Lebih Dulu Hafalan Surat Pendek atau Belajar Tajwid dalam Mengajarkan Anak Al-Qur'an?

4 hours ago 4

Liputan6.com, Jakarta - Saat ini, para orang tua semakin peduli terhadap proses belajar mengaji anaknya. Hal ini kemudian memantik pertanyaan: sebaiknya anak lebih dulu menghafal surat-surat pendek atau belajar cara membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar melalui tajwid?

Perlu diketahui bahwa sudah seharusnya Al-Qur’an tidak boleh dibaca secara asal. Ibnu Al Jazari, seorang ulama qiraat dan tajwid Al-Qur'an berpendapat bahwa membaca Al-Qur'an dengan tajwid adalah kewajiban bagi setiap Muslim. Hal tersebut merupakan penjagaan terhadap keaslian Al-Qur'an. Lebih jelasnya beliau mengatakan dalam Manzhumah Al-Jazariyyahnya:

“Membaca Alquran dengan bertajwid hukumnya wajib. Siapa yang membacanya dengan tidak bertajwid maka dia berdosa, karena dengan tajwidlah Allah SWT menurunkan Alquran dan dengan tajwid pula Alquran sampai dari-Nya kepada kita.”

Juga sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an, QS. Al-Muzzammil ayat 4:

وَرَتِّلِ الْقُرْاٰنَ تَرْتِيْلًاۗ

Artinya: Bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan (tartil).

Menanggapi ini, Widyan Zulda Mahira (25) disapa Dama, Ustaz muda sekaligus Hafiz Al-Qur'an 30 Juz asal Wonosobo, Jawa Tengah memberikan pandangannya. "Untuk anak, lebih baik menghafal surat pendek terlebih dahulu, lalu untuk tajwid bisa sambil berjalan," terangnya saat dihubungi Liputan6.com pada Senin (11/5).

Memperkenalkan Al-Qur’an kepada Anak Sejak Dalam Kandungan

Pada dasarnya, anak sejak usia dini bahkan dalam kandungan sudah bisa diperkenalkan dengan Al-Qur'an. "Sebenarnya pendidikan Al-Qur'an sangat baik dikenalkan sejak anak di usia kandungan, terutama usia 4 bulan dalam kandungan. Mulai banyak diperdengarkan murottal, karena disitu ruh sudah ditiupkan dan indra pendengaran bayi dalam kandungan sudah berfungsi. Sehingga ketika dilahirkan, tinggal membiasakan hal tersebut," ucap Dama.

Dama juga menyebutkan, "Hadisnya enggak secara spesifik bilang pendidikan terbaik di usia sekian, namun ada hadis dalam kitab Al Arbain yang mengatakan di usia 4 bulan bayi sudah ditiupkan ruh. Sedangkan itu disandingkan dengan penelitian-penelitian."

Dalam kitab Hadits Arbain no 4 karya Imam an-Nawawi, terdapat sebuah hadis yang menyebutkan empat jenis takdir yang ditulis ketika manusia masih berbentuk janin. Diantaranya menyebutkan bahwa di usia 4 bulan, bayi sudah ditiupkan ruh. Ini juga diperkuat dengan QS. An-Nahl ayat 78 yang artinya:

"Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani agar kamu bersyukur."

"Surat An-Nahl ayat 78 tentang manusia dilahirkan dalam kondisi tak berilmu tapi diberikan potensi untuk mendapatkan ilmu dengan pendengaran pengelihatan dan hati nurani," ungkap Dama.

Tantangan Terbesar Mengajarkan Al-Qur’an kepada Anak Zaman Sekarang

Namun, di zaman sekarang yang penuh dengan berbagai distraksi digital dan aktivitas duniawi, anak-anak cenderung lebih mudah teralihkan perhatiannya. Karena itu, orang tua Muslim perlu menerapkan strategi yang tepat agar anak tetap memiliki minat dan semangat untuk belajar mengaji.

"Tantangan yang paling besar untuk mengubah mindset aja sih, karena jaman sekarang kemauan untuk belajar dari diri sendiri sulit. Bisa juga dari pengaruh gadget dan game. Sehingga harus melakukan pendekatan yang sekiranya bisa menggiring mindset mereka. Yang jelas pakai strategi sih ya," ujar laki-laki yang saat ini lebih fokus di kegiatan keagamaan dan biro umroh, sekaligus selingan jualan kecil-kecilan.

"Adapun peran orang tua sangat berpengaruh. Karena orang tua itu justru madrasah pertama bagi anak anak. Jika hanya mengandalkan orang luar untuk mendidik, sepertinya kurang balance, karena lingkungan terbesar dalam adaptasi ada di rumah. Oleh karena itu, orang tua harusnya bisa saling sinergi untuk mendidik putra putrinya dalam belajar Al-Qur'an," tambahnya.

Ya, sebelum memulai proses hafalan surat-surat pendek dan pembelajaran tajwid, ada baiknya anak dibiasakan untuk menyukai kegiatan mengaji terlebih dahulu. Dengan demikian, akan tumbuh minat dan keinginan yang kuat dalam diri anak untuk belajar Al-Qur’an secara lebih mendalam.

Pada Anak, Prioritaskan Hafalan Surat Pendek atau Belajar Tajwid Dulu?

Disampaikan Dama bahwa anak sebaiknya menghafal surat pendek dulu dan untuk tajwid bisa sambil berjalan. "Pelan pelan (belajar tajwid) sambil menghafal," pungkasnya.

Bukan tanpa alasan, laki-laki lulusan S-1 Agama Murni dan S-2 Pendidikan Agama Islam di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) itu memaparkan jawabannya. Ia berkata, "Karena surat pendek itu pertama yang mudah untuk diaplikasikan langsung ketika salat atau keseharian. Dan yang jelas ayat ayat familiar bagi anak."

Namun, apakah hafalan tanpa tajwid yang benar dikhawatirkan menjadi kebiasaan yang sulit diperbaiki, atau hal tersebut tidak menjadi masalah selama anak sudah memiliki motivasi dan kebiasaan untuk menghafal Al-Qur’an?   

"Enggak sulit sih, asal konsisten. Karena kalo tajwid bisa dipelajari sambil berjalan. Lebih mudah belajar tajwid kalo sambil hafal ayatnya," jelas Dama.

Selain itu, Dama pun menyampaikan jika terlambat mengajarkan mengaji bisa sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak. "Tentu sangat berpengaruh. Akan tetapi tidak ada kata terlambat untuk selalu belajar," tutupnya.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Topik Hafalan Surat Pendek atau Belajar Tajwid dalam Mengajarkan Anak Al-Qur'an

1. Lebih dulu mana, hafalan surat pendek atau belajar tajwid?

Berdasarkan pendapat narasumber dalam artikel, anak dapat didahulukan untuk menghafal surat-surat pendek terlebih dahulu, sementara pembelajaran tajwid bisa dilakukan secara bertahap atau sambil berjalan.

2. Apakah Al-Qur’an boleh dibaca secara asal tanpa memperhatikan tajwid?

Al-Qur’an tidak dianjurkan dibaca secara asal. Dalam pandangan ulama seperti Ibnu Al-Jazari, membaca dengan tajwid dianggap penting sebagai bentuk menjaga ketepatan bacaan Al-Qur’an, meskipun kemampuan tajwid dapat dipelajari secara bertahap.

3. Sejak kapan anak bisa dikenalkan dengan Al-Qur’an?

Anak dapat dikenalkan dengan Al-Qur’an sejak dini, bahkan sejak dalam kandungan melalui pembiasaan mendengarkan murottal, sehingga terbiasa dengan lantunan ayat-ayat Al-Qur’an sejak awal perkembangan.

4. Apakah hafalan tanpa tajwid akan menjadi kebiasaan buruk?

Tidak selalu. Menurut narasumber, hafalan tanpa tajwid tidak menjadi masalah selama ada konsistensi dalam memperbaiki bacaan. Tajwid tetap bisa dipelajari sambil proses menghafal berjalan.

5. Apa peran orang tua dalam mengajarkan anak mengaji?

Orang tua memiliki peran sangat penting sebagai madrasah pertama bagi anak. Dukungan, kebiasaan di rumah, dan strategi yang tepat sangat berpengaruh dalam membentuk minat anak untuk belajar Al-Qur’an.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |