Liputan6.com, Jakarta - Referensi terkait contoh khutbah Jumat tentang persatuan umat Islam makin penting seiring perkembangan zaman. Pesan perdamaian menjadi hal krusial di tengah dinamika sosial masyarakat yang sangat rentan terhadap perpecahan di era digital.
Pasalnya, kemajuan teknologi informasi kerap kali menjadi pisau bermata dua. Disrupsi informasi menuntut para khatib untuk lebih proaktif menyampaikan pesan ukhuwah islamiyah yang menyejukkan hati seluruh jamaah.
Allah SWT berfirman: "Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali agama Allah, dan janganlah kamu bercerai berai" (QS. Ali Imran: 103).
Imam Nawawi dalam kitab Minhaj al-Thalibin menegaskan bahwa tujuan khutbah adalah sebagai nasihat ketaatan kepada Allah dan rasul-Nya.
Merujuk Buku Rukun dan Syarat Sah Khutbah Jumat Menurut Madzhab Syafiiyah, karya Ahmad Zarkasih, Lc, berikut ini adalah tujuh contoh khutbah jumat tentang persatuan umat Islam, dengan tema yang relevan di Era Modern.
Contoh Khutbah Jumat 1: Jaga Persatuan, Waspada Bahaya Hoaks
Khutbah I
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah, mengawali khutbah ini, khatib berwasiat kepada diri pribadi dan jamaah sekalian untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.
Di era modern ini, kita dihadapkan pada kemudahan akses informasi yang luar biasa cepat melalui gawai pintar dan internet.
Namun sayang, kemudahan teknologi ini sering kali disalahgunakan untuk menyebarkan berita bohong atau hoaks yang berpotensi memecah belah persatuan umat.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu." (QS. Al-Hujurat: 6).
Ayat mulia ini adalah fondasi dan panduan utama bagi kita dalam bermedia sosial serta menerima informasi di era digital yang serba instan.
Sebuah bangsa yang besar dan umat yang kuat bisa hancur berantakan seketika hanya karena fitnah yang disebarkan tanpa adanya klarifikasi.
Sebagai umat Islam yang cerdas, kita diajarkan untuk senantiasa mengedepankan prasangka baik kepada saudara sesama muslim di mana pun berada.
Janganlah jari-jemari kita dibiarkan lebih cepat membagikan sebuah berita dibandingkan akal sehat kita dalam menyaring dan memastikan kebenarannya.
Persatuan dan persaudaraan umat Islam jauh lebih mahal serta berharga daripada sekadar memuaskan ego untuk menjadi orang pertama yang menyebarkan berita.
Oleh karena itu, mari kita jadikan diri kita sebagai agen perdamaian, penyambung tali silaturahmi, dan bukan penyebar perpecahan di dunia maya.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ.
Khutbah II
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ، وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.
Khutbah 2: Ukhuwah Melampaui Batas Golongan
Khutbah I
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah, mengawali khutbah ini, khatib berwasiat kepada diri pribadi dan jamaah sekalian untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.
Umat Islam di Indonesia sangatlah majemuk, terlahir dari berbagai macam latar belakang, kebudayaan, kelompok, dan organisasi masyarakat.
Di era kebebasan ini, perbedaan seragam, golongan, atau wadah dakwah tersebut terkadang justru menjadi sekat tebal yang memisahkan ukhuwah kita.
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا
Artinya: "Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara." (QS. Ali Imran: 103).
Ayat suci ini memerintahkan kita dengan sangat tegas untuk bersatu teguh di bawah payung besar akidah Islam, bukan berpecah-belah karena urusan kelompok.
Ormas, yayasan, atau organisasi keagamaan sejatinya hanyalah kendaraan dan wadah untuk kebaikan dakwah, bukanlah sebuah tujuan akhir dari agama.
Sangatlah menyedihkan jika sesama saudara muslim saling membenci, curiga, dan mencela hanya karena perbedaan warna bendera atau metode pendekatan dakwah.
Kita menyembah Tuhan yang sama, mengimani Nabi yang sama, dan menghadap kiblat yang sama, lantas mengapa hal-hal kecil harus dibesar-besarkan hingga memutus persaudaraan?
Mari kita rangkul kembali saudara seiman kita, bangun dialog yang baik, dan hargai setiap bentuk kontribusi kebaikan dari elemen umat Islam mana pun.
Persatuan umat yang tulus adalah kekuatan terbesar dan benteng pertahanan paling kokoh dalam menghadapi derasnya arus tantangan ideologi di masa kini.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah II
الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ، وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.
Khutbah 3: Menghindari Perdebatan Sia-Sia di Media Sosial
Khutbah I
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah, mengawali khutbah ini, khatib berwasiat kepada diri pribadi dan jamaah sekalian untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.
Perkembangan teknologi membuat siapa saja bebas menyuarakan pendapat, gagasan, dan emosinya kapan saja dan di platform mana saja tanpa filter.
Sayangnya, ruang publik digital kita sering dipenuhi dengan perdebatan kasar, cacian, dan saling menjatuhkan martabat antar sesama kelompok muslim.
وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ ۖ وَاصْبِرُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
Artinya: "Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." (QS. Al-Anfal: 46).
Perbantahan yang tidak dilandasi oleh ilmu dan adab yang baik sungguh hanya akan melahirkan kelemahan dan perpecahan bagi umat Islam itu sendiri.
Ketika umat sibuk bertengkar di dunia maya untuk memperebutkan siapa yang paling benar, energi dan kekuatan kolektif kita secara perlahan akan pudar.
Generasi muda Islam bahkan bisa kehilangan simpati pada keindahan agama ini jika melihat para tokoh atau umatnya sibuk saling menghujat setiap hari.
Menahan lisan dan jari dari perdebatan yang sia-sia, meskipun kita merasa berada di pihak yang benar, adalah akhlak mulia yang diwariskan Rasulullah.
Mari kita gunakan kekuatan media sosial untuk menebar hikmah, memberikan nasihat yang santun, dan menularkan energi positif bagi kemajuan sesama manusia.
Bersabar menahan amarah dan menjaga etika lisan di dunia maya adalah kunci utama dalam menjaga martabat serta keutuhan persatuan umat Islam.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah II
الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ، وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.
Khutbah 4: Toleransi dalam Perbedaan Fiqih
Khutbah I
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah, mengawali khutbah ini, khatib berwasiat kepada diri pribadi dan jamaah sekalian untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.
Islam adalah agama agung yang membawa rahmat dan sangat menghargai keragaman, termasuk keluasan di dalam masalah hukum fiqih cabang atau furu'iyyah.
Namun di masa modern ini, perbedaan cara beribadah yang sejatinya lumrah itu sering kali memicu konflik fisik dan sikap saling menyesatkan di masyarakat.
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Artinya: "Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mendapat rahmat." (QS. Al-Hujurat: 10).
Persaudaraan seiman atau ukhuwah islamiyah adalah ikatan luhur abadi yang tidak boleh putus hanya karena perdebatan masalah fiqih yang memiliki dalil masing-masing.
Para ulama besar terdahulu, seperti halnya Imam Syafi'i dan Imam Malik, memiliki banyak perbedaan pendapat, namun hati mereka tetap bersatu dan saling menghormati secara mendalam.
Sikap toleransi dan kelapangan dada di ranah internal umat Islam harus lebih dulu dikedepankan sebelum kita berbicara jauh tentang toleransi antar umat beragama.
Jika di tengah masyarakat terdapat perbedaan mengenai urusan Qunut Subuh, penentuan jumlah rakaat shalat Tarawih, atau dzikir jamaah, kembalikanlah semuanya pada keindahan sikap saling menghargai.
Jangan sampai mempertahankan ibadah yang berhukum sunnah justru merusak kewajiban menjaga kerukunan dan persatuan umat yang nilainya fardu ain bagi setiap muslim.
Damaikanlah hati, lapangkanlah pikiran, dan berikanlah ruang yang nyaman bagi saudara seiman kita untuk menjalankan apa yang diyakininya selama hal itu berlandaskan pada ilmu syariat.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah II
الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ، وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.
Khutbah 5: Solidaritas Sosial sebagai Wujud Persatuan
Khutbah I
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah, mengawali khutbah ini, khatib berwasiat kepada diri pribadi dan jamaah sekalian untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.
Tantangan umat Islam di era modern tidak hanya sekadar pada aspek krisis moral, melainkan juga dihantam oleh krisis ekonomi dan kesenjangan sosial yang sangat tajam.
Gaya hidup individualistis khas perkotaan di zaman ini perlahan mulai mengikis habis rasa empati dan kepedulian tulus kita terhadap tetangga serta saudara sendiri.
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
Artinya: "Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya." (QS. Al-Maidah: 2).
Ayat mulia ini merupakan cetak biru dan pondasi bangunan sosial umat Islam agar kita mampu tegak bersatu saat menghadapi berbagai macam krisis kemanusiaan.
Persatuan umat tidak akan pernah terwujud dengan sempurna apabila masih banyak saudara kita yang tertidur dalam kondisi kelaparan, sementara kita hidup berbalut kemewahan.
Zakat, infak, dan sedekah adalah instrumen syariat yang sengaja diturunkan Allah dan berfungsi untuk menjahit kembali persaudaraan yang nyaris terkoyak oleh kemiskinan.
Oleh karenanya, mari kita lihat kembali kondisi para tetangga, sanak famili, dan jamaah masjid kita; adakah di antara mereka yang hari ini sedang sangat membutuhkan uluran tangan?
Solidaritas sosial adalah bentuk fisik yang paling nyata dari ikatan persatuan umat; bukan sekadar pidato retorika di atas mimbar, melainkan tindakan nyata berbagi kebahagiaan.
Dengan saling menopang satu sama lain dalam roda ekonomi, umat Islam akan menjelma menjadi sebuah bangunan kokoh yang kuat menahan berbagai badai zaman.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah II
الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ، وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.
Khutbah 6: Bahaya Merendahkan Sesama Muslim
Khutbah I
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah, mengawali khutbah ini, khatib berwasiat kepada diri pribadi dan jamaah sekalian untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.
Era interaksi digital telah melahirkan penyakit sosial baru berupa perundungan di dunia maya yang sangat kejam dan terbukti merusak tatanan mental umat masyarakat.
Tanpa sadar, sebagian kaum muslimin gemar ikut-ikutan mencela, membuat konten yang menghina fisik, dan merendahkan kelompok lain hanya demi meraih validitas duniawi.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ
Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik." (QS. Al-Hujurat: 11).
Larangan keras untuk merendahkan ini diturunkan oleh Allah semata-mata demi memelihara kehormatan, memangkas benih kebencian, dan menjaga persatuan di dalam tubuh umat Islam.
Sebab kita tidak akan pernah mengetahui kepastiannya, sangat mungkin individu yang kita cemooh dan tertawakan itu memiliki kedudukan yang jauh lebih mulia di hadapan Allah SWT.
Sikap merendahkan orang lain sering kali memancar dari akar kesombongan hati manusia, karena merasa dirinya yang paling pintar, paling benar, dan paling suci amalannya.
Padahal, tidak ada satu pun garansi dari Allah bahwa amalan kita pasti diterima, sehingga sama sekali tidak ada celah alasan yang logis untuk memandang remeh saudara seiman.
Oleh karena itu, segera hentikanlah budaya tercela memanggil saudara dengan gelar yang menyakitkan, apalagi sampai tega mengekspos aib kelemahannya ke ruang publik.
Persatuan sejati dan kedamaian masyarakat hanya akan bisa bertumbuh subur di atas tanah yang senantiasa dipupuk dengan rasa saling menghormati dan memuliakan nilai-nilai kemanusiaan.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah II
الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ، وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.
Khutbah 7: Moderasi Beragama sebagai Perekat Umat
Khutbah I
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah, mengawali khutbah ini, khatib berwasiat kepada diri pribadi dan jamaah sekalian untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.
Di tengah bergulirnya zaman yang serba instan, kita sering kali terjebak dalam arus dua ekstremitas besar; antara pemahaman yang terlampau kaku dan yang terlampau longgar.
Sikap esktrem atau berlebih-lebihan dalam beragama inilah yang pada akhirnya sering menjadi pemicu fanatisme buta yang mengoyak paksa keindahan tali ukhuwah kita.
وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا
Artinya: "Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan (pertengahan) agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu." (QS. Al-Baqarah: 143).
Konsep luhur umat pertengahan mengajarkan kita sebagai muslim sejati untuk selalu membiasakan diri dalam bersikap adil, menyeimbangkan dunia dan akhirat, serta tidak berlaku ekstrem.
Sikap moderat dalam beragama inilah yang sejatinya bertindak sebagai perekat utama persatuan, karena keluwesannya mampu secara bijak menjembatani segala bentuk perbedaan di tengah masyarakat.
Apabila kita sanggup mengamalkan moderasi beragama, lisan ini tidak akan dengan mudah dan sembrono menuduh sesat saudara seiman hanya karena berbeda mazhab atau pandangan keilmuan.
Bersikap moderat sama sekali tidak berarti melemahkan keyakinan akidah, melainkan sebuah ikhtiar nyata dalam memperindah akhlak dan toleransi saat kita bermuamalah dengan sesama anak bangsa.
Kembalilah bersama-sama membumikan pemahaman Islam sebagai risalah rahmat, agama yang konsisten membawa kesejukan, keamanan, dan cinta kasih di manapun penganutnya berada.
Mari kita buang sejauh mungkin belenggu fanatisme yang menghancurkan, dan segera rentangkan pelukan untuk merengkuh saudara kita di dalam satu semangat keislaman yang sejuk dan mencerahkan.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah II
الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ، وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.
Pertanyaan Seputar Khutbah Jumat
Makna persatuan dalam Islam?
Konsep persatuan dalam Islam merujuk pada prinsip kesatuan umat (Ukhuwah) yang diikat oleh akidah dan tauhid. Islam memandang seluruh umat manusia adalah bersaudara, menolak diskriminasi ras atau suku, dan memerintahkan umatnya untuk saling menjaga perdamaian serta berpegang teguh pada tali agama Allah.
Apa inti khutbah?
Salah satu tujuan utama khutbah adalah memberikan peringatan tentang pentingnya menjauhi dosa dan kesalahan, serta mengingatkan umat agar selalu berbuat baik dan mengikuti perintah Allah dan Rasul-Nya. Khutbah berfungsi untuk mempererat hubungan antara umat Islam.
Apakah boleh ngobrol saat khutbah Jumat?
Hukum mengobrol saat khutbah Jumat berlangsung adalah makruh (menurut sebagian ulama Syafi'iyah) hingga haram (menurut mayoritas ulama/jumhur). Perbuatan ini sangat dilarang karena dapat menghilangkan pahala Jumat Anda, sehingga salat yang didapat hanya bernilai seperti salat Zuhur biasa.
Apa saja syarat 2 khutbah?
Syarat dua khutbah (seperti pada ibadah Jumat) terbagi menjadi dua aspek utama, yakni syarat bagi khatib (orang yang berkhutbah) dan syarat rangkaian khutbah itu sendiri. Keduanya harus dipenuhi agar ibadah sah.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5102627/original/058220500_1737446569-1737444761877_cara-mandi-wajib-haid.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3195813/original/076650300_1596187131-20200731-Hagia-Sophia-5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3243956/original/072932600_1600665128-photo-1493894473891-10fc1e5dbd22__2_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3108177/original/030261700_1587459748-299786-P7FMQK-120.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3430878/original/058976400_1618561327-20210416-Itikaf-Masjid-Kubah-Emas-4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4374521/original/081753100_1679993733-ed-us-iXUXMn_-nh8-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5407952/original/091057200_1762758448-amalan_sebelum_tidur_3.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5510686/original/040009700_1771835145-unnamed__28_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4467383/original/024435300_1686815470-suhyeon-choi-NIZeg731LxM-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5525602/original/003097400_1773046669-unnamed__54_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5450229/original/030945800_1766134797-unnamed__2_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4775811/original/052863100_1710738724-Ilustrasi_anak__ibu__sahur__buka_puasa__Islami.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6470090/original/081962400_1779331661-ribuan-umat-islam-di-kediri-berdoa-bersama-sambut-1-muharram.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4780649/original/094862900_1711077046-masjid-pogung-raya-9nkMRXMvZiI-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5022295/original/011704300_1732602641-habis-muharram-bulan-apa.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6470730/original/058445600_1779332176-1-suro-keraton-surakarta-kirab-9-kebo-bule-dan-9-pusaka.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5484508/original/089372800_1769436147-Wamenhaj_Dahnil_Anzar_Simanjuntak_di_Asrama_Haji_Pondok_Gede__Jakarta__26_Januari_2026.__dok_Media_Center_Haji_2026__2.jpg)











:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5502852/original/043074800_1771048777-4.jpg)

















