13 Tradisi Maulid Nabi di Indonesia, Perayaan yang Memadukan Agama dan Budaya Lokal

13 hours ago 8

Liputan6.com, Jakarta - Tradisi Maulid Nabi di Indonesia menunjukkan betapa beragamnya cara masyarakat Nusantara memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Tidak hanya melalui pengajian, pembacaan selawat, dan doa bersama, sejumlah daerah memiliki kebiasaan turun-temurun yang berpadu dengan budaya setempat, mulai dari mengarak gunungan hasil bumi, menghias telur, memasak hidangan dalam jumlah besar, hingga mengadakan prosesi menggunakan perahu.

Menariknya, setiap tradisi memiliki ciri khas sekaligus makna sosial yang berbeda. Ada yang menonjolkan semangat berbagi kepada sesama, gotong royong, sedekah, hingga kebersamaan warga dalam mempersiapkan perayaan. Sebagian tradisi bahkan sudah menjadi warisan budaya yang terus dijaga sehingga peringatan Maulid bukan hanya menjadi momentum keagamaan, tetapi juga ruang untuk mempertahankan identitas budaya masyarakat di berbagai daerah Indonesia.

1. Sekaten di Yogyakarta dan Surakarta

Sekaten menjadi salah satu tradisi Maulid Nabi yang paling dikenal di Pulau Jawa, khususnya dalam lingkungan budaya keraton Yogyakarta dan Surakarta. Tradisi ini erat dengan rangkaian peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW dan dikenal antara lain melalui permainan gamelan Sekaten. Data Warisan Budaya Takbenda Kemendikbud juga mencatat Sekaten dari Surakarta sebagai adat istiadat, ritus, dan perayaan yang berkaitan dengan peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Dalam perkembangannya, Sekaten tidak hanya mempunyai dimensi keagamaan, tetapi juga menjadi ruang bertemunya tradisi keraton dengan masyarakat luas. Khusus di Yogyakarta, rangkaian Sekaten mencapai puncaknya melalui Garebeg Mulud pada tanggal 12 Mulud dalam kalender Jawa. Kehadiran gamelan, lingkungan keraton, aktivitas masyarakat, serta berbagai simbol budaya membuat Sekaten menjadi salah satu contoh kuat bagaimana tradisi lokal dan peringatan Islam tumbuh berdampingan.

2. Grebeg Maulud di Yogyakarta

Grebeg Maulud atau Garebeg Mulud merupakan salah satu puncak peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW di lingkungan Keraton Yogyakarta. Tradisi ini dilaksanakan pada 12 Mulud atau Rabiulawal dan identik dengan keluarnya gunungan dari keraton. Gunungan tersebut tersusun dari berbagai hasil bumi maupun makanan yang kemudian dibawa dalam prosesi menuju lokasi yang telah ditentukan sebelum dibagikan kepada masyarakat.

Gunungan dalam Garebeg tidak sekadar menjadi daya tarik visual, melainkan juga dipahami sebagai simbol sedekah Sultan kepada rakyat. Karena itulah, tradisi ini memiliki dimensi sosial yang cukup kuat selain menjadi bagian dari rangkaian peringatan Maulid. Dinas Kebudayaan DIY menyebut Garebeg sebagai bentuk akulturasi budaya Jawa dan Islam, dengan nilai kebersamaan, gotong royong, serta rasa syukur yang tetap dipertahankan dalam pelaksanaannya.

3. Panjang Jimat di Cirebon, Jawa Barat

Cirebon memiliki tradisi Panjang Jimat yang menjadi salah satu puncak rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, khususnya di lingkungan keraton. Salah satu pelaksanaannya dapat ditemukan di Keraton Kanoman melalui Pelal Ageng Panjang Jimat yang setiap tahunnya menarik perhatian masyarakat dari berbagai daerah. Pemerintah Kota Cirebon menyebut tradisi tersebut sebagai ciri khas budaya Cirebon yang sarat dengan simbol dan nilai bernafaskan Islam.

Prosesi Panjang Jimat menghadirkan iring-iringan dan berbagai benda simbolis yang berkaitan dengan gambaran kelahiran manusia sekaligus penghormatan terhadap kelahiran Nabi Muhammad SAW. Dalam pelaksanaannya, unsur adat keraton bertemu dengan kegiatan keagamaan sehingga menciptakan perayaan yang khas. Tradisi yang telah berlangsung turun-temurun ini sekaligus menunjukkan kuatnya hubungan sejarah Cirebon dengan perkembangan Islam di wilayah pesisir Jawa.

4. Endhog-endhogan di Banyuwangi, Jawa Timur

Jika berkunjung ke Banyuwangi saat bulan Rabiulawal, salah satu pemandangan khas yang mungkin ditemui adalah telur-telur rebus yang dihias menyerupai bunga. Tradisi tersebut dikenal sebagai Endhog-endhogan. Telur dihias menggunakan bunga kertas lalu ditancapkan pada batang pohon pisang berhias yang disebut jodhang. Jodhang kemudian dapat diarak keliling kampung ataupun ditempatkan di masjid.

Kemeriannya tidak berhenti pada arak-arakan telur, karena rangkaian Endhog-endhogan juga biasanya diiringi pembacaan selawat, Barzanji, zikir, dan doa bersama. Setelah rangkaian kegiatan selesai, telur dapat dibagikan kepada masyarakat. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi memandang tradisi ini bukan hanya sebagai ekspresi kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW, tetapi juga sebagai kegiatan yang menguatkan kebersamaan, kebiasaan berbagi, dan keguyuban masyarakat.

5. Ampyang Maulid di Kudus, Jawa Tengah

Tradisi Maulid yang tak kalah menarik dapat ditemukan di Desa Loram Kulon, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, melalui Ampyang Maulid. Salah satu ciri yang paling mencolok dari tradisi ini adalah kirab atau pawai membawa gunungan yang disusun dari ampyang, yakni kerupuk berbentuk bulat warna-warni, bersama aneka makanan dan hasil bumi lainnya.

Setelah diarak, berbagai makanan pada gunungan tersebut dibagikan kepada masyarakat yang mengikuti kegiatan. Tradisi ini menjadi bentuk rasa syukur sekaligus sarana memperkuat kebersamaan di tengah warga. Keunikan bentuk gunungan membuat Ampyang Maulid tidak hanya menarik dari sisi religius dan sejarah, tetapi juga memiliki daya tarik visual tersendiri sehingga tradisi khas Loram Kulon tersebut terus diperkenalkan sebagai bagian dari kekayaan budaya Kudus.

6. Weh-wehan di Kaliwungu, Kendal

Berbeda dengan tradisi yang mengandalkan kirab besar, Weh-wehan di Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kendal, terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Nama Weh-wehan berasal dari kata Jawa weh yang berarti memberi. Sesuai namanya, warga memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW dengan saling memberikan atau bertukar makanan kepada tetangga dan kerabat.

Berbagai jenis makanan dapat diberikan dalam tradisi ini, termasuk makanan khas Kaliwungu seperti sumpil. Warga mendatangi rumah tetangga sambil membawa hidangan sehingga suasana kampung menjadi ramai dan penuh interaksi. Di balik bentuknya yang sederhana, Weh-wehan mempunyai pesan sosial yang kuat karena mendorong kebiasaan berbagi, menjaga kerukunan, dan mempererat silaturahmi antarmasyarakat dalam momentum peringatan Maulid Nabi.

7. Keresan di Mojokerto, Jawa Timur

Tradisi Keresan di Mojokerto menawarkan pemandangan yang cukup berbeda dibanding perayaan Maulid pada umumnya. Masyarakat menghiasi pohon kersen atau keres dengan beragam hasil bumi dan barang kebutuhan sehari-hari. Buah-buahan, hasil pertanian, pakaian, sandal, sepatu, hingga berbagai barang lainnya dapat digantung pada ranting pohon sebelum nantinya diambil oleh masyarakat yang hadir.

Sebelum masyarakat dipersilakan mengambil barang yang tersedia, kegiatan biasanya didahului dengan doa bersama. Suasananya mungkin mengingatkan pada perlombaan mengambil hadiah, tetapi Keresan memiliki konteks khusus sebagai tradisi peringatan Maulid Nabi yang dilestarikan masyarakat setempat. Pohon yang dipenuhi hasil bumi dan berbagai kebutuhan tersebut juga sering dikaitkan dengan rasa syukur dan harapan akan keberkahan bagi kehidupan masyarakat.

8. Kenduri Maulid dan Kuah Beulangong di Aceh

Di Aceh, peringatan Maulid Nabi lekat dengan tradisi kenduri yang melibatkan makanan dalam jumlah besar. Salah satu sajian yang kerap hadir adalah Kuah Beulangong, masakan kari khas Aceh yang dimasak menggunakan belanga berukuran besar. Kementerian Agama Aceh menyebut Kuah Beulangong sebagai salah satu hidangan yang tidak luput dari sajian peringatan Maulid di Aceh.

Proses memasak dalam jumlah besar membuat perayaan ini sekaligus menjadi kegiatan sosial yang melibatkan kebersamaan masyarakat. Hidangan yang sudah selesai dimasak dapat disantap bersama dalam suasana kenduri. Karena itu, tradisi Maulid di Aceh tidak hanya berkaitan dengan penyampaian kisah dan keteladanan Nabi Muhammad SAW, tetapi juga menghadirkan nilai gotong royong, berbagi makanan, dan memperkuat hubungan antarmasyarakat melalui meja makan yang sama.

9. Bungo Lado di Padang Pariaman, Sumatera Barat

Di Padang Pariaman, Sumatera Barat, masyarakat mengenal tradisi Bungo Lado yang memiliki tampilan sangat khas. Dalam pelaksanaannya, ranting kayu dihias dengan kertas berwarna dan uang hasil sumbangan masyarakat dipasang pada ranting tersebut sehingga tampil menyerupai pohon uang. Setelah selesai dibuat, Bungo Lado dapat diarak keliling kampung sebelum dibawa menuju surau atau masjid.

Dana yang terkumpul melalui Bungo Lado dapat dimanfaatkan untuk kegiatan keagamaan maupun pembangunan sarana ibadah sehingga unsur sedekah terasa kuat dalam tradisi ini. Keberadaannya juga telah mendapatkan pengakuan nasional karena Bungo Lado Padang Pariaman ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2023 dalam kategori adat istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan-perayaan.

10. Baayun Maulid di Kalimantan Selatan

Baayun Maulid merupakan tradisi masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan yang mudah dikenali dari penggunaan ayunan dalam rangkaian peringatannya. Dalam tradisi ini, bayi atau anak ditempatkan di dalam ayunan kemudian diayun sembari syair Maulid dibacakan. Ayunan yang digunakan dapat dibuat dari kain dan dihias dengan berbagai ornamen sehingga suasana perayaannya terlihat khas dan menarik.

Tradisi tersebut menjadi bentuk rasa syukur atas kelahiran Nabi Muhammad SAW sekaligus mengandung harapan dari keluarga untuk anak-anak mereka. Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan menjelaskan salah satu tujuannya adalah agar anak kelak dapat meneladani Nabi Muhammad SAW dan berbakti kepada kedua orang tua. Kehadiran unsur budaya Banjar di dalam peringatan keagamaan inilah yang membuat Baayun Maulid terus menjadi tradisi penting di Kalimantan Selatan.

11. Walima di Gorontalo

Tradisi Walima menjadi salah satu bentuk perayaan Maulid Nabi yang khas di Gorontalo, terutama terkenal di Desa Bongo, Kecamatan Batudaa Pantai. Rangkaian kegiatan biasanya diawali dengan dikili, yaitu lantunan zikir, doa, pujian, serta kisah mengenai Nabi Muhammad SAW. Di sejumlah pelaksanaannya, dikili berlangsung sejak malam hingga keesokan pagi sebelum ditutup dengan doa.

Keunikan lain terlihat pada tolangga, yakni usungan yang dihiasi dan diisi beragam kue tradisional sebelum dibawa menuju masjid. Tradisi ini memadukan suasana religius dengan semangat berbagi karena makanan yang dipersiapkan masyarakat menjadi bagian penting dalam perayaan. Walima pun tidak hanya mempertahankan tradisi keagamaan, tetapi berkembang sebagai salah satu daya tarik wisata religi yang memperkenalkan budaya Gorontalo kepada masyarakat lebih luas.

12. Maudu Lompoa di Takalar, Sulawesi Selatan

Masyarakat Cikoang di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, memiliki perayaan Maulid Nabi yang dikenal dengan nama Maudu Lompoa. Secara umum, tradisi ini merupakan perayaan Maulid besar yang dilaksanakan dengan rangkaian prosesi adat. Penelitian mengenai Maudu Lompoa menunjukkan bahwa tradisi tersebut menjadi contoh kuat perpaduan nilai Islam dan budaya lokal yang terus dijaga oleh masyarakat Cikoang.

Keberadaan Maudu Lompoa tidak hanya penting bagi masyarakat yang melaksanakannya, tetapi juga telah memperoleh pengakuan sebagai bagian dari warisan budaya daerah. Dokumen Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan Sulawesi Selatan mencatat Maudu Lompoa dari Kabupaten Takalar sebagai karya budaya yang ditetapkan pada 2016 dan masih bertahan. Hal ini memperlihatkan bagaimana tradisi Maulid dapat menjadi bagian penting dari identitas sebuah komunitas.

13. Maulid Perahu atau Maudu Jolloro di Rammang-Rammang, Maros

Keunikan perayaan Maulid juga dapat ditemukan di kawasan Rammang-Rammang, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Masyarakat setempat mengenal Maudu Jolloro atau Maulid Perahu, yaitu perayaan yang memanfaatkan jolloro, perahu tradisional yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat setempat. Paket makanan dan berbagai hiasan Maulid dibawa menggunakan perahu sehingga menciptakan prosesi yang berbeda dari kebanyakan perayaan di daratan.

Tradisi ini berkembang seiring kuatnya hubungan kehidupan masyarakat Rammang-Rammang dengan sungai dan aktivitas perahu. Penelitian Universitas Hasanuddin mencatat bahwa Maudu Jolloro berkembang menjadi perayaan Maulid di atas perahu serta berkaitan dengan perkembangan kawasan Rammang-Rammang sebagai destinasi wisata. Karena itu, tradisi ini menarik bukan hanya sebagai ekspresi religius, tetapi juga sebagai gambaran bagaimana karakter geografis suatu daerah dapat membentuk cara masyarakat merayakan Maulid Nabi.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Tradisi Maulid Nabi di Indonesia

Apa saja tradisi Maulid Nabi yang terkenal di Indonesia?

Beberapa yang terkenal antara lain Sekaten, Grebeg Maulud, Panjang Jimat, Endhog-endhogan, Bungo Lado, Baayun Maulid, Walima, dan Maudu Lompoa.

Apa tujuan diadakannya tradisi Maulid Nabi?

Secara umum, tradisi Maulid dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur dan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW sekaligus menjadi momentum untuk mengingat keteladanan beliau.

Apa tradisi Maulid Nabi yang ada di Yogyakarta?

Yogyakarta dikenal dengan rangkaian Sekaten dan Garebeg Mulud, dengan salah satu ciri khas berupa gunungan yang dikeluarkan Keraton Yogyakarta dan dibagikan kepada masyarakat.

Apa nama tradisi Maulid Nabi di Banyuwangi?

Tradisi khas Banyuwangi disebut Endhog-endhogan, yaitu menghias telur rebus menjadi kembang endhog, menempatkannya pada jodhang, lalu mengaraknya dalam peringatan Maulid.

Apa tradisi Maulid Nabi yang menggunakan perahu?

Salah satunya adalah Maudu Jolloro atau Maulid Perahu di Rammang-Rammang, Maros, Sulawesi Selatan, yang melibatkan perahu tradisional dalam rangkaian perayaannya.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |