9 Tanda Husnul Khatimah dalam Islam, Kabar Gembira bagi Calon Penghuni Surga

10 hours ago 9

Liputan6.com, Jakarta - Husnul Khotimah menjadi impian dan rahmat Allah SWT yang paling ditunggu di akhir kehidupan seorang muslim. Nasib seseorang di akhirat masih rahasia, namun terdapat berbagai tanda husnul khatimah dalam Islam yang dapat menjadi petunjuk.

Husnul khatimah secara bahasa berarti akhir yang baik. Secara syar'i, husnul khatimah adalah seorang hamba sebelum meninggal diberi taufik untuk menjauhi semua yang dapat menyebabkan kemurkaan Allah, bertaubat dari dosa dan maksiat, serta bersemangat melakukan ketaatan dan perbuatan-perbuatan baik hingga akhirnya ia meninggal dalam kondisi ini.

Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya amalan hanyalah pada penutupnya" (HR. Bukhari). Kesadaran ini mendorong setiap insan beriman untuk senantiasa berusaha menutup hidup dalam keadaan husnul khatimah dan mewaspadai su'ul khatimah atau akhir kehidupan yang buruk.

Merujuk buku Kematian Husnul Khatimah karya Dr. Abu Hafizhah Irfan, MSI, buku Happy Ending Yang Mengesankan, Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi dan literatur lainnya, berikut ini adalah tanda-tanda husnul khatimah yang dapat dikenali.

Tanda-Tanda Husnul Khatimah dalam Islam

Syariat Islam yang mulia telah menetapkan beberapa tanda yang jelas untuk menunjukkan husnul khatimah. Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam kitabnya Ahkamul Janaiz mengumpulkan tanda-tanda ini dari Al-Qur'an dan sunah shahihah, dan beliau mendapatinya ada 19 tanda.

Berikut adalah tanda-tanda utama husnul khatimah berdasarkan dalil-dalil yang shahih:

1. Mengucapkan Kalimat Syahadat di Akhir Hayat

Tanda pertama dan paling utama adalah seseorang mengucapkan "Lā ilāha illallāh" (tiada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah) sebagai ucapan terakhirnya sebelum meninggal.

Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa yang akhir ucapannya adalah Lā ilāha illallāh, maka ia akan masuk surga." (HR. Abu Dawud, dari Mu'adz bin Jabal)

Kalimat tauhid ini adalah jalan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Istiqamah menjalankan konsekuensinya akan membawa keselamatan dari neraka, dan kalimat inilah yang dapat memberatkan timbangan seseorang di hari akhir.

Imam Ibnul Qayyim RA dalam kitab Al-Jawabul Kafi menceritakan kisah seorang yang ketika menjelang mati diperintahkan mengucapkan kalimat tauhid, namun ia hanya mampu mengatakan "Ah...ah...aku tidak bisa mengucapkannya" dan akhirnya mati.

Ini menjadi pelajaran bahwa kebiasaan buruk selama hidup dapat menghalangi seseorang mengucapkan kalimat tauhid di saat sakaratul maut.

Kisah menarik tentang tanda husnul khatimah diceritakan oleh Muhammad bin Muslim bin Warah. Saat Abu Zur'ah dalam sakaratul maut, beliau dan Abu Hatim mencoba menalqin dengan hadits tentang keutamaan kalimat tauhid. Tiba-tiba Abu Zur'ah membuka matanya dan menyampaikan hadits tersebut dengan sempurna, lalu menghembuskan napas terakhirnya. Semoga Allah merahmatinya dan menjadikannya termasuk penghuni surga.

2. Meninggal dengan Dahi Berkeringat

Rasulullah SAW bersabda: "Meninggalnya seorang mukmin ditandai dengan keringat di dahinya." (HR. Tirmidzi, Nasa'i, dan Ibnu Majah, dari Buraidah bin Al-Khusaib)

Dalam riwayat disebutkan bahwa Buraidah RA ketika berada di Khurasan menjenguk saudaranya yang sedang sakit dan mendekati ajalnya. Ia melihat dahinya berkeringat, maka Buraidah berkata, "Allahu Akbar, aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, 'Seorang mukmin itu wafatnya dalam keadaan berkeringat keningnya'".

Tanda ini menunjukkan beratnya sakaratul maut yang sedang dihadapi oleh orang beriman, dan keringat di dahi menjadi pelebur dosa-dosanya serta sebagai tanda kebaikan ketika mati.

3. Meninggal pada Hari Jum'at atau Malamnya

Rasulullah SAW bersabda: "Tidaklah seorang muslim meninggal pada hari Jum'at atau malam Jum'at melainkan Allah akan menjaganya dari fitnah kubur." (HR. Tirmidzi, dari Abdullah bin 'Amr)

Hadits ini menunjukkan keutamaan orang yang meninggal pada malam atau siang hari Jum'at dan termasuk salah satu tanda husnul khatimah, sebagaimana dijelaskan dalam kitab Ahkamul Janaiz (hlm. 49).

4. Mati Syahid di Medan Pertempuran

Allah SWT berfirman: "Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka." (QS. Ali 'Imran: 169-170)

Rasulullah SAW bersabda tentang keutamaan orang yang mati syahid: "Orang yang syahid mendapatkan enam perkara: diampuni dosanya sejak titisan darahnya yang pertama, diperlihatkan tempatnya dalam surga, dijauhkan dari siksa kubur, diberi keamanan dari goncangan yang dahsyat di hari kiamat, dipakaikan mahkota keimanan, dinikahkan dengan bidadari surga, dan diizinkan memberi syafaat bagi tujuh puluh anggota keluarganya." (Hadits shahih)

5. Meninggal karena Tha'un, Sakit Perut, Tenggelam, Tertimpa Bangunan, Terbakar, dan Penyakit Lainnya

Rasulullah SAW bersabda: "Orang yang mati syahid ada lima: orang yang tertimpa penyakit tha'un (wabah), sakit perut, orang yang tenggelam, tertimpa bangunan (tanah runtuh), dan yang mati di medan perang." (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat lain disebutkan: "Syahadah ada tujuh selain yang terbunuh di jalan Allah: orang yang tertimpa penyakit tha'un adalah syahid, orang yang tenggelam syahid, orang yang sakit semacam TBC syahid, orang yang sakit perut syahid, orang yang terbakar syahid, orang yang tertimpa reruntuhan syahid, dan wanita yang mati sedang mengandung syahid." (HR. Abu Dawud, Nasa'i, dan Ibnu Majah)

Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan para ulama mengatakan bahwa macam-macam kematian ini dihitung sebagai syahadah karena fadhilah dari Allah serta mengingat besar dan dahsyatnya sakit yang mereka rasakan.

6. Terbunuh Membela Harta, Keluarga, Agama, dan Jiwa

Rasulullah SAW bersabda: "Siapa yang terbunuh membela hartanya maka dia syahid. Siapa yang terbunuh membela agamanya adalah syahid, siapa yang terbunuh membela jiwanya adalah syahid, dan siapa yang terbunuh membela keluarganya adalah syahid." (HR. Abu Dawud, Tirmidzi—dihasankan oleh Al-Albani)

Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (6/43) mengatakan: "Sungguh kami telah mengumpulkan dari jalan-jalan yang bagus dua puluh lebih dari macam-macam kesyahidan."

7. Meninggal dalam Keadaan Beramal Saleh

Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa yang mengucapkan lā ilāha illallāh ikhlas karena Allah, dan hidupnya diakhiri dengan mengucapkan kalimat tersebut, maka ia masuk surga. Siapa yang puasa ikhlas karena Allah dan mati dalam keadaan demikian maka ia masuk surga. Siapa yang bersedekah ikhlas karena Allah dan mati dalam keadaan demikian maka ia masuk surga." (HR. Ahmad—dishahihkan oleh Al-Albani dalam Ahkamul Janaiz)

8. Mendapat Pujian Manusia ketika Meninggal

Rasulullah SAW bersabda: "Lewat di hadapan Nabi SAW sebuah jenazah lalu dipuji dengan kebaikan, maka Nabi bersabda, '(Ia) wajib (mendapatkan).' Kemudian lewat jenazah lain lalu dikatakan dengan keburukan, maka Nabi bersabda, '(Ia) wajib (mendapatkan).' Ditanyakan, 'Wahai Rasulullah, engkau telah mengatakan untuk jenazah ini "(Ia) wajib" dan untuk jenazah itu "(Ia) wajib"?' Nabi SAW bersabda, 'Persaksian kaum (mukminin) adalah persaksian Allah di bumi.'" (HR. Bukhari)

9. Mendapat Kabar Gembira saat Sakaratul Maut

Tanda husnul khatimah yang hanya diketahui oleh hamba yang mengalaminya adalah diterimanya kabar gembira saat sakaratul maut, berupa ridha Allah sebagai anugerah-Nya.

Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: 'Rabb kami ialah Allah,' kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): 'Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.'" (QS. Fushilat: 30)

Catatan Penting:

Para ulama menegaskan bahwa terlihatnya tanda-tanda husnul khatimah pada diri seseorang tidaklah lantas boleh memastikan bahwa ia termasuk penghuni surga, tetapi hal itu hanyalah kabar gembira baginya. Demikian pula tidak tampaknya tanda-tanda husnul khatimah pada seseorang bukan berarti ia tidak saleh, karena semua ini termasuk perkara gaib.

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah dalam Fathul Bari (11/6594) menyatakan semua amalan baik dan buruk hanyalah sebagai pertanda, tidak bersifat pasti. Segala urusan akan berujung pada takdir yang telah ditentukan sebelumnya.

Amalan-Amalan untuk Meraih Husnul Khatimah

Untuk menggapai husnul khatimah, seorang muslim perlu menempuh beberapa langkah penting:

1. Iman dan Tauhid

Iman dan tauhid adalah bekal paling utama karena kunci semua kebahagiaan. Allah SWT berfirman: "Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya" (QS. Al-Kahfi: 110).

2. Ilmu Agama

Ilmu menjadi lentera yang menyinari perjalanan menuju akhirat. Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa menempuh perjalanan dalam rangka menuntut ilmu agama, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga" (HR. Muslim).

3. Amal Saleh

Amal saleh adalah bekal utama di hari ketika tidak bermanfaat harta dan anak. Suatu amal disebut saleh jika memenuhi dua syarat: ikhlas karena Allah dan ittiba' (meneladani Rasulullah SAW).

4. Taqwa

Taqwa adalah sebaik-baik bekal dengan melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Allah kapan pun dan di mana pun. Allah SWT berfirman: "Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa" (QS. Al-Baqarah: 197).

5. Memperbanyak Doa

Senantiasa berdoa kepada Allah agar dimatikan dalam keadaan beriman dan bertakwa. Rasulullah SAW mengajarkan doa: "Ya Allah, Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu." (HR. Muslim)

Dan doa dalam Al-Qur'an: "(Wahai) Rabb kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan, sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami. Karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)" (QS. Ali 'Imran: 8)

6. Bertaubat dari Dosa

Allah SWT berfirman: "Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nashuha (taubat yang semurni-murninya)" (QS. At-Tahrim: 8).

Pertanyaan Seputar Husnul Khatimah

1. Apakah semua orang yang meninggal dengan dahi berkeringat pasti husnul khatimah?

Tidak serta-merta. Keringat di dahi saat sakaratul maut adalah salah satu tanda yang diriwayatkan dalam hadits sebagai ciri kematian seorang mukmin (HR. Tirmidzi, Nasa'i, Ibnu Majah). Namun, ini hanyalah pertanda, bukan kepastian mutlak. Sebagaimana ditegaskan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari, semua ini hanyalah pertanda dan tidak bersifat pasti, karena segala urusan berujung pada takdir yang telah ditentukan sebelumnya.

2. Bagaimana cara membiasakan diri mengucapkan kalimat tauhid di akhir hayat?

Membiasakan lisan berdzikir dengan kalimat lā ilāha illallāh sepanjang hidup, menjauhi maksiat yang dapat mengeraskan hati, memperbanyak istighfar dan taubat, serta menghadiri majelis ilmu yang mengingatkan pada akhirat. Kisah Abu Zur'ah yang hafal hadits di saat sakaratul maut menunjukkan bahwa amalan dan ilmu yang ditanamkan selama hidup akan muncul di saat-saat kritis.

3. Apakah orang yang mati syahid karena tha'un atau tenggelam tetap dihitung syahid meskipun tidak di medan perang?

Ya. Rasulullah SAW secara tegas menyebutkan dalam beberapa hadits bahwa orang yang meninggal karena tha'un, tenggelam, sakit perut, terbakar, tertimpa reruntuhan, dan wanita yang meninggal saat melahirkan termasuk dalam kategori syahid (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud). Imam Nawawi menjelaskan hal ini sebagai fadhilah dari Allah atas beratnya sakit yang mereka rasakan.

4. Apa perbedaan antara husnul khatimah dengan mati dalam keadaan baik secara umum?

Husnul khatimah secara khusus merujuk pada kondisi di mana seseorang diberi taufik oleh Allah untuk bertaubat dan beramal saleh sebelum mati, kemudian ia mati dalam keadaan tersebut. Ini berbeda dengan sekadar "mati dalam keadaan baik" yang bisa bersifat umum. Husnul khatimah adalah anugerah khusus dari Allah bagi hamba yang dikehendaki-Nya, sebagaimana sabda Rasulullah: "Apabila Allah menghendaki kebaikan seorang hamba, Allah memberinya taufik untuk beramal saleh sebelum matinya" (HR. Ahmad, Tirmidzi).

5. Bagaimana jika seseorang tidak menunjukkan tanda-tanda husnul khatimah saat meninggal?

Tidak tampaknya tanda-tanda husnul khatimah pada seseorang bukan berarti ia tidak saleh, karena semua ini termasuk perkara gaib. Sebagaimana ditegaskan para ulama, terlihatnya tanda-tanda husnul khatimah hanyalah kabar gembira, dan tidak tampaknya tanda tersebut bukan berarti seseorang tidak saleh. Semua urusan akhir seseorang adalah rahasia Allah yang tidak diketahui kecuali oleh-Nya.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |