- Mengapa adab menyebarkan informasi di media sosial penting bagi umat Islam?
- Apa prinsip adab paling fundamental dalam menyebarkan informasi di media sosial?
- Apa saja manfaat menjaga adab dalam menyebarkan informasi di media sosial?
Baca artikel ini 5x lebih cepat
Liputan6.com, Jakarta - Menyebarkan informasi di media sosial bukanlah aktivitas yang sepele. Dalam pandangan Islam, ada dimensi hukum dan moral yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt. Oleh sebab itu, adab menyebarkan informasi di media sosial harus dipahami oleh umat Islam.
Sebab, setiap informasi yang disebarkan tanpa verifikasi berpotensi menjadi dosa jariyah yang terus mengalir. Sebaliknya, setiap informasi bermanfaat yang disebarkan dengan niat ikhlas dapat menjadi ladang pahala yang tak terputus.
Di era keterbukaan informasi seperti sekarang, proses penyebaran berita dapat terjadi dalam hitungan detik. Tanpa disadari, setiap orang dapat menjadi bagian dari mata rantai penyebaran informasi—baik yang benar maupun yang salah
Merujuk Menguatkan Iman dengan Adab Menggunakan Media Sosial, Rian Hidayat, S.Pd.I, M.Pd, Gr, terdapat prinsip adab utama yang bermuara pada tabayyun atau verifikasi informasi. Terdapat pula prinsip larangan menyebarkan kebohongan, ghibah, namimah, dan fitnah, serta dorongan untuk menyebarkan kebaikan dan kebenaran dengan cara yang santun. Berikut ulasannya.
Merujuk Buku Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti, Abd. Rahman dan Hery Nugroho, Ebook Adab dan Fiqih Bermedia Sosial untuk Santri, Pelajar, Mahasiswa dan Orang Tua, Ir. Munawar, Ph.D berdasarkan dalil dan penjelasan para ulama, berikut adalah adab-adab utama yang harus diperhatikan setiap muslim dalam menyebarkan informasi di media sosial.
1. Niat yang Baik (Ikhlas)
Setiap penyebaran informasi harus diniatkan karena Allah Swt., bukan karena ingin viral, mencari popularitas, atau kepentingan duniawi lainnya. Dalam kitab Ta’lim al-Muta’alim, Imam al-Zarnuji menjelaskan bahwa banyak perbuatan yang secara lahiriah duniawi, tetapi karena niat yang baik dapat menjadi amal akhirat (bernilai ibadah).
Dalam konteks menyebarkan informasi, niatkanlah untuk menyampaikan kebenaran, memberi manfaat kepada orang lain, dan sebagai bentuk syiar Islam.
2. Tabayyun: Verifikasi Sebelum Sebar
Ini adalah adab paling fundamental dalam menyebarkan informasi. Sebelum membagikan suatu berita, seorang muslim wajib memverifikasi kebenarannya. Sebagaimana ditegaskan oleh para ulama, haram hukumnya bagi seorang muslim yang menyebarkan informasi tanpa terlebih dahulu melakukan tabayyun dan verifikasi.
Wahbah Az-Zuḥaylī dalam Tafsīr Al-Munīr menekankan bahwa tabayyun tidak hanya penting dalam konteks sosial dan politik, tetapi juga sangat relevan dalam menghadapi tantangan disinformasi di era digital.
Langkah praktis tabayyun:
- Menelusuri sumber berita asli
- Membandingkan dengan sumber lain yang terpercaya
- Bertanya kepada orang yang lebih mengetahui
- Menggunakan fact-checking tools yang tersedia
3. Tidak Tergesa-gesa Menyebarkan Informasi
Sikap tergesa-gesa dalam menyebarkan informasi dapat menimbulkan berbagai kerusakan, seperti kekacauan, provokasi, ketakutan, atau kebingungan di tengah masyarakat. Salmah Orbayinah dalam kajiannya memasukkan “tidak tergesa-gesa menyebarkan informasi” sebagai salah satu dari delapan adab bermedia sosial.
4. Menyebarkan Informasi yang Bermanfaat dan Benar
Islam memandang informasi bukan sebagai komoditas, melainkan amanah. Amanah ini diwujudkan dalam tiga tingkat panduan etis: nilai dasar (al-qiyam al-asâsiyyah) yang meliputi kejujuran (ṣidq), keadilan (‘adl), dan tanggung jawab (amānah); prinsip umum (al-uṣūl al-kulliyyah) yang meliputi kehati-hatian, keseimbangan, keterbukaan, dan kemaslahatan; serta pedoman praktis (al-aḥkām al-far‘iyyah) tentang tata cara memperoleh, memproduksi, dan menyebarkan informasi dengan adab.
Dalam salah satu kaidahnya disebutkan: “Informasi yang benar wajib disampaikan dengan cara yang baik; informasi yang salah wajib dicegah penyebarannya.”
5. Menghindari Ghibah, Namimah, dan Fitnah Digital
Media sosial sering menjadi ladang ghibah (menggunjing) dan namimah (adu domba). Perbuatan ini hukumnya haram secara mutlak. Allah Ta’ala dengan tegas melarang perbuatan mengadu domba dan menjadikannya sebagai salah satu penyebab siksa kubur.
Rasulullah Saw. bersabda: “Tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu domba.” (HR. Bukhari).
6. Menyebarkan Informasi dengan Cara yang Baik (Bil-Hikmah)
Sesuai dengan firman Allah dalam QS. An-Nahl/16: 125, informasi harus disampaikan dengan hikmah dan cara yang baik. Sekalipun informasi itu benar, cara penyampaian yang kasar, provokatif, atau merendahkan orang lain tetap dilarang.
Islam mengajarkan untuk selalu menggunakan perkataan yang santun (qawlan layyinan) dan perkataan yang baik (qaulan kariman).
7. Tidak Menyebarkan Kebohongan dan Hoaks
Menyebarkan kebohongan, sekecil apa pun, adalah perbuatan yang sangat tercela dalam Islam. Jika pahala dilipatgandakan, maka dosa termasuk menyebar hoaks juga dilipatgandakan.
MUI dalam fatwanya menegaskan bahwa menyebarkan hoaks serta informasi bohong meskipun dengan tujuan baik, seperti info tentang kematian orang yang masih hidup, hukumnya haram.
8. Meninggalkan Perkara yang Tidak Bermanfaat
Rasulullah Saw. bersabda: “Sebagian dari kebaikan Islam seseorang adalah ia meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Al-Tirmidzi)
Dalam konteks menyebarkan informasi, seorang muslim hendaknya meninggalkan informasi yang tidak memberikan manfaat, tidak menambah ilmu, atau hanya sekadar sensasi belaka.
9. Membantah Informasi Tidak Baik dengan Cara yang Baik
Apabila menemukan informasi yang keliru atau menyesatkan, seorang muslim wajib meluruskannya. Namun, pelurusan tersebut harus dilakukan dengan cara yang baik, tidak dengan makian, cacian, atau sikap merendahkan. Membantah informasi tidak baik dengan cara baik merupakan salah satu adab yang ditekankan dalam Islam.
10. Menyadari Jejak Digital dan Pertanggungjawaban di Akhirat
Setiap informasi yang disebarkan akan meninggalkan jejak digital dan yang lebih penting, akan dicatat oleh malaikat serta dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah Swt. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Qaf/50: 18:
“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.”
Imam Ibn Katsir dalam tafsirnya menegaskan bahwa ayat ini mencakup semua ucapan, baik lisan maupun tulisan. Dalam konteks modern, tulisan digital, komentar, status, dan unggahan termasuk dalam “ucapan” yang akan dipertanggungjawabkan.
Menyebarkan Informasi sebagai Syiar Islam dan Kebaikan
Menyebarkan informasi yang benar dan bermanfaat adalah ladang pahala yang sangat luas. Media sosial dapat dijadikan sebagai sarana dakwah, edukasi, dan penyebaran kebaikan.
1. Pahala bagi yang Menunjukkan Kebaikan
Rasulullah Saw. bersabda: “Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa orang yang menyebarkan informasi yang mengandung kebaikan—misalnya informasi tentang kajian Islam, tips kesehatan, edukasi, atau konten positif lainnya—akan mendapatkan pahala yang sama dengan orang yang mengamalkan kebaikan tersebut. Dengan kata lain, setiap kali seseorang mengamalkan kebaikan berdasarkan informasi yang kita sebarkan, kita turut mendapatkan pahalanya.
2. Media Sosial sebagai Timbangan Amal
Para ulama menyerukan untuk menjadikan akun media sosial sebagai “timbangan amal” yang berat di sisi kanan. Gunakan media sosial untuk menyebarkan kebaikan, nasihat agama, dan edukasi yang bermanfaat. Satu kutipan bermanfaat yang Anda bagikan bisa menjadi penolong di hari perhitungan nanti.
3. Ilmu yang Bermanfaat sebagai Amal Jariyah
Menyebarkan ilmu yang bermanfaat melalui media sosial termasuk amal jariyah yang pahalanya terus mengalir meskipun seseorang telah wafat. Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah berkata, “Barangsiapa menyebarkan apa saja yang bermanfaat bagi manusia, niscaya ia akan mendapatkan pahala dari semua orang yang mengambil manfaat darinya.”
4. Dakwah Digital yang Efektif
Dengan data 160 juta pengguna aktif media sosial di Indonesia, platform digital adalah ladang dakwah yang sangat luas. Seorang muslim dapat menjadi mubalig digital dengan menyebarkan konten-konten Islami yang benar, mencerdaskan, dan menguatkan iman umat.
5. Meluruskan Informasi yang Salah
Salah satu bentuk syiar Islam yang sangat dibutuhkan di era digital adalah meluruskan informasi yang salah. Ketika menemukan hoaks atau informasi menyesatkan, seorang muslim memiliki tanggung jawab untuk mengklarifikasinya dengan cara yang baik. Ini termasuk dalam amar ma’ruf nahi munkar di era digital.
Hikmah Menjaga Adab Menyebarkan Informasi di Media Sosial
Menjaga adab dalam menyebarkan informasi membawa berbagai hikmah yang dirasakan secara personal, sosial, maupun spiritual.
1. Terhindar dari Dosa Jariyah
Dengan memverifikasi informasi sebelum menyebarkan, seorang muslim terhindar dari dosa menyebarkan hoaks, fitnah, dan ghibah. Dosa yang terus mengalir akibat informasi yang salah tidak akan membebani catatan amalnya.
2. Mendapatkan Kepercayaan dari Orang Lain
Pengguna media sosial yang dikenal jujur dan selalu menyebarkan informasi yang benar akan mendapatkan kepercayaan dari komunitasnya. Kepercayaan ini adalah modal sosial yang sangat berharga di era digital.
3. Menjaga Keharmonisan Sosial
Dengan tidak menyebarkan informasi yang memecah belah, seorang muslim turut menjaga kerukunan dan keharmonisan di tengah masyarakat yang majemuk. Prinsip tabayyun berperan sebagai fondasi untuk mencegah disinformasi, fitnah, dan konflik horizontal.
4. Mendapatkan Pahala Berlipat Ganda
Sebaliknya, setiap informasi bermanfaat yang disebarkan akan menjadi sumber pahala yang terus mengalir. Seorang muslim bisa mendapatkan pahala dari ribuan orang yang teredukasi atau terinspirasi oleh informasinya.
5. Terhindar dari Jeratan Hukum
Di Indonesia, penyebaran hoaks dan ujaran kebencian dapat dijerat dengan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Menjaga adab berarti juga menjaga diri dari konsekuensi hukum di dunia.
6. Menjadi Teladan bagi Netizen Lain
Seorang muslim yang konsisten menyebarkan informasi dengan adab menjadi teladan bagi pengguna media sosial lainnya. Ketika budaya verifikasi dan penyebaran informasi yang bertanggung jawab semakin meluas, ekosistem digital yang sehat akan terbentuk.
7. Mendekatkan Diri kepada Allah SWT
Pada akhirnya, setiap amal yang dilakukan dengan niat ikhlas dan sesuai syariat adalah bentuk ketaatan yang mendekatkan diri kepada Allah Swt. Menyebarkan informasi dengan adab adalah salah satu wujud taqwa dalam dimensi digital.
People also Ask:
Apa saja adab-adab dalam bermedia sosial?
Untuk membangun sikap bijak bermedia sosial maka dapat dilakukan langkah-langkah berikut: 1. Menggunakan Perkataan yang Baik dan Santun. 2. Menyebarluaskan Informasi yang Bermanfaat. 3. Tidak Menyebarkan Kebohongan, Fitnah, dan Ujaran Kebencian. 4. Meluruskan Informasi yang Salah dan Memberikan nasihat.
Apa saja 5 etika dalam bermedia sosial?
Berikut adalah beberapa etika yang harus diperhatikan dalam menggunakan jejaring sosial:1) Jadikan Sebagai Sarana untuk Menebar Kebaikan. ...2) Mengingat Hisab atas Segala Perbuatan. ...3) Lakukan Kroscek Sebelum Berpendapat (Tabayun) ...4) “CCTV” di Kedua Bahu. ...5) Ruang Keikhlasan Tanpa Mengumbar Riya.
5 Langkah Aman di media sosial?
5 Aturan Bijak Bersosialisasi di Jejaring Sosial untuk Pengalaman Aman dan PositifPasang Profil Secukupnya. ...Waspadai Pertemuan Langsung. ...Jaga Privasi Foto. ...Selektif dalam Menambah Teman. ...Berpikir Sebelum Memposting.
Haruskah adab dan etika diutamakan dalam penggunaan media sosial?
Etika dalam menggunakan media sosial tidak hanya penting untuk menjaga keharmonisan online, tetapi juga untuk melindungi diri sendiri dan orang lain dari dampak negatif yang mungkin timbul, seperti penyebaran informasi palsu, konflik sosial, dan pelanggaran privasi.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5005172/original/060424600_1731569782-media_3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/999349/original/080383000_1443076430-20150924-Salat-Idul-Adha-di-Jatinegara-Jakarta-01.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4462892/original/030653200_1686564225-20230612143247__fpdl.in__illuminated-minaret-symbolizes-spirituality-famous-blue-mosque-generated-by-ai_188544-35440_normal.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5450229/original/030945800_1766134797-unnamed__2_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4030425/original/064674000_1653273891-raka-dwi-wicaksana-Jbk_Tce8Z1U-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5560083/original/050968500_1776658146-unnamed__87_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1336024/original/066771100_1472887334-20160903-Idul-Adha-Jakarta-Qurban-YR3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4083992/original/071029700_1657420935-Salat-Idul-Adha-JIS-Faizal-5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4370308/original/064241200_1679646015-Shalot-Jumat-Pertama-Ramadhan-Di-Masjid-Istiqlal-Angga-2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5533779/original/098475800_1773775028-unnamed__98_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5165509/original/009073500_1742184236-535f032ee6b6e3beccec5dfc251f3802.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5211926/original/011374200_1746600887-Baju_Koko_Pria.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5417694/original/055901700_1763543336-Kultum_Singkat_tentang_Sabar.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5382022/original/048339900_1760524874-Sholawat_dan_Berdzikir.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3585755/original/069032500_1632814784-muslim-man-using-misbaha-keep-track-counting-tasbih_53876-15256__1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4449837/original/055086300_1685614290-WhatsApp_Image_2023-06-01_at_17.06.22.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4120045/original/038413400_1660195971-pexels-david-mceachan-87500.jpg)















:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4770150/original/051663000_1710247846-20240312-Berbuka_Puasa_di_Istiqlal-HER_2.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5417338/original/087225200_1763529762-Buka_Puasa.jpg)









:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2898274/original/080785500_1567273060-Pawai-Obor4.jpg)