hadirin jamaah sekalian, di bulan Ramadhan ini ada satu ibadah yang "investasinya" sangat menguntungkan. Modalnya mungkin cuma segelas air dan tiga butir kurma, tapi keuntungannya bisa mendapatkan pahala puasa orang lain tanpa mengurangi pahala orang tersebut sedikit pun.

Inilah keajaiban memberi makan orang yang berbuka. Di kampus UNIKMA atau di sekitar lingkungan kita, mungkin kita sering melihat "war takjil". Tapi ingat, semangatnya jangan cuma "war" mencari makanan, tapi semangat "war" memberikan makanan kepada orang lain.

Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

Artinya: "Barangsiapa memberi perbukaan (muofathir) bagi orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun." (HR. Tirmidzi)

Coba bayangkan logikanya. Jika kita memberi makan 10 orang yang berpuasa, maka kita mendapatkan pahala 10 puasa tambahan dalam satu hari. Ini adalah jalur cepat (fast track) untuk mengumpulkan pahala sebanyak-banyaknya di bulan suci ini.

Seringkali kita berpikir, "Duh, saya kan juga lagi susah, mana bisa kasih makan orang?" Ingat, memberi itu tidak harus mewah. Nabi mengajarkan, bahkan sebutir kurma atau seteguk air pun sudah cukup untuk mendapatkan pahala besar ini. Allah tidak melihat harganya, tapi ketulusannya.

Lucunya, kadang kita lebih senang memotret makanan berbuka kita untuk diunggah ke status daripada memberikannya kepada tetangga yang membutuhkan. Mari ubah kebiasaan itu. Kurangi pamer makanan, perbanyak hantar makanan.

Memberi takjil juga mempererat tali silaturahmi. Bayangkan betapa indahnya jika setiap sore kita saling berbagi kebahagiaan lewat sepiring hidangan. Suasana Ramadhan akan terasa lebih hangat, bukan karena gorengannya panas, tapi karena hatinya yang ikhlas.

Selain itu, memberi makan orang lain adalah salah satu cara untuk melembutkan hati yang keras. Dengan melihat kebahagiaan orang lain saat menyantap pemberian kita, ada rasa syukur yang mengalir dalam diri kita. Rezeki itu unik, semakin dibagi justru semakin bertambah.

Jadi, jangan sampai Ramadhan 2026 ini berlalu tanpa kita pernah memberikan satu pun hidangan buka untuk orang lain. Mulailah dari yang paling dekat, mungkin asisten rumah tangga kita, driver ojek online, atau teman kos yang sedang "kanker" alias kantong kering.

Marilah kita berdoa: Allahumma barik lana fima razaqtana wa qina 'adzabannar. Ya Allah, berkahilah rezeki yang Engkau berikan kepada kami, mudahkanlah kami untuk selalu berbagi, dan jauhkanlah kami dari siksa api neraka.

Semoga sedekah takjil kita diterima oleh Allah SWT. Amin. Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Naskah 11: Menghidupkan 10 Hari Terakhir (Antara Masjid dan Mall)

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Alhamdulillah, kita sudah sampai di sepuluh hari terakhir Ramadhan 2026. Ini adalah fase "final" di mana biasanya barisan shalat di masjid semakin maju alias semakin sepi, sementara barisan di pusat perbelanjaan semakin rapat. Shalawat serta salam bagi Nabi Muhammad SAW.

Hadirin yang berbahagia, fenomena "kemajuan" shaf masjid di akhir Ramadhan adalah ujian besar bagi kita. Rasulullah SAW justru di sepuluh hari terakhir ini malah semakin mengencangkan ikat pinggang, bukan malah sibuk mencari diskon baju lebaran.

Beliau beri'tikaf di masjid, fokus beribadah untuk menjemput Lailatul Qadar. Sedangkan kita? Kadang lebih fokus "i'tikaf" di pasar malam demi mencari baju yang warnanya senada dengan keluarga. Boleh saja beli baju baru, tapi jangan sampai semangat ibadahnya luntur.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Qadr ayat 1:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

Artinya: "Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam kemuliaan."

Malam yang lebih baik dari seribu bulan ini hanya bisa didapatkan oleh mereka yang serius mencari. Ibarat ujian semester di UNIKMA, sepuluh hari terakhir ini adalah masa "UAS". Kalau kita tidak belajar dan berjuang di akhir, nilai kita bisa anjlok meski awalnya rajin.

Mari kita tantang diri kita sendiri. Bisakah kita lebih rajin datang ke masjid daripada datang ke toko kue? Bisakah mata kita lebih lama menatap Al-Qur'an daripada menatap katalog belanja online? Ini adalah pertarungan melawan hawa nafsu yang sebenarnya.

Ingatlah, Ramadhan tidak datang setiap bulan. Belum tentu tahun depan kita masih diberikan kesempatan yang sama. Sangat disayangkan jika malam yang penuh ampunan ini kita lewatkan hanya dengan tidur pulas atau sibuk mengurus hal-hal duniawi yang fana.

Ada yang beralasan, "Saya kan sibuk masak buat lebaran, Pak." Ibadah itu fleksibel, memasak untuk keluarga pun bisa jadi ibadah kalau diniatkan karena Allah. Tapi, jangan sampai kesibukan itu membuat kita meninggalkan shalat malam dan dzikir.

Paksakan diri untuk bangun di sepertiga malam. Mintalah apa saja kepada Allah di waktu-malam terakhir ini. Curhatlah tentang utang, tentang jodoh, atau tentang masa depan. Allah sedang membuka pintu "Call Center" seluas-luasnya tanpa perlu antre panjang.

Semoga kita tidak termasuk orang yang "pemanasan" saja di awal Ramadhan, tapi "gembos" di akhir. Mari kita jadikan sepuluh hari terakhir ini sebagai pembuktian cinta kita kepada Allah di atas segalanya.

Mari kita berdoa: Allahumma la taj'alhu akhiral 'ahdi min shiyamina hadza. Ya Allah, janganlah Engkau jadikan puasa ini sebagai puasa terakhir dalam hidup kami. Berikanlah kami kekuatan untuk memaksimalkan sisa hari yang ada.

Selamat berburu Lailatul Qadar, semoga kita semua menang. Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Naskah 12: Zakat Fitrah dan Kepedulian Sosial (Membersihkan Harta dan Jiwa)

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Puji syukur kita haturkan kepada Sang Maha Pemberi Rezeki. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW yang selalu peduli kepada kaum dhuafa. Hadirin sekalian, sebentar lagi kita akan menunaikan kewajiban Zakat Fitrah.

Zakat fitrah itu ibarat "biaya administrasi" atau "cleansing" dari puasa kita. Selama sebulan, mungkin ada kata-kata kita yang kurang sopan atau pikiran yang kurang jernih. Nah, zakat inilah yang akan membersihkan sisa-sisa kotoran tersebut agar puasa kita perfect sampai ke haribaannya.

Uniknya, banyak orang yang antre beli paket data dengan cepat, tapi bayar zakat fitrah mepet-mepet malam takbiran. Padahal, lebih awal membayar zakat akan lebih membantu panitia amil dalam menyalurkannya kepada mereka yang berhak menerima.

Allah SWT berfirman dalam Surah At-Taubah ayat 103:

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا

Artinya: "Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka."

Jadi, jangan merasa rugi mengeluarkan beberapa kilogram beras atau sejumlah uang. Uang itu tidak hilang, tapi sedang "ditransfer" ke rekening akhirat. Selain itu, zakat fitrah adalah bukti nyata bahwa Islam sangat peduli pada kesenjangan sosial.

Bayangkan jika di hari Idul Fitri nanti, kita kenyang makan ketupat, tapi tetangga kita kelaparan. Itu namanya tidak punya rasa kemanusiaan. Zakat fitrah hadir agar di hari kemenangan nanti, tidak ada satu pun orang muslim yang merasa sedih karena perut kosong.

Lucunya, kadang kita lebih pusing memilih merek beras untuk dimakan sendiri daripada kualitas beras untuk dizakatkan. Berikanlah yang terbaik, sebagaimana kita ingin Allah memberikan rezeki terbaik untuk kita. Jangan zakat dengan beras yang kita sendiri pun enggan memakannya.

Zakat juga mengajarkan kita bahwa harta yang kita miliki sejatinya adalah titipan. Sebagian di dalamnya ada hak orang lain yang harus kita salurkan. Dengan berzakat, kita sedang mengundang keberkahan mengalir ke dalam sisa harta kita yang lain.

Bagi mahasiswa UNIKMA yang mungkin baru belajar mandiri, zakat fitrah juga menjadi pengingat untuk tidak menjadi pribadi yang kikir. Belajarlah untuk melepaskan sebagian kecil harta demi kepentingan yang lebih besar, yaitu kebahagiaan umat.

Mari kita tunaikan zakat dengan penuh sukacita, bukan karena merasa terpaksa atau sekadar menggugurkan kewajiban. Niatkanlah untuk membantu saudara kita agar mereka juga bisa tersenyum menyambut hari raya.

Semoga dengan zakat fitrah ini, puasa kita benar-benar menjadi suci kembali seperti bayi yang baru lahir. Amin ya Rabbal 'Alamin.

Mari berdoa: Rabbana taqabbal minna zakatana, innaka Antas Sami'ul 'Alim. Ya Tuhan kami, terimalah zakat kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Naskah 13: Konsistensi (Istiqomah) Pasca Ramadhan

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Alhamdulillah, tidak terasa kita sudah berada di penghujung Ramadhan 2026. Pertanyaan besarnya bukan "kapan lebaran?", tapi "apa yang tersisa setelah Ramadhan?". Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW.

Hadirin yang dirahmati Allah, seringkali kita menjadi "Muslim Musiman". Saat Ramadhan, masjid penuh, Al-Qur'an dibaca setiap hari, lisan terjaga. Tapi begitu Syawal tiba, masjid kembali sepi, Al-Qur'an kembali berdebu di rak, dan lisan kembali "pedas". Ini yang perlu kita waspadai.

Istiqomah adalah kunci kesuksesan seorang mukmin. Allah tidak menuntut kita untuk selalu melakukan amal besar, tapi Allah sangat menyukai amal yang terus-menerus meskipun sedikit. Lebih baik shalat malam 2 rakaat rutin setiap hari daripada 20 rakaat tapi hanya setahun sekali saat Ramadhan.

Allah SWT berfirman dalam Surah Fushshilat ayat 30:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ

Artinya: "Sesungguhnya orang-orang yang berkata: 'Tuhan kami adalah Allah' kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (istiqomah), maka malaikat akan turun kepada mereka."

Janji Allah bagi orang yang istiqomah adalah ketenangan hati dan perlindungan malaikat. Ramadhan adalah tempat "latihan" atau training center. Setelah latihan selesai, seharusnya kemampuan kita meningkat, bukan malah kembali ke titik nol lagi.

Lucunya, kita sering berjanji setelah Ramadhan akan jadi lebih baik, tapi begitu melihat opor ayam dan rendang di hari raya, semua janji itu seolah luntur bersama santan. Mari kita pertahankan semangat ibadah ini bahkan setelah baju lebaran kita sudah tidak baru lagi.

Indikator puasa kita diterima (mabrur) adalah adanya perubahan positif dalam perilaku kita setelah Ramadhan berlalu. Jika kita masih tetap pemarah, pelit, dan malas beribadah, maka kita perlu bertanya-tanya, apa yang sebenarnya kita dapatkan selama sebulan kemarin?

Menjaga istiqomah itu berat, makanya hadiahnya surga. Kalau ringan, hadiahnya mungkin cuma kipas angin atau payung cantik. Mari kita cari lingkungan yang baik, teman-teman di UNIKMA yang saling mengingatkan dalam ketaatan, agar kita tidak kembali "terpeleset" ke lubang maksiat.

Jangan biarkan "Iblis" yang sedang dipenjara selama Ramadhan tertawa lebar karena melihat kita kembali ke jalan yang salah begitu pintu penjara mereka dibuka kembali saat Idul Fitri. Tetaplah waspada dan teruslah memohon perlindungan Allah.

Mari kita berkomitmen, minimal satu kebiasaan baik dari Ramadhan ini kita bawa terus selamanya. Entah itu shalat tepat waktu, rutin sedekah subuh, atau sekadar menjaga lisan dari ghibah.

Marilah kita berdoa: Ya Muqallibal qulub, tsabbit qulubana 'ala dinik. Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati kami di atas agama-Mu. Jadikanlah kami hamba yang istiqomah hingga akhir hayat.

Amin. Semoga kita semua bertemu lagi dengan Ramadhan tahun depan.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

People also Ask:

Apa saja tema kultum Ramadhan?

Berikut ini ide tema kultum tentang Ramadhan sebagai momentum memperbaiki diri:Hijrah Menuju Kebaikan. ...Pentingnya Memperbaiki Niat dalam Beribadah. ...Memaafkan Kesalahan Orang Lain. ...Muhasabah Diri. ...Kisah Taubatnya Kaum yang Diterima Allah. ...Belajar Tawakal. ...Meneladani Kesabaran Nabi. ...Keutamaan Mengamalkan Sunnah.

Apa saja isi kultum tarawih?

10 Contoh Kultum Tarawih untuk 10 Hari Pertama RamadanMalam Pertama: Keberkahan Ramadan.Malam Kedua: Kesabaran dalam Ujian.Malam Ketiga: Peningkatan Kualitas Iman.Malam Keempat: Kebaikan dalam Berbagi.Malam Kelima: Tafakkur dan Syukur.Malam Keenam: Pembenahan Diri dan Taubat.Malam Ketujuh: Kepatuhan dan Ketaatan.

Apakah kultum harus 7 menit?

Tidak, kultum (Kuliah Tujuh Menit) tidak harus persis 7 menit, tetapi durasi tersebut adalah acuan untuk ceramah singkat yang padat dan bermakna, bisa 5 hingga 7 menit atau disesuaikan dengan kondisi, tujuannya agar pesan tersampaikan efektif tanpa bertele-tele.

Bagaimana salam pembuka kultum?

Salam pembuka kultum biasanya dimulai dengan salam umum Islam, diikuti puji-pujian (hamdalah), shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, dan pembukaan dengan kalimat syahadat, lalu dilanjutkan dengan permohonan perlindungan (ta'awudz), serta kalimat pembuka lainnya seperti "Innalhamdalillah..." atau "Bismillahirrahmanirrahim..." dengan ungkapan syukur atas nikmat Allah SWT dan shalawat, diakhiri dengan "Amma ba'du".

Apa saja judul kultum?

20 Ide Tema Kultum Ramadan untuk Para Pengajar, Disertai Hadis!Judul kultum bisa bervariasi dari tema umum seperti "Hijrah Menuju Pribadi yang Lebih Baik", "Kekuatan Sabar dan Salat", "Husnudzon: Kunci Ketenangan Hati", hingga topik spesifik seperti "Adab Bermedia Sosial", "Menjadi Generasi Produktif", atau "Pentingnya Berbakti pada Orang Tua", yang semuanya bertujuan membangun karakter mulia, memperkuat iman, dan memberikan motivasi positif dengan sentuhan Islami.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |